Pagi di Bandung ternyata masih sama, setalah I bulan Aku meninggalkannya, suara HPku memBangunkanku. Bang Arif, entah mimpi apa dia semalam sehingga pagi ini video call “Widih,,, baru Bangun loe Dek.” Sambil menguap Aku mengangguk “Duh Bang, mimpi apa kamu tadi malam?” tanyAku dengan menggaruk-garuk hidung mancungku yang gatal. “Vermisse dich.” Seketika Aku tertawa setelah mendengar perkataan Bang Arif “Merindukan, untuk mengganggu Bang?” tanyAku segera. “Aduh, serius ini Dek,” sahutnya, dengan muka memelas. “Hehehe, Aku juga merindukanmu Bang, ke Bandung dong Bang,” pintAku. “Weekend aja ya?” “Ok deh, di tunggu, Bang, Mama sama Papa mana? Mau dong video call sama mereka,” “Bentar ya, Bang turun kebawah dulu.” Segera puas melihat wajah Mama dan Papa, Bang Arif menyudahi video

