Part 9

1569 Kata
Part : 11 ❣ Sepertinya ini alasan kebun teh milik ibunya Bang Arman mengalami kebangkrutan dan toko mereka juga sampai berutang pada kami. Benar kata Mas Abi. Lelaki yang diam saja ketika ditekan istri, ternyata melawan dengan bermain belakang. Kuputuskan untuk menghampiri ayahnya Bang Arman. Gatal rasanya jika tidak mengganggu kemesraan ABG tua itu dengan kekasihnya. Sekalian membayar tagihan ke kasir. Perlahan aku berjalan menghampiri meja yang berada di tengah itu. Sengaja melintasi meja itu untuk memancing apakah Pak Wahyu menyadari ada aku yang mengawasinya. "Sayang, aku mau beli tas nanti sampai di mall ya," ucap gadis yang lebih cocok menjadi anaknya itu bernada manja. "Oke, Sayang. Apa sih yang aku berikan untuk kamu? Asal kamu bahagia dan jangan pernah meninggalkanku ya. Bisa ma-ti aku kalau kamu pergi." Mataku membelalak. Tak kusangka, pria tua bangka itu bucin juga ternyata. Padahal jika di depan istrinya, lagaknya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Kuteruskan langkah menuju kasir. Membayarkan sejumlah uang yang diminta. Mata ini terus mengawasi gerak gerik ayahnya Bang Arman itu. Dengan video dari ponsel, kurekam video kemesraan dua sejoli beda usia itu. Suatu saat, video ini akan dibutuhkan. Ah, kebetulan sekali Pak Wahyu tengah mencium tangan gadis itu dengan sangat mesra sekali, ketika aku tengah merekam. Suara pemberitahuan mengatakan, aku harus sudah masuk. Karena pesawat ke Jogja akan segera berangkat. Sebelum masuk ke dalam ruangan, kusempatkan untuk menyapa Pak Wahyu. Sesekali memberi terapi kaget boleh juga 'kan? "Wah, mesra banget, Pak Wahyu. Sama siapa tuh?" Lelaki itu menoleh kaget. Refleks ia melemparkan tangan gadis itu, sampai ia meringis kesakitan karena terantuk pinggiran meja. "Nia, ka-kamu ngapain di sini?" "Memangnya menurut Bapak, di bandara itu ngapain?" Pak Wahyu tak menjawab. Buru-buru ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, kemudian mengusap dahi yang dipenuhi peluh. "Tenang, Pak Wahyu. Santai saja. Seperti sedang melihat hantu saja." Gadis berambut pirang kecoklatan itu menatap kami bergantian. Raut wajahnya bingung dan penuh tanya. "Siapa dia, Sayang?" tanya gadis itu. "Wow, sayang. Panggilan yang keren, Pak." Pak Wahyu semakin salah tingkah. Tak henti-hentinya ia mengusap peluhnya. Pasti ia ketakutan. Takut kalau aku menyampaikan berita perselingkuhannya kepada Bu Rahma. "Kenapa, Pak. Kok ketakutan begitu sih? Beri tahu gadis ini siapa aku." Jakun lelaki paruh baya itu bergerak turun. "Ah, sudah 'lah. Bukan urusanku juga. Pesawatku sudah akan berangkat. Bersiap akan ada perang ya, Pak." Kutarik ke atas handle koper dan menariknya. Setengah perjalanan, Pak Wahyu mengejarku. "Nia, Nia, tunggu!" Kuacuhkan panggilannya. Kakiku terus saja melangkah. Suara roda yang berderit di antara keramaian. "Nia, tolong, Nak. Tunggu!" Lelaki itu menahan lenganku. "Ada apa, Pak?" tanyaku. "Tolong, hal ini jangan beritahu Arman, Ima atau Ella. Terutama pada ibu mereka ya." Raut wajah yang mulai terlihat tanda penuaan di wajahnya itu, memasang raut memohon. "Aku nggak menyangka, Pak. Bapak yang selama ini kukenal pendiam dan banyak mengalah, ternyata bisa juga bermain belakang." Kepalaku menggeleng heran. Pak Wahyu mengacak kasar rambutnya. k****a banyak tekanan di wajah tua itu. "Kamu sendiri 'kan tahu dan melihat sendiri bagaimana perlakuan ibunya Arman padaku. Aku ini bukan suami baginya. Melainkan tak lebih dari jongos saja. Puluhan tahun ibunya terus menekan dan menjadikanku layaknya alas kaki. Aku stres, Nia. Aku stres!" tuturnya. "Kenapa Bapak lebih memilih bertahan? Kenapa nggak ceraikan saja wanita sombong seperti dia?" Lelaki itu mengusap dahinya. "Aku ini sebatang kara, nggak punya keluarga. Kalau cerai dari ibunya Arman, aku jadi gembel lagi dan aku nggak mau itu terjadi!" Ternyata Pak Wahyu ini rela menjatuhkan harga dirinya demi harta. Sungguh tidak menyangka ada sosok pria seperti ini di dunia. Tapi, lelaki bertubuh kurus ini licik juga. Dikurasnya harta istri yang sudah menindasnya selama ini. Panggilan kembali terdengar. Dan aku sudah tidak ada waktu banyak lagi. "Pesawatku akan berangkat, Pak. Urusan ini bukan urusanku. Karena Bapak tahu sendiri 'kan aku dan Bang Arman sudah resmi bercerai." "Apa? Kamu dan Arman sudah bercerai?" "Bapak nggak tahu?" Pria itu menggeleng. "Pantas saja kamu memanggilku dengan sebutan Bapak. Biasanya 'kan Ayah." "Bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan Bapak atau mungkin dengan kekasih Bapak itu. Sampai anak Bapak bercerai pun nggak tahu," cetusku tanpa basa basi. Pak Wahyu menunduk dalam. Terserah dia mau sakit hati atau tidak. Keluarga Bang Arman bukan urusanku lagi. "Sudah ya, Pak. Pesawat saya mau berangkat. Permisi!" Aku bergegas berjalan meninggalkan lelaki yang masih berdiri tertunduk itu. ❣ HM ❣ Sesampai di Jogja, kembali Mas Abi yang menjemput. Senyum manis lelaki berjanggut tipis itu menyambutku. Kenapa hati ini mendadak berdebar tak karuan ya? Ah, perasaan apa ini? cepat kutepis perasaan aneh yang berdesir aneh. "Hei! Hobi kok melamun sih?" Tangannya mengibas di depan wajahku. "Siapa yang melamun? Nggak kok," tepisku malu. "Itu muka kenapa memerah begitu?" Wajahku merah? Duh, gawat. "Ah, merah apaan? Jangan ngarang deh, Mas." "Iya benar. Wajah kamu seperti kepiting rebus, tahu." Mas Abi terkekeh geli. "Ih, sudah ah, Mas. Jangan godain aku melulu." "Iya, iya, maaf." Lelaki berdagu runcing itu masih saja terkekeh. Mas Abi membantu memasukkan ke bagasi mobil. Lelaki ini memang sangat lembut dan perhatian. Bang Arman tidak pernah seperti ini. Justru aku yang kebanyakan disuruh membawa barang-barang. Benar-benar tak ubahnya seperti babu. "Kania, minggu depan kita akan adakan acara besar-besaran untuk launching produk terbaru kita. Sekaligus memperkenalkan pada publik, siapa ahli waris pengganti almarhumah eyang kamu." "Iya, aku sudah dengar dari Bapak, Mas." "Dan kamu tahu, kita akan adakan acaranya di mana?" "Memangnya di mana, Mas?" "Di Hotel Semarak." Dahiku mengernyit. "Itu 'kan hotel cabang di mana mantan suamiku bekerja, Mas." "Benar banget. Aku sengaja buat acara di sana. Dia pasti akan datang. Dan kejutan kedua, aku juga akan mengundang keluarga mantan suamimu itu. Dia 'kan juga relasi dari pabrik batik kita." "Kamu serius, Mas?" Mataku mengerling senang. "Serius pakai banget." Aku menjentikkan jari karena begitu antusias dengan rencana Mas Abimanyu. "Cakep banget, Mas. Nggak sabar rasanya ingin lihat reaksi mereka waktu melihat aku di sana nanti." "Aku bisa jamin mereka pingsan nantinya lihat kamu." "Itu yang kuharapkan, Mas." ❣ HM ❣ Acara yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Event organizer yang kata Mas Abimanyu sudah menjadi langganan Surya Prabaswara Grup, telah berhasil menyulap ruangan ballroom Hotel berbintang lima itu menjadi sangat mewah dan elegan. Surya diambil dari nama almarhum Eyang Kung Prapto Suryoprawiro dan Prabaswara nama ayah dari Mas Abimanyu. Mereka bersahabat dan mendirikan perusahaan bersama-sama. "Kamu sudah siap, Nduk?" tanya Bapak. Malam itu Bapak menggunakan batik berwarna golden brown bercorak khas batik Jogja. Sedangkan Ibu menggunakan gaun modern dengan corak batik yang serupa dengan Bapak dan juga aku. Sedikit brokat di bagian depan sebagai pelengkap keindahan gaun keluaran terbaru yang akan launching malam ini. "Sudah, Pak," sahutku pasti. "Kamu cantik banget malam ini, Nduk. Benar-benar cocok disebut sebagai owner PT. Surya Prabaswara Grup mendampingi nak Abimanyu. Bukan begitu, Nak Abi?" "Eng, eh, Bapak bisa saja." Kali ini wajah Mas Abi yang bersemu merah. "Tapi, anakku ini memang cantik 'kan, Nak?" "Cantik, Pak. Cantik banget," jawab Mas Abi sambil menatapku. Tak sanggup membalas tatapan lelaki yang tengah tersenyum itu, aku hanya bisa menundukkan kepala. "Kita ke depan yuk, Pak. Tamu-tamu pasti sudah ramai," tukasku mengalihkan topik pembicaraan. "Ya sudah. Yuk!" Benar saja, tamu sudah ramai berdatangan. Banyak sekali yang memuji kecantikanku dan menyangka aku adalah kekasih Mas Abimanyu. Namun, Mas Abi segera menepis. Bahkan banyak yang mendoakan agar kami berjodoh. Tak lama berselang, tamu yang dinanti-nantikan tiba. Bu Rahma bersama Pak Wahyu, Bang Arman, Kak Ima dan Ella. Seperti biasa, mereka selalu berpenampilan serba "wah". Tatapanku dan Bang Arman bertemu. Kepalanya sampai miring ke sisi kanan. Sepertinya ia berusaha mengenali siapa aku. "Selamat malam, Pak Abimanyu," sapa Bu Rahma. Tiba-tiba, matanya menatap tajam padaku. "Saya seperti kenal pada mereka." Matanya menelisik tajam. "Ini 'kan Kania, Bu. Juga bapak dan ibunya," tandas Ima. "Kania? Kania mantan istri Arman yang miskin itu?" ucapnya sambil menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan entah. "Nia ... Ini kamu, Dek?" tanya Bang Arman dengan tatapan terpukau. "Kamu beda banget, Dek. Cantik." "Halah, mau didandani kayak gimana pun, tetap saja dia ini cuma pemetik kebun teh dari kampung, Arman. Jangan mau tertipu!" dengus Bu Rahma sinis. "Jangan merendahkan orang seperti itu, Ibu Rahma yang terhormat. Manusia itu sama saja di mata Allah," sanggah Mas Abi. "Tetap saja harta itu penentu, Pak Abimanyu. Bergaul dengan orang miskin itu de Cokro akan membawa pengaruh buruk buat kita," tambahnya pongah. Kulirik Bapak di sebelahku. Bapak mendengus sinis mendengar kata-kata ibunya Bang Arman. "Ngapain kamu di sini, Nia? Oh, mungkin kamu sekarang bekerja dengan Pak Abimanyu ya? Makanya kalian sekeluarga bisa dapat pakaian batik dari Surya Pradana?" celetuk Ima, kakak Bang Arman yang belum juga menikah sampai di usianya menjelang empat puluh tahun. "Aku--" "Baik 'lah para hadirin." MC yang sudah memulai kata sambutan, membuat ucapanku terputus. "Ssst ... diam. Acara sudah akan dimulai," bentak Bu Rahma sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir. "Malam ini, Surya Pradana Grup akan mengadakan acara launching produk terbaru sekaligus memperkenalkan ahli waris yang akan menggantikan posisi almarhum Bapak Prapto Suryoprawiro dan almarhumah Ibu Saraswati Cokrodiningrat." "Siapa ya kira-kira yang akan jadi pewaris Surya Pradana?" ujar Bu Rahma. "Iya, Bu. Penasaran banget." Bapak tersenyum geli ke arahku sambil menggeleng-geleng penuh arti. Tanpa dia sadari, pewaris tunggal Surya Pradana yang mereka tunggu ada di belakang mereka. "Hayo, pada penasaran ya?" goda MC lelaki itu, disambut dengan tawa riuh para undangan. "Pewaris tunggal dari PT. Surya Pradana Grup adalah cucu dari almarhum Bapak Prapto dan Ibu Saraswati, yang selama ini tinggal di Lembang, Bandung, mengurus kebun teh dan sawah di sana. Dia adalah ...." ❣ Bersambung ❣
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN