"Permisi,,,, Nurul ya?"
Suara itu membuyarkan lamunanku tentang Bang Arif, kulekat wajahnya, ini orang siapa lagi Ya Allah, Nurul gak kenal, kok dia tau nama Nurul, ucapku dalam hati tertuju pada sang Ilahi.
"Hei,,, Assalamualaikum,,, kamu Nurulkan?"
Salamnya dan lambaian tangannya kearah mukaku meyadarkan aku dari lamunanku yang penuh ketakutan, prasangka dan praduga
"He,,, iya, wa'alaikum salam maaf siapa ya?" jawabku balik tanya kepadanya, dengan keraguan
Seseorang yang dari tadi telah berdiri lama dihadapanku, aku lihat dari atas sampai kebawah. Kira-kira tingginya gak jauh beda sama Bang Arif, dan mereka memiliki style yang sama dalam berpakaian.
"Kenalin Roy, panggil ja Mas Roy, Mas temannya Bang Arif, karena itu Mas tau nama kamu"
"Oh gitu,," anggukku dengan cepat
Oppss, tunggu dulu, Roy? Mas Roy? Hmmm sepertinya namanya gak asing di telingaku. Aku perhatikan lagi wajah mas-mas ini.
"AHHHHH,,, Mas Roy" teriakku dengan suara cemprengku dan memeluknya, dan berhasil membuat orang-orang disekelilingiku memperhatikanku.
"Iya Dek,, kok kamu lupa sih sama Masnya? Tanya Mas Roy yangg masih Aku peluk dengan erat
"Hehehehe, maaf ya Mas" sembari melepaskan pelukkanku
"Soalnya Mas kok tambah kece sih,,, baru juga 1 tahun gak ketemu, udah banyak perubahan aja Mas?"
"Kamu ini Dek, emang paling bisa muji ya, dan nyenangi hati orang" jawab Mas Roy sambil mencubit pipiku yang chubby
"Iya dong Mas, kan pahala Mas, hehehhe" sembari senyum memperlihatkan deretan gigiku yang rapi
"Terus kamu ngapain disini sendirian, manyun dan hanya menunduk?" tanya Mas Roy yang mulai kepo
"Nurul tadinya sama Bang Arif Mas, tiba-tiba Bang Arif hilang gitu aja, bak ditelan bumi"
"Terus udah kamu telepon Bang Arifnya?"
"HP Nurul tinggal di mobil Mas" ucapku dengan memanyunkan wajahku
"Ya udah bentar ya, biar Bang Arifnya, Mas Roy telepon ya,,, cantik"
"Diangkat Mas, sama Bang Arifnya? terus Bang Arifnya kemana Mas, kok aku ditinggalin sendirian disini?" rengekku kepada Mas Roy
"BangArif lagi ngambil jadwal sidangnya Dek, jadi Nurul jangan mewek gitu ya" sambil tersenyum
..............................
Dari kejauhan Aku melihat seorang pria sedang berjalan dan tersenyum gak jelas gitu, kayak orang stres senyum-senyum sendiri sambil berjalan, hmmm tunggu dulu deh, kayaknya kenal deh sama tu orang. Sekarang semakin terlihat jelas siapa tu orang yang berjalan sambil senyum-senyum sendiri.
"BANG ARIFFFF" teriakku yang mengagetkan Mas Roy yang ada disebelahku
"Buset deh,, Astagfirullah punya Dek kok suaranya cempreng banget dan gak tau malu teriak-teriak gak jelas gitu, buat malu dah nih anak"
"Bang, kemana ja? Ninggalin Nurul gitu ja, kan Nurul nya takut Bang" sambil memeluk Bang Arif dan tanpa sadar butiran air mataku jatuh tanpa diberi aba-aba
"Ya ampun Dek, kok segitunya sampai nangis lagi, maafin Bang ya dek" sambil mengusap air mataku
"hiks hiks,,, entar aku laporin ke Mama sama Papa, kalau Bang ninggalin aku gitu ja, untungnya aku ketemu sama Mas Roy" dengan suara parau, dan nada mengancam
"Yah, maafin Bang dong Dek cantikk, maaf deh, tadi pas kamu lagi asyik nyatat-nyatat gitu, Bang baru ingat jadwal sidang Bang keluar sore ini,, maafin Bang ya?"
"Hmmm,,, ada syaratnya ya Bang, belikan Nurul es cream, coklat dan traktir makan enak di Bandung" dengan gaya anak kecil yang sedang meminta
Mas Roy, hanya memperhatikan keributanku dan Bang Arif, ya jadi penonton setia gitu deh, entah apa yang ada dipikirannya, soalnya selama aku berdebat sama Bang Arif selama itu pula Mas Roy memperhatikanku dan Bang Arif dengan senyum-senyum kecil dibalik bibirnya.
"Roy kamu ikut juga ya, biar sekalian entar ketemu sama Mama, Papa, dan Mas Teguh dirumahnya Tante Ratih" ajak Bang Arif ke Mas Roy sambil merangkulnya berjalan kearah mobil.
.....................
"Mama sama Papa juga ikut Bang? kirain Roy cuma Bang dan Nurul aja yang ke Bandung, waktu baca status Bang d BBM"
"Beli es cream beli es cream" rengekku didalam mobil sambil menggoyang-goyangkan pundak Bang Arif dari belakang
"Wah, Nurul kok tambah manja sih ditinggal 1 tahun" ucap Mas Roy yang habis melihat aksiku ke pada Bang Arif
"Iya ni Roy, manjanya makin parah Dek sepupu loe yang satu ni, bukan tambah dewasa jadi mahasiswa, eh malah tambah manja" keluh Bang Arif kepada Mas Roy
Aku hanya terdiam dikursi belakang sopir, dan hanya menyimak pembicaraan Bang Arif dan Mas Roy, yang sedang mempermasalahkan sifat manjaku, hmm wajar dong aku manja terlahir bungsu dan di keliling saudara-saudara cowok.
"Loh kok, bungsunya Bang makin cemberut sih, nih kita udah sampai di minimarketnya, katanya mau es cream, sama coklat" sembari menggodaku dengan gaya anak-anak pula
"yeyyy" mendengar kata minimarket Aku berhamburan keluar mobil dan diikuti Mas Roy dan Bang arif, yang menggelengkan kepala melihat aksiku.
Ternyata udah masuk waktu maghrib, Bang Arif segera mencari Masjid sepanjang perjalan pulang menuju rumah Tante Ratih. Tidak sulit menemukan Masjid disini, karena Bandung kota besar udah pasti banyak Masjid berjejer di pinggir jalan maupun di dalam lorong-lorong rumah. Selesai Bang Arif memakirkan mobil dihalaman masjid yang cukup luas, kami berjalan menuju tempat wudhu masing-masing.
......................
Sampai dirumah Tante Ratih, Aku dan Bang Arif serta Mas Roy segera turun dari mobil. Ternyata semuanya telah menunggu di meja makan, Pembantu Tante Ratih yang membukakan pintu dan langsung menggiring kami kemeja makan karena telah ditunggu. Langsung mengambil kursi yang masih kosong, kami menyantap makanan yang udah disiapin Tante Ratih.