Kehilangan!

826 Kata
Terdengar dari dalam rumah seseorang menjawab salam Mama, dan belari membukakan pintu. Sambil menunggu pintu dibuka, aku tidak sengaja melihat tulisan 'tamu cowok stop sampai pagar'. Apa-apaan ini, teriakku dalam hati. Pintu kebuka dan suara Mama memanggilku, membuyarkan pikiranku tentang tulisan yang aku baca tadi. "Wa'alaikum salam" jawab seseorang yang ada dibalik pintu Mama menjelaskan maksud dan tujuannya kepada cewek yang berada dibalik pintu itu, orang tersebut membukakan pintu dengan lebar dan mempersilahkan aku dan rombongan masuk kerumah. Aku memperkenalkan diriku singkat kepada cewek tersebut yang terlihat anggun dengan jilbab panjangnya yang terjulai. "Kenalkan nama saya fatimah, saya dipercayai oleh anggota rumah ini menjadi penanggung jawab disini" penjelasan dari cewek yang berkerudung panjang tersebut "Oh, iya Kak,,," jawabku dengan senyum "Oh iya, kamarnya dimana?" tanya Mama "Mari Tante ikuti saya" Aku dan Mama segera mengekorinnya, sampai dikamar yang bakalan menjadi kamarku, memang sih kamarnya gak segede kamarku yang dirumah, tapi setidaknya terdapat kamar mandi didalam, itu yang dari awal aku pesankan kepada Mas Teguh ketika dia yang mencarikan tempat tinggal untukku. Dan Papa segera meminta izin kepada Kak Fatimah untuk memasuki barang-barangku kekamar. Mas Teguh dan Bang Arif segera membantu Papa membawa barang-barangku kekemar. "Astagfirullah" teriakku dengan suara cemprengku "Kamu kenapa teriak-teriak sih dek, malu tauu, belum 1 jam loe disini udah teriak-teriak aja" Bg Arif sewot kepadaku. "Hari inikan jadwal untuk kekampus Bang,  melihat jadwal kegiatan ospek dan melihat keperluan apa aja yang dibawa untuk besok" penjelasanku kepada Bang Arif "Ya udah, antar dulu Mama sama Papa kerumah Tante Ratih, habis itu kamu kekampusnya bareng Bang Arif aja," kata Papa sambil mengelus kepalaku "Tante Ratih, siapa tu Pa?" tanyaku penuh penasaran, dan sedikit mengerutkan keningku. "Duhh,, loe pasti udah lupa ya dek,, itukan sahabatnya Mama, kamu dulu pernah kok ketemu sama tante itu" jawab Mas teguh "Masak iya Mas?,, aku kok gak ingat sih Mas?" tanyaku heran dengan menaiki satu alisku "Iya lah, loe gak ingat dek,,, loekan ketemunya waktu loe SD" jelas Bang Arif kepadaku "Ah, Mas kalau gitu pantesan aku gak ingat,, dek kan masih kecil gitu Mas" sambil mencubit perut Mas Teguh "hehehhehe" tawa Mas Teguh Akhirnya tiba juga dirumah Tante Ratih. Di kursi teras rumah itu udah ada yang menunggu,  sepertinya itu Tante Ratih yang telah menunggu kedatangan Mama. Mama emang udah lama gak ketemu sama Tante  Ratih, terlihat dari wajah sumringahnya ketika kedatangan Mama sangat di tungu tunggu oleh tante Ratih. Mama segara membuka pintu mobil setelah Papa memakiran mobilnya dihalaman rumah Tante Ratih yang cukup luas. "Assalamualaikum, Ratih,,,, ya ampun kangen deh" sembari Mama mendekat ke tempat Tante Ratih, sambil memeluk. "Mas, Bang, mama kayak anak kecil aja ya, ketemu sama Tante Ratih" bisikku terhadap mereka "Ussttt, loe dek, dosa tau gunjingi orang tua sendiri" jawab Mas Teguh "Heheheh" segera aku ketawa tanpa tampang berdosa "Ah,, ni anak bukannya istighfar, malah ketawa" jawab Bang Arif sambil menepuk jidatnya melihat tingkahku. Aku dan yang lainnya segera ngekorin Mama, ketika Tante Ratih mempersilahkan kami semua masuk ke rumahnya yang begitu tampak asri, karena dikelilingi banyak pohon serta tanaman bunga yang beraneka ragam, di tambah cuaca di Bandung yang sejuk. Ketika memasuki rumah Tante, terpampang satu bingkai photo keluarga, di photo tersebut terdapat photo dua anak cowok dan satu perempuan, kelihatan dari photo tersebut sih, dua cowok tersebut seumuran dengan Mas Teguh dan Aku. "Dek,,, kita jadi pergi gak kekampus?" bisik bang Arif yang membuyarkan lamunanku tentang photo itu. "Jadi dong bang" jawabku sambil mengangguk "Ma, Pa aku pergi ya, ngantar ni sih bontot kekampusnya, takut entar kesorean" Bang Arif meminta izin kepada Mama dan Papa "Tunggu Tante Ratih kesini dulu ya Nak, soalnya Tante Ratih lagi didapur" sahut Mama kepada Bang Arif ............................... "Tih, ini si Arif, mau pergi kekampus, mau ngantarin sih Nurul mau lihat pengumuman di kampusnya" izin Mama kepada Tante Ratih "Wah, kok buru-buru sih sayang, diminum dulu, makan dulu cemilannya" tawar Tante Ratih "Nanti aja Tan, kitakan nanti balik lagi kesini, asal jangan di habisin ja cemilannya" ucapku dengan manja terhadap Tante Ratih. ....................................... Sesampainya dipakiran kampus, aku turun dengan mengikuti langkah kaki Bang Arif, karena tentu Bang Arif yang sudah hafal kawasan kampus ini. Sampai juga dimading, segera aku menyalin pengumuman yang tertera dimading untuk para MABA di note kecilku yang selalu aku bawa kemana-mana. Setelah semua selesai aku catat, aku mencari sosok yang telah menghilang dari hadapanku, kemana nih Bang Arif? kok hilang gitu ja, Ya Allah, malah HP di dalam mobil lagi ni, aku lupa lagi jalan ke pakiran, soalnya sepanjang perjalanan aku hanya mengekorin Bang Arif, tanpa melihat lingkungan kampus. Ehmmm, tak jauh dari mading terdapat deretan beberapa kursi. Dan aku putuskan untuk beristirahat disana, karena aku yakin Bang Arif pasti balik lagi, gak mungkin banget Bang Arif ninggalin Adik bungsu kesayangannya di kampus yang segede ini. Sudah satu jam aku menunggu Bang Arif, tapi batang hidungnya belum juga kelihatan, aku sudah mulai panik dan bosan menunggu Bang Arif yang tak kunjung datang menjemputku. Aku tahan butiran air mataku yang telah tertumpuk disudut mataku yang sipit, agar tak mengalir. Ya ampun Bang, loe dimana sih? kok ninggalin dekmu sendirian disini? Ya Allah, Bang kemana sih? Ucapku dalam hati dengan lirih berharap Bang Arif cepat kembali.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN