Belum sempat Daniel berkata-kata dan mencabut pen×snya dari vag×na Chloe, usai mengokang, kuarahkan mulut shotgun yang tengah kugenggam. Membidik punggungnya, dan kutekan pelatuknya.
#Jedaaarrr!!!
Moncong senapan lars panjang meletus.
Peluru berkaliber besar sukses melubangi punggung Daniel yang menyisakan nganga berdiameter besar.
Darah segar menyembur hingga menciprati pay×dara dan wajah Chloe.
Badan Daniel sontak tumbang, menindih tubuh Chloe.
"Key! Tu-tunggu, Key! Please, dengarkan aku dulu!" pinta Chloe dengan raut paras melas.
Aku tak mempedulikan ocehannya.
"Silakan kau susul Daniel ke neraka!" amukku.
Seiring langkahku menaiki ranjang, kemudian kukokang senjata maut yang kugenggam, kemudian kumasukkan paksa mulut senapan membungkam lidahnya, merogoh kerongkongannya yang otomatis membuatnya megap-megap sulit bernapas.
Sedetik kemudian ...
#Duaaarrr!!!
Mulut shotgun meletus. Memuntahkan peluru berkaliber besar. Meledakkan mulut dan separuh wajah plus sebagian tempurung kepala Chloe.
Darah menggenang, membasahi dan mengotori bantal dan bed cover.
Belum puas, shotgun kembali kukokang, lalu kubidik sisa jidat Chloe yang telah menjadi mayat itu, dan ....
#JEDAAARRR!!!
Seketika kepalanya hancur berantakan seremuk otaknya yang berhamburan abstrak.
Tak berhenti sampai di situ,
Kuinjak kepala Daniel dengan sadis, kubalikkan jasadnya, kukokang shotgun, lalu dengan sigap kubidik p***s lemasnya, dan ....
#BLEDAAARRR!!!
Penisnya sehancur perut, limpa, dan ususnya yang terburai tak karuan. Legam. Amis. Anyir.
Darah mayat-mayat itu membanjiri ranjang nan mewah.
Bodyguard tadi memasuki kamar.
Ia makin terperanjat melihat pembantaian kejiku.
"Kenapa?" tanyaku, menoleh kepadanya.
"Ma-maaf, Nona. Anu, sebenarnya sahabat Nona itu ...,"
Belum selesai kalimatnya,
"Kenapa dengan pengkhianat itu?" potongku.
"Di-dia tidak sepenuhnya bersalah," tuturnya dengan wajah pucat.
"What? Maksudmu?"
"Nona Chloe terpaksa mematuhi perintah tuan Daniel, lantaran suaminya disekap di ruang bawah tanah bersama ayahanda Nona."
"Apa kamu bilang? Kau tidak sedang bercanda, kan?" tanyaku dengan nada panik.
"Saya berani bersumpah, Nona. Sungguh, saya tidak berani berdusta kepada anda yang kini telah menjadi pimpinan kami yang baru."
"Di mana ruangan itu? Tunjukkan padaku!" sergahku, menahan nyeri yang kadung menyergap rongga d**a.
"Ikuti saya, nyonya."
Aku bergegas mengikutinya dengan jantung yang berdebaran tak karuan, menuju ruangan yang dimaksud, dan ....
Benar saja, ada frezzer khusus daging berukuran besar di basement!
Bodyguard itu dengan sigap membuka lemari pendingin mewah yang berukuran besar itu.
Membuatku membelalak seketika.
"Oh, Tuhan! A-ayah?"
-BERSAMBUNG-