PROLOG

899 Kata
Shubuh shubuh shubuh suara yang gaduh itu membangunkanku dari tidurku yang baru aku rasakan mata ini baru terpejam. Suara mama yang menggelegar dari ruang tv membangunkanku. Aku buka mata ku secara perlahan dan duduk di pinggir kasur ku untuk mengumpulkan nyawa. Setelah aku rasa telah tersadar aku beranjak dari kasur ku yang beralaskan motif winnie the pooh. Aku ambil wudhu segera dan memakai mukena, sebelum mama masuk kekamar dan memberikan taushiyah pagi. “Nurul,, sarapan dulu nak kebawah,” panggil mama dari ruang makan “iya ma, bentar lagi turun” sambil berjalan menuju tangga Sarapan pagi ini mama membuatkan nasi goreng kesukaanku, di meja sudah ada Papa, Mas Teguh dan Bang Arif. Senangnya, jika bertemu dengan hari sabtu, karena di hari sabtulah aku bisa sarapan bersama anggota keluargaku dengan formasi lengkap. Karena di hari sabtu inilah Mas Teguh, bisa bersantai-santai dirumah dikarenakan tidak ada jam mengajar. Dan Bang Arif hampir setiap hari dia berada dirumah. Mas Teguh bekerja sebagai dosen disalah satu kampus negeri di Jakarta, sedangkan Bang Arif mahasiswa akhir yang lagi sibuk nyusun skripsinya. Papa seperti biasanya weekend selalu memberikan waktunya untuk keluarganya, dan mama adalah ibu rumah tangga yang seutuhnya sempurna, dan ibu yang selalu mengutamakan waktunya untuk anak - anaknya. ................................... “Dek, semua barang kamu udah kamu packingkan?” tanya Mas Teguh kepadaku “Udah mas, nanti tinggal di turuni aja lagi” jawabku sambil menghabiskan sarapan pagiku “Tadi orang sana udah Papa telepon, dan udah Papa katakan nanti bada’ zhuhur kita kesana” “ok Pa, oh ya Mas Teguh dan Bang Arif ikutkan?” tanyaku dengan nada sedikit memkasa “Ikut dong dek” jawab mereka kompak, tapi diberi aba – aba. Seperti biasa rumah ini menjadi hangat dengan tawa ketika semuanya berkumpul, tetapi ada yang lagi sedang menunduk, dengan wajah yang sendu, dan menahan air matanya agar tak jatuh. Seketika itu semua kompak melirik kearah yang sama. “Mama, kok sedih gitu, jangan sedih dong Ma” rengekku manja kepada mama yang kini wajahnya sedang sendu “Sih putri bungsu Mamakan, gak pergi jauh ma” kata Bang Arif, sambil mengelus kepalaku “iya nih Mama, wajahmya sendu banget kayak mau ditinggal keluar negeri sama anaknya” sahut Papa sambil mendekat ke Mama “Iya sedih ja Pa, rumah ini bakalan sepi, gak ada yang merengek seperti balita untuk minta di masakin, atau di temani” jawab Mama dengan nada sedih “ah Mama, jangan ngomong gitu dong, akunya kan sedih nanti malah gak fokus disana” jawabku sambil memeluk Mama. Aku, diterima disalah satu Universitas terbaik di Indonesia, yakni  ITB. Tentu aku sangat bersyukur dan bahagia, akhirnya impianku dari dulu dan ikhtiarku yang kulakukan dari awal memasuki masa putih bu –abu membuahkan hasil. Aku memiliki keinginan untuk berkuliah d ITB dikarenakan  Mas Teguh lulusan ITB begitu juga dengan  Bang Arif yang juga sebentar lagi akan lulus dari ITB. Mas Teguh merupakan lulusan Teknik Elektro dan Bang Arif calon lulusan Teknik Mesin. Dan aku Alhamdullah di terima di jurusan Teknik Elektro. Jurusan yang aku ambil ini  didominasi dengan kaum adam sangat  jarang kaum hawa mengambil juruusan ini. Entah mengapa aku mengambil jurusan ini, menurutku keren aja sebagai kaum hawa aku mengmbil jurusan ini hehehe. Mas Teguh merupakan lulusan  dengan IPK terbaik dan mendapatkan beasiswa S2 diseluruh Universitas Negeri yang ada di Indonesia. Tentu Mas Teguh sangat bersyukur akan prestasi yang ia dapat, dan dengan memikirkan segalanya aspek untuk kedepannya akhirnya Mas Teguh memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2nya di Universitas Gajah Mada (UGM)  Setelah menyelesaikan Strata 2nya, Mas Teguh bekerja sebagai dosen disalah satu universitas di Jakarta.   Sedangkan Bang Arif juga mendapatkan beasiswa S2 namun pemikiran Bang Arif tidak sama dengan Mas Teguh. Bang Arif belum memutuskan bakal lanjutkan kemana.dikarenakan Bang Arif masih fokus akan skripsinya yangtak kunjung selesai di ACC oleh pembimbngnya untuk disidangkan. Usiaku dan Bang Arif terpaut tiga tahun dan usia Bang Arif terpaut pula tiga tahun dengan Mas Teguh dan otomatis usiaku  terpaut enam  tahun dengan Mas Teguh. ................................... “cepetan dek turun Papa udah nunggu ni” teriak Bang Arif dari mushala yang terdapat dihalaman belakang rumah “iya Bang, sabar dikit kenapa sih” jawabku berlari melangkah satu demi satu anak tangga sambil memakai mukena “iya, kamu kebiasaan ribet dan lama kalau mau shalat berjama’ah” “ihh,, Mas kok ikut – ikutanan ngomelin aku sih” jawabku cemberut sambil membentangkan sajadah “udah – udah, klau ribut trus kapan mau khomatnya Mas” timpal Papa Aku langsung memeletkan lidahku dan senyum penuh kepuasaan karena Mas Teguh diomelin Papa  hahhahha. Dan Mas Teguh segera meluruskan shafnya dan khomat dengan suara merdunya. ..................................... Selesai makan siang, aku langsung buru - buru menurunkan barang – barangku yang dibantu 2 jagoanku, bersyukur memilki saudara yang begitu care dan sayang kepadaku dengan cara yang berbeda – beda mengungkapkan sayangnya kepadaku. “busettt Dek, loe bawa apaan? Berat banget ini koper?” tanya Bang Arif kepadaku sambil mengangkat koperku turun mengikuti satu demi satu anak tangga. “bawa granat Bang, jawabku sambil ketawa,,, iya pakaianlah bg” jawabku penuh manja “pintu udah dikunci Ma?” tanya Papa pada mama “udah Pa” jawab Mama “Bismillah, ayo berdoa dulu ya para malaikat Papa” Begitulah cara Papa selalu mengingatkan anak - anaknya yang mulai dewasa untuk selalu berdoa dalam melakukan apapun. Papa melajukan mobil CRVnya, dengan kecepatan normal,. Karena perjalanan kali ini perjalanan yang cukup santai. Sepanjang perjalanan aku menikmati waktuku untuk tidur, dan tak terasa  sudah sampai ketempat tujua. Aku terlelap tidur di samping Mas Teguh dan Bang Arif, mereka membangunkanku dengan penuh kasih sayang. Aku benarkan jilbabku yang sedikit berantakan, dan segera turun mengikuti langkah kaki saudara - saudaraku. “Dek, bakalan tinggal disini Mas?” tanyaku sambil menaiki salah satu alisku “iya dek, rumahnya bagus dan gede kan?” jawab Mas Teguh sambil merangkulku. “Aslamu’alaikum” teriak Mama sambil mengutuk pintu rumah.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN