Sepanjang perjalanan meninggalkan desa Mekarwangi, suasana didalam mobil ini sepi tak berpenghuni. Semuanya sibuk memperhatikan gadget masing-masing dan buka galeri dari Hp yang berada di tangan, dan sedangkan Bang Alfat fokus menyetir. Berat hati ini harus meninggalkan desa yang penuh dengan sejuta kenangan dan sejuta cerita persahabatan ku dengan mereka. Suasana mobil ini tak seramai waktu hendak menuju Garut. Ini dikarenakan sebagian penumpang berada di mobil ustadz Sakha. Tak terasa kami telah jauh meninggalkan desa Mekarwangi, dan suara adzan mahgribpun telah memanggil. Bang Alfat mengikuti laju mobil ustadz Sakha yang berada didepan, dan ikut menepi serta memakirkan mobil di halaman masjid. Usai shalat magrib, Mas Eko memberi usul untuk makan malam, dengan uang honor ustadz Sakha

