-*-*-*-
Dalam keadaan masih di dalam pelukan Kenan. Gianna menggigit bibirnya gemetaran.
Kebingungan, juga syok. Lalu ia kemudian tersadar akan suatu hal dan langsung menyingkir.
"Kenan!" serunya saat sadar kalau dirinya masih di dalam pelukan Kenan. Matanya seketika melebar begitu melihat Kenan menutup matanya dan terdiam.
"Ken? Kenan?" panggilnya berharap Kenan menjawab. Kedua tangan Gianna langsung menangkup wajah Kenan. Lalu ia menepuk pipi Kenan beberapa kali karena Kenan masih saja menutup matanya.
"Kenan?! Ih Ken ngga usah main-main." -mata Gianna mulai berair. Ia benar-benar merasa bersalah. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kenan, itu sudah pasti menjadi salahnya.- "Please Ken jawab! Buka mata lo! Lo ngga mati kan?!" seru Gianna masih menepuk pipi Kenan lalu mengguncang bahunya membuat sang pemilik tubuh itu spontan membuka mata dan menahan kedua tangan Gianna yang terus mengguncang bahunya.
"Enteng banget itu mulut ngomong mati," tukas Kenan menjawab Gianna yang tak bisa mengontrol suaranya. Namun tak lama kemudian ia terkejut.
Ada beberapa titik air mata di pelupuk Gianna. Apakah dia hampir menangis?
"Ya ... ya sorry ... ." -tanpa sadar, Gianna menatap nelangsa pada Kenan lalu menyeka air mata yang menempel diantara bulu matanya.- "Lagian lo ngapain tutup-tutup mata segala? Gue kan jadi takut," kesal Gianna merenggut.
"Gue ngantuk." -balas Kenan asal, berpura-pura tak sadar dengan air mata Gianna.- "Lo kira gue ngga nahan sakit begitu punggung gue nabrak tembok? Bayangin aja. Gue abis narik lo spontan ke belakang tanpa mikir panjang gegara lo pecicilan. Belum lagi kedorong badan lo. Kurang sakit apa coba sengaja nabrakin diri sendiri ke tembok begitu?" semburnya cepat membuat Gianna otomatis diam menyimak.
"Ya maaf ... ." Gianna menunduk merasa semakin bersalah. Kenan hanya bisa menghela nafas dan memilih tidak terlalu memikirkannya. Sepertinya akan menjadi keterlaluan kalau ia memarahi Gianna lebih jauh.
"Yaudah kalo gitu bantu gue berdiri," pinta Kenan mengalihkan keheningan yang sempat hadir sejenak diantara mereka.
"O-oke," Gianna segera berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Kenan. Kenan menerima tangan itu dan mencoba berdiri. Meskipun sebenarnya tidak terlalu berguna karena nyatanya sudah jelas tubuh Gianna lebih kecil di bandingkan dengan Kenan. Sehingga kalaupun Kenan benar-benar menggunakan bantuan Gianna sepenuhnya untuk berdiri, Gianna akan kalah dan bisa saja tubuhnya yang tertarik jatuh.
Tapi sepertinya Kenan hanya ingin membuat Gianna tidak terlalu merasa bersalah. Maka dari itu, ia meminta Gianna membantunya berdiri. Padahal kenyataannya tanpa di tolong Gianna pun ia masih bisa berdiri sendiri.
"Ada yang sakit ngga? Ke klinik aja dulu mungkin?" tanya Gianna seraya memeriksa sekeliling tubuh Kenan. Ia merasa khawatir.
"Kayaknya ngga ada sih. Tapi ngga tau kalo- akh!" Kenan sedikit terpekik saat dia meraba siku kanan belakangnya.
"Eh?! Kenapa? Sakit?" Gianna berubah panik ketika Kenan merintih sakit.
"Mungkin cuma memar. Ntar juga sembuh," Kenan tak ambil pusing dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Ih dasar cowok! Enteng banget ngebiarin rasa sakit. Ke klinik aja sama gue," ujar Gianna seraya memungut bukunya yang berserakan jatuh.
"Ngga usah. Besok juga udah sembuh. Badan gue itu regenerasinya cepet," celetuk Kenan tak ingin merepotkan Gianna. Karena biasanya juga ia tidak pernah memusingkan perihal luka pada tubuhnya sama sekali jika tidak terlalu mengkhawatirkan.
"Kenan," -Gianna menengok dan menatap Kenan tajam.- "Plis nurut sama gue. Gue ngga mau lo kesakitan sehabis nolongin gue. Gue orangnya tau diri. Oke?" usai berkata begitu, Gianna langsung saja menarik lengan Kenan yang tidak sakit menuju klinik kampus.
Mau tidak mau, Kenan hanya bisa menuruti Gianna dan berjalan mengikutinya.
Di klinik.
"Duduk di sini. Diem. Ngga usah kemana-mana!" titahnya setelah mendudukkan Kenan di tepi ranjang kosong.
"Iya Jian. Gue bukan anak kecil," ucap Kenan tersenyum melihat tingkah Gianna yang bertingkah perhatian dengan wajah ketusnya.
Gianna pun mencari waskom kecil dan mengisinya dengan es batu. Setelah di rasa cukup, Gianna mengambil handuk dan kembali pada Kenan.
"Kenan,"
"Ya?"
"Buka baju," perintah Gianna.
"Hah? Mau ngapain?" ujar Kenan memandang Gianna curiga.
Mata Gianna merotasi mendengar pertanyaan Kenan. Lalu ia menjentik kening Kenan
"Ah!" pekiknya kaget.
"Ngga usah mikir yang lain dan buka baju lo sekarang! Gimana caranya gue bisa kompres tangan lo kalo lo ngga buka baju? Gue juga mau liat, ada memar yang lain atau ngga di punggung lo," jelas Gianna membuang jauh-jauh salah paham yang mungkin tengah bersarang di dalam kepala Kenan.
"Aah~ Alasan aja lo Jian. Bilang aja lo mau liat-"
Plak!
Gianna sudah tidak tahan dan menampar pipi Kenan dengan pelan(?)
"Buka sekarang juga atau gue robek kemeja lo itu, Ken," ancam Gianna dengan tangan kanan mengepal.
Kenan terdiam dalam posisinya. Ia tak menyangka. Gianna baru saja menampar pipinya. Tadi perutnya menjadi landasan pukulan Gianna, lalu kali ini pipinya ditampar. Lalu apa selanjutnya? Apakah Gianna benar akan mengobatinya?
"Jian. Lo bukan cewek," akunya menatap Gianna dengan mata masih tidak percaya.
"Buka sekarang!" geram Gianna mulai merasa kesal.
"Oke oke. Lo lama-lama jadi kayak adek gue yang maksa dianter pergi nge mall," Kenan pun membuka kancing mejanya satu per satu.
Awalnya, Gianna menatap sebal pada Kenan. Tapi wajah kesalnya spontan berubah terkejut begitu Kenan membuka kancing kemejanya dan membuat tubuh Kenan terekspos sedikit demi sedikit dengan jelas di hadapan Gianna. Tanpa sadar, Gianna membuang mukanya ke jendela. Ia tidak mau wajahnya yang memerah tertangkap mata Kenan untuk kedua kalinya.
"Kalo udah, buruan balik badan!" perintah Gianna tanpa menatap orang yang di maksudkannya.
"Nyuruh terus. Btw. Lo ngeliat apa?" Kenan terlihat penasaran dan menjajarkan wajahnya di samping Gianna.
"Liat ... ." ketika menoleh, Gianna di buat terkejut lagi karena melihat sisi kanan wajah Kenan tepat berada di depannya. Mata nya mengerjap beberapa kali tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya sedekat ini.
Matanya bahkan terbelalak lebar begitu Kenan menengok.
"Liat angin!" serunya spontan mendorong tubuh Kenan.
"Emangnya angin bisa di liat?" ledek Kenan menyadari kalau Gianna sedang merasa malu. Ia pun terus menatap Gianna meskipun tubuhnya sudah berbalik.
Merasa kesal, Gianna langsung menekan luka memar Kenan yang ternyata sudah membiru.
"Akh!" -Kenan spontan menarik tangannya. "Lo sebenernya mau ngobatin gue atau ngga sih?" protes Kenan sedikit heran dengan tingkah Gianna. Padahal sudah jelas itu karena perbuatannya jahilnya sendiri yang membuat Gianna bertingkah begitu.
"Ngga! Makanya diem." Tukasnya ketus.
"Oke-oke gue diem." Kenan akhirnya mengalah. Sepertinya lebih baik begitu, karena mungkin saja Gianna akan berbuat lebih dari sekedar menekan luka memarnya jika menggoda lebih jauh.
Gianna melengos. Ia kemudian mulai membasahi handuk dengan air es yang sudah mencair lalu membungkus beberapa es batu. Ia meraih lengan kenan perlahan dan mulai mengompres luka memarnya.
Sejenak, mereka saling diam. Tetapi, karena merasa tidak terlalu nyaman. Gianna memilih membuka percakapan lebih dulu.
"Sorry ya. Gara-gara nolongin gue, lo malah jadi memar gini. Makasih juga udah nolongin gue. Ngga tau kenapa, gue tadi kepikiran ngelakuin hal beg* kaya gitu." Tutur Gianna menyesali perbuatannya yang teramat bodoh.
"It's okay. Btw punggung gue aman ngga?" Jawab Kenan mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya. Hmm ... ." -Gianna memperhatikan punggung Kenan dengan teliti. Tetapi matanya tidak melihat luka memar. - "Aman kok. Kayaknya cuma siku lo aja."
"Baguslah." Sahut Kenan
" ... ."
Mereka kembali terdiam. Masing-masing dari mereka tidak tau harus membicarakan apa dan lebih memilih menunggu salah satu dari mereka berbicara. Sampai akhirnya Gianna yang kembali membuka percakapan.
"Mm ... Ken." Ucapnya memulai.
"Ya?"
"Soal permintaan lo yang tadi ... ." Belum selesai Gianna mengucapkan isi kepalanya, wajah Kenan sudah menoleh dan menatap Gianna membuat Gianna kaget.
"Ah ya. Gimana? Lo mau?" Tanya Kenan dengan semangat. Melihat Kenan yang begitu semangat membuat Gianna terdiam sejenak menatap Kenan ia terlihat sedang berpikir.
"Gue rasa ... setelah gue pikir-pikir sih. Gue bakal coba." Kata Gianna menatap Kenan ragu-ragu. Mendengar jawaban Gianna, Kenan berubah senang wajahnya.
"Ngga masalah. Selama lo masih ada kemauan. Gue terima itu dengan senang hati." Kata Kenan tersenyum manis. Ia benar-benar terlihat senang dengan jawaban Gianna.
"O-okay." -Gianna langsung menunduk melihat senyum Kenan. Ia merasa sedikit malu sudah menjawab begitu setelah menolak Kenan dan bertingkah bodoh sebelumnya.- "Ohya, ini harus di tunggu 20 menit." Ujar Gianna mengalihkan pembicaraan guna menghindar dari rasa malu yang semakin menyelimutinya.
"Ohya? Kenapa harus 20 menit?" Kenan yang cukup paham dengan sikap Gianna langsung saja menanggapi pengalihan pembicaraan Gianna. Karena sudah cukup ia membuat Gianna kesal sebelumnya. Ia ingin Gianna setidaknya merasa sedikit nyaman dengannya barang sejenak.
"Ngga tau. Dari saran pengobatan yang pernah gue baca sih gitu. Dan dua hari lagi sehabis ini, gue bakal kompres tangan lo lagi. Tapi pake air hangat." Jelas Gianna.
"Hm? Kenapa?" Tanya Kenan penasaran. Karena ia benar-benar tidak mengetahui tentang hal ini sebelumnya.
"Ngga tau. Gue cuma baca caranya. Ngga baca alasannya." Kata Gianna jujur dengan wajah polosnya.
"Yaelah. Yang lo tau itu apa." Sahut Kenan heran dengan jawaban Gianna.
"Mm ... Ngga tau? Hahaha." Gianna tertawa sendiri dengan pertanyaan sekaligus jawabannya. Kenan seketika tersenyum melihat Gianna tertawa seperti itu. Sepertinya Gianna sudah bisa sedikit beradaptasi dengannya saat ini.
"Yang jelas, gue mau pastiin luka lo nantinya sembuh total. Gue ngga mau nanti jadi ngerasa bersalah kalo luka lo ngga sembuh."
"Cuma memar, Jian. Ngga perlu sampe sembuh total." Imbuh Kenan berniat membuat Gianna tidak terlalu memusingkannya.
Tetapi sayangnya wanita yang berusaha di yakinkan memiliki kemauan yang terlalu keras.
"Tetep aja. Siapa yang tau kalo nanti pendarahannya bisa nyebar?" Ujarnya menakut-nakuti.
"Ya ngga usah ngasih bayangan serem juga kali." Sungut Kenan kesal dengan kemungkinan buruk yang di berikan Gianna.
"Yaudah, nurut aja. Ohya, pegang ini sebentar. Jangan sampe lepas dari luka memarnya." Perintah Gianna. Kenan awalnya terlihat bingung tetapi ia tetap menurut. Setelah menyerahkan handuk berisi es batu itu, Gianna mengambil kemeja Kenan lalu menyelimuti punggungnya.
Kemudian Gianna duduk kembali dan mengambil alih handuk yang di pegang Kenan. Kenan sedikit kebingungan melihat yang baru saja di lakukan oleh Gianna. Ia bahkan menatap Gianna terang-terangan tanpa berkedip. Gianna awalnya hanya diam saja. Tetapi kemudian ia menyadari kalau Kenan menatapnya. Ia pun menjawabnya.
"Ah ... punggung lo kan aman, ngga ada memar. Jadi daripada lo kedinginan, mending gue tutupin." Jelas nya tersenyum pada Kenan menjawab tatapannya yang terus bertanya.
Di jawab begitu, Kenan menjadi sedikit salah tingkah.
"Oh? Yayaya. Thank's." -Jawab Kenan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.- "Eh. Btw, Jian."
"Kenapa?"
"Lo ngga ada kelas?"
"Ada sih."
"Lah. Kenapa lo malah disini?" Tanya Kenan terkejut mengetahui Gianna kini tengah bolos hanya karenanya.
"Ngga papa bolos sekali doang." Jawab Gianna tak peduli.
#Jangan ditiru
"Lagian hari ini ngga ada pembahasan yang penting kok. Dosennya juga kayaknya ngga masuk. Lagian kalo gue ikut kelas, siapa yang bakal ngobatin luka lo?" Lanjut Gianna lebih mementingkan Kenan yang tidak ada teman untuk mengobati lukanya.
"Gue udah gede. Gue bisa gini sendiri." Sahut Kenan merasa tak enak Gianna lebih memilihnya daripada kelasnya.
"Alah bullshit. Tadi aja kalo bukan gue yang maksa, lo pasti ngga bakal mau obatin luka memar lo." Tukas Gianna mengingatkan kembali saat Kenan tidak mau di obati sebelumnya.
"Yayaya oke. Thank's mau ngurusin gue." Ujar Kenan menyerah dan lebih memilih tersenyum mengakhiri ucapannya.
Gianna balas tersenyum.
"Urwel."
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-