-*-*-*-
-Chat-
-Ina-
Geno
-hi sweetie
09:20
Tatiana
-Siapa?
Geno
-yaampun sweetie
-darimana aja?
-daritadi gue cari ngga ketemu
Tatiana
-Hah?
-Lo siapa panggil" gue sweetie?
-Kita kenal?
Geno
-yaampun judesnya
-ngga kebayang gimana manisnya muka lo sekarang
Tatiana
-Wait
-Jangan bilang elo Ivander?
Geno
-wow that's right
-darimana lo bisa tau?
Tatiana
-Dari cara lo ngegombal gue langsung tau
-Lo dapet nomor gue dari Kenan pasti
Geno
-duh
-lagi" lo tau
-lo cari tau tentang gue ya?
Tatiana
-Tanpa gue cari tau udah jelas
-Ada urusan apa ngechat gue?
Geno
-kangen dong
-gue lagi istirahat dan kepikiran buat ngechat elo
-emangnya elo ngga kangen gue juga?
Tatiana
-Ngga
-Buat apa?
-Kemaren juga udah ketemu
Geno
-jadi kita harus ngga ketemu berapa lama biar lo kangen sama gue?
Tatiana
-Ntah
Geno
-cuek banget sih sweetie
-ngga ada niatan buat tanya balik?
Tatiana
-Apa ada yang mau elo sampein?
-Kalo ngga ada ngga usah chat ngga penting
Geno
-kan tadi udah di sampein
Tatiana
-Apa?
Geno
-gue kangen
Tatiana
-Gue ngga
-Udah?
Geno
-kalian beneran sodara kembar ya
-11-12
Tatiana
-Memang ada yang bilang kita bukan sodara kembar?
Geno
-ngga ada
Tatiana
-Yaudah gue off
Geno
-eits sebentar
Tatiana
-Apa?
Geno
-ada yang mau gue sampein
Tatiana
-Apa?
-Elo kangen?
-Tadi kan udah
Geno
-bukan
Tatiana
-Terus?
Geno
-i miss you
Tatiana
-Jangan heran kalo tetiba profpict gue jadi abu" ya
Geno
-eh sorry"
-gue bercanda
-okelah sekarang serius
-gue mau sampein sesuatu soal jian
Tatiana
-Apa itu?
Geno
-balasan lo cuma sekedar itu ya?
-ngga ada niatan tambah kosakata lain
Tatiana
-Vander
Geno
-fine fine
-sorry
-gue jelasin di telfon aja gimana?
-agak panjang ceritanya
-susah juga kayaknya kalo cuma di jelasin lewat chat
Tatiana
-Oke
00:15:37
Panggilan berakhir
Tatiana
-Apaan yang panjang ceritanya
-Lo tinggal bilang aja kalo ada anak cewek yang ngaku" temen Jian
-Terus menurut lo anak itu termasuk orang yang gossipin Jian
-Abis itu lo ancem cewek itu biar dia kicep
-Sepanjang apa 3 kalimat itu?
-Lo cuma ngegombal doang sepanjang pembicaraan
Geno
-heh heh
-gue ngga ancem dia ya
-gue cuma ngomong doang
-ngga ada gue ngancem dia
Tatiana
-Terus?
Tatiana
-Itu lo bahas" soal rumah sakit?
-Apa namanya kalo bukan ngancem?
Geno
-hmm
story telling?
Tatiana
-Ngga nyambung
-Jelas" elo ngancem
-Apa lo beneran saiko?
Geno
-oh god
-kenapa lo kepikiran ke sana?
-asal lo tau
-meskipun gue tahan nonton film genre gore dan saiko
-gue lebih tertarik nonton lo ngomel, face to face sama gue
-gue bukan orang jahat
-bahkan sama kucing
-meskipun dia nyakar gue pas gue jahilin
-gue ngga pernah tuh, bales nyakar dia
Tatiana
-Gue ngga tanya ketertarikan lo ataupun hubungan lo sama kucing
-Lo kan tinggal jawab ngga
-Kenapa harus jelasin panjang lebar?
Geno
-biar lo percaya kalo gue cowok baik"
Tatiana
-Oh
-Yaudah
-Gue mau ke kampus
-Lo belajar yang bener sana
-Jangan bolos
-Biar beneran jadi good boy
Geno
-duh, lo perhatian banget sih
-thanks sweetie
Tatiana
-Ya
Amoreiza Tatiana Kalandra went offline
---*-
Masih ditempat yang sama dan waktu yang sama.
Kenan dan Gianna tampak masih duduk dan bertatapan dan itu nampaknya sudah berlangsung selama kurang lebih beberapa menit. Gianna yang mulai merasa canggung, mulai tersadar dan mengerjabkan matanya beberapa kali.
"Ah ... ng ... gue ... gue harus ke kelas." Ucap Gianna terbata seraya perlahan menarik tangannya yang sudah berubah menjadi hangat karena menempel pada Kenan.
"Bukannya kelas lo masih 1 setengah jam lagi?" Tanya Kenan menatap heran pada Gianna yang sudah mulai membereskan buku-bukunya. Gianna berhenti mengambil bukunya, lalu menoleh cepat pada Kenan.
"Apa lagi ini? Tadi dia bilang bakal ngekorin gue kemana aja. Apa dia juga ngawasin gue dan cari tau soal jadwal gue?"
Gianna kini berubah menjadi sedikit merinding. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kenan? Apakah kepalanya menabrak sesuatu kemarin?
"Da-darimana lo tau ... ."
"Geno. Tadi dia kasih tau gue kalo kelas lo hari ini sekitar jam 9." Jelas Kenan menatap polos.
"A-aah ... Geno ... oke." Gianna kemudian mengangguk paham beberapa kali dengan sikap yang sedikit kikuk. Ia merasa sedikit malu sudah berfikir terlalu negatif. Setelah bukunya ia tumpuk menjadi satu, ia pun berdiri dan akan mengembalikannya ke rak.
"Terus lo mau kemana habis ini?" Kenan ikut bangun dan kini berdiri di belakang Gianna.
"Ngga tau deh. Mungkin jalan-jalan aja sambil nunggu kelas mulai." Kata Gianna setelah meletakkan beberapa buku di rak yang sejajar dengan tangannya.
"Kenapa lo sering berangkat pagi-pagi, padahal kelas lo masih belum mulai?" Tanya Kenan seraya mengambil buku di tangan Gianna dan meletakkannya di tempat yang Gianna tak bisa menggapainya.
"Karna sekolah Geno masuk pagi. Gue males kalo harus pesen ojol ataupun taxol. Boros." Ujar Gianna seraya memberikan bukunya lagi kepada Kenan yang harus di letakkan di tempat tinggi.
"Apa lo mau gue jemput aja?" Tanya Kenan spontan. Telinga Gianna yang mendengar itu refleks membuat tubuhnya berbalik.
"Apa-"
Deg!
Begitu Gianna berbalik, tubuh Kenan tepat berada di depannya. Wajahnya bahkan tidak sengaja sedikit menabrak d**a Kenan yang berbalut kaus hitam.
"Ah, maaf-"
Lagi dan lagi. Kenan selalu saja membuat d**a Gianna bergemuruh hebat. Saat Gianna mendongak kali ini, wajah Kenan yang berada tepat di hadapannya. Cukup dekat dan mungkin hanya terpisah jarak satu jengkal, karena Kenan menunduk. Gianna membeku.
"Situasi macam apalagi ini?!"
Seru Gianna di dalam batin nya.
"Gue harus gimana?!"
Jerit batinnya kebingungan dengan situasi aneh yang dialaminya. Sementara Kenan terlihat tenang dan hanya menatap Gianna tanpa bicara apa-apa.
"Jian." Panggil Kenan mulai bicara. Sedangkan Gianna, matanya nampak berkedip beberapa kali baru menjawab.
"Ya?"
"Lo pake lipstik?" Tanya Kenan.
"Lips ... tik? Ngga." -Gianna menggeleng dengan cepat.- "Gue cuma pake pelemb-" Gianna tiba-tiba berhenti menjawab dan terdiam menatap Kenan.
"Wait. Tunggu dulu."
Ujar batinnya dengan alis mengernyit
"Pertanyaan ini. Dia ngga bermaksud menjurus ke sana kan?" Gianna kini menatap Kenan penuh tanya. Pikirannya yang penuh kecamuk akan sebuah kemungkinan-kemungkinan fantasi membuat tubuhnya perlahan mundur.
"Gue harus menghindar dari situasi ini. Bisa-bisa gue mati canggung kalo begini terus."
Tegasnya di dalam hati.
"Tapi bibir lo-"
Baru saja Kenan akan bertanya, ia tidak jadi melanjutkannya saat melihat Gianna tiba-tiba menarik rambutnya yang menjuntai di kanan dan kiri untuk menutup bibirnya. Lalu dalam satu kedipan mata, Gianna segera menyingkir dari tubuh Kenan yang menghimpitnya. Tidak sampai hitungan detik, Gianna pergi begitu saja meninggalkan Kenan sendiri.
"Dia kenapa?" Ujar Kenan bertanya-tanya heran.
"Ah terserah. Pokoknya gue harus pergi." Dengan langkah yang terhitung cepat, Gianna terus berjalan meninggalkan perpustakaan entah menuju kemana.
"Beneran deh. Kenan sama Geno udah salah makan. Ah ngga. Kalo Geno gue ngga terlalu heran karna dia emang sering godain cewek, bahkan tante-tante sekalipun. Tapi dia ngga pernah ngegodain gue. Katanya gue bukan cewek. Tapi pagi ini? Kenan juga ada apa sama dia? AKH!" Seru Gianna menggelengkan kepalanya kuat-kuat sampai-sampai teriakannya membuat petugas bersih-bersih terkejut dan menoleh padanya.
"Gue butuh sendiri." Masih dengan langkah yang tergesa dan cepat, Gianna terus berjalan menuruni tangga dan segera keluar dari gedung kampusnya.
*
Sesampainya di bagian taman kecil di belakang gedung kampusnya, Gianna segera menempatkan bokongnya di bawah pohon rindang di atas rumput yang hijau. Satu helaan nafas lega menghembus begitu saja dari bibir Gianna. Segera setelah ia duduk, ia menggeledah tasnya dan mencari earphonenya. Ia pun memasang di ponsel pintarnya dan memakai earphonenya di telinga.
"Hah~ Sejauh ini seharusnya dia ngga tau gue ada dimana." Gianna menyandarkan punggungnya di pohon besar di belakangnya begitu musiknya dimulai. Gianna terhenyak di dalam alunan musik yang menari-nari di kepalanya. Matanya menatap langit biru yang sampai sekarang masih belum terlalu panas oleh sang bintang raksasa. Cukup lama Gianna terdiam menatap langit. Sampai saat ingatan tentang Alvaro tiba-tiba melintas di kepalanya.
"Pony ... ." Lirihnya. Entah mengapa kali ini, Gianna bisa menyebut nama itu tanpa harus merasa sesak.
"Elo baik-baik aja kan? Langit yang ada di atas kita, juga masih sama kan? Gue yakin. Elo pasti baik-baik aja. Dulu lo selalu jagain gue. Ngga mungkin kan kalo lo ngga bisa jaga diri sendiri? Elo bod*h kalo sampe ngga bisa jaga diri lo sendiri." Tak ada tangis, tak ada rasa sesak. Tanpa Gianna sadari, kini bibirnya justru mengulas senyum.
"Gue harap, elo di sana bener-bener nikmatin impian lo. Gue rasa gue udah ngga apa-apa sendirian disini." Ungkap Gianna lalu menutup mata di akhir ucapannya.
"Apanya yang sendirian. Kan gue udah bilang, gue bakal jagain elo." Tanpa di sadari oleh Gianna, Kenan sejak beberapa saat lalu sudah berada di sampingnya dan mendengarkan semua ucapan monolognya.
Ucapan Kenan awalnya tak di pedulikan oleh Gianna, karena awalnya ia mengira itu hanya ilusi dari pikirannya sendiri. Sampai saat Kenan mencabut earphone sebelah kirinya baru membuatnya tersadar. Gianna terkejut dan langsung menoleh ke sebelah kirinya.
"Kenan!? Ngapain elo disini!?" Seru Gianna dengan mata membulat dan tubuh yang sedikit tersentak mundur. Sepertinya ia cukup terkejut dengan kehadiran Kenan yang tidak disadari olehnya sama sekali.
"Ngikutin elo. Bukannya tadi gue udah bilang soal ini? Lo lagi dengerin lagu apa?" Tanpa izin dari pemiliknya, Kenan langsung saja memasang earphone Gianna di telinga kirinya. Gianna yang melihat hal itu tidak bisa berkomentar apa-apa. Ia hanya bisa memandang Kenan dengan tatapan yang tidak tertebak dan duduk sedikit mendekat, karena earphonenya itu tidak terlalu panjang.
"Ah, gue sering denger lagu ini. Judulnya apa ya gue lupa?" Tanya Kenan menoleh pada Gianna. Kali ini, Kenan yang terdiam. Wajahnya dengan Gianna terlalu dekat bahkan sampai bisa merasakan hembusan nafas dari mereka masing-masing.
"Make You Mine." Jawabnya. Tidak seperti sebelumnya, sekarang mereka tidak saling menatap dalam waktu yang lama. Karena Gianna perlahan memalingkan wajahnya ke langit dan menutup matanya. Ia bersandar dan menikmati musiknya.
Sementara Kenan.
Ia masih menatap sisi kiri wajah Gianna yang matanya terpejam.
���Put your hand in mine���
���You know that I want to be with you all the time���
���You know that I won't stop until I make you mine���
���You know that I won't stop until I make you mine���
"Until I make you mine." Kalimat itu keluar bersamaan dengan lirik musiknya dari bibir Kenan. Kalimat itu membuat mata Gianna terbuka. Kepalanya pun perlahan menoleh
Lagi.
Kedua pasang mata itu kembali bertemu. Tidak tau, apa yang ada di dalam kepala keduanya. Yang pasti mereka sama terdiam didalam musik yang terus dimainkan.
"Kalian lagi panco mata?" Kompak, Kenan dan Gianna bersamaan menoleh ke depan, tempat dimana suara yang tertuju kepada mereka berasal. Melihat yang berdiri di hadapan mereka adalah Ravindra, kedua alis Kenan bertaut dan langsung menatap dengan pandangan memicing antara sinis dan juga kaget.
"Sejak kapan lu disitu?" Tandas Kenan penuh penghakiman. Gianna yang langsung menangkap kalau orang yang ada dihadapannya adalah teman Kenan, seketika berubah menjadi canggung dan langsung menarik kabel earphone yang menempel di telinga Kenan.
"Agh Jian! Jangan asal tarik. Sakit." Kepala Kenan ikut bergeser bersamaan dengan earphone yang ditarik Gianna.
"Iiih!" Gianna yang sedikit kesal dengan Kenan yang terlihat seperti berusaha dekat-dekat dengannya langsung menahan kening Kenan dengan telapak tangannya. Sedangkan tangannya yang lain melepas earphone yang terpasang di telinga Kenan.
"Gitu doang sakit." Sungutnya seraya memasukkan earphonenya ke dalam tas. Ia pun segera berdiri dan meninggalkan Kenan tanpa bicara apa-apa. Melihat itu, Kenan langsung berdiri.
"Jian!"
Dengan langkah cepat, Gianna tak memperdulikan teriakan Kenan yang berusaha mencegahnya.
"Ah ... ." -Kenan terlihat kecewa, lalu menoleh Ravindra dengan tatapan malas.- "Elu ngapain dateng? Ganggu aja." Dengus Kenan bersungut-sungut.
"Lah anj*r. Temen baru dateng bukan di tanya kabar atau disapa. Gue emang lagi lewat sini kali! Kenapa lu jadi emosi? Ini taman juga bukan elu yang urus." -Dengan panjang lebar, Ravindra memprotes Kenan yang tiba-tiba saja kesal padanya.- "Kenapa lu? Lu lagi pacaran emangnya? Terus mau adegan kiss gagal gitu?" Sambungnya dengan tatapan penuh selidik.
"Tsk! Sembarangan! Ngga!" Sanggah Kenan mendengar pertanyaan ngawur dari kawan satu-satunya itu.
"Wah. Sayang banget. Padahal kalo beneran ya syukur. Hahaha." Tawa Ravindra sedikit pecah meledek Kenan yang masih terlihat kesal.
"Sial*n. Temen kampr*t emang lu ya. Seriusan. Lu ngapain disini?" Tanya Kenan kemudian. Ia tidak ingin terlihat terlalu kesal. Karena menurutnya, semakin dia memperlihatkan rasa kesalnya, semakin semangat pula Ravindra untuk meledeknya seperti meledek seorang bocah TK.
"Gue beneran cuma lewat, astaga. Ngga percaya banget ya. Lu kira gue ngekorin elu gitu? Anj*r lah. Kurang kerjaan banget gue ngikutin elu. Ngerjain tugas motret jauh lebih berfaedah." Timpalnya sedikit kesal dengan pertanyaan Kenan.
"Terus? Ngapain lo nyamperin gue?" Sahut Kenan ketus.
"Oh itu? Gue emang sengaja kalo itu. Hahaha." Dalam sekejap, tawa Ravindra kembali pecah semakin kuat.
"Bangk* lu." Umpat Kenan.
"Hahaha. Suka gue. Makanya kalo mau mesra-mesraan tuh ditempat yang bagusan dikit. Lu mesra-mesraan di kampus. Ngga cerdas. Hahahaha." Ravindra semakin terkekeh melihat Kenan yang wajahnya sudah tertekuk kusut.
"Sial*n lu ya. Ngga pernah bisa liat sikon kawannya. Mat* aja sana." Umpat Kenan teramat kasar.
"Wah justru itu. Kalo gue mat*, gue justru makin leluasa bisa ganggu elu. Hahahaha." Bukannya tersinggung ataupun marah, tawa Ravindra justru meledak menanggapi.
"Terusin aja ketawa lu." Seraya membuang muka, Kenan berlalu dari sana meninggalkan Ravindra.
"Dih jijik. Bamperan." Ravindra kemudian menyusul dengan bibir nya yang tergigit mati-matian menahan tawanya.
"Serah lu dah."
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-