Lantai 1 | Episode 24

2001 Kata
Dinding menjadi pembatas kegiatan mereka meski kenyataannya, keduanya sama-sama menghempaskan tubuh ke ranjang, menghela nafas berat didetik yang sama lalu berguling di dalam selimut. Disha adalah yang pertama memejamkan mata, kemeja dan jeans masih dikenakannya saat kesadarannya diseret lebih jauh. Sementara tetangga depan rumahnya sudah terlelap, Mita justru bangkit dengan kekesalan luar biasa karena tidak punya banyak waktu untuk istirahat. Ia menyambar handuk dari gantungan di dekat jendela lalu lenyap dibalik pintu kamar mandi. Suara air dari shower terdengar cukup lama sampai senandung kecil menggantikannya lalu pintu kamar mandi kembali terbuka. Mita berjalan ke kamar tidur sambil melepas ikatan rambut, menyisirnya dengan sisir di tangan kanan sementara tangan kiri sibuk memegang catatan untuk materi UAS yang mulai sekitar satu jam lagi. Ia meletakkan sisir dan kertas catatan, melepas kaosnya lalu memakai tanktop putih yang akan ia tutup dengan kemeja flannel nanti. Belum sempat ia membaca materinya lagi, lampu kamar tidurnya meredup, ia memperhatikan lampu cukup lama lalu mendengus saat lampunya benar-benar mati. Sudah sesuai umur dan bohlamnya memang harus sudah diganti. Hidup sendiri selama hampir tiga tahun membuatnya jadi lebih sering mengerjakan beberapa pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh laki-laki termasuk mengganti bola lampu. "Baru juga mau pakai jeans, udah mati aja kamu, lam," ujarnya sambil memutar bola lampu lalu menariknya setelah terlepas. Ketukan pintu terdengar saat Mita sibuk memasang bola lampu yang baru, kakinya berjinjit di atas tangga. Mita tidak terganggu dengan suara ketukan itu, karena memang bukan pintunya yang diketuk. Putaran terakhir dan lampu kamar tidurnya kembali menyala, Mita menuruni tangga kecil itu pelan-pelan lalu melipatnya. Tepat saat ia berbalik matanya membulat tak percaya melihat Rei berdiri di ambang pintu kamarnya. "Maaf, Mit, saya nggak tahu." Rei tiba-tiba menarik pintu kamar sampai tertutup. Kenapa? Mukanya merah? Mita meletakkan tangga kecil itu di dekat pintu lalu menyambar kemeja flannelnya. Belum sempat ia mengancingkan kemejanya, matanya justru menelanjangi pantulan tubuhnya di cermin lemari. Dibalik pintu kamar tidur itu, Rei memejamkan mata saat Mita berteriak histeris. Bagaimana tidak histeris, perempuan itu pasti baru sadar kalau tubuhnya hanya tertutup hot pants hitam dan tanktop putih yang untungnya tidak transparan. Rei menghela nafasnya, mungkin lain kali saja dia minta berasnya, memang sudah nasibnya malam ini makan di luar. "Ya Tuhan! Dia lihat apa coba? Dia lihat apa?" Mita berjalan mondar-mandir mengacak rambutnya. Hot pantsnya sudah digantikan dengan jeans hitam dan tanktopnya juga sudah tertutup kemeja flannel ungu. Helaan nafas mengakhiri kekagetannya, dimasukkannya semua lembaran catatan untuk UAS ke dalam tas selempang bersama dengan ponsel, dompet dan powerbank. Setelah merapikan dandanannya, ia keluar dengan converse abu-abu lusuh yang entah kapan terakhir kali dicuci. "Mit, ada telur nggak?" Arbi bertanya saat Mita berjalan melewatinya di tangga. "Ada, di warung." Mita tidak berhenti, ia berjalan cepat keluar dari gedung tanpa mendengarkan gerutuan Arbi yang kembali turun. Langkah Arbi berhenti di depan rumah saat pintu rumah Rei kembali dibuka, laki-laki yang mengganti warna rambut cokelatnya jadi lebih muda itu muncul dengan dompet dan ponsel di tangan. "Bukannya tadi lo minta beras sama Mita?" Tanya Arbi setelah ingat kalau beberapa menit lalu teriakan histeris Mita terdengar. "Nggak jadi." Singkat, tidak seperti Rei yang biasanya selalu memberi kalimat penjelas di belakang jawabannya. "Kalau gitu, ayo minta Disha." Arbi menarik lengan Rei, berjalan naik ke rumah Disha dan tanpa ragu menggedor pintu rumah perempuan tampan itu. Garis bawahi kata menggedor. Gedoran pintu dan teriakan Arbi yang mirip ibu-ibu mau lahiran itu membuat Disha menutup wajahnya dengan bantal. Demi kaos kaki Raga yang tidak pernah dicuci, dia benar-benar butuh tidur saat ini. Sudah lebih dari satu menit, suara Rei terdengar berusaha meminta Arbi untuk tidak mengganggu Disha yang mungkin sedang tidur--perempuan itu memang sedang tidur dan sekarang berusaha tetap tertidur. Tak lama, suara Arbi tidak terdengar begitu juga dengan gedoran pintunya. "Asik! Makan gratis! Makasih, loh, Ga!" Disha tersentak, ia menghambur turun dari ranjang dengan rambut berantakan dan mata yang masih merah karena baru bangun tidur. Belum sempat bertanya pada Raga yang masuk ke dapur dengan belanjaannya, Arbi sudah memberikan cengiran lebar, menghampirinya lalu mendorong Disha. "Tidur lagi, tidur lagi. Lo pasti capek, Dis, tidur lagi aja." Arbi mendorong Disha sampai masuk ke kamar. "Apa, sih!" Disha menepis tangan Arbi, mendorong laki-laki itu lalu pergi ke dapur menyusul Raga. *** Tanggal merah adalah tanggal keramat untuk Surabaya Townhouse terutama gedung paling ujung yang sekarang dihuni lima orang itu. Jam menunjukkan pukul sepuluh siang tapi tanda-tanda kehidupan seolah lenyap dari sana. Biasanya, Rei yang paling pertama bangun dan berisik di dapurnya memasak sarapan, disusul Mita yang menghambur ke kamar mandi lalu Arbi yang melamun duduk di ranjang menunggu nyawanya terkumpul penuh. Disha adalah yang paling terakhir bangun sebelum Raga datang karena kakaknya itu menempati posisi terakhir sejak kemarin. Urutan itu berubah khusus untuk hari ini karena dering ponsel Raga membuat pemiliknya tersentak bangun. Setelah cukup lama berbincang di telepon, sambungan diputus lalu Raga meletakkan ponsel di atas nakas, di samping ponsel Disha. Ia beranjak menyambar handuk dari gantungan sebelum masuk ke kamar mandi. Suara samber Raga sukses mengganggu Disha sampai perempuan itu memutuskan untuk membuka mata. Benda yang paling pertama disentuhnya tentu saja ponsel, pertama untuk melihat jam dan yang kedua sekadar menyapa beberapa akun media sosialnya. "I still stripdance I was stressed out!" Raga berjalan masuk ke kamar, disambut dengan lemparan bantal oleh Disha. "Nyanyi apa, sih?" Sahutnya kesal mendengar lirik berantakan yang dinyanyikan Raga. "Durhaka, mau dikutuk jadi batu?" Balas Raga sambil mengeluarkan kemeja dan jeansnya dari lemari. Sebelum Kakaknya yang baik hati itu melepas celana pendeknya, Disha bangkit, kabur ke dapur untuk membereskan sisa makan malam yang semalam ditinggalkan begitu saja oleh dua curut yang tinggal di lantai bawah serta sang Kakak baik hati. "Dek, jam satu sampai Cafe, ya? Undang Arbi, Rei sama si garong sekalian! Abang pergi!" Raga berseru sambil menyandang ransel lalu memakai sneakersnya. "Mita namanya, Bang!" Sahut Disha tak terima. Tic Toc Cafe, entah dari mana Raga mendapatkan nama seperti itu. Ia yakin seratus persen kalau hampir semua pengunjung yang datang siang nanti akan mempertanyakan asal mula nama Tic Toc. Disha meletakkan piring ke dalam rak, membuka mini kulkasnya lalu mengambil minuman isotonik yang tersisa satu di sana. Ia memperhatikan isi kulkasnya cukup lama. Harus belanja lagi nanti, batinnya yang kemudian menghela nafas sambil menutup kulkas lalu duduk di depan meja makan. Ketukan pintu terdengar, ia beranjak dengan kaleng minuman masih di tangan. Sikap dingin Disha muncul lagi saat membuka pintu, melihat Rei bersiri dengan senyum hangat serta sepiring omelet. "Saya kebetulan masak lebih banyak," ujarnya sambil menyodorkan omelet cheese itu pada Disha. "Gue kenyang. Abang gue ma— Jantungnya hampir copot saat Rei tiba-tiba mengacak rambutnya lalu masuk tanpa menunggu jawabannya selesai. Laki-laki yang tampil dengan warna rambut lebih muda itu pergi ke dapur, meletakkan piring di meja makan lalu memotong omeletnya untuk Disha. "Jam berapa saya, Arbi sama Mita harus datang ke grand opening Cafenya Raga, Dis?" Rei bertanya, mengambil sepotong omelet lalu menyodorkannya pada Disha. "Terserah kalian, partynya jam delapan malam ini." Mau tak mau Disha membuka mulut, membiarkan Rei menyuapinya lalu tersenyum manis. "Saya balik ke rumah dulu. Dimakan." Senyum Rei tidak hilang sampai laki-laki itu keluar dan langkahnya tidak lagi terdengar. Disha memegang dadanya, menelan omelet susah payah. Entah sejak kapan dia jadi serangan jantung begini karena perlakuan Rei. *** Sudah lewat sepuluh menit dari jam delapan, acara untuk teman-teman pengusaha dan teman-teman dekat Raga sudah dimulai. Disha memperhatikan lalu lalang mereka yang asik mencicipi hidangan terutama minuman dengan kadar alkohol cukup tinggi yang sengaja disediakan khusus untuk Special Party padahal Tic Toc Cafe tidak menjual minuman beralkohol. "Belum datang mereka?" Tanya Raga dengan segelas bir rendah alkohol di tangan kiri. "Katanya sebentar lagi." Disha melirik jam tangan sport yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Jangan minum White Wine sama Tequilanya. Awas kamu, Dek." Bisik Raga penuh ancaman. "Berisik, aku nggak akan mabok, Bang." Sahut Disha. Raga tersenyum, menepuk pelan puncak kepala Disha lalu meninggalkan Adiknya itu duduk di salah satu meja yang tidak begitu jauh dari pintu masuk. Senyum Disha mengembang, Mita dan Arbi terlihat berjalan paling depan melewati halaman parkir diikuti Rei yang sibuk dengan ponsel di belakang. Disha melambaikan tangan setelah tiga tetangganya itu masuk ke Cafe, menghampirinya lalu ikut duduk. "Rame, loh, special partynya." Mita memperhatikan orang-orang yang datang. "Iya, ternyata Cafe ini, tuh, nggak ada campur tangan temen Abangku di Jakarta. Jadi, ini sepenuhnya milik Raga." Jelas Disha. "Cafe ini nyediain Wine sama temen-temennya juga?" Arbi bertanya, matanya memperhatikan beberapa orang yang memegang segelas White Wine. "Enggak, khusus acara ini aja." Dalam hitungan detik, Arbi sudah melesat ke meja counter lalu kembali dengan segelas Tequila, bukan Wine. Tanpa babibu, Mita merebut gelas di tangan Arbi lalu meneguk setegah isinya. Disha tak sempat melarang, Rei bahkan meringis melihat Mita menghabiskan setengah gelas Tequila yang berkadar alkohol cukup tinggi itu. "Gila lo!" Sentak Arbi menarik kembali gelasnya. Mita memamerkan cengiran lebarnya, "santai aja, aku kuat minum, kok." Ucapan Mita tidak berlaku setelah ia mengambil gelasnya sendiri dan menghabiskannya sekali teguk. Arbi bahkan tidak menyentuh minumannya karena mendengarkan racauan Mita yang sudah dibawah pengaruh alkohol. Disha memijat keningnya, menyesal karena menyetujui ucapan Raga untuk menyediakan minuman beralkohol di acara Special Party. "Saya nggak percaya waktu Mita bilang dia kuat minum." Rei memperhatikan Mita yang sudah menggerai rambutnya. "Gue juga." Sambung Arbi yang kehilangan nafsu pada segelas tequilanya. Perhatian Disha tidak lagi pada Mita yang meracau di sebelah Rei, pandangannya tertuju ke arah empat laki-laki yang duduk tak jauh dari mereka, asik mengobrol lalu tertawa. Diantara mereka, hanya satu yang berhasil membuat Disha ingin segera pulang saat ini. Menyadari ekspresi hangat Disha yang berubah menjadi kaget luar biasa, Arbi dan Rei mengikuti arah pandang perempuan itu. Hanya Arbi yang tahu penyebab perubahan ekspresi Disha saat ini, Rei sudah kembali mengurus Mita yang berusaha bangkit untuk mengambil segelas tequila.  "Gue pamit sama Abang gue bentar, kita pulang aja." Belum sempat Disha berdiri, Arbi sudah menahan lengannya.  "Nggak perlu. Abang lo pasti repot kalau ngurus ini sendirian, karyawan dia juga cuma segitu doang, kan?" Sahut Arbi. Ia melirik mantan kekasih b******n Disha yang juga sedang memperhatikan mereka. Tatapan tajam itu jelas ditujukan pada Arbi dan Disha melihatnya. "Saya bakal bantu kamu Dis, biar Arbi yang bawa Mita pulang." Ucapan Rei mengalihkan pandangan Arbi dan Disha dari Henry.  "Jangan!" Seruan Mita membuatnya jadi pusat perhatian beberapa orang yang duduk di sebelah mereka. "Jangan sentuh aku!" Mita melepas kancing kemejanya. Buru-buru Arbi menahan kedua tangan Mita, "heh! Gila lo!" "Halah! Ngaku kamu! Abis nyium Disha, mau pelarian ke aku, kan? Karena Disha jengkel!" Seruan Mita membuat Arbi mempererat cengkramannya di kedua pergelangan perempuan itu. Rei memperhatikan Disha yang panik karena ucapan Mita, berganti ke arah Arbi yang berusaha membungkam Mita yang terus meracau tentang ciuman yang entah kapan terjadi itu.  Disha bangkit, menempeleng kepala Arbi lalu melepas tangan laki-laki itu, "jangan pegang-pegang." Disha menatap kesal Arbi, mengancingkan kembali kemeja Mita. "Lepas ih! Bilang aja kamu cemburu karena Arbi pegang tanganku!" Mita tergelak. "Bacot asli." Arbi melempar sedotan dari gelas jus milik Rei. "Apa kamu bacot-bacot?" Sahut Mita yang sudah tidak tahu menunjuk ke arah mana. "Dis, biar Arbi yang bawa Mita pulang." Rei mengingatkan. Mengesampingkan rasa penasarannya pada apa yang dikatakan Mita beberapa detik lalu.  "Dia? Nanti kalau Mita diapa-apain gimana?" Disha menahan diri untuk tidak meninggikan volume suaranya. "Wah, lo pikir gue om-om mesum." Arbi mendecak sebal. "Mukamu nunjukin begitu." "Bacot lo." "Nyolot lagi!" "Berisik, Dis." Arbi mendorong Disha agar bisa mengangkat tubuh Mita ke punggungnya. "Buntung tangan lo kalau sampai megang-megang Mita!" Disha memukul lengan Arbi. "Gue mau gendong dia, kalau dia jatoh, ini salah lo." Arbi membenarkan posisi Mita di punggungnya. "Serius, kalau sampai lo pegang-pegang Mita, jadi perjaka tua lo!" Sekali lagi Disha menyumpahi Arbi. "Udah, Dis, Arbi nganterin Mita doang kok." Rei menahan lengan Disha, memintanya berhenti berdebat dengan Arbi. "Gue duluan." Arbi berjalan keluar Cafe dengan Mita yang masih meracau di punggungnya. Ada sesuatu yang membuatnya terdiam saat melihat Mita dan Arbi yang sudah berjalan melewati halaman parkir. Disha kembali duduk, mengepalkan tangan merasakan detak jantungnya yang kacau entah kenapa. Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Rei sekarang.  *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN