Dingin

253 Kata
"lancang.... siapa dia ma?...." "pekerja baru.." kulirik sedikit kearah nyonya, walaupun cara bicaranya sedikit kurang jelas, tapi aku bisa melihat sedikit senyuman kecil dibibirnya.. "maaf tuan, saya ngak sengaja..." "makanya kalau ngomong jangan asal keluar..." "baik tuan, tadi saya keceplosan karna melihat foto anak perempuan yang cantik itu.." "stop..." "Astaga..." ganteng nya.... "apanya yang astaga?..." "itu tuan...." bagaimana ini, aku keceplosan lagi... mulut...mulut...kebiasaan deh..aduh... "apanya yang itu?" "tuan nganteng banget, saya jadi terkejut...". lirih ku pelan, sambil menundukkan kepala... tak ada tanggapan darinya, hingga ku dengar langkah kaki menuju keluar. kulihat sekilas bibir nyonya sedikit terangkat membentuk lengkungan kecil... kulihat nyonya mengambil sebuah buku kecil dan pulpen..kemudian kulihat ia menuliskan sesuatu, dan memberikannya pada ku.. " dia putra saya, dan foto yang kamu bilang cantik itu, adalah fotonya..." mendadak satu tangan ku menutup mulut ku, dan yang satu memegang kepala ku...tiba2, banyak bintang bertaburan dimana-mana.. pantas saja dia marah, karna aku menyebut fotonya cantik.. "bagaimana ini nyonya, maaf sari gak sengaja..." "sudah...saya mau istirahat, kamu tolong keluar dan tutup pintunya... "baik nyonya...." dan begitulah cara kami berkomunikasi. kuturuni anak tangga dengan hati was-was sambil mencari mbak anik... eh malah laki-laki itu yang kulihat..... tanpa berfikir aku langsung menundakkan kepalaku... "ganteng-ganteng es..." "kenapa sari? kamu mau es?..." tanya mbak anik yang tiba2 entah dari mana berada disamping ku... "eh...enggak mbak!" "kamu mau kmn?..." "cari mbak.." " ada apa? kamu perlu sesuatu?..." "ngak mbak... saya cuma mau tanya, pekerjaan saya apa aja mbak... soalnya sari bingung, nyonya suruh sari keluar, trus sari harus apa sekarang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN