Part 7

1010 Kata
Part : 9 Agenda sidang kami hari ini masih sidang mediasi. Ada mediator yang menengahi kami untuk mencoba mendamaikan dan kembali mempersatukan. Namun keputusan sudah bulat untuk berpisah dari Bang Arman. Aku tidak bisa terus bertahan dalam rumah tangga, yang masih seratus persen dicampuri ibunya. Lima tahun aku dipaksa untuk berbakti pada ibunya, tanpa boleh berbakti pada orang tua sendiri. Selama hampir lima tahun pula, aku tak diizinkan bertemu orang tua, padahal jarak kota yang tak terlalu jauh. Jika ingat itu, hati ini melenguh perih. Lima tahun rasanya seperti lima abad tersiksa. Sampai tubuh ini bergidik ngeri membayangkan hal itu lagi. Aku terus bersikeras untuk bercerai, kendati mediator berusaha untuk meminta kembali berpikir akan keputusanku. Ia meminta agar mengingat ada Indah yang akan menjadi korban nantinya dari perceraian kami. Tapi, aku sudah tidak peduli. Sebagai seorang Ibu, aku harus memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Karena itu juga akan mempengaruhi ke Indah nantinya. Sidang mediasi selesai. Tinggal menunggu agenda sidang berikutnya. Aku berjalan mendahului Bang Arman. Matanya terus menatap ke arahku. Tapi, rasa benci ini sudah telanjur memenuhi hati. Perlahan mengikis rasa cinta yang ada. "Dek! Dek, tunggu!" Tak kuhiraukan panggilan Bang Arman. Tetap saja kaki ini melangkah ke luar. Namun dengan cepat ia berlari dan langsung mencekal pergelangan. Lelaki berambut tebal itu menarik tanganku menuju ke samping ruang sidang kami. "Lepaskan, Bang!" teriakku tertahan. "Nggak akan, Dek! Aku nggak akan melepaskan tanganmu, sampai kamu mau berjanji untuk membatalkan rencana perceraian ini!" ancamnya dengan tatapan tajam. "Aku nggak akan membatalkan perceraian ini. Karena sampai mati pun, aku nggak akan sudi kembali padamu." Cengkeraman tangannya sangat kuat. Jadi sulit untuk melepaskan diri. "Sombong banget sih kamu, Dek. Selama ini aku yang membiayaimu dan Indah secara penuh. Bukan bapak dan ibumu!" Masih saja dia berteriak sombong rupanya. "Bapak dan ibuku bukan nggak mau membiayai hidupku atau Indah. Memangnya selama ini kamu mengizinkan mereka untuk menemuiku? Nggak 'kan? Segala cara kamu dan ibumu lakukan agar mereka nggak bisa menemuiku. Jangan memutar balikkan fakta, Bang!" "Maksud ibuku baik." "Baik apanya? Memisahkan seorang anak dari orang tuanya, kamu bilang baik? Nggak waras!" "Ibu cuma nggak mau mereka morotin kita. Itu aja!" Bang Arman terus bersikeras membela ibunya. "Morotin? Picik banget otak kalian! Orang tuaku bukan tipe matre seperti itu. Justru ibumu 'lah yang matre. Otaknya cuma memandang orang lain dari sisi materi saja." Plaaak. Bang Arman menamparku. Tamparannya cukup kuat, sampai tubuhku sedikit limbung ke samping. Kuraba pipi yang terasa panas dan perih. Sakitnya sampai menembus ulu hati rasanya. Belum rasa malu karena banyak pasang mata yang tertuju pada kami. Seakan kami ini sebuah tontonan. "Kamu nampar aku, Bang. Kenapa? Nggak terima ibuku kukatakan seperti itu? Lalu, bagaimana selama ini hinaan yang terus kalian berikan padaku dan orang tuaku, huh?" "Maaf, Dek, abang nggak sengaja." Ia berusaha memelukku, tapi spontan kutolak d**a bidangnya. "Jangan sentuh aku! Dengan begini, keputusanku untuk cerai semakin bulat! Aku muak padamu, Bang!" teriakku. Tak peduli dengan sekitar yang semakin ramai menonton kami. "Ada apa ini?" tanya Bapak tergopoh. "Astaghfirullah, bibirmu berdarah, Nduk," kata Ibu. "Kamu ditampar Arman?" Aku mengangguk pelan. "Kurang ajar!" Bapak mulai emosi hendak membalas, tapi Ibu cepat menahan gerak lelaki bercelana panjang itu. "Jangan, Pak! Tahan emosi! Nanti urusannya bisa makin ribet." "Tapi, laki-laki ini sudah memukul anak kita, Bu." "Iya, ibu tahu, Pak. Tapi, tolong tahan emosinya. Nanti takutnya Bapak yang malah dituntut." Bapak menuruti kata-kata Ibu. Dadanya bergerak naik turun menahankan sesak sambil mengusap kasar wajahnya. "Pasti anak kalian duluan yang memancing masalah sama anak aku, makanya Arman terpancing emosi," bela Ibu. "Terserah Ibu mau bilang apa. Tapi, tolong bilang sama anak Ibu ini, jangan ngemis-ngemis deh minta balikan sama aku. Karena sampai kiamat pun, aku nggak akan sudi balik sama dia! Ayo, Pak, Bu, kita pulang." "Huh, sombong banget, padahal miskin!" rutuk Ibu. ❣ HM ❣ Aku kembali ke Jogja sore setelah sidang mediasi. Tapi keberangkatan kali ini tanpa Bapak dan Ibu. Padi sudah bisa dipanen. Tentu mereka akan lebih sibuk nantinya. Di bandara, Mas Abimanyu sudah menunggu. Ia segera melempar senyum begitu melihatku. "Hai, Kania," sapanya ramah. Mas Abi memang lebih suka memanggilku dengan nama penuh. Entah apa alasannya. "Hai, Mas. Sudah lama?" "Uuummm ... Sekitar setengah jam 'lah. Yuk!" Aku mengangguk. Mas Abi menarik handle koper dan begitu sampai di parkiran, ia memasukkan koper tersebut ke dalam bagasi. "Kamu sudah makan?" tanyanya memecah hening. "Belum sih, Mas." "Ya sudah, kita makan saja dulu ya. Kebetulan aku juga belum makan." "Oke, boleh deh." "Sip!" Mas Abi mengemudikan mobilnya membelah jalan kota pelajar yang siang itu cukup ramai oleh kendaraan. "Kania, Pak Danu sudah menceritakan semua tentang kamu padaku," celetuknya di sela-sela makan. Alisku terangkat. "Cerita apa?" "Semuanya. Tentang rumah tanggamu, suami kamu dan keluarganya yang selalu menindas dan menghina kamu." Duh, Bapak apaan sih? Kenapa masalah pribadiku diceritakan ke Mas Abimanyu? "Nggak usah malu, Kania. Maksud Pak Danu itu baik. Tenang saja, aku akan membantu kamu kok." "Membantu bagaimana maksudnya?" "Mereka punya toko batik juga di Jakarta yang bernama Ella Gallery?" "Iya, ada, Mas.". "Mereka memasok barang dari pabrik kita. Dan sudah lama mereka nggak menyetor bayaran. Setiap ditagih ada saja alasannya. Karena sudah menjalin kerja sama yang cukup lama, Eyang Prapto masih terus memberi kelonggaran. Tapi, sampai Eyang Prapto dan Eyang Saras meninggal, utang itu nggak kunjung dibayar. Dan jumlahnya sangat besar." Aku tersenyum miring. "Berarti itu bisa kita jadikan alat untuk pembalasan pada mereka, Mas?" "Tepat sekali!" "Tapi, kenapa mereka bisa memiliki utang sebanyak itu, Mas?" tanyaku pada Mas Abimanyu. Ia melemparkan senyum sambil menyendokkan nasi ke mulutnya. "Itu 'lah yang masih aku pertanyakan. Selama ini Pak Wahyu yang memegang toko. Pak Wahyu itu bapak mertuamu 'kan?" "Ya, benar. Dia bapak mertuaku. Dan kebun teh juga dia yang meng-handle." "Padahal, toko batik mereka itu cukup terkenal laris. Tapi, entah kenapa, mereka bisa sampai terlilit utang seperti sekarang ini." "Kebun teh mereka juga setahuku sangat maju sih, Mas. Tapi--" Kuaduk lemon tea dengan sedotan sambil berpikir keras. Selama ini permasalahan keluarga Bang Arman sama sekali tak kuketahui. Karena mereka selalu bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Ternyata, mereka menyimpan sebuah berita besar. ❣ Bersambung ❣
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN