JANGAN DIBACA JIKA ENGKAU SEORANG PENGECUT (Part 2)

1245 Kata
#Clak #Clak #Clak Isak tangis gerimis mulai menetes, merayapi kucel rambutku. #Teuisss .... #Brrrrrrrr .... Berduyun-duyun hujan pun mulai turun, langit yang berkolusi dengan kelam mendung seolah tak sungkan lagi meluapkan lirih tangisnya, membasahi dedaunan, ranting pepohonan, dan sekujur tubuhku dalam balutan gaun compang-camping yang telah sobek di sana sini. Saking kebelet pipis, celana dalamku yang telah raib entah ke mana, tak lagi mengganjal uretra pada v*gin*ku untuk membuang air seni. Jadilah aku kencing dengan posisi jongkok di pinggiran batu kali, melapangkan saluran kemih, membagikan polusi air yang mencemari lembab tanah, kerikil, hingga busanya musnah terbawa arus bersama gemericik air sungai. Tak ketinggalan kuber*k di pinggir sungai. T*iku nyemplung, lalu mengapung mengalir entah kemana. Sumpah, baru kali ini aku ber*k seperti ini. Dengan dahaga yang tiada lagi dapat kutahan, kulebarkan area mulutku hingga menganga menghadap langit, menadah air hujan. Meneguknya sedikit demi sedikit. Kendati deras, namun rasa haus itu belum juga sirna. Maka apa mau dikata, terpaksa kuceburkan kedua tanganku ke dalam air sungai layaknya tangan yang sedang berdoa, lalu dengan rakus segera kuminum air sungai tersebut hingga tandas, sampai hidungku kemasukan air, membuatku tersedak hingga terbatuk-batuk. Kujilati celah jemariku. Peduli set*n air sungai itu bersih atau tidak, setidaknya airnya cukup bening, tidak sekeruh air kencingku tadi. Kubasuh wajahku. Mencipratkan air dingin sungai yang bercampur dengan rinai hujan. F*ck! Badanku mulai menggigil. Entah berapa celcius suhu udara yang merangsek hela napas dan sekujur tubuhku. Perut kemarauku tak kalah bising. Keroncongan tak karuan. Di tengah hutan begini manalah mungkin kutemui kedai atau pun gerai makanan dan minuman. Boro-boro mini market, sedang warung pinggir jalan saja mungkin hanya sebatas fatamorgana. Delusi. Halusinasi. Irasional! Oh Tuhan,apa yang harus kulakukan? Aku teramat letih, tak sanggup lagi berlari. Kakiku lemas. Aliran darah pada jantungku serasa mampat. Lapar. Sangatlah lapar. Dua~tiga ikan sesekali melintasi air sungai itu. Memancing ikan bukanlah keahlianku. Namun aku nekat memburu ikan-ikan tersebut. Sia-sia. Tanganku seperti menangkap angin. Ikan-ikan itu begitu gesit, lincah, lebih cekatan ketimbang jemariku yang mulai lemas. Tak heran mereka dengan mudah lolos dari uberan tanganku yang gagal menangkapinya. Sh*t! KATAK? Ada beberapa katak yang berjejer tak beraturan di pinggiran sungai layaknya mobil VW yang terparkir di sebuah mall. Tanpa tedeng aling-aling aku mengejarnya. Katak-katak itu melompat-lompat ketika tanganku berusaha menggapainya. Finally, Kutangkap. Kusergap. #Hap! Haha .... Kemari kau, katak! Seekor katak yang lugu itu seakan menatap kedua mataku, seperti cemas dan memohon ampun. Ah, sudah kepalang tanggung! AKU LAPAR! Dengan posisi berlutut, katak tersebut kuapit kaki dan setengah badannya, perutnya dalam posisi terlentang kutekan dengan kuat di atas permukaan batu kali yang berukuran medium, lantas kuambil sebongkah batu kali yang berwarna legam, kugenggam dengan erat, lalu bersiap ancang-ancang, dan .... #Crotthzzss ! Batu kali yang kuhantamkan dengan keras ke arah kepala katak tersebut, sukses memecahkan kepala dan sebagian tubuh katak malang tersebut. Anyir darah menyeruak. Katak itu tak sempat menjerit, seketika ia mejret, jadi agak gepeng tak ubahnya ayam penyet. Ususnya hancur, amis terhambur senada dengan matanya yang remuk tiada berbentuk. Darahnya meleleh. Hujan begini mustahil menyalakan api. Korek pun tiada. Apalagi mencari ranting kering yang mungkin bisa saja kubakar dengan melalui proses yang sungguh melelahkan. Jujur saja, memanggang katak adalah hal yang tak pernah sekalipun kulakukan. Apalagi mengkonsumsinya. Jadi dengan nekat kukumpulkan seluruh tenaga dan nyaliku, usai katak mampus itu kukuliti, darahnya kubersihkan dengan basuhan air sungai, kemudian kupejamkan kedua mataku. Lalu tanpa membuang waktu, kumasukkan daging mungil katak itu ke dalam mulutku. Kulahap bulat-bulat! Mengunyah katak mentah-mentah bukan perkara mudah. Semula kunyaris muntah. Hoek! Ah, peduli setan! Dari pada kumati kelaparan, lebih baik kau saja yang mati wahai katak sialan! Kumakan kau! Dengan buru-buru gemeretak gigiku agak canggung mengunyah tubuh katak itu. Kemudian kupaksakan untuk tetap menelannya. Sukses melewati tenggorokan menuju lambungku, meski sumpah geli dan super jijik! Paling tidak, itu bisa mengganjal kerontang perutku. Gelegar geluduk mengagetkanku. Membuat tubuhku merinding. Langit tumpah ruah dengan derasnya air hujan yang menampar-nampar keningku. Petir gelepar, kilatannya menyambar abstrak ke segala arah. Aku menggigil kedinginan. Hari mulai padam. Mentari tenggelam. Dalam hutan nan lebat ini hanya desing jangkrik dan riuh suara burung yang lalu lalang di sekitar telingaku. Kuusap peluh dingin pada parasku. Was-was rasanya. Terlebih akar dan batang pepohonan yang kulintasi kian mencekam. Entah kuberada dimana. Apakah aku tersesat. Ah, entahlah. Yang kutahu aku harus terus berjalan, menembus hutan, mencari peradaban, walau langkah demi langkah. Langit gulita. Kepalaku kian berat. Bak kapal oleng tubuhku ambruk di tengah jalan. Kelopak mataku terbenam. Dedaunan berguguran. "Key, waspadalah, kamu tahu kan, suamiku, Divar, berdinas di institusi kepolisian sebagai intel? Menurut info valid yang kudengar, ayahnya Daniel adalah salah satu kartel narkoba terbesar di negeri ini." "What? Seriously?" "Serius, Key. Bersama para bos mafia lainnya di Republik Ceko ini, mereka menguasai 90% perdagangan obat bius. Di kota Cesky Krumlov ini saja, semua pasokan ganja, heroin, hingga sabu berasal dari mereka, dan Daniel memegang bisnis haram human trafficking (perdagangan manusia)." "Are you joking? Jangan bercanda, ah!" "Sumpah, aku sedang tak bergurau, Key. Sebagai sahabat karibmu sedari kecil, mana mungkin aku bercanda soal informasi maha penting ini? Demi kebaikanmu, kau harus tahu semua ini, sebab suamiku tengah menyamar dan berusaha menyusup ke dalam organisasi hitam tersebut untuk membongkar semua praktek gelap dan segala tindak tanduk kriminalitas mereka." "Chloe, sahabatku. Kamu tahu kan, sebentar lagi aku akan menikah dengannya?" "Maka dari itu, Key. Aku sarankan sebaiknya kamu batalkan saja pernikahanmu dengan Daniel. Kamu kembalikan saja cincin pertunangan itu." "Katakanlah padaku sejujur-jujurnya, apakah Daniel 100% terlibat dalam bisnis haram tersebut?" "Iya Key, itu benar adanya. Sudah dikonfirmasikan dari intelijen rahasia di kepolisian. Dia dipercaya oleh ayahnya, Mr. Vincent, untuk mengendalikan dan memastikan kelancaran stock wanita-wanita cantik untuk diperdagangkan sebagai b***k seks, p*****r, bintang p*rno, atau pun buruh kerja paksa tanpa bayaran. Daniel adalah salah satu supplier wanita terbesar untuk dijual ke Hungaria, Swiss, Perancis, Kanada, Bolivia, hingga Meksiko. Bekerjasama dengan gembong-gembong narkoba internasional lainnya. Namun dikarenakan belum cukupnya bukti otentik plus begitu lihai dan licinnya mereka menyuap para aparat yang korup, birokrat tamak, politikus-politikus k*****t, hingga para pejabat yang b***t, jaringan kejahatan mereka masih kokoh hingga saat ini." "Ya Tuhan ... sungguh aku tak menyangka." "Sudahlah, Key. Hapus air matamu. Pria seperti Daniel tak pantas untuk kamu tangisi. Aku akan selalu berada di sisimu. Mensupportmu, as always." "Terima kasih banyak, Chloe. Kamu memang sahabat sejatiku." "My pleasure ...." . . . Keredap bintang bertaburan di angkasa. Langit malam sesunyi ladang-ladang gandum dan beku pedati. "Ayah? Mengapa Ayah termenung duduk menyendiri di paviliun ?" "Ayah kangen ibumu, Nak." "I miss her too, Dad. Belum genap sebulan ibu meninggalkan kita. Bahkan pusara ibu masih belum kering rasanya." "Iya, Nak. Di dunia ini tinggal engkaulah satu-satunya harta ayah yang sangat berharga dan tak ternilai dengan apapun juga. Adikmu, Anastasya, yang i***t namun berhati malaikat itu tak mampu bertahan dari ganasnya kanker hati, kini ibumu pun menyusulnya ke surga." "Iya, Ayah. Relakanlah. Ikhlaskan. Kita berdoa semoga mereka tenang di alam sana, yah? Key janji, akan selalu menemani ayah." "Terima kasih banyak yah, Nak. Namun ingat baik-baik pesan Ayah. Di dunia ini tidak ada yang namanya perang bersih. Kamu tahu kenapa?" "Tidak. Coba jelaskan, Yah?" "Kamu harus selalu hati-hati dan waspada. Di mana pun kamu tinggal. Di mana pun kamu bekerja. Kapan pun dan di mana pun itu, ingat Key! Orang pintar itu banyak. Bahkan, orang yang sok pintar padahal g****k itu jauh lebih banyak. Orang bijak itu banyak, bahkan, orang yang sok belagak bijak malah lebih banyak. Berhati-hatilah dengan manusia-manusia berhati busuk macam itu. Ayah tak ingin sampai kamu terjerumus ke dalam hal yang tidak-tidak." "Iya, Yah. Key paham. Ayah jangan khawatir, yah?" "Ayah percaya sama kamu, Nak. Kamu pintar, cerdas, cantik pula. Bahkan disertasimu cumlaude. Ayah bangga padamu, Key. Jangan sampai kamu ikut-ikutan bodoh seperti manusia lainnya, yah?" "Iya, Ayah. Don't worry." "Kau tahu kan, Key ? Perusahaan ayah sering dijegal dalam persaingan liberal yang tidak fair?" "Hu'um." "Maka dari itu, Ayah tak ingin engkau bernasib sama dengan Ayah. Stagnan. Ayah mohon maaf bila belum maksimal membahagiakanmu, Key." "Ga apa-apa, Ayah. Kita syukuri saja apa yang ada. Bukankah Tuhan Maha Adil?" "Itu baru namanya putri Ayah. Kamu memang terlahir cerdas. Semurni dan secantik mutiara. Keindahan dan ketulusan hatimu akan menyelamatkanmu di segala kondisi. Tak perlu kau dengarkan manusia bebal berotak dangkal yang gemar berceloteh non sense hingga berbusa-busa, sebab itu sama saja dengan memamerkan lelucon tololnya. Mengapa t***l? Sebab mereka-mereka yang seperti itu besar kemungkinan berpenyakit hati, berwawasan sempit, mungkin kurang piknik, dan sudah jelas kurang edukasi pun pengalaman." "Iya, Ayah. Keysha janji akan selalu ingat nasehat Ayah." "Orang yang berpikiran terbuka sepertimu, mampu menganalisis segala sisi. Mindsetmu yang luas dan hatimu yang jernih seperti ibumu dan dirimu itu sangatlah jarang, Key. Sukar untuk ditemukan. Seberharga mutiara yang terpendam di dalam lumpur. Kau harus tahu, Key, untuk menemukan kedamaian, keindahan, maupun sisi estetis yang jarang orang awam pahami, maka engkau wajib berani menyelami dalamnya lautan. Sebab ilmu tidaklah dangkal, melainkan sangatlah dalam bahkan hingga ke dasar, dan itulah kualitas! That's you, my daughter." "Thanks, Dad." . . . Dinginnya AC membuat sekujur tubuhku menggigil, bersandar di jok mobil. Kelopak mataku yang sebelumnya terkatup mulai terbuka. Sempat kukucek mataku. Terkesiap tatkala kudapati diriku tengah berada di dalam sedan dan menatap Chloe yang sedang menyetir mobil. "Astaga, Chloe? Ka-kamu ...?" "Oh, my God! Kamu sudah bangun, Key? Syukurlah kamu sudah sadar." "Ba-bagaimana bisa kamu menemukanku?" "Tadi kamu pingsan. Aku tak sengaja menemukanmu di jalan, Key. Sudah berhari-hari aku mencarimu. Aku sangat cemas dengan keadaanmu. Apakah kamu baik-baik saja? Pakaianmu koq, robek begitu? What's wrong? What happen?" "Umm ... rupanya tadi aku sempat bermimpi." "Mimpi?" "He'eum." "Tell me. Ceritakanlah padaku apa yang terjadi denganmu selama ini? Mengapa kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar berita bak ditelan bumi?" "Long story. Ceritanya panjang, Chloe. Nanti kuceritakan setibanya kita di rumah. Aku lelah sekali." "Okay, sebaiknya kamu istirahat. Sebentar lagi kita sampai ke kota. Tidurlah, Key. Biar aku yang menjagamu. Kamu tahu kan, sejak dulu aku pandai menyetir? Bahkan sejak masa kuliah kita di London, Inggris, dahulu, aku yang selalu menemanimu dan mengemudikan sedan ini." "Kamu memang dewi penyelamatku, Chloe. Terima kasih banyak, Sobatku." "Don't mention it, my beloved pal. Like I ever said, aku akan selalu mensupport dan menemanimu, my best friend." Usai percakapan singkat dan pertemuan yang sungguh tak disengaja itu, mataku yang teramat kantuk kembali terpejam. Jelang dini hari, langit kian pekat, setemaram sorot lampu jalan dimana pepohonan tua bak akar serabut raksasa yang berkejaran. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Menyibak gulita. Aku bersyukur atas anugerah dan rahmat Tuhan. Chloe memang sahabat sejatiku. Aku beruntung memiliki sahabat sepertinya. Thank you so much, Chloe. Bangun-bangun, aku sudah berada di atas ranjang nan empuk. Entah berapa lama aku tertidur. Aku ingin segera menemui ayah. Weird. Aku merasa asing. Sepertinya ... ini bukanlah rumahku. Meja rias dan cerminku beda. Ranjangku beda. Lemari dan cermin itu pun beda. Ya Tuhan! Di manakah ini? Aku beranjak dari ranjang. Menatap cermin. Oh, pakaian yang kukenakan sudah rapi dan bersih. What's going on? Apa yang terjadi? Kubergegas membuka pintu, dan berjingkat perlahan menuruni anak tangga. Di lantai bawah, tiba-tiba aku mendengar lagu yang cukup familiar. Lagu dari salah satu band legendaris yang pernah ada di muka bumi. Musik yang paling fenomenal bahkan hingga saat ini. Bohemian Rhapsody by Queen! Is this the real life? Is this just fantasy? Caught in a landslide No escape from reality Open your eyes Look up to the skies and see I'm just a poor boy, I need no sympathy Because I'm easy come, easy go A little high, little low Anyway the wind blows, doesn't really matter to me, to me Mama, just killed a man Put a gun against his head Pulled my trigger, now he's dead Mama, life had just begun But now I've gone and thrown it all away Mama ... oh, oh .... Didn't mean to make you cry If I'm not back again this time tomorrow Carry on, carry on, as if nothing really matters Too late, my time has come Sends shivers down my spine Body's aching all the time Goodbye everybody I've got to go Gotta leave you all behind and face the truth Mama ... oh, oh ... (anyway the wind blows) I don't want to die Sometimes wish I'd never been born at all .... Langkahku terhenti kala menatap gramofon yang tengah memutar piringan hitam tersebut. "Selamat pagi, Key. Gimana tidurmu? Nyenyak?" Aku menengok ke belakang mencari asal muasal sapaan itu. "Mr.Vincent?" gumamku. "Ya, Tuhan! Apakah aku sedang berada di rumahnya? Pantas saja megah," batinku, seraya terperangah dan jelas saja makin merinding sekujur tubuhku. "Duduklah, sarapan dulu," ucapnya mempersilakanku sembari ia duduk di kursi seberang persis di hadapanku yang hanya dibatasi meja makan bundar yang berukuran besar. "Suka musik itu?" tanyanya sembari meminum secangkir champagne "Umm ... iya, Om. Saya menyukai semua jenis musik. Terlebih, lagu-lagu yang berkualitas." "Bagus. Itu artinya engkau berkelas. Kau tahu? Klasik is classy, sampai kapan pun selalu berkelas. Memiliki kelas tersendiri. Kelas dengan level yang tinggi. Lain halnya orang yang tak mengerti musik. Kamu S2, kan ?" "Iya, Om." "Nah, dari situ saja kamu paham betul mengenai banyak hal." "Terima kasih, Om. Maaf Om...a-anu," "Relax, Key. Kamu pasti ingin menanyakan perihal Ayahmu, Chloe, dan Daniel, bukan ?" potongnya "I-iya..." jawabku terbata "Makan saja dulu hidangan itu. Kamu suka spaghetti, bukan ?" "Umm...i-iya, Om," Ucapku terpaksa sembari meraih sendok dan garpu di samping piring dan gelas kristal. "Makanlah. Kamu tentu lapar, bukan?" Aku menimpalinya dengan anggukkan kepala. Kendati jantung serasa nyeri dan bergidik ngeri. Kutetap berusaha tenang dan mengumpulkan nyali. Bagaimana tidak? Di hadapanku duduk seorang bos mafia yang membuatku kian bergidik dan mati kutu. Kedua lututku mulai gemetar tak karuan. Namun, kuberusaha tetap menuruti perintahnya. Apa lagi di ujung sana, persis di muka pintu, berdiri seorang bodyguard bertuxedo, berkacamata hitam sambil memegang shotgun, senapan berkaliber besar. -BERSAMBUNG-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN