Gossip (2)

1454 Kata
-*-*-*- 2 hari pun berlalu sejak kejadian Gianna dan Kenan di tangga hari itu. Gianna menepati perkataannya kalau dirinya akan mengompres siku Kenan lagi. Jadi hari ini, Gianna mendatangi Kenan di kelasnya.   Tempo hari, Gianna sudah menanyakan lebih dulu di mana letak kelas Kenan untuk hari ini. Begitu sampai, ternyata kelas Kenan masih belum selesai. Jadi, mau tidak mau Gianna menunggu di depan kelas. Hari ini Gianna sampai membawa air hangat untuk mengompres siku kenan. Gianna pun dengan sabar menunggu Kenan keluar dari kelasnya. Sampai sepasang gadis yang sedang melintas kembali menggosipkan dirinya.   "Eh ... itu cewek sombong yang lagi sering di omongin kan?" Ucap salah satu dari gadis itu.   Gianna yang sebelumnya terdiam spontan terkejut mendengar kata-kata itu.   "Mana?" Tanya gadis kedua langsung mencari-cari keberadaan cewek sombong yang di maksud.   "Itu." Tunjuk gadis pertama menggunakan dagunya mengarah pada Gianna.   "Oh ya? Kok gue ngga tau." Ujar gadis kedua berbalik menatap gadis pertama begitu ia mendapati Gianna yang di maksudkan.   "Lo itu tau nya apa? Denger-denger sih, dia ngga pernah mau ngobrol sama orang lain. Tapi kalo sama cowok dia baru mau ngobrol." Jelasnya dengan lirikan sengit tertuju kepada Gianna.   Sebenarnya kenapa dia bicara begitu kepada Gianna? Apakah dia adalah saksi kehidupan Gianna sampai-sampai dia bicara seakan itu adalah benar?   "Oh ya? Kok gue ngga tau." Ulang gadis kedua menanggapi ucapan gadis pertama. Sepertinya ia tidak terlalu menyukai gossip, sehingga ia hanya menanggapi temannya itu sedapatnya saja.   "Yaampun, udah kebaca sih. Merasa cantik, jadi maunya jadi pusat perhatian cowok aja. Kalo gue jadi cowoknya sih ogah ngobrol sama cewek yang modelan begitu. Cuma cari perhatian." Cibirnya terang-terangan tanpa mengecilkan suaranya sedikitpun.   Apakah ia sengaja melakukan itu? Padahal sudah jelas Gianna akan mendengar kalau ia bicara begitu.   "Oh ya? Kok gue ngga tau?" Dengan wajah teramat polos, gadis kedua kembali mengulang pertanyaannya membuat gadis pertama seketika melotot marah.   "Bgsd! Susah emang ya kalo mau ngomong sama lo. Ga guna! Jauh-jauh sana!" Geramnya kesal langsung meninggalkan temannya.   Gadis kedua menengok pada Gianna dan tersenyum lalu memberi isyarat yang seakan mengartikan "Tidak apa-apa." Gianna yang menyimak sejak awal kebetulan memperhatikan mereka dan menangkap isyarat gadis tersebut. Gianna pun balas tersenyum.   Begitu kedua gadis itu pergi. Senyum Gianna langsung sirna. Gianna membeku   "Oh astaga." Batinnya "Apa salah ya kalo gue ngobrol sama cowok?" Batin Gianna pilu mendengar gossip itu.   Gianna pun tertunduk dalam pikirannya yang kembali kelabu. Perasaan yang sebelumnya lega, kini sudah mulai menyesakkan batinnya lagi. Hingga akhirnya Gianna teringat pada Alvaro. Gianna terus diam dalam pikirannya, sampai dirinya tidak sadar kalau kelas Kenan sudah selesai bahkan mulai membubarkan diri meninggalkan kelasnya. Para mahasiswa yang sudah membubarkan diri menatap bingung Gianna yang terus menunduk.   Kenan pun keluar bersama dengan Ravindra. Ia sedikit kaget saat melihat Gianna berdiri bersandar di tembok di samping kelasnya. Namun ia teringat ucapan Gianna yang akan mengompres lukanya lagi hari ini, ia pun tersenyum tanpa sadar.   "Gue pergi dulu ya. Lo duluan aja." Ucapnya pada Ravindra.   Awalnya, Ravindra sedikit bingung, kenapa Kenan menyuruhnya pergi. Tapi saat ia melihat sosok Gianna yang berdiri tak jauh dari mereka spontan membuatnya ber-oh ria yang menandakan kalau ia paham.   "Oh, oke. Semoga lancar." Dukungnya seraya menepuk bahu Kenan. Kenan mengangguk, lalu menghampiri Gianna meninggalkan Ravindra.   "Hai Jian." Kenan langsung menyapa Gianna begitu sampai di sampingnya.   Namun, respon yang di berikan Gianna tak sesuai harapannya. "Kenan ... ." Dengan suara bergetar, Gianna mendongak dengan mata yang berkaca-kaca. Kenan terkejut melihat ekspresi Gianna seperti itu. Ia bahkan sedikit bingung melihatnya.   "Eh? Lo kenapa?" Ucap Kenan bingung melihat Gianna yang matanya kini telah membendung air mata.   "Maaf ... ." Lirihnya. Gianna menggigit kedua bibirnya menahan tangis.   "Maaf? Kenapa? Untuk apa? Kenapa lo sedih gini?" Berondongnya bertanya bertubi-tubi. Kenan  memegang kedua bahu Gianna menatap dengan mata terlihat kebingungan juga khawatir.   Gianna tidak menjawab. Dengan lemah dan perlahan, ia menepis kedua tangan Kenan.   "Maaf ya. Hari ini gue ngga bisa ngobatin luka lo. Elo ... bisa sendiri kan?" Lirihnya tersenyum getir. Ia pun memberikan air hangat yang sudah ia bawa bersama dengan handuk kecil bewarna biru muda.   "Gue ... minta maaf." Gianna berbalik, kemudian pergi begitu saja dan tak membiarkan Kenan bertanya lebih lanjut. Kenan menatap penuh tanda tanya melihat Gianna yang semakin menjauh.   "Dia kenapa sebenernya."   Matanya kemudian beralih pada termos kecil berisi air hangat dan handuk yang diberikan Gianna.   "Dia sampe repot bawa beginian. Ngga mungkin dia pergi cuma karena alasan sepele. Dia bahkan mau nangis tadi. Apa ada yang ngomongin dia-."   Belum selesai Kenan menduga-duga keadaan, seseorang tiba-tiba memanggilnya dengan suara yang cukup keras.   "Hai Kenan!" Seru Aghata tiba-tiba datang dan mengejutkan Kenan yang masih diam bertanya-tanya.   "Astaga. Kenapa sih cewek selalu manggil kayak gini." -Keluhnya lirih saat melihat Aghata sudah berdiri di hadapannya.-  "Kenapa lo kesini?"   "Yaampun. Gue cuma nyapa lo doang, kok di sambutnya begitu amat. Smile dong." Kekehnya terlihat begitu cerah menatap Kenan.   "Sejak kapan orang kaget itu auto senyum?" Kilahnya kesal. Karena ini sudah kedua kalinya ia di kagetkan hanya karena memanggil namanya.   "Ya kan elo bisa senyum begitu ngeliat gue yang ngagetin elo." Canda Aghata masih tersenyum dengan cerah. Berbeda dengan Kenan yang tak mengembangkan senyumnya sedikitpun.   "Ngga bisa. Yang namanya kaget ya kaget aja. Ngga ada istilah langsung senyum." Sanggah Kenan masih tak mau mengembangkan senyumnya. Ia justru masih bertanya-tanya dalam kepalanya perihal kemana perginya Gianna saat ini.   "Ah, yaudah deh. Terserah lo." -Pasrah Aghata terlihat kecewa. Namun matanya kemudian teralih perhatiannya saat melihat termos dan handuk pada tangan Kenan. Benda itu terlihat terlalu feminim untuk dimiliki laki-laki. Rasa penasarannya pun akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya. "Eum ... Kenan."   "Ya?" Jawab Kenan tanpa menatap Aghata dan mencari keberadaan Gianna yang suda menghilang sejak tadi.   "Ini punya kembaran lo ya? Maksud gue, Tiana. Kok feminim banget warnanya." Tanya nya menunjuk pada barang yang di bawa Kenan.   "Apa?" -Kenan menoleh pada barang yang di maksud.- "Oh, bukan. Ini punya temen gue." Jawabnya jujur.   "Temen?" -Aghata menatap tidak percaya pada Kenan.- "Sejak kapan lo punya temen cewek?" Ucapnya penuh selidik.   "Sejak lahir, gue udah berteman sama kembaran gue." Kilahnya membela diri.   "Oh please. Lo paham betul maksud gue." Tandasnya tak terima dengan jawaban Kenan.   "Ya anggep aja gue punya temen cewek yang baru." Balas Kenan enteng. Terlihat sekali ia tidak antusias untuk menanggapi Aghata.   "Oh ya? Berarti gossipnya beneran." Duganya tiba-tiba membuat atensi Kenan seketika langsung beralih padanya.   "Gossip? Gossip apaan?" Tanya Kenan menatap Aghata.   "Loh? Gimana sih? Temen sendiri jadi bahan gossip kok ngga tau. Katanya punya temen cewek baru. Kok ngga di cari tau biodatanya latar belakangnya. Itulah. Lo jadi kena getahnya." Jelasnya membuat Kenan semakin kebingungan.   Sudah cukup Kenan kebingungan melihat sikap Gianna yang tiba-tiba ingin menangis tadi, kini ia harus di buat bingung lagi dengan ucapan Aghata.   "Kok jadi kena getah? Emang gossipnya apa?" Tanya Kenan penasaran.   "Demi apa? Lo beneran ngga tau? Astaga Kenan."   "Ngga usah bertele dan kasih tau sekarang." Sela Kenan segera memotong ucapan Aghata. Ia benar-benar tidak tau sekali masalah rumor atau bahkan gossip yang di maksud Aghata. Sehingga kalau di buat bertele-tele seperti ini ia akan merasa sangat kesal.   "Oke. Gue cuma denger sekelebat gossip aja. Ada yang bilang kalo temen baru lo itu cuma cari perhatian. Dia itu cewek yang cuma mau ngobrol sama cowok. Duh, selama ini dia selalu diem di ajak ngobrol sama cewek-cewek. Selalu buang muka gitu. Tapi giliran yang ngajak ngobrol cowok langsung jadi sok imut sok cantik gitu kelakuannya. Belum lagi dia selalu di anter sama cowok yang lebih muda dari dia tiap ke kampus. Padahal kabarnya dia itu anak tunggal. Kok bisa dia dianter cowok yang lebih muda dari dia? Astaga. Gue baru sadar, kalo kabarnya bisa seburuk itu. Apalagi banyak bilang kalo dia itu cewek bayaran dari cowok yang selalu anter dia ke kampus. Ditambah, elo juga ikut ke sebut di semua gossip itu. Padahal elo kan ngga salah apa-apa." Terang Aghata terlihat sangat yakin menanggapi tatapan Kenan yang seakan menuntutnya untuk memberitahukan semua yang di ketahuinya.   "Jadi itu semua gossip yang beredar di kampus ini?" Tanya Kenan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.   "Hmm ... gue ngga tau lagi. Untuk sementara ini, cuma itu gossip yang gue tau. Lo kok berteman sama dia sih? Gossipnya parah gitu. Lo sampe ikut di gossipin mereka juga loh. Katanya lo cowok yang deketin dia karna mau bayar dia juga."   Kenan tertunduk, ia terdiam mencerna semua penjelasan dari Aghata. Tidak tertebak apa yang ada dipikirannya saat ini.   "Mending lo pertimbangin gue buat-" -Belum sempat Aghata menyelesaikan kata-katanya, Kenan sudah pergi meninggalkan Aghata.- "Eh? Kenan!" Serunya memanggil Kenan yang kini berjalan sangat cepat entah akan pergi kemana.   "Please deh Kenan. Harusnya lo ngga begitu sama gue dan lo salah udah pilih cewek itu untuk jadi model lo." Wajah Aghata berubah kesal lalu meninggalkan tempat itu.   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN