-*-*-*-
Di pagi menjelang tengah hari.
Sepasang mahasiswi di kantin kampus terlihat sedang menikmati makanan mereka di salah satu meja siang itu. Mereka terlihat makan dengan santai dan berbicara ringan. Sampai salah satu dari mereka tersedak saat sedang membuka layar ponselnya.
"Uhuk! Uhuk-uhuk-uhuk ... ." Gadis pertama terbatuk cukup kuat sampai-sampai ia memukul dadanya beberapa kali.
"Eh? Kenapa lo?! Minum dulu, minum." Teman di sebelahnya terkejut begitu melihat temannya tiba-tiba tersedak sampai batuk seperti itu. Ia kemudian memberikan minum milik temannya dan membantu dengan mengusap-usap punggungnya. Gadis yang tersedak langsung meminum air miliknya sampai dirasa tenggorokannya lega.
"Kenapa lo bisa kesedak gitu sih? Abis ngeliat apa?" Tanya gadis yang membantu memberikan air minum.
"Ini gil*!" Gadis yang tersedak menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan Joystagram milik Kenan yang menandai Tatiana dan Gianna. Gadis kedua memicingkan matanya heran tak paham.
"Kenapa?" Ujarnya menatap bertanya.
"Ihhh! Si Kenan pergi sama si cewek murah itu kemaren! Lo ngga liat tagnya?" Gadis pertama mulai emosi melihat temannya yang tidak terlalu tertarik itu.
"Oh ya?bKok gue ngga tau?" Ujar gadis kedua mengucapkan kalimat andalannya.
"Ya ini gue kasih tau markonah! Saban hari lo kok cuma respon begitu sih?! Lo ini robot operator atau apa?!" Semburnya kesal.
"Woooo. Santai ... ntar kesedak-"
"UHUK!!!"
"Lagi." Gadis pertama kembali tersedak ketika ia melihat foto lain di layar ponselnya yang masih di akun yang sama.
"Gue ... gue baru tau ada cowok seganteng dan semuda ini di kampus. Dia mahasiswa sini? Jurusan apa?" Gadis pertama terlihat melongo saat bertanya sembari menunjukan layar ponselnya yang terdapat foto Geno.
"Entah? Temennya Kenan mungkin? Kenapa lo ngga baca caption sama komentarnya aja? Kayaknya ada penjelasannya tuh siapa dia." Gadis kedua tidak terlalu antusias dan kembali melanjutkan makannya.
"Ah iya. Oke gue baca." Tanpa bersuara, gadis pertama pun membaca caption dan kolom komentar yang terpampang di bawah foto lelaki berparas tampan itu.
"Gimana? Dia-"
"Uhuk! Uhuk-uhuk-uhuk ... ."
"Hei! Minum lagi nih! Kesedak mulu lo dari tadi."
Gadis pertama kembali minum. Lalu menyodorkan layar ponselnya lagi kepada gadis kedua.
"Ini seriusan?!" Ujarnya.
"Apanya?"
"Baca komentarnya!"
Gadis kedua sedikit terkejut mendapat bentakan dari gadis pertama, lalu membacanya sesuai perintah.
"Udah. Terus kenapa?" Ucapnya tak mengerti.
"Si ganteng ini sepupunya si cewek murah itu??" Protes gadis kedua tak percaya.
"Ih apasih lo dari tadi sebut murah terus? Dia punya nama loh. Kok lo sebut murah mulu. Emangnya bakwan?" Tuturnya menatap polos gadis pertama
"Ngga usah bercanda!" -Bentaknya.- "Lo tau sendiri, gue ngga suka cewek model begitu. Bukannya lo sendiri udah denger gossipnya? Cewek murahan, sombong dan suka cari perhatian cowok kayak gitu ngga pantes di sebut namanya."
"Oh ya? Emang lo udah tanya langsung sama orangnya? Kok lo bisa percaya gitu aja?" Tanya gadis kedua menanggapi.
"Ah elah, udah banyak yang omongin dia! Buat apa tanya lagi sama orangnya? Yang namanya fakta ya fakta aja. Belum lagi soal dia bayaran cowok yang selalu nganter dia tiap pagi. Mana katanya cowoknya lebih muda. Idih. Sukanya sama yang lebih muda gitu. Kayak tante-tante." Cerocos gadis pertama sampai bibirnya menyebik.
"Hush! Mulut lo itu kalo ngomong di jaga geh. Kalo semua itu balik ke elo sendiri gimana coba? Emang siapa yang punya bukti kalo cowok yang nganter dia tiap pagi itu orang yang bayar dia? Bisa jadi dia sepupu yang barusan lo liat kan? Terus, kata lo waktu itu, dia anak tunggal. Siapa yang tau kalo dia satu rumah sama sepupunya dan dianter karena sekalian?" Terang gadis kedua berusaha membuka pikiran temannya yang sudah termakan gossip itu.
"Aaaah stop-stop udah!" -Gadis pertama menggelengkan kepala kuat-kuat, ia tidak mau mendengarkan lagi ucapan dari temannya.- "Ini lah malesnya kalo ngomong sama lo. Ngga pernah nyambung! Dimana-mana yang paling banyak diliat dan diomongin itu yang fakta! Udah, gue mau balik. Ngga nafsu makan gue." Gadis pertama langsung meninggalkan temannya tanpa membiarkan temannya bicara atau bahkan mencegahnya.
"Ah ... susah emang ya kalo udah kemakan gossip begini. Mau dijelasin juga ngga berguna kalo ngga liat sendiri." -Gadis kedua geleng-geleng kepala menyayangkan betapa mirisnya pemikiran kebanyakan orang saat ini.- "Mana itu anak ngomong ngga nafsu, tapi seblaknya habis bersih gini." Ia kemudian hanya menghela nafas dan melanjutkan makannya yang belum selesai sejak tadi
*
*
*
Sepertinya, saran Kenan untuk membuktikan soal Geno adalah sepupu Gianna berhasil. Sejak Kenan dan Tatiana mengunggah semua foto itu. Banyak mahasiswa kampus yang membicarakannya.
Ada beberapa dari mereka yang tidak percaya dengan postingan itu.
Ada juga yang mulai meragukan kebenaran dari semua gossip yang beredar.
Tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang percaya kalau Geno adalah sepupu Gianna
Hanya saja yang jelas.
Gianna mulai menjadi pembicaraan hangat dikalangan mahasiswa kampus hari ini. Tentunya hanya dikalangan yang menggosipkan dirinya
---------------------------
Siang menjelang sore harinya, Tatiana terlihat duduk di salah satu meja kantin bersama Kenan.
"Gimana? Lo udah ada temen yang bisa dipercaya buat di ajak ngobrol?" Tanya Kenan.
"Iya, udah kok. Nanti dia ke sini." Jawab Tatiana tanpa menoleh pada Kenan.
"Oh, oke." Sahut Kenan mengangguk paham.
"Terus? Si Vander gimana? Lo udah tanya si Jian atau si Vandernya langsung? Bisa atau ngga dia ke kampus?"
"Geno bisa kok." Gianna tiba-tiba datang menyahut dan duduk di depan Tatiana.
"Udah selesai kelasnya?" Tanya Tatiana tidak terkejut mendengar sahutan Gianna.
"Udah, makanya gue langsung kesini." Balasnya seraya meletakkan tas di sampingnya. Tanpa Gianna sadari, saat ini dirinya menjadi pusat perhatian dari semua pasang mata yang ada disana. Sampai akhirnya Gianna menyadari saat dirinya tak sengaja bertemu pandang dengan salah satu dari mereka dan hal itu membuat Gianna menjadi sedikit tidak nyaman.
Tatiana yang menyadari Gianna tak nyaman segera menengok dan menatap tajam pada setiap pasang mata yang haus akan gossip itu. Sadar Tatiana balas menatap mereka, orang-orang itu sedikit terkejut dan berpura-pura melakukan hal lain.
"Biar aja Jian, mereka cuma iri ngeliat muka elo yang cantik kok." Tatiana berusaha mencairkan suasana agar Gianna tidak merasa aneh.
"Eh? Gue udah mulai terbiasa sama tatapan mereka kok. Cuma ya masih sedikit ngga nyaman kalo sampe di tatap rame-rame begini."
"Hahh ... wajar sih. Nanti juga mereka sadar kok kalo mereka salah. Nanti begitu temen gue dateng, kita lanjut ke rencana yang berikutnya." Jelas Tatiana tersenyum pada Gianna.
"Entah kenapa gue ngerasa lagi ngelakuin misi." Ujar Kenan kemudian ikut bergabung dalam pembicaraan.
"Iya dong. Misi membasmi manusia bermulut ngga ada aturan."
"Emang bisa di basmi ya?" Ucap Gianna.
"Sebenernya ngga sih. Malah spesies mereka berkembang semakin banyak. Apa mereka membelah diri ya?" Cibir Tatiana seraya melirik orang-orang yang masih saja menatap Gianna.
"Lo ngomong apaan sih." Tanya Kenan kemudian seraya memandang Tatiana polos.
"Tsk! Udahlah Kenan. Kalo lo ngga ngerti ngga perlu ikut campur. Cukup Jian aja yang ngobrol sama gue. Lo ngga usah." Sergah Tatiana mulai emosi lagi. Baru saja Kenan membuka mulut untuk membalas ucapan Tatiana, Gianna sudah lebih dulu memotong.
"Mau debat lagi?" Kata Gianna membuat Kenan diam, tak jadi membalas.
"Ngga kok. Lagi ngga semangat." Kenan kemudian menyandarkan punggungnya pada kursinya sementara tangannya mengutak-atik kameranya sendiri. Mereka pun berbincang ringan selama beberapa saat.
Kemudian Tatiana bertanya.
"Vander sampe jam berapa kira-kira?" Ujarnya.
Baru Gianna akan menjawab, orang yang di pertanyakan sudah tiba. Membuat setiap pasang mata yang terpaku pada Gianna, beralih kepada Geno. Pandangan mereka semua seakan mengartikan tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat. Bahkan tak sedikit dari mereka menanyakan.
Siapa dia? Dia benar sepupunya Jian? Pasti bohong kan? Kenapa dia ganteng banget? Dan masih banyak lagi.
Geno yang menyadari semua bisikan itu segera melirik dan melemparkan senyum aneh yang sulit di jelaskan. Melihat senyuman itu para gadis yang menatap Geno jadi terdiam. Merasa berhasil membuat para gadis itu membeku karena perbuatannya. Geno langsung meninggalkan sebuah kedipan mata dan senyuman menggoda dan membuat para gadis itu melongo terpana.
Oh, ayolah
Anak gadis mana yang tidak terkejut jika diberikan kedipan sebelah mata dari pria imut nan tampan?
"Hi darling. Do you miss me?" Geno tiba-tiba muncul dari belakang kursi dengan wajah yang condong ke hadapan Tatiana.
"Gya!" Tatiana terkejut dan spontan menampar pipi Geno.
"Akh ... ." Geno mendramatisir dan menghempaskan wajahnya ke samping seakan tamparan Tatiana sangat kuat.
"Sambutan yang sangat lembut." Sambungnya seraya mengusap pipinya yang mendapat pendaratan sempurna dari telapak tangan Tatiana. Gianna yang melihat itu melipat kedua bibirnya menahan, karena hampir saja ia tertawa terbahak.
"Pfft!" Tapi tetap saja ia hampir menyemburkan isi mulutnya karena cukup sulit menahan.
Geno yang mendengar suara Gianna spontan melirik sinis, tetapi Gianna justru membalas menyebik tanda mengejek.
"Aduh, sorry Vander. Lo tiba-tiba gitu sih. Jadi guenya kaget. Sekali lagi sorry." Tutur Tatiana merasa tak enak sudah menampar Geno di tempat umum.
"It's okay. Tangan lo lembut kok." Geno tersenyum memperlihatkan giginya mengartikan tidak apa-apa. Lalu duduk di sebelah Tatiana.
"Eh? Kok lo duduk di sebelah gue? Ngga di sebelahnya Jian aja?"
"Lo mau gossipnya Jian bertambah?" Celetuk Kenan mengingatkan.
"Iya. Lagian gue nyamannya duduk di sebelah elo kok." Timpal Geno menatap Tatiana lekat, lengkap dengan senyuman khasnya.
"Heh stop! Rayu terus." Sela Gianna menahan Geno yang terus saja meluncurkan modusnya pada Tatiana.
"What. Why? Ina yang gue rayu aja ngga protes kok." Elak Geno membela dirinya.
"Gue ngga masalah sama si Anna. Masalahnya elo. Geli liatnya." Cibir Gianna tak peduli dengan pembelaan diri Geno.
"Lah. Ngga usah di liat. Kok dibuat susah." Sanggah Geno menatap sinis.
"Masalahnya elo keliatan! Gue nya jadi susah." Timpal Gianna membalas.
"Heh! Kenapa lo bentak gue? Yang sopan kalo sama yang lebih tua!" Seru Geno mulai terpancing emosinya.
"Emm ... halo?" Seseorang tak di kenal datang dan berusaha menyapa Gianna dan Geno yang masih dalam rangka saling ngotot.
"Terserah ya! Udah dibilang, lo cuma tua dalam urutan keluarga!" Sahut Gianna tak menyadari kedatangan orang yang ada di sebelahnya.
"Permisi ... ." Orang itu kembali menyapa meskipun tak mendapat respon sebelumnya.
"Justru itu! Lo harusnya pake adat keluarga! Yang sopan kalo sama yang lebih tua! Kasta gue lebih tinggi dari lo!" Eyel Geno tak mau kalah. Ia pun tidak menyadari adanya kedatangan manusia lain yang berusaha menyapanya dan Gianna.
"Ogah amat sopan sama lo. Lo aja ngeselin." Tolak Gianna mentah-mentah.
"Awas aja lo ya. Besok lo ke kampus jalan kaki!" Ancam Geno.
"Ng ... maaf?"
"He-" Baru saja Gianna akan membalas Geno, Tatiana sudah lebih dulu memotong perdebatan mereka.
"Stop!" -Bentaknya.- "Segitu asiknya kalian debat sampe temen gue dateng kalian cuekin?"
Mereka berdua diam. Lalu secara bersamaan menengok pada seorang gadis yang sejak tadi berdiri di dekat mereka. Gadis itu meringis malu seraya melambaikan tangan pada Gianna dan Geno.
*
"Dia temen gue. Dia satu jurusan sama gue." Jelas Tatiana mengenalkan. Gianna mengangguk paham dan sedikit tersenyum tak enak karena sudah mengabaikan teman Tatiana. Tetapi, ia kemudian menyodorkan tangan kanannya.
"Gianna Dirandra. Biasa di panggil Jian." Ucapnya mengenalkan diri.
"Hai! Nama gue Yosepha Sasami." -Gadis itu membalas jabat tangan Gianna dan tersenyum lebar, kemudian dibalas tersenyum pula oleh Gianna.- "Biasa di panggil Sasa. Panggil Ami juga boleh."
"Msg?" Geno yang sebelumnya menyimak, tiba-tiba menyeletuk.
"Eh? Gimana?"
"Pernah di panggil micin?" Tambah Geno.
"Haha, ngga. Tapi kadang emang suka diledek begitu." Ujar Sasami tertawa kecil.
"Heh! Geno! Ngga sopan!" Sergah Gianna menegur Geno.
"Ahaha. Ngga papa kok, Jian. Gue udah biasa." Kata Sasami menjelaskan.
"Jadi, lo serius mau bantu Jian?" Ucap Tatiana mulai mengambil alih arah pembicaraan.
"Iya, serius dong. Gue ngga bisa cuma diem aja setiap kali denger gossip yang ngga enak kayak gitu. Meskipun bukan gue, gue bisa tau, kalo rasanya pasti ngga enak di posisi Jian. Ah mungkin bukan ngga enak. Lebih tepatnya pasti sakit. Apalagi mereka kalo gossip suka terang-terangan di deket Jian. Emang dasarnya manusia-manusia ngga ada akhlak. Udah di gadai semua kayaknya otaknya." Jelasnya yakin merasa kesal dengan orang-orang. Gianna hanya bisa tersenyum masam. Semua gossip itu kembali melintas diingatannya.
"Iya begitulah. Jadi lo bener ngga percaya, kan sama semua gossip itu?" Tanya Tatiana masih belum yakin.
"Ngga lah. Gue tipe orang yang susah percaya kalo ngga liat atau denger langsung dari orangnya. Jadi gue cuma diem-diem aja kalo denger orang gossip. Ngga mau kebawa." Terangnya meyakinkan Tatiana.
"Thank's." Gianna tersenyum mendengar penuturan dari Sasami yang terdengar begitu tulus. Sementara Sasami langsung tersenyum membalas ucapan Gianna.
"Jadi? Mau denger cerita aslinya?" Ucap Tatiana kembali bertanya.
"Mau."
"Oh, oke. Gue aja nih yang ceritain?" Tatiana meminta pendapat pada Gianna.
"Iya ngga papa." Jawab Gianna mengizinkan.
"Ya, oke." Tatiana pun menceritakan kebenaran dari semua gossip bohong itu. Gianna juga ikut menambahkan penjelasan yang kurang. Sementara Sasami menyimak sampai ia mengangguk tanda mengerti.
"Ah ... tau gitu sejak awal gue ngobrol sama lo. Maaf ya. Selama ini gue cuma jadi penonton. Mulai besok kita bareng aja. Sama Tiana juga. Gue sama Tiana sama nyablaknya kok." Ujar Sasami tersenyum lembut.
"Hei ... lo lebih nyablak. Inget itu." Sahut Tatiana tak terima.
"Ah, udah, kita sama." Ujar Sasami seraya di sambung tawa kecil dari Gianna.
Sementara itu, dibalik pembicaraan Gianna dan yang lain
"Kenan." Panggil Geno.
"Ya?" Kenan menjawab tanpa menengok
"Elo kok bisa tahan sih di diemin begini sama cewek-cewek?" Tanya Geno seraya menatap ketiga gadis yang tengah larut dalam pembicaraan yang terlihat asik.
"Kenapa harus ngga tahan? Tinggal nyimak mereka ngobrol." Sahut Kenan cuek.
"Justru karna cuma nyimak itu!" Sela Geno memicing menatap Kenan yang terlihat tidak peduli.
"Kenapa?" Tanya Kenan
"Gue bosen."
"Kalo bosen main game aja sana." Sarannya tidak terlalu peduli. Ia kemudian mengarahkan kameranya kepada Gianna yang kini asik mengobrol. Sepertinya mereka sudah mulai akrab. Gianna terlihat menyelipkan beberapa senyuman dan tawa kecil setiap berbicara dengan Tatiana dan Sasami. Setelah di rasa menemukan momen yang tepat. Kenan menekan tombol kameranya mengambil gambar. Tepat saat Kenan hampir memotret. Gianna tak sengaja menoleh ke arah Kenan
Cekrik!
Sadar Gianna menoleh padanya saat di potret, Kenan menjadi sedikit terkejut dan salah tingkah. Karena ini adalah pertama kalinya Gianna menatapnya-ralat-menatap kameranya dan itu membuat Kenan sedikit gugup.
Ah, tapi. Kenapa Kenan harus gugup?
Seakan tak terjadi apa-apa. Gianna kembali mengobrol pada kedua teman barunya dan tak memperdulikan Kenan yang masih merasa gugup. Wah, apakah Gianna tidak tau atau pura-pura tidak tau kalau Kenan baru saja memotretnya? Kenapa dirinya santai saja dan membiarkan Kenan gugup sendirian seperti ini?
Sementara Geno yang yang sejak tadi diabaikan oleh Kenan. Ia bisa menangkap gerak-gerik kedua manusia itu. Matanya menyipit di kala memperhatikan mereka. Dirinya menatap seakan sedang menganalisis. Dalam sekejap, Geno bisa menyimpulkan dengan jelas kalau Kenan sedang salah tingkah saat ini. Meskipun Kenan sudah menutupi gerakan tubuhnya sebaik mungkin
"Hei you human!" Geno tiba-tiba bersuara seraya menyenggol bahu Kenan. Kenan yang sedang diam saja menjadi sedikit terlonjak. Kenan kemudian merotasi bola matanya dan menoleh.
"What?" Katanya.
"Lo ngapa gugup begitu? Sawan?" Tanya nya asal.
"Heh! Sembarangan!" Hardik Kenan mendengar pernyataan ngawur dari Geno.
"Terus lo ngapa diem-diem begitu?" Kata Geno penuh selidik. Kenan hanya menghela nafas lalu kembali mengutak atik kameranya.
"Kepo banget jadi orang." Balas Kenan sedapatnya.
"Huh? Of course i have to. Gue ngga mau ya kalo lo tiba-tiba geletak dan teriak-teriak karna kerasukan. Gue ngga mau ketularan. Gue juga ngga bisa sembuhin. Soalnya di Australia, gue ngga pernah liat orang kerasukan sampe teriak-teriak." Jelas Geno mewanti-wanti Kenan.
"Kenapa nyambungnya jadi orang kerasukan?" Tanya Kenan tak paham.
"Loh? Bukannya sawan masih berhubungan? Kalo udah kena sawan, tandanya lo ketempelan kan? Terus kerasukan kayak orang-orang." Jelasnya menerka-nerka.
"Yaudah. Kalo gitu lo harus terima kenyataan, kalo disini banyak orang yang mudah kerasukan." Balas Kenan.
"Jadi lo bener bakal kerasukan?" Tanya Geno penasaran
"Ngga!" Sahut Kenan cepat.
"Oke good. Akhirnya lo nanggepin juga. Dari tadi lo tega amat cuekin gue." Ujar Geno mengangguk penuh arti menatap Kenan.
"Ngga penting." Sahut Kenan cuek.
"Dasar kalian manusia memang jahat."
"Terus, emangnya lo bukan manusia?"
"Bukan. Gue setan."
"Bagus. Jadi elo yang bakal ngerasukin gue? Jadi takut kena sawan kan." Ujar Kenan meledek, membalikkan ucapan Geno.
"Whatever." Geno tak peduli lagi kemudian membuang mukanya.
Sementara itu, tak jauh dari mereka.
Ternyata ada sepasang mata yang melihat saat dimana Kenan memotret Gianna. Pandangan itu menatap bukan karena kebetulan lewat saja. Pandangan itu memang sengaja memperhatikan karena melihat suatu hal yang membuat gusar hatinya.
Tapi, kenapa? Kenapa dia harus gusar? Hal apa yang membuatnya begitu?
Pandangan itu kini berubah menatap dengan sejuta emosi yang tak dapat dijelaskan, di kala Kenan masih menatap Gianna meskipun Gianna sudah memalingkan wajahnya. Sampai seorang gadis di sampingnya mengejutkannya.
"Kenapa lo diem aja? Ayo kita samperin mereka. Katanya lo mau liat langsung?" Ujarnya menatap heran.
"Ah ya? Sorry, gue habis liat pemandangan yang buat gue jijik."
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-