GANESHA

759 Kata
Hari pertama aku akan memulai menjadi mahasiswi, aku langkahkan kakiku bersama nina teman satu tempat tinggal. Di Wisma hanya aku dan nina yang merupakan MABA (Mahasiswa Baru). Selesai shalat subuh aku mulai mengikuti peraturan di rumah ini salah satunya membaca al matsurat setelah selesai membaca al matsurat aku segera mandi. Berjalan menyusuri kota Bandung di temani mentari pagi yang perlahan-lahan menampakkan kehadirnnya dan siap menyapa dengan cahaya paginya. Tidak terlalu banyak yang Aku bicarakan dengan Nina sepanjang perjalanan, soalnya aku tipe orang yang gak mudah akrab dengan  orang yang baru aku kenal. Di persimpangan jalan aku dan Nina berpisah, karena jurusanku dan Nina berbeda.. Di halaman kampus aku melihat sudah banyak MABA yang berkumpul, dan sebentar lagi acara akan dimulai. Terdapat beberapa spanduk yang terpampang di sini, salah satunya dengan bertulisan "SELAMAT DATANG PARA MAHASISWA BARU" dan tertera dibawahnya GAMAIS. Seketika itu aku berpikir apa itu GAMAIS?? Namun suara dari mikrofon membuayarkan lamunanku, acara penyambutan MABA pun di buka oleh Rektor, dan para petinggi kampuspun satu persatu mengucapkan kata sambutan. Dan akhirnya giliran mahasiswa yang menguasai mikrofon, mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa dia merupakan perwakilan dari GAMAIS, dan  mahasiswa tersebut menjelaskan dengan singkat dan padat tentang GAMAIS. GAMAIS merupakan Keluarga Mahasiswa Islam ITB, organisasi ini menyambut mahasiswa baru dengan nuansa Islami. Terdapat suatu event G-FEST (Gamais Festival) menjadi acara special yang diselenggarakan oleh pengurus PMB (Penyambutan Mahasiswa Baru). G-FEST Dengan tema "Kobarkan semangat Islam dalam berkemahasiswaan di kampus ITB", Gamais menyambut keluarga barunya dengan kegiatan-kegiatan seru dan penuh semangat. Dan G-FEST diadakan di lapangan basket Kampus ITB Ganesha. Setelah acara resmi penyambutan MABA selesai, mataku mulai mengamati setiap sudut demi sudut.. “Wah ini acara yang dijelaskan oleh perwakilan Gamias tadi, wah yang didepan pasti seru” pikirku sambil tetap menyimak kalimat per kalimat dari panitia. Setelah panitia telah selesai menjelaskan secara detail, semua MABA dipersilahkan untuk berkeliling. Sepanjang perjalanan terdapat stand – stand yang menarik dan juga unik. Aku tertarik dengan salah satu stand yang ada di festival, segara aku langkahkan kakiku ke stand tersebut. Dan aku melihat sosok yang tidak asing lagi bagiku. Bang Arif dan Mas Roy rupanya sedang berkeliling juga. ......................................... "Eh, Mas tu bukannya Nurul ya?, yang lagi jalan menuju kesini!" "Dari gayanya udah kelihatan banget itu Adik kita yang super manja, Roy" Entah apa yang sedang mereka bicarakan, ketika aku sampai di tempat mereka, mereka udah asyik ketawa cengengesan. "Ayo, lagi gunjingi Nurul kan? pada ketawa ketiwi? Dosa loh Bang gunjingi orang!" dengan nada menyindir Bang Arif, sambil menunjuk nunjuk hidungnya yang mancung bak plosotan anak TK. "Heheheh, maaf ya Dek manis, kan gunjinginya di depan orangnya, gak dibelakang orangnya" sambil mengucek ngucek jilbbabku "Ih Bang, kusut ini jilbab ku jadinya!" sambil menjijit dan mencubit pipi Bang Arif yang tidak Chubby lagi. Dan seketika itu ketawa Mas Roy pecah, melihat keganduhan yang Aku buat bersama Bang Arif di salah satu stand yang ada di festival. "Kamu udah makan?" tanya Mas Roy, sambil mengelus kepalaku "Belum Mas, tadi sebelum berangkat hanya minum s**u aja" sahut ku dengan manja "Ya udah kita makan yuk, biar Bang Arif yang traktir kita, soalnya kalau mau sidang skripsi itu harus baik sama Adik-adiknya" ucap Mas Roy, yang seketika itu mengagetkan Bang Arif dan membuat Bang Arif menaiki salah satu alisnya, dan Aku hanya ketawa kecil melihat tingkah mereka. "Ah loe Roy, paling bisa ya alasannya kalau minta traktir, ya udah yuk kita kekantin. Tapi kita jalan aja ya, gak mungkin kita kekantinnya naik motor bertiga ntar disangka cabe-cabean dan bisa jatuh kegantengan gue" sahut Bang Arif sambil berjalan merangkul bahuku, dan diikuti Mas Roy. ..................... "Kamu mau makan apa cantik?" tanya Mas Roy yang membuyarkan lamunanku "Aku pa aja deh Mas, yang penting enak dan mahal" sahutku sambil melihat ke arah Bang Arif. Bang Arif hanya tersenyum dan memicingkan matanya yang sipit. "Bang Arif, loe pesan apa?" tanya Mas Roy yang udah mengambil posisi duduk yang nyaman. Gaya Mas Roy memesan makanan seperti dia aja yang bakalan bayar semuanya, pikirku sambil senyum senyum sendiri, dan mungkin Mas Roy tau apa yang sedang ku pikirkan,  tangannya mendarat dengan sempurna di kepalaku, dan berhasil membuat jilbabku lumayan berantakan. "Aduh Mas Roy, jangan diberantakin dong jilbabnya, ntar keimutanku berkurang nih, sahut ku dengan manja, dan berhasil membuat para bodyguard ku ketawa melihat tingkah manjaku. .............................. Alhamdulillah perutku sudah kenyang, cacing didalam perutku udah gak konser lagi nih, senangnya di traktir, sering – sering aja kayak gini ya Bang Arif, biar uang bulanan hemat. Pikirku sambil melihat kearah Bang Arif dan Mas Roy yang sedang asyik ngobrol dengan seseorang. Ehmmm, kelihatannya mereka sangat akrab, dan jelas sekali bawa orang tersebut adalah panitia, dari baju yang ia gunakan. Tiba – tiba Mas Roy menarik tanganku, untuk lebih mendekat ke mereka.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN