Sejenak kuterdiam, mematung, sambil menahan perih, ngilu dahiku, dan menyeka darah yang mengucur dari pelipisku yang robek.
Luka batin ditambah luka raga ini membuatku ... TERTAWA!
Hehe
Haha
HAHAAA ....
"Hey, p*****r! Kenapa kau malah tertawa? Ada yang lucu?" tanya Mr. Vincent, keheranan.
Belum sempat ia menghela napas selanjutnya, dengan secepat kilat, kuraih pecahan gelas kristal yang terbelah tadi, sambil berbalik badan, lantas kutikam bola matanya!
#Croottzz!!!
"Aaarrghh .... b*****t! Kubunuh kau, s****l!" jeritnya meringis, mengaduh kesakitan sembari berusaha mencabut pecahan beling itu dari matanya yang koyak dan berdarah-darah.
"Nick! Jangan diam saja, kau! Cepat habisi p*****r sialan ini!" Perintahnya kepada bodyguard yang kaget bukan kepalang menatap ngeri bosnya yang tengah meringis blingsatan.
Sang bodyguard yang masih shock dan terperangah tersebut, langsung bersiap mengokang shotgun-nya.
Dengan sigap, kucekik leher Mr. Vincent dan kutodongkan pecahan piring dengan bagian yang runcing persis beberapa centi dari jakunnya.
"Jangan bergerak! Atau kubunuh bosmu ini!"
Ancamku kepada bodyguard tersebut sambil memiting lengan Mr. Vincent.
"b******n!" serapah Ayah Daniel.
"Diam kau babi busuk!" bentakku, geram. Murka.
"Hey, bodyguard! Ketahuilah, aku mungkin tidak pandai dalam bisnis haram kalian. Namun aku sangat mahir dalam berhitung, kalkulasi, dan negosiasi. Bagimu ini semua tentang bisnis, bukan?" ujarku.
Bodyguard yang masih terperanjat itu pun mengangguk. Tertegun.
"Okay. Begini saja. Kutawarkan padamu posisi yang paling tinggi sebagai wakilku di organisasi ini menggantikan si anjing jahannam ini, dan ... akan kulipatgandakan gaji, bonus, serta tunjanganmu. Bagaimana? Deal?"
"Umm ... maksudnya?" tanyanya, heran.
"Simple-nya, kau kuangkat sebagai wakil dan orang kepercayaanku. Tangan kananku! Tugasmu adalah melindungiku, dan kau boleh membunuh bodyguard-bodyguard lain yang tidak loyal kepadaku. Bagaimana?"
Bodyguard itu masih terdiam. Bingung. Ia nampak pucat.
"Okay, baiklah. Ini agar kau semakin yakin pada keseriusanku," cetusku sambil menusuk leher Ayah Daniel dengan pecahan tajam piring yang kugenggam.
#Craaaghh!!!
"Aaaarrghh ...!"
Mr. Vincent histeris menjerit segoblok-gobloknya seraya lehernya sobek kutikam dengan kasar hingga anyir darah menyeruak menciprati meja makan dan spaghetti yang belum tandas kuhabiskan.
Membuat sang bodyguard tersentak, membelalak, seakan membisu, bak patung yang tak bisa berkata-kata.
Sejurus kemudian, kugorok leher Mr. Vincent dengan ujung runcing beling gelas.
#Craaassshhh!!!
"Uaaarrrhggh ...!" Membuat Ayah Daniel mengerang mampus. Bersiap menyeberang ke akhirat. Sekarat.
Sayatanku berhasil menumpahruahkan darah dari luka di lehernya yang kian menganga, hingga amis darah menggenang membanjiri kursi dan ubin lantai. Menodai keramik marmer nan mewah.
"Kyaaaarrrghhh ...!" Ayah Daniel kelojotan, sekarat, kesetanan.
Tanpa ampun kukepruk kepala Mr. Vincent dengan vas bunga yang seketika pecah dan sebagian belingnya sukses menancap melukai kepalanya.
Sebelum ia pingsan dan kehilangan nyawa, segera kuraih garpu di sisi pecahan piring yang langsung kuhunjamkan ke sebelah matanya.
#Craph!
"Uaaarrrghhh ...!" teriak lantang Mr. Vincent, merintih, kesetanan.
Bola matanya remuk tertembus garpu mewah tersebut.
Tanpa ba bi bu, kucongkel bola matanya hingga lepas dari pangkalnya.
#Crooaaattzzsshh!!!
"Aaaaaaaaarrrgghhh ...!"
Seketika ia buta.
Kemudian kepala Mr. Vincent kuhempaskan ke atas meja.
#Bruaaghh!!!
Ia meringis histeris.
Gelagapan. Mulutnya megap-megap tanda kian sekarat.
Dengan gesit kuambil sebilah pisau steak berujung runcing yang terletak di samping piring Daniel tadi, lalu--tanpa banyak kata--langsung kutikam leher Mr. Vincent!
Kutusuk-tusuk dengan ganas!
Darah kian menyembur dari lehernya yang terkoyak dan makin menganga.
Kemudian kupenggal paksa leher Mr. Vincent dengan pisau tersebut.
Kugorok, kujagal dengan kasar!
"Hoek!"
Bodyguard di hadapanku terpaku, terperanjat dan nyaris muntah menyaksikan kebengisanku. Ia tak menyangka aku mampu berbuat sekejam dan sebrutal itu.
"Kamu, sebaiknya habisi penjaga di luar yang tidak loyal kepadaku!" Perintahku kepada bodyguard itu, sembari kuangkat tinggi-tinggi kursi besi lalu kutindih batang leher Mr. Vincent yang membuat kepala dan lehernya putus seketika.
Tubuh Ayah Daniel roboh terkapar di lantai, sementara kepalanya yang buntung dengan lidahnya yang menjulur keluar tertinggal di atas meja makan dengan darah yang berceceran, menggenang dimana-mana.
"Boleh kupinjam shotgun-mu ?" pintaku dengan senyuman sinis.
"Ba-baiklah, i-ini, Nona," ujarnya terbata-bata.
Bodyguard itu terperangah. Ritme dadanya naik turun. Paru-parunya kembang kempis. Nampak jelas ia bergidik ngeri menjadi saksi bosnya mampus di tanganku. Lantas, sedetik kemudian ia membukakan pintu dan ke luar ruangan mematuhi perintahku.
Usai mematikan gramofon, dengan senyum sinis layaknya seringai iblis, kubergegas melangkah menuju lantai atas. Menaiki anak tangga satu-persatu.
"Daniel, Chloe, wait for me!" batinku selaras dengan senyuman yang menyeringai.
.
.
.
Tak lama berselang, kudobrak pintu kamar Daniel.
Daniel dan Chloe yang tengah berhubungan intim, mengadu pangkal paha, nampak bugil dalam posisi missionary di atas ranjang.
Keduanya tersentak, kaget dan histeris menatapku, beserta gaunku yang berlumuran darah.
"K-Key?"
-BERSAMBUNG-