Sumpah, aku kaget setengah mati.
Selintas kumenoleh ke arah lainnya.
"Ya, ampun! Di-divar?"
Keduanya sudah terbujur kaku, sedingin es yang beku.
"Tidak! Ini tak mungkin terjadi!
Tidak!
Tidak!
Kutak sanggup lagi membendung air mata.
Sontak kumenjerit histeris
TIDAK!!!
Tangisku pecah seketika.
Tertunduk dan bersujud, menekuk lutut.
"Nick, bisa tolong kau ambilkan pulpen dan kertas kosong?" lirih pintaku.
Tak seberapa lama,
Dengan sigap, bodyguard itu langsung memberikan apa yang kupinya. "Ini, silakan, Nona."
"Tinggalkan aku sendiri di sini!" sahutku.
"Ba-baik, Nona."
Perlahan, sang bodyguard itu pun lenyap bak ditelan lorong pintu. Meninggalkanku seorang diri. Enyah dari hadapanku.
Spontan, dengan jemari bergetar bak pesakitan yang mengidap tremor, aku yang masih dirundung tangis, menulis dengan huruf kapital:
JANGAN DIBACA JIKA ENGKAU SEORANG PENGECUT
Lembaran kertas putih yang kutulis itu, penuh dengan bercak darah yang menetes dari tangan dan seluruh tubuhku.
Setelah menulis panjang lebar, entah setan apa yang merasuki tubuhku.
Shotgun yang tergeletak di lantai, kembali kugenggam dan kukokang.
Kemudian, secara perlahan kuarahkan mulut senapan itu ke dalam mulutku serasa ingin kulumat dan kutelan mentah-mentah.
Tak lama kemudian ....
#JEDAAARRR!!!
.
.
.
Five Years Later (Lima Tahun Kemudian)
"Akhirnya kita berhasil membeli mansion megah ini yah, Bund?" ucap Samantha sembari melingkarkan pelukan mesranya ke pinggang suaminya, Jameson.
"Iya, Sayang. Ini semua demi kamu dan putri tercinta kita, Francesca."
Putri semata wayang Samantha dan Jameson pun menimpal, "Pah! Boleh kan, aku berkeliling di rumah mewah ini?" Francesca, gadis manis berambut pirang dengan kuncir kuda dan berpita merah maroon itu begitu antusias sambil menengok ke kanan dan kiri. Mengedarkan pandangannya, menyisiri ruang demi ruang.
"Oh, tentu. Hati-hati yah, Nak! Jangan lupa, minggu depan kamu kan, udah mulai masuk sekolah. Belajar yang rajin yah, Sayang ...," ucap Jameson, mengusap lembut rambut poni Francesca, putri yang sangat dicintainya.
"Iya, Pah ...," sahutnya riang, berlari menyusuri ruang demi ruang. Melangkahi lampu hias berukuran besar yang menggantung mewah. Menjelajahi isi rumah. Hingga ... akhirnya sampai pada ....
"Hmm ... ini kayaknya basement, deh. Astaga! Gelap banget!" gumam Francesca, seraya masuk ke dalam ruangan nan gulita, sembari meraba-raba permukaan dinding. Menuruni anak tangga satu per satu.
Tak berselang lama ....
"Aha! Ini dia saklar on-off lampunya!" gumam putri menggemaskan itu. Tak butuh waktu lama, Francesca berhasil menekan tombol on. "Yes! Terang at last.
Matanya mengerjap-ngerjap. Memindai seisi ruangan dengan mengendap-ngendap. Sementara kedua orang tuanya_Jameson dan Samantha, masih sibuk menata ruangan di lantai atas.
"Hmm ... banyak barang klasik rupanya," celoteh Francesca. "Eh, ini ada laci antik. Buka, ah .... Ummm ... ada lembaran kertas apaan nih, yah? Hmm ... tulisannya bagus," gumamnya senada dengan denyut jantung yang perlahan terpacu kencang. "Tapi koq, banyak bekas bercak darah, yah?"
Dengan gemetar, Francesca membaca judul tulisan tersebut, 'JANGAN DIBACA JIKA ENGKAU SEORANG PENGECUT'. Seketika ia bergidik ngeri namun dengan nyali yang terbilang berani, ia cengar-cengir sendiri. "Hah? A-aneh. Ini semacam kisah atau diary nyata dari si penulis deh, kayaknya. Hehe. Agak serem. Aneh sekaligus lucu!"
Tiba-tiba, terdengar suara parau dengan intonasi aneh yang menyeramkan dari balik kegelapan.
"Ada yang lucu, Dek?"
Mendengar itu, Francesca jelas terperanjat. Seketika gadis yang mulai merinding ketakutan itu sadar, bahwasanya ia tidaklah sendirian di dalam basement tersebut.
Keadaan kian mencekam ketika Francesca yang nyaris pingsan--tiba-tiba--menyaksikan sosok astral menyeramkan yang perlahan mulai tampak di hadapan matanya.
Membuatnya tersentak dan membelalak seketika.
-BERSAMBUNG-