-*-*-*-
Dengan mata yang membendung air. Gianna berjalan dengan hati yang terasa sesak. Gianna tidak asing dengan perasaan ini. Ia sudah bosan, bahkan muak merasakannya. Hati yang sesak selalu mengisi hari-harinya selama ini. Begitu sesak sampai ia tidak tau lagi bagaimana cara harus membuangnya.
Pada awalnya, dia mengira, dia menemukan tempat untuk menguras beban batin. Gianna juga merasa lega, karena mengira sudah menemukan tempat untuk mencurahkan isi hatinya.
Tapi sayang, tempat curhat, justru menjadi ide yang buruk baginya.
Flashback ON
Gianna pergi meninggalkan Kenan tanpa membiarkan Kenan melontarkan pertanyaan kepadanya. Dengan hati yang masih merasakan sakit dan sesak, Gianna berhenti di depan mesin penjual minuman. Niat hatinya, ingin sedikit melegakan rasa sesak di dadanya dengan meminum air mineral. Tapi niat itu hilang saat dirinya mendengar beberapa gadis melintas dan berbincang.
Atau lebih tepatnya ... ya tentu saja bergosip.
Gianna tidak menguping. Telinganya terlalu sehat mendengar percakapan yang terlampau jelas suaranya, yang di bahas tepat di belakang objeknya langsung.
"Eh, dia kan? Cewek yang lagi di gossipin? Yang gossipnya dia deket sama cowok jurusan kita." Ucap wanita pertama memulai perbincangan dengan temannya.
"Entah? Cowok jurusan kita siapa?" Sahut temannya menanggapi.
"Si Alfa loh. Masa lo ngga tau?"
"Alfa? Alfa siapa?"
"Kenan loh Kenan. Tau?"
"Alfonsus Kenan?"
"Iya."
"Oooh! Jadi dia cewek itu?"
"Iya dia. Gila ngga tuh? Pake guna-guna apa coba dia sampe cowok sekelas Kenan yang ngga pernah mau deket sama cewek tetiba deket sama dia? Modal cantik doang ngga mungkin kan?" -Timpal wanita yang pertama semakin membuat suasana panas.- "Kasian Kenan cuma jadi tempat dia buat cari perhatian. Mana kabarnya dia tiap hari di anter cowok pake mobil bagus kan ya? Katanya sih dia cewek bayaran."
"Eh serius? Jadi si Kenan?"
"Ngga tau. Bukannya ngga mustahil, kalo Kenan cuma buat alat pansos? Kan selama ini, ni cewek di kenal sombong." Ujarnya tanpa mengecilkan sedikitpun volume suaranya.
Hilang sudah niat Gianna membeli minuman. Kakinya pun langsung melangkah meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Flashback OFF
Gianna tak sanggup lagi. Batin dan pikirannya tidak sekuat itu.
"Gue salah selama ini udah deket sama Kenan."
Batinnya seraya berjalan menuju ke perpustakaan.
"Gue nyusahin dia. Ternyata gue emang ngga punya hak untuk berteman. Pony, untuk pertama kalinya. Lo salah di mata gue. Lo salah udah ninggalin gue dan buat gue kacau."
"Lo salah ngga peduli lagi sama gue!" Tegasnya dengan air mata menggenang. Lagi dan lagi, Gianna melarikan dirinya ke perpustakaan.
"Kalo dengan deket sama Kenan bisa buat dia jadi susah, okelah. Gue bakal jauhin dia." Ujar Gianna menghela nafasnya yang begitu berat. Wajahnya tertunduk dan matanya terpejam menahan air matanya. Tubuhnya yang sebelumnya bersandar pada tak buku, kini merosot sampai terduduk di lantai.
"Hiks ... Pony ... ." Gianna memeluk erat lututnya. Ia menenggelamkan wajah menyembunyikan air matanya yang mulai mengalir.
"Pony ... hiks ... kenapa lo buat gue jadi begini? Lo beneran udah ngga peduli sama gue ... ." Rintih Gianna terus menyalahkan laki-laki yang dicintai itu. Niat hatinya menahan, air matanya justru mengalir semakin deras. Gianna tidak mampu menahan tangisnya setiap kali semua kata-kata menyakitkan itu memenuhi telinganya.
"Kenapa? Kenapa mereka mudah banget ngucapin itu semua?"
Batin Gianna dalam hatinya
"Bukannya udah cukup mereka ngatain gue gadis sombong? Kenapa mereka harus tambah fitnah lain yang ngga jelas asal-usulnya?"
Gianna terus memeluk lututnya semakin erat. Ia tidak menyangka, ia harus kembali lagi dalam keadaan seperti ini.
"Lo udah denger semua itu ya?"
Sebuah suara bersamaan dengan usapan di punggung, membuat Gianna cukup kaget dan langsung mendongak.
"Siapa?" Gianna menatap bingung kepada gadis tidak dikenalnya yang sekarang sudah berjongkok hadapannya.
"Gue? Nama gue Amoreiza Tatiana Kalandra." Ucapnya mengenalkan diri. Gianna mengernyit. Ia tidak mengenal gadis ini sama sekali.
"Tatiana ... Kalandra ... ." Tetapi namanya itu tidak terdengar asing di ingatannya.
"Kalo lo inget, nama gue sama dengan nama si Kenan." Ujarnya seraya tersenyum di akhir ucapannya. Gianna membelalak, ia pun tersadar kalau nama yang tak asing itu adalah nama yang sama dengan Kenan.
"Jadi ... ?"
"Gue kembarannya Kenan." Sahut Tatiana masih tersenyum.
"Ah ... gitu ya." Resah Gianna lirih begitu mengetahui dia adalah saudara Kenan.
Ada apa? Apakah saudara Kenan mendatangi Gianna untuk memintanya menjauhi Kenan? Dari pertanyaannya tadi sepertinya memang begitu. Manusia mana yang ingin saudaranya terjebak dalam rumor buruk? Tapi tenang saja, Gianna juga berpikiran untuk melakukan hal itu tanpa di perintah.
"Iya. Jadi lo udah denger semua itu ya?" Ulangnya kembali menanyakan hal yang sama.
"Siapa yang ngga denger kalo gossipnya blak-blakan begitu?" Jawab Gianna tersenyum masam begitu teringat kembali dengan semua gossip yang menimpanya.
"Sorry ya, gue ngga bisa cegah semua gossip itu. Gue juga ngga tau dari mana sumbernya semua gossip sebanyak itu." Ungkapnya terdengar seperti menyesali sesuatu.
Wajah Gianna yang tertunduk langsung mendongak lagi mendengar ucapan Tatiana. Apa maksudnya?
"Cegah?" Tanya Gianna kemudian.
"Oh ya, maaf terkesan lancang. Sebenernya, sejak kita tabrakan hari itu, gue selalu perhatiin lo." Gianna terdiam kaget. Dia memperhatikan Gianna?
"Haha, gue berasa kayak cowok yang lagi naksir cewek dan jadi secret admirer. Ya gimana lagi sih, masalahnya kembaran gue lambat banget kerja otaknya. Jadi gue yang harus perhatiin lo. Ohya, jangan lo anggap gue terpaksa ya. Gue perhatiin lo atas kemauan gue." Terangnya menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Mm ... okay ... tapi kenapa lo perhatiin gue?" Tanya Gianna masih penasaran. Mendengar seorang perempuan mengaku memperhatikannya itu terdengar cukup aneh. Dia tidak salah dengar kan?
"Karna gue tau, lo lagi masa sulit saat ini. Sedangkan lo orangnya susah ngomong gitu sama orang lain. Gimana mau selesai masa sulit lo, kalo lo cuma diem aja? Jadi, sebagai orang yang banyak omong. Maksudnya, gue. Iya, gue banyak omong. Gue mau bantuin lo." Jelasnya membuang pikiran negatif Gianna yang telah mengembara ke mana-mana.
"Eh?" Gianna kaget. Tentu saja. Orang yang baru saja di kenalnya tiba-tiba mengatakan akan membantunya. Apakah ini nyata? Ini terlalu mencurigakan untuk di percaya bagi Gianna.
"Mau ngga mau, suka ngga suka, terima ngga terima. Gue bakal tetep bantuin lo." Lanjutnya membuat Gianna makin bertanya-tanya akan sikapnya.
"Tapi kan ... ." Gianna terlihat ragu dan berniat menolak.
"Gue pernah ada di posisi elo, Ji." Sela Tatiana memotong ucapannya. Gianna terdiam. Kini ia menatap Tatiana. Mungkin sepertinya lebih baik kalau ia mau mendengar penjelasan Tatiana sejenak.
"Gue pernah di posisi lo, semasa gue SMA. Ngga bermaksud sombong. Walaupun sebenernya, atau lebih tepatnya gue ngerasa heran. Semasa SMA, Kenan, kembaran gue, lumayan populer. Gue ngga tau, apa yang di liat cewek-cewek satu sekolah masa itu dari dia. Cowok irit ngomong sok cool begitu aja, ngga tau kenapa banyak yang ngefans." Cibirnya ketika bayangan masa SMA nya melintas di dalam kepalanya. Gianna tersenyum menahan tawa. Entah mengapa cara Tatiana bercerita terlihat lucu baginya.
Tatiana tersenyum, ia merasa lega melihat Gianna sudah mulai nyaman dan bisa tertawa. Dia pun melanjutkan ceritanya.
"Jadi intinya, semasa itu gue kemana-mana selalu bareng sama Kenan. Wajar dong, kalo gue selalu bareng Kenan? Gue kembarannya dan kita selalu bareng sejak lahir. Saat itu kita ngga tertarik untuk berteman dengan orang lain. Kita mikirnya. Berdua aja. Itu udah cukup. Tapi sayangnya, pemikiran cewek-cewek di sekolah gue waktu itu, pemikiran mereka pendek banget. Mereka semua cemburu ngeliat kedekatan gue sama Kenan. Mereka ngga suka ngeliat gue bareng terus sama Kenan. Mereka buat gossip, bahkan fitnah yang bilang kalo gue sama Kenan ngelakuin hubungan terlarang sedarah. Gossipnya menyebar luas dan itu berimbas ke gue. Semua cewek gossipin gue dan fitnah kalo gue ini adek yang suka sama kakak kandung sendiri. Awalnya gue coba diem aja karna ngira itu bakal cepet berlalu. Tapi sayang. Bukannya berlalu, semua itu justru makin parah. Cewek-cewek itu makin gila. Mereka ngga cuma gossipin gue. Mereka mulai main fisik. Mulai dari yang sengaja senggol gue waktu jalan. Numpahin minuman gue. Mereka juga ngga segan ngurung gue di kamar mandi." Ungkapnya menceritakan masa kelabunya saat itu. Ekspresi wajahnya bahkan sejenak terlihat sedih. Gianna terkejut, ia tidak menyangka kalau Tatiana pernah mengalami hal semacam itu.
"Lo pasti ngga nyangka kan kalo gue yang keliatan fun dan cheerfull ini pernah ngalamin hal sepahit itu, kan?" Celetuk Tatiana kemudian mulai tersenyum lagi. Gianna pun menggangguk membenarkan pernyataan Tatiana.
"Gue sempet depresi waktu itu. Tapi nyatanya, gue berhasil lewatin itu semua dan untuk pertama kalinya, gue bisa bangga sama si Kenan, sejak kehidupan 15 tahun gue masa itu. Dia ngga diem aja di saat gue jatuh. Dia jadi tempat nangis untuk gue demi buang semua beban gue. Di saat itu, Kenan yang sebelumnya, yang biasanya menurut gue itu ngga banget. Di hari itu dia beneran jadi sosok kembaran dan kakak yang oke banget di mata gue." -Senyum Tatiana mengembang semakin lebar. Sepertinya sebuah masa indah tengah melintasi kepalanya.- "Walaupun setelahnya dia berubah jadi manusia yang ngga oke lagi." Dalam sekejap, senyum Tatiana menghilang dan berubah datar lagi. Gianna terkekeh, ia mulai terbawa suasana cerita Tatiana.
"Singkat cerita, Kenan buat gue bangkit dan membangun mental gue. Mental gue yang sebelumnya bener-bener down bisa balik lagi berkat Kenan. Gue datengin orang-orang yang gossipin gue. Gue ambil salah satu dari mereka dan gue gertak. Gue tanya aja, siapa yang mulai semua gossip dan fitnah itu dan ternyata mereka semua itu mentalnya lemah, besar mulut doang. Baru gue gertak doang, mereka udah gemeter takut. Padahal sebelumnya mereka berlaga banget berani ngunci gue di kamar mandi rame-rame. Setelah gue tanya dan gue kasih anceman kecil. Mereka langsung kasih tau siapa sumber gossip fitnah itu." Bebernya mulai merubah ekspresinya lagi menjadi kesal.
"Siapa?" Tanya Gianna antusias. Sepertinya cara Tatiana bercerita cukup mengasyikkan, sampai-sampai ia menjadi semangat begitu.
"Dia cewek yang cintanya bertepuk sebelah tangan dari Kenan." Ungkapnya. Gianna nampak kaget, cerita Tatiana semakin membuat rasa penasaran di hatinya meluap-luap.
"Serius?" Tanyanya kemudian.
"Iya serius. Dia mulai semua fitnah itu karena merasa cintanya yang ngga terbalas itu karna gue. Padahal saat itu Kenan nolak dia karena mulutnya yang ngga pernah bener. Gue langsung aja datengin orangnya saat itu juga. Gue tanyain, apa alasannya nyebar fitnah kayak gitu. Dia dengan entengnya jawab cuma karna ngga suka sama gue. Yaudah deh, gue gertak aja dia dan gue ancem, kalo gue bisa nuntut dia atas perbuatannya. Dia akhirnya takut dan minta maaf. Dia juga langsung klarifikasi ke semua cewek, kalo semua gossip itu bohong. Setelah itu, setiap kali muncul gossip ngga bener soal gue, gue langsung cari siapa sumbernya dan gue cari tau apa masalahnya. Sejak saat itu, gue selalu bantuin orang yang pernah ngalamin hal kaya gue. Setiap ngeliat mereka yang ngalamin hal semacem itu, gue selalu keinget diri gue sendiri di saat dulu. Jadi, lo mau kan gue bantu?" Tanya Tatiana di akhir ceritanya menatap Gianna lembut. Mata Gianna menatap Tatiana tak berkedip. Gianna tidak menyangka kalau Tatiana benar-benar menjadi gadis yang berani.
"Bukannya tadi kata lo, meskipun gue nolak, lo tetep bakal bantu selesai'in masalah gue? Percuma dong, lo tanya begitu dan gue jawab, padahal lo udah buat jawaban sendiri?" Sindir Gianna balas menatap lembut seraya mengukir senyum manis kepada Tatiana.
"Ahahaha, lo bener. Jadi fix ya? Lo ngga bakal nolak bantuan gue?" Ujar Tatiana kembali memastikan keputusan Gianna. Gianna masih tersenyum, lalu ia mengangguk
"Thank's. Kalian berdua, emang bener anak kembar. Kalian orang yang peduli." Puji Gianna mengingat sikap Kenan dan Gianna kepadanya tidak berbeda jauh.
"Ah ... ngga segitunya. Gue cuma ngga bisa biarin orang yang ngga bersalah harus ngerasain sakit." Balas Tatiana merendah.
"Okay kalo gitu." Kata Gianna.
"Untuk sekarang, kita seneng-seneng aja dulu. Lo pasti masih down banget kan denger semua gossip itu? Mending kita main ke Caffe dulu." Ajak Tatiana dengan wajah sumringah.
"Caffe?" Tanya Gianna.
"Iya. Kita makan atau minum dulu. Abis itu baru kita bahas gimana cari sumber dari semua fitnah itu." Sarannya membuat Gianna berpikir sejenak. Ia nampak menimbang-nimbang.
"Ah ... lo bener. Oke. Gue percaya sama lo." Ujar Gianna menatap yakin.
"Thanks. Untuk sementara, saran dari gue, lo santai aja nanggapin semua gossip itu. Karna, kalo kenyataan yang mereka omongin itu ngga bener, buat apa lo pusing mikirin masalah itu? Jadi sementara ini lo santai aja dulu. Anggep aja angin lalu." Terangnya seraya berdiri bersiap untuk pergi.
"Oke."
"So? Ke Caffe sekarang?" Tanya Tatiana mengulurkan tangannya pada Gianna. Gianna mengangguk, senyumnya mengembang semakin lebar dan ia pun menyambut uluran Tatiana.
"Nah, pertahanin senyum lo. Ini bisa jadi salah satu jawaban buat mereka yang gossipin lo, kalo semua gossip itu ngga bener." Saran Tatiana seraya mengangkat tubuh Gianna yang sudah menerima uluran tangannya.
"Oke, Anna. Ohya, boleh gue panggil lo Anna?" Tanya Gianna begitu sudah berdiri di bantu oleh Tatiana.
"Boleh aja. Nama gue banyak pemenggalannya sih. Oke, ayo ke Caffe."
Mereka pun keluar dari perpustakaan. Begitu keluar dari perpustakaan, Gianna melihat Kenan berdiri di samping pintu. Dia terlihat sedang menunggu sesuatu.
"Kenan? Lo ngapain di sini?" Tanya Tatiana bingung mendapati Kenan berada disitu.
"Harus banget ya elo sebut pemikiran gue lambat dan gue ini ngga oke?" Jawab nya melenceng dari pertanyaan yang di ucapkan Tatiana. Gianna dan Tatiana membelalak bersamaan. Mereka sama terkejutnya mendengar ucapan Kenan.
"Kebiasaan!" Tatiana langsung memukul bahu Kenan cukup kuat.
"Akh! Apa salah gue?" Protes Kenan yang kaget mendapat pukulan tiba-tiba.
"Salah dong gil*! Ngapain lo nguping obrolan gue sama Jian?! Lo mau telinga lo jadi lebar?" Sembur Tatiana kesal.
"Ya ... gimana. Gue tadi niatnya mau susul Jian, tapi lo udah duluan. Yaudah gue mending dengerin obrolan kalian. Terus begitu kalian bilang mau pergi, yaudah gue keluar." Tutur Kenan teramat jujur.
"Ngga sopan." Hardik Tatiana.
"Ngga sopan loh Ken." Gianna yang sempat menyimak sejenak akhirnya ikut angkat suara mengomentari Kenan.
"Kok lo ikutan sih? Bukan belain gue?" Keluh Kenan menatap memelas pada Gianna.
"Ya jelas dong! Gara-gara siapa dia di gossipin ngga bener?! Lo deket-deket Jian sih. Dasar cowok ngga oke." Timpal Tatiana membuat suasana semakin panas bagi Kenan.
"Terusin aja ya. Lo pulang nanti ngga sama gue." Ancam Kenan kemudian membuat Tatiana langsung melotot mendengarnya.
"Heee sembarangan!"
"Udah hei kalian. Kita masih di depan perpustakaan. Jangan berisik."
"Salah dia." -Tuding Tatiana menyalahkan Kenan.- "Yaudah Jian, kita ke Caffe sekarang aja. Biarin dia disini sendirian. Yuk." Ajak Tatiana merangkul lengan Gianna dan beranjak meninggalkan Kenan.
"Eits." Melihat itu, Kenan langsung menahan Tatiana dengan menarik kerah tengkuknya dan menariknya ke belakang.
"Kenan! Apa-apaan sih?! Lepas!" Tentu saja Tatiana segera memberontak, Kenan kemudian melepaskannya.
"Lo boleh pergi sama Jian. Tapi nanti. Gue masih ada urusan sama dia." Ucapnya lalu mengambil pergelangan tangan kiri Gianna.
"Urusan apalagi?" Tanya Tatiana menatap Kenan sengit. Sementara Kenan, ia hanya melirik Gianna dan Gianna balas menatap bingung.
"Ada janji yang harus di tepatin." Senyum Kenan penuh arti seraya menggandeng Gianna dan meninggalkan Tatiana.
"Kenan? Anna ngga papa kita tinggal gitu aja?" Tanya Gianna merasa tak enak meninggalkan Tatiana sendirian.
"Dia? Ah ngga masalah. Lagian, lo harus tepatin janji lo dulu."
Di klinik.
Kenan mendudukkan Gianna di tepi ranjang yang kosong.
"Duduk di sini. Jangan kemana-mana." Perintahnya. Gianna bingung. Ia menatap heran Kenan yang kini sibuk sendiri.
"Deja vu?" Gumam Gianna bertanya-tanya. Kenan lalu kembali dengan waskom kecil berisi air hangat dan handuk milik Gianna yang dibawanya. Lalu duduk di kursi di depan Gianna. Gianna pun teringat.
"Astaga. Gue lupa." Sadarnya teringat dan Kenan tersenyum. Kenan kemudian membuka kemeja nya. Kali ini dia memakai t-shirt lengan pendek sehinggga Gianna tidak perlu membuang muka lagi. Kenan menyerahkan handuk yang sudah basah pada Gianna. Gianna menerima handuk itu, namun kemudian ia tertunduk.
"Kenan, maaf. Tadi gue tinggalin lo gitu aja. Dan gue rasa ... untuk sementara lo mending jauhin gue. Lo pasti udah denger gossipnya kan? Gue ngga mau lo ikutan kena gossip gara-gara gu-"
"Sssh." -Potong Kenan menggelengkan kepalanya membuat Gianna berhenti bicara.- "Lo ngga denger omongan Tia tadi? Untuk sementara lo cuma perlu santai aja. Toh kabar itu ngga bener. Gue ngga peduli omongan mereka. Lagian emangnya mereka siapa? Mending lo obatin gue sekarang. Gue ngga tau caranya soalnya." Jelas Kenan membuat Gianna menatapnya dalam diam. Senyum Kenan mengembang menatap Gianna. Gianna terpaku, ia tidak tau harus bersikap dan bicara apa pada Kenan. Kenan dan Tatiana benar-benar menolongnya.
Tidak sadar, setetes air, kini mengalir dari mata Gianna. Melihat itu, ibu jari Kenan seakan memiliki pikiran sendiri. Ibu jari itu kini mengusap air mata Gianna yang mengalir di pipinya.
"Udah, nanti airnya keburu dingin." Ujar Kenan mengingatkan. Gianna terkekeh. Lalu tersenyum juga. Ia pun memulai aksinya lagi sebagai seorang dokter.
Sementara itu Tatiana.
Dia sedang berdiri menunggu bersama udara yang makin panas.
"Oh plis. Ini udah terlalu lama. Sebenernya mereka ngapain? Kok lama banget."
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-