-*-*-*-
Di suatu kelas yang cukup ramai akibat jam kosong.
Genoveva terlihat memainkan ponselnya karena bosan menunggu jam pulang. Ibu jari tangannya sejak tadi hanya menggulung layar Joystagram tanpa henti. Sampai sebuah notifikasi menarik perhatiannya yang otomatis membuat ibu jarinya membuka panel tersebut.
Mata Genoveva yang awalnya menatap sayu dan mengantuk sekarang sudah berubah menjadi lebar. Tubuhnya menegak dan bibirnya terbuka tak percaya.
"Gianna? For the first time. Lo foto sama temen cewek? dan lagi ... on the way? Mau kemana dia?" Ucap Genoveva terus bertanya sampai sebuah notif dari akun yang sama memberikan jawaban padanya.
"Oke, gue tau tempatnya. Ngga jauh dari sini. Ikutin ngga ya? Ah ... kalo gue ikutin ... gue bisa ngerusak suasana. Atau gue dateng pas jemput aja ya. Chat ajalah."
Genoveva pun menghubungi Gianna via chat
Geno
-p
-p
-Gianna
-where r u
Gianna
-Caffè
-You see my story at JG
Geno
-just alone?
Gianna
-Nope
-With Kenan and his twin
Geno
-oh so
-okay
-harus gue jemput?
Gianna
-Boleh, nanti gue chat
Geno
-okay
-have a nice day
Gianna
-Thank's���
Kiriman emot icon tersenyum itu mampu membuat Genoveva hampir menjatuhkan ponsel pintarnya. Ia tidak percaya Gianna sudah bisa tersenyum setelah tiga tahun masa kelabunya yang selalu disertai bibir datar dan wajah ketus.
"Kenan dan Anna? Okay. Thanks buat kalian berdua." Ujar Genoveva tanpa sadar tersenyum melihat foto Gianna yang sedang tersenyum bersama temannya.
*
*
*
Sementara itu di Caffe yang di kunjungi Gianna.
"Oke. Gue mau tanya. Sejak kapan gossip itu mulai?" Tanya Tatiana memulai pembicaraan.
"Eh?" -Gianna yang sedang meminum es kopi susunya sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan Tatiana. Ia kemudian meletakkan minumannya di atas meja.- "Ng ... gimana ya. Soal itu sih gue kurang tau kapan tepatnya. Tapi kalo ngga salah sih ya sejak hari-hari pertama gue masuk." Terangnya sedikit mengingat-ingat kapan gossip itu dimulai.
"Waw. Hari pertama." Celetuk Kenan terlihat menatap Gianna antusias mendengar jawabannya.
"Serius lo hari pertama?" Ujar Tatiana tak percaya.
"Ahaha ... iya. Baru hari-hari pertama, gue udah jadi bahan gossip." Kekehnya tertawa miris.
"Ah ... kalo kayak gini caranya bakal sedikit susah buat cari siapa asal gossipnya." Keluhnya.
"Kenapa? Bukannya dulu elo gampang banget tuh buat dapetinnya?" Sahut Kenan mengingat kembali masa Tatiana dulu.
"Entah lah. Gue ngerasa kali ini orangnya lumayan pinter jadi biang gossipnya. Dia bisa bikin seakan-seakan dia itu bukan pembuat gossip." Jelas Tatiana serius sembari meminum es kopi manisnya.
"Maksudnya? Ngga usah bertele-tele deh." Kenan yang tak paham dengan apa yang di ucapkan Tatiana menatap penuh tanya pertanda tak paham.
"Apasih Kenan?! Gitu doang masa lo ngga maksud?! Emosi rasanya." Sungut Tatiana. Dengan nada suara yang naik akibat mendengar pertanyaan Kenan.
"Loh? Ya gimana? Gue bukan cewek. Gue juga bukan tukang gossip! Mana gue tau sistem gossip perempuan itu kayak mana." Sanggah Kenan tidak terima Tatiana menaikkan suaranya, Kenan pun ikut meninggikan suaranya.
"Ya biasa aja dong, ngga usah emosi. Ngapain lo jadi ngotot begitu?" Balas Tatiana melebar matanya mendapat perlawanan dari Kenan.
Melihat perdebatan kedua manusia kembar di hadapannya, Gianna hanya bisa menghela nafas panjang.
Padahal, sebelumnya Tatiana sendiri yang mengatakan kalau mereka akan refreshing sejenak sambil membahas sedikit tentang masalahnya. Tapi kenapa sekarang mereka justru saling ngotot di dalam ruangan yang tidak terlalu ramai dan membuat Gianna pening?
"Udah-udah stop kalian." Ujar Gianna memukul pelan meja yang menjadi jarak diantara mereka, namun masih terdengar. Mereka pun berhenti, meskipun masing-masing masih melengos tidak terima.
"Jadi, Anna. Maksud lo sumbernya ini semacem penghasut doang?" Duga Gianna membuat kesimpulan.
"Kurang lebihnya sih itu pemikiran gue. Tapi ... sebentar. Gossip apa aja yang udah kalian denger? Kalo yang gue tau sih. Maaf Jian." Tatiana berhenti sejenak untuk menatap Gianna seperti meminta izin. Lalu Gianna mengangguk mengerti dan tersenyum kecil memberi izin.
"Yang gue denger dari mulut orang-orang, Jian sombong dan ngga mau bergaul sama siapa pun. Itu yang gue tau pertama kali denger soal gossipnya." Jelasnya.
"Iya ... itu masih gossip awal sih. Masih bisa gue hadapin sedikit." Lirih Gianna sedikit menghela nafas. Entah kenapa hal semacam ini bisa menimpanya.
"Lah lo? Gossip apa aja yang udah lo denger?" Celetuk Tatiana menengok tajam pada Kenan. Entah mengapa, sejak ia mendengar rumor antara Jian dan Kenan, Tatiana jadi sedikit merasa sebal pada Kenan. Mungkinkah karena ia merasa kalau sepertinya Kenan itu sumber masalah bagi wanita? Karena ini sudah ke dua kalinya ia membuat wanita kesusahan. Meskipun itu secara tidak langsung.
"Gue?" -Sahutnya seraya menunjuk dirinya sendiri.- "Sebenernya gue ngga pernah percaya gossip sih. Apa perlu gue ceritain?" Timpalnya menatap Gianna dan Tatiana bergantian merasa tidak yakin. Sepertinya ia sedikit takut menyinggung perasaan Gianna jika ia menceritakan segala yang ia dengar.
"Justru karna lo ngga percaya itu perlu lo ceritain biar tau kebenarannya langsung dari Jian, dodol!" Sergah Tatiana tanpa spasi dan titik koma sedikitpun. Emosinya pada Kenan semakin menjadi. Apakah ia sedang dalam masa kedatangan tamu agung? Sehingga apapun yang dilakukan Kenan terlihat salah dimatanya.
"Ya ngga usah ngotot dong! Mau di ceritain ngga?" Balas Kenan ikut terbakar emosi.
"Kalo kalian masih mau debat saling ngotot begitu mending gue pergi nih ya." Sela Gianna memotong perdebatan.
"Eh? Ya sorry Jian. Jangan pergi. Muka Kenan ngeselin soalnya." Cegah Tatiana mencari-cari alasan. Matanya bahkan tak ketinggalan melirik Kenan cukup sengit.
"Ah ... terserah." Bola mata Kenan merotasi malas dan lalu meneguk es kopinya demi menghilangkan rasa kesal. Tatiana masih melirik kesal pada Kenan. Namun ia kemudian menghela nafas.
"Yaudah buru ceritain." Kata Tatiana seraya ikit meneguk minumannya. Gianna pun menatap Kenan memberi kode untuk segera bercerita.
"Yang gue denger lumayan parah sih. Ada yang bilang kalo Jian cewek bayaran dari cowok yang selalu nganter dia setiap pagi. Ada yang bilang, kalo Jian ngga pernah mau ngobrol sama cewek dan cuma mau ngobrol sama cowok. Ada yang bilang, kalo gue juga termasuk orang yang bayar Jian. Ada yang bilang kalo Jian cuma cari perhatian sama gue. Itu yang gue tau." Tutur Kenan menatap Gianna ragu-ragu.
"Who said that all?"
Mereka bertiga yang sebelumnya sedang fokus tiba-tiba terkejut mendengar tambahan suara lain yang bergabung begitu saja.
"Elo? Ngapain disini?" Gianna yang terkejut spontan berdiri dan menatap tak percaya dengan sosok Genoveva yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.
"Gue nyusul." -Jawabnya cepat.- "Siapa yang bilang itu semua?" Tanya Genoveva menatap serius Gianna yang masih syok dengan kedatangannya.
"Geno ... denger semuanya ngga ya?"
Ujarnya di dalam batin.
Gianna tidak ingin Geno mengetahui masalahnya kali ini. Ia tidak ingin keluarganya khawatir. Sudah cukup keluarganya khawatir karena dirinya menjadi pemurung akibat di tinggalkan oleh Alvaro. Ia tidak ingin menambah kekhawatiran mereka hanya karena masalahnya yang baru.
"Geno ... bukan siapa-siapa. Mending lo pulang aja deh. Lagian jam berapa ini? Kenapa lo udah pulang?" Kelit Gianna mencoba membuat Genoveva teralih. Tetapi tidak semudah itu. Genoveva bukan anak bodoh dan lugu. Ia tentunya paham dengan apa yang baru saja di bahas olehnya dan kedua teman yang di perkirakan Genoveva adalah teman kampusnya.
"Ngga usah ngalihin pembicaraan Ji. Just tell me! Who is it?" Tandasnya tak teralihkan sedikit pun. Matanya bahkan tak ketinggalan menatap Gianna tajam, penuh dengan sejuta pertanyaan dan tuntutan meminta jawaban.
"Geno ... . Lo ngga perlu tau. Ini masalah gue." Lirih Gianna mencoba tersenyum pada Geno yang rahangnya mungkin sudah sekeras batu saat ini.
"So? You mean ... gue ngga boleh bantuin masalah lo? Menurut lo? Gue ngga bisa? Terus apa guna gue disini kalo ngga bisa bantuin masalah lo?" Sergah Genoveva mulai kesal dengan sikap Gianna yang masih saja tertutup seperti itu kepadanya.
"Ngga papa Geno. Mending lo pulang ... gu-"
"Enough Ji!" Tak bisa menahan amarahnya lagi, Geno akhirnya membentak Gianna tepat di depannya. Gianna membeku. Matanya yang sebelumnya menatap Genoveva penuh kekhawatiran karena takut Genoveva mengetahui masalahnya, berubah menjadi syok. Untuk pertama kalinya. Geno membentaknya, tepat di hadapannya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Seisi dadanya seakan penuh dan sesak.
Rahang Geno yang sempat mengeras perlahan mulai melunak. Ia kemudian memegang kedua lengan Gianna lembut.
"Enough ... until when? Mau sampe kapan lo sembunyiin semua masalah lo dari gue? Mau sampe kapan lo bikin gue jadi keluarga yang ngga bisa bantu masalah lo? Mau sampe kapan ... ." -Geno menarik nafasnya panjang-panjang.- "Mau sampe kapan elo simpen semua masalah lo seakan lo bisa ngatasin semuanya sendirian? Mau sampe kapan lo nangis sendirian Ji?! Sebenernya lo anggep gue sebagai keluarga lo atau bukan?!" Amarah Geno akhirnya meledak, ia lepas kendali dan menumpahkan semua emosinya pada Gianna. Gianna yang mendapatkan semua amarah dan bentakan Geno tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya bergetar dan matanya yang mulai berkaca-kaca perlahan mulai meneteskan satu bulir air dari dalam pelupuk matanya.
"Maaf ... maafin gue ... ." Isak Gianna. Titik demi titik air kini terus jatuh saling menyusul satu sama lain. Air matanya akhirnya turun semakin deras dan kini Gianna hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan tangisannya.
"Ah ... forgive me Ji." Sesal Geno maju dan memeluk Gianna. Untuk pertama kalinya, akhirnya Geno melihat Gianna menangis di hadapannya. Entah mengapa ia merasa lega sekaligus dadanya juga merasa sesak. Ia merasa sudah menyakiti Gianna karena amarahnya.
"Sorry ... i didn't mean to- ugh!"
Belum selesai kalimat permintaan maaf Geno terucap, Gianna yang masih menangis tiba-tiba memukul ulu hati Geno dengan kepalan tangannya.
"Elo kok tega sih bentak-bentak gue?! Kan elo bisa ngomongin baik-baik." Bentaknya dengan nada bergetar dan mata yang masih basah. Geno spontan memeggangi ulu hatinya.
"Agh ... it hurts Ji. Why you hit me ... ." Rintih Geno meringis menahan sesak sementara Gianna menyeka sisa-sisa air mata yang membasahi pipi dan pelupuk matanya.
"Dan lagi. Inget ya?! Ini di Indonesia! Kalo ngomong itu pake bahasa Indonesia! Ngga usah setengah-setengah!" Bentak Gianna di selingi dengan tarikan nafas menahan cairan hidungnya agar tidak keluar.
"Ngga bisa dong Ji. Gue sejak lahir tinggal di luar negeri. Gue ngga bisa sepenuhnya hilangin kebiasaan gue ngomong bahasa inggris." Kilah Geno mulai bisa bernafas lagi. Sepertinya rasa sesak di ulu hatinya mulai hilang. Gianna menghela nafas panjang-panjang. Ia kemudian duduk dan menenggak minumannya banyak-banyak untuk menghilangkan rasa panas di kepalanya.
Geno tersadar kalau ia tidak hanya berdua dengan Gianna. Ia pun menyapa.
"Ah ... hai Ken." Ucapnya.
"Hai. Gue kira lo sama Jian bakal lanjutin dramanya tanpa peduliin kita berdua yang jadi kacang." Sindir Kenan mengingat ia baru saja mendapatkan drama gratis di depan matanya secara langsung.
"Dia siapa?" Ujar Tatiana bertanya pada Kenan tak mau menjadi satu-satunya yang diam saja.
"Hai, kembaran Kenan. Gue sepupu Jian. Kenalin, Genoveva Ivander." Katanya seraya mengulurkan tangan kanan.
"Oh ya? Gue Amoreiza Tatiana Kalandra." Ucapnya Tatiana balas memperkenalkan dirinya seraya menyambut uluran tangan Geno.
"Wah, nama lo terlalu panjang. Boleh gue panggil sayang?" Rayu Geno di selingi dengan senyuman maut andalannya.
Mendengar rayuan Geno, mata Gianna membulat dan spontan menengok. Ia pun berniat memarahi Geno, namun berhenti karena tiba-tiba Geno merintih.
"A-ah ... ." Ternyata Tatiana tengah meremas tangan Geno sekuat tenaganya.
"Ahaha ... salam kenal ya Ivander." Tatiana menyeringai evil tanpa mengindahkan rayuan Geno kepadanya. Ia pun melepaskan jabat tangan itu sepihak dan Geno hanya bisa tersenyum masam saja dan akhirnya duduk di kursi di samping Gianna.
"Cantik-cantik kuat juga ya." Imbuh Geno masih saja tidak kapok merayu Tatiana.
"Rayu terus!" Tambah Gianna bersamaan dengan memukul bahu Geno.
"Stop-stop. Jadi gimana ini? Soal masalahnya Jian." Kenan yang menyadari kalau pembahasan mereka sudah out of topic segera menyela percakapan singkat mereka yang sudah jauh dari pembahasan awalnya.
"Ah iya. Jadi out of topic." Timpal Gianna meletakkan minumannya ke atas meja lagi.
"Sorry. My fault." Sahut Geno merasa bersalah.
"It's okay. Jadi lo mau ikut bantu masalah Jian?" Tanya Tatiana kemudian kembali memimpin percakapan mereka.
"Of course. Dengan ataupun tanpa izin dari Jian." Sindir Geno seraya melirik Gianna tajam. Sedangkan yang dilirik hanya mengehela nafasnya pasrah.
"Asal lo ngga cerita sama Mama Papa." Ucapnya memberi syarat.
"Okay. But. I didn't promise it." Jawabnya.
"Hei!"
"Udah cukup. Jadi sekarang gue ceritain aja dulu ya sama lo garis besar masalahnya Jian yang perlu di selesai'in." Tawar Tatiana menghentikan Gianna yang hampir memulai perdebatan.
"Okay." Kata Geno mengangguk.
Tatiana, Gianna dan Kenan kemudian menceritakan garis besar masalah yang harus mereka perbaiki. Geno pun paham ia lalu angkat suara.
"Kalo menurut gue sih, biang gossipnya bukan orang asing." Ucapnya menduga.
"Maksudnya?" Tatiana yang baru saja meneguk air minum hampir tersedak karena ucapan Geno.
"Jadi orangnya kenal gue gitu?" Imbuh Gianna ikut menatap Geno tak percaya.
"Of course. Orang asing ngga mungkin bisa tau kalo gue yang tiap hari anter jemput lo. Orang asing ngga mungkin bisa bilang kalo lo itu ngga mau bergaul sama cewek. Karena kalo dia bilang gitu ke orang lain. Orang lain itu pasti bakal tanya. Lo tau darimana? Otomatis, dia pasti bakal bilang kalo dia kenal sama lo, Ji. Atau kalo dia bilang tau dari orang lain. Orang lain itu pasti yang kenal sama lo." Jelas Geno menganalisis kembali setiap ucapan dan cerita yang sudah disampaikan Kenan, Tatiana dan Gianna.
"Gimana bisa ada yang kenal sama gue? Sejak masuk di kampus ini udah ngga ada yang mau ngobrol sama gue. Kecuali Kenan dan Anna. Itupun aku kenal mereka setelah rumor ini ada." Kilah Gianna menyanggah dugaan Geno.
"Emang alumni sekolah lo yang kuliah di sini cuma elo? SD, SMP, SMA.? Emang nya ngga ada yang kenal lo sama sekali saat itu?" Ujar Geno membuat Gianna terdiam. Semua ucapan Geno ada benarnya
"Jadi, biang gossipnya orang yang kenal gue sejak lama?" Tanya Gianna membuat kesimpulan.
"Gue tanya deh. Mereka yang bisa bilang lo dianter sama cowok yang lebih muda dari lo, mereka tau dari mana? Padahal gue ngga pernah keluar dari mobil setiap nganter lo ke kampus. Mereka yang bilang lo anak tunggal. Tau darimana? Emangnya data diri lo di kampus di pasang di mading pengumuman?" Papar Geno membuka mata Gianna yang sempat terlalu pasrah dengan keadaannya.
"Bener kata Geno. Kenapa gue ngga kepikiran." Timpal Tatiana setuju membenarkan asumsi Geno.
Tapi tidak dengan Gianna.
"Kalo emang dugaan Geno bener. Orangnya siapa?" Gianna menatap penuh tanya, ia tentu tidak terlalu percaya dengan dugaan itu, karena semenjak masuk di kampusnya, Gianna tidak pernah mengobrol atau bahkam bertemu orang yang pernah satu sekolah dengannya.
"Entah lah ... gue aja baru kenal lo beberapa hari lalu." Jawab Tatiana.
"Emang lo ngga kenal sama sekali orang-orang alumni jaman lo sekolah?" Tanya Geno. Gianna menggeleng. Tentu saja ia tidak mengenal siapapun. Kemana pun pergi, ia selalu bersama dengan Alvaro.
"Ah ... terus gimana caranya biar kita tau siapa biang masalahnya disini?" Imbuh Tatiana bingung.
"Gue belum kepikiran apa-apa." Gianna menggeleng lagi menandakan tidak tau harus apa. Mereka pun terdiam. Sampai akhirnya Kenan angkat suara.
"Cukup buktiin aja ke orang-orang kalo si Geno itu sepupu Jian. Caranya ya mungkin bisa di mulai dari gue ataupun si Tia upload foto kita ber empat ke Joystagram. Caption nya kita bisa sebut si Geno sepupunya Jian dan soal gossip Jian yang ngga mau bergaul sama cewek, buktiin aja besok dengan Jian ngobrol sama Tia. Atau mungkin Tia bisa ajak temen cewek jurusannya yang bisa percaya buat ikut ngobrol. Kan terbukti tuh, Jian mau ngobrol juga sama cewek. Terus, soal gossip yang bilang Jian cuma cari perhatian sama gue. Gue tinggal pasang foto Jian di pameran tugas jurusan gue dan cukup gue bilang, kalo gue yang deketin dan cari perhatiannya Jian karna gue mau dia jadi model gue. Dengan begitu, pastinya nanti biangnya ngga akan tinggal diem kalo semua gossip yang dia sebar kebongkar kebenarannya."
Hening
Gianna, Geno dan Tatiana melongo menatap Kenan begitu penjelasan Kenan selesai. Sementara Kenan bingung melihat mereka bertiga menatapnya bersamaan tanpa berkedip.
"Apa?"
Mereka bertiga spontan menggeleng
"Gue kira lo dari tadi diem aja karna lo ngga paham sama sekali." Kata Tatiana.
"Gue kira, lo ngga mau ikut-ikutan." Tambah Gianna.
"Gue kira lo mules pengen cepet pulang." Timpal Geno ikut menambahkan.
"Sembarangan lo." -Hardik Kenan menatap Geno sebal.- "Diem-diem juga gue nyimak. Masa iya gue ngga peduli. Gue juga salah satu penyebab Jian di gossipin." Ungkap Kenan sembari meneguk minumnya. Mendengar itu Gianna tersenyum.
"Thank's." Ucapnya pada Kenan. Kenan hanya balas tersenyum malu dan kembali meneguk minumannya.
(Awas kembung mas)
"Thank's buat kalian bertiga. Makasih udah mau bantuin gue. Kalo kalian ngga maju duluan buat maksa bantu gue. Mungkin masalah gue ngga akan selesai." Ujar Gianna merasa cukup senang ada yang peduli padanya. Sejak awal sebenarnya memang sudah ada yang peduli padanya. Tapi Gianna saja yang terlalu keras kepala, menolak dan merasa bisa melakukannya sendirian.
"Urwell Jian." Tatiana tersenyum pada Gianna.
"Asal mulai sekarang lo ngga pendem sendirian lagi masalah lo. Gue kayak orang beg* tau tiap kali lo diem aja pas ada masalah." Sindir Geno membuat Gianna bungkam.
"Iya sorry." Jawab Gianna tersenyum masam tanda ia menyesal.
"Yaudah bagus kalo lo sadar. Minta minum lo." Ucapnya kemudian.
"Eh? Ogah ya. Beli sendiri." Cibir Gianna langsung menarik gelasnya dari atas meja.
"Yaelah pelit amat." Protes Geno melihat Gianna benar-benar tak mau berbagi minuman kepadanya.
"Minum punya gue nih." Sahut Kenan menawarkan miliknya.
"Ogah! Lo cowok!" Tolak Geno mentah-mentah.
"Jadi lo mau ciuman ngga langsung sama sepupu lo sendiri?" Celetuk Tatiana membuat Geno seketika melotot.
"Ngga lah!" Elaknya.
"Oh gitu ya Geno?" Gianna yang ikut menanggapi Tatiana langsung menatap Geno penuh kecurigaan.
"Ngga gitu astaga!" Keluh Geno masih mengelak.
"Yaudah nih punya gue aja." Tawar Kenan mulai tersenyum penuh ledekan menatap Geno.
"Ogah! Elo cowok!" Mereka pun akhirnya terus saja membullly Geno sampai-sampai akhirnya ia membeli minuman sendiri.
Sampai jumpa lagi readersnya JianKenan���
Stay save and stay healthy❤️
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-