Part : 10
"Tapi, kenapa mereka bisa memiliki utang sebanyak itu, Mas?" tanyaku pada Mas Abimanyu.
Ia melemparkan senyum sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Itu 'lah yang masih aku pertanyakan. Selama ini Pak Wahyu yang memegang toko. Pak Wahyu itu bapak mertuamu 'kan?"
"Ya, benar. Dia bapak mertuaku. Dan kebun teh juga dia yang meng-handle."
"Padahal, toko batik mereka itu cukup terkenal laris. Tapi, entah kenapa, mereka bisa sampai terlilit utang seperti sekarang ini."
"Kebun teh mereka juga setahuku sangat maju sih, Mas. Tapi--"
Kuaduk lemon tea dengan sedotan sambil berpikir keras. Selama ini permasalahan keluarga Bang Arman sama sekali tak kuketahui. Karena mereka selalu bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Ternyata, mereka menyimpan sebuah berita besar.
"Hei!"
Aku tersentak kaget. "Ah, ya, Mas."
"Mikirin opo?"
"Nggak, Mas. Aku cuma berpikiran, kalau memang toko dan kebun teh itu maju, kenapa sampai bisa mereka terlilit utang bahkan terancam akan dijual ya?"
"Kalau tebakanku sih, letak masalahnya ada di Pak Wahyu. Karena dia yang mengendalikan toko. Seperti kamu bilang, kebun teh dia juga yang mengatur 'kan? Jangan-jangan--"
"Jangan-jangan apa, Mas?"
Mas Abi menyesap coffeelatte-nya. "Jangan-jangan, Pak Wahyu itu selingkuh," duganya.
Bola mata berputar. Apa benar dugaan Mas Abi? Meski pun ayah yang mengendalikan kebun teh, tapi ayah takut pada ibu. Tak ubahnya seperti Bang Arman yang tak berkutik akan perintah ibu. Apa mungkin lelaki itu berani bermain di belakang ibu?
"Ih, mikir apa sih kamu, Kania. Sedari tadi kamu melamun terus."
Aku menghela napas. Kusandarkan punggung di badan kursi.
"Aku cuma bingung, Mas. Bang Arman dan ayahnya itu takut pada ibu. Mereka nggak pernah bisa berkutik dengan perintah ibu. Masa iya ayahnya Bang Arman berani bermain belakang ya."
"Bisa saja. Kamu jangan salah, Kania. Lelaki yang diam jika selalu ditekan oleh istri itu, bisa saja dia melawan. Tapi, melawan dalam diam. Dan bermain di belakang."
Bibirku mencucu. Jika benar ayah bermain perempuan di belakang ibu, benar-benar balasan yang telak untuk wanita sombong itu. Harta sudah habis, suami bermain gila pula.
❣ HM ❣
Setelah menjalani sidang cerai selama kurang lebih hampir empat bulan, akhirnya hari ini agenda sidang adalah keputusan dan ketuk palu. Syukurnya, rekaman CCTV pengadilan, yang merekam kejadian Bang Arman menamparku menjadi bukti untuk persidangan. Dan Bang Arman pun sudah pasrah dan tidak mempersulit proses perceraian kami.
Akhirnya aku bisa bernapas lega. Tidak sia-sia perjuanganku bolak balik Jogja-Jakarta selama ini. Karena memang pernikahan kami dulu diadakan di Jakarta bukan di Lembang. Sehingga proses perceraian dilakukan di ibu kota.
Setelah bersalaman dengan hakim yang memimpin sidang cerai kami, tak sengaja aku berpapasan dengan Bang Arman di ruang sidang. Namun aku segera berbalik cepat. Malas rasanya harus menghadapi drama lagi dari lelaki itu.
"Alhamdulillah semua lancar ya, Nduk," ujar Ibu.
"Alhamdulillah, Bu. Lega rasanya."
"Bagus 'lah, Nduk. Nggak ada gunanya kamu mempertahankan rumah tangga dengan laki-laki labil seperti Arman itu," timpal Bapak.
"Apa? Kamu mengatakan anak saya laki-laki labil?" celetuk Ibu tiba-tiba dari belakang.
"Memang anakmu itu labil dan nggak punya pendirian 'kan? Salahnya di mana?" sahut Ibu. "Laki-laki seperti ini nggak bisa dijadikan kepala rumah tangga. Karena segala sesuatu urusan dalam rumah tangga, masih dicampuri sama ibunya. Seharusnya kamu jangan menikah, Arman. Tapi terus saja mene-tek pada ibumu."
"Kurang a-jar banget kamu. Kamu pikir kamu siapa? Orang miskin saja sombong!" Lagi-lagi kata-kata itu yang ke luar dari mulutnya. "Itu emas yang kamu pakai, palingan juga imitasi 'kan?"
Bu Rahma ini benar-benar keterlaluan. Dia tidak tahu, kalung emas yang melingkar di leher ibuku itu bukan emas biasa, melainkan emas murni.
"Sudah, Bu. Jangan dilawan. Anggap saja orang gi-la," tukas Bapak menengahi.
"Apa, kamu bilang saya gi-la?"
Bapak menuntunku dan Ibu untuk berjalan ke luar dari pengadilan agama tersebut.
"Sudah 'lah, Bu. Nggak ada gunanya melawan orang seperti dia. Cuma buang-buang energi saja."
"Tapi, ibu kesal mendengar ucapannya itu, Pak."
"Tenang saja, Bu. Bukan sekarang waktunya untuk melawan dia."
Mobil Nis*an X-trail silver sudah menanti di parkiran. Kendaraan roda empat ini biasa digunakan untuk operasional Bapak.
"Halah, gaya banget naik mobil. Biasa juga naik angkot." Masih sempat Bu Rahma--bekas mertuaku itu melayangkan hinaan kepada kami.
"Paling juga mobil sewaan, Bu," timpal Ella.
"Hahaha ... Mungkin juga. Ya ampun, sampai segitunya. Hahahaha ...."
Aku yang duduk di belakang, menarik napas panjang untuk menjaga kesabaran.
Bapak tak menghiraukan hinaan Bu Rahma. Ia terus memundurkan mobilnya lalu melesat pergi.
Masih sempat kulihat Bang Arman hanya berdiri terpaku. Sama sekali dia tidak memiliki wibawa sebagai seorang lelaki. Sungguh sebuah keputusan tepat untuk berpisah dari laki-laki seperti itu.
❣ HM ❣
Keesokan harinya, aku langsung kembali ke Jogja. Aku tidak bisa berlama-lama di Jakarta, karena Indah tidak dibawa. Indah tinggal bersama Mas Darmo dan istrinya. Kasihan kalau gadis kecil itu harus ikut mondar mandir Jogja-JaKarta.
Sambil menunggu keberangkatan, aku duduk di coffeeshop bandara. Kulirik jam tangan di pergelangan. Masih ada waktu satu jam lagi. Rasanya masih sempat untuk ngopi sejenak.
Segelas Asian Dolce Latte diantar oleh seorang pelayan pria ke mejaku.
"Silakan diminum, Mbak."
"Terima kasih ya, Mas."
Lelaki muda itu mengangguk sopan, seraya tersenyum sebelum kembali ke tempatnya berdiri tadi.
Sambil memeriksa laporan ketersediaan barang di toko yang di Malioboro, perlahan kusesap kopi di atas meja. Kemudian pandangan kembali menatap layar tablet.
Senang rasanya memiliki rekan kerja seperti Mas Abimanyu. Dia begitu sabar mengajariku, sampai akhirnya perlahan aku mulai cekatan.
Kurentangkan tangan ke atas lalu ke samping untuk meregangkan otot. Capek juga harus bolak balik antar kota meski menggunakan pesawat.
Mataku tiba-tiba terpaku pada sosok seorang lelaki paruh baya yang rasanya sangat tidak asing. Lelaki itu menarik koper sambil memeluk seorang wanita muda, masuk ke coffeshop yang sama denganku.
Cepat kuambil kacamata hitam dari dalam tas, lalu segera kukenakan sebelum lelaki itu mengenaliku.
Lelaki paruh baya itu memesan sesuatu pada pelayan. Lalu sepeninggal pelayan, lelaki berkumis tersebut menggenggam mesra wanita yang duduk di hadapannya.
Astaghfirullah, siapa wanita itu? Kalau sekedar rekan kerja, rasanya tidak mungkin sampai berpegangan seperti itu. Tatapan matanya pada wanita itu pun mengisyaratkan hal yang tak biasa.
Kebetulan ia duduk menghadap ke arahku dan meja kami hanya berjarak tiga meja saja. Namun, ia tidak menyadari ada aku di sana tengah memperhatikan dirinya.
Sepertinya ini alasan kebun teh milik ibunya Bang Arman mengalami kebangkrutan dan toko mereka juga sampai berutang pada kami.
Benar kata Mas Abi. Lelaki yang diam saja ketika ditekan istri, ternyata melawan dengan bermain belakang.
❣ HM ❣