-*-*-*-
"Hei. Lo yakin ngga apa-apa? Mau gue anter pulang?" Tanya Sasami kepada Cindy yang sedang melamun.
Namun, begitu mendengar ucapan Sasami, ia perlahan menoleh.
"Emang kenapa? Emang muka gue pucat?" Tanya Cindy dengan nada suara yang cukup lemas.
"Iya lumayan. Bahkan nada suara lo aja lemes begitu. Atau lo mau istirahat aja di klinik?" Sasami terlihat sedikit khawatir melihat wajah Cindy yang sudah seperti kehilangan semangat hidup.
"Ngga usah. Gue ngga apa-apa. Gue cuma gelisah." Cindy mengalihkan wajahnya ke depan, di mana dosennya berada seraya berpangku tangan.
"Gelisah kenapa?" Tanya Sasami
"Soal tadi. Soal sepupu si cewek mur- Jian maksud gue." Cindy terlihat tersentak dan menggeleng cepat kepalanya saat hampir saja kelepasan mengucapkan kata murah.
"Wah ... yang katanya saiko itu?" Sasami kemudian ikut berpangku tangan menatap Cindy.
"Kalo besok gue mati gimana ya? Apa Jian tau? Kalo gue termasuk orang yang ngegossip soal dia di belakang? Atau jangan-jangan ... ." -Cindy tiba-tiba saja menoleh dan menatap penuh penghakiman pada Sasami.- "Elo yang ngadu?" Tuduhnya dengan mata penuh kecurigaan. Mata Sasami seketika membulat mendengar dugaan Cindy padanya. Ia berhenti berpangku tangan dan spontan duduk tegap dengan rahangnya yang mengeras.
"Heh. Kalo ngomong jangan sembarangan. Kalo gue yang ngadu. Lo udah mati dari kemaren tau ngga?" Secara, gue ketemu dan ngobrol sama Jian kemarin. Ngapain sepupu Jian pake repot-repot ngancem lo hari ini? Kenapa ngga dari kemarin aja?" Sanggahnya tegas. Rasa khawatirnya terhadap Cindy kini sirna tak berbekas. Sementara Cindy justru mengedikkan bahunya dengan pandangan yang tetap menaruh rasa curiga.
"Siapa tau? Kan cuma lo selama ini yang ngga setuju sama omongan gue soal Jian. Sok suci ngga mau gossipin orang." Imbuh Cindy dengan pandangan yang berubah menjadi amat sengit. Sasami yang mendengar kata sok suci keluar dari mulut Cindy menjadi amat terkejut.
Bagaimana bisa Cindy tega mengatakan hal itu padanya? Padahal selama ini mereka berteman cukup baik selama kuliah.
Dengusan kasar kini terdengar dari Sasami.
"Oke. Lo sendiri yang sebut gue suci barusan. Tapi asal lo tau aja. Orang yang suci ini ngga bakal ngelakuin hal yang sama kotor nya dengan ngomongin orang lain yang belum tentu seratus persen kebenarannya. Tau?!" Sergah Sasami menyindir terang-terangan dengan rahang yang semakin mengeras. Dengan sekuat tenaga, Sasami berusaha menahan ucapannya agar tidak berubah menjadi sebuah seruan ataupun bentakan. Ia tidak ingin amarahnya menjadi pusat perhatian kelas yang tengah fokus mendengarkan kuliah dari dosennya.
Sedangkan Cindy yang menerima balasan itu, wajahnya masih saja sengit dan tak mengindahkan sama sekali sindiran yang di lontarkan Sasami. Sasami yang menyadari kalau Cindy masih tetap pada pendirian menuduh dirinya, hanya bisa membuang nafasnya. Seakan sadar kalau ia baru saja menguras laut.
"Oke. Lanjutin aja lo tuduh gue ataupun gossipin Jian. Barangkali, sepupunya Jian beneran saiko. Gue ngga keberatan dapet berita duka, sekalipun itu mendadak. Syukur-syukur kalo elo mau minta maaf ke Jian. Kalo manusia macem lo aja masih takut mati." Balas Sasami dengan pandangan jengah seraya berpindah tempat duduk menjauh dari Cindy. Bukannya bertaut karena mendengar sindiran kematian, alis Cindy justru bertaut begitu mendengar kata minta maaf.
"Minta maaf? Buat apa? Ngga penting amat." Dengan wajah yang masih sama sengitnya Cindy kembali menatap ke depan dan tidak memperdulikan Sasami yang berpindah tempat duduk.
*
"Kenapa muka lo? Hari ini lo salah makan?" Ucap Tatiana seraya meminum jus buahnya dari sedotan. Wajah Sasami terlihat bersungut-sungut, seperti ada yang sudah membuatnya marah besar hari ini.
"Ngga. Gue malah belum sarapan." Balas Sasami dengan nada yang sedikit sewot.
"Oh pantesan agak rese." Tatiana hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali dan terlihat pura-pura tidak peduli pada Sasami.
"Sial*n. Lo sama resenya kali kalo lagi laper." Tambah Sasami semakin sewot diperlakukan seperti itu oleh Tatiana.
"Masa? Bohong aja." Tatiana yang paham kalau Sasami sedang kesal semakin gencar meledek.
"Terserah lo." Sasami membuang muka dan berpangku tangan menatap sisi lain. Tak lama setelah itu, Gianna pun datang menghampiri mereka.
"Hai."
"Hai Ji." Sahut Tatiana.
"Hai." Sasami terlihat menjawab Gianna dengan senyuman sekilas lalu kembali merenggut. Melihat senyuman Sasami yang tak kurang dari dua detik itu membuat Gianna bingung.
"Ng ... Sasa kenapa?" Tanya Gianna pada Tatiana yang senyumannya masih terlihat sama segarnya dengan bunga taman di musim hujan.
"Dia? Laper dia. Makanya sewot." Kata Tatiana melirik dengan tatapan mata penuh ledekan.
"Sial*n. Ngga Ji. Tia yang ngeselin. Ganggu gue mulu." Sahut Sasami meralat ucapan Tatiana yang masih membuatnya kesal. Matanya pun tak ketinggalan menatap dengan mata penuh kebencian hari ini. Sementara Tatiana memberi isyarat pada Gianna untuk duduk di sampingnya.
"Anna? Sasa lo apain?" Ujar Gianna menanggapi kekesalan Sasami dengan menghakimi Tatiana begitu duduk.
"Loh? Kok gue? Lo emang belum makan kan?" Kilah Tatiana membela diri
"Iya gue emang belum makan. Di tambah lo ngeselin yaudah gue makin jengkel." Balas Sasami dengan nada yang teramat sengit. Sementara Tatiana justru menahan tawanya melihat ekspresi Sasami yang terlihat sangat kesal.
"Mau gue beliin makan?" Ujar Gianna menawarkan.
"Ngga usah, gue belum pengen makan." Tolak Sasami dengan nada yang berusaha terdengar se-sopan mungkin. Tetapi sayangnya, perutnya tidak sejalan. Seakan ingin memberontak, perutnya itu berdemo sampai-sampai menimbulkan suara yang cukup keras untuk di dengar mereka bertiga. Gianna yang mendengar itu hanya bisa menyunggingkan senyuman paksa menanggapi Sasami.
Sementara Tatiana?
"Pfft! Hahahahahaha!" Tawanya yang ia tahan sejak tadi akhirnya meledak begitu saja tanpa aba-aba.
"Kampr*t emang lu ya." -Tangan Sasami seketika menampar bahu Tatiana yang tawanya masih meledak-ledak.- "Gue pergi." Sasami merasa kesal lalu pergi dari sana meninggalkan mereka berdua.
"Eh ... ." Gianna terkejut melihat Sasami yang melangkah pergi meninggalkan mereka bersama dengan wajah yang memerah marah.
Atau mungkin ia juga malu?
"Anna ... itu Sasa pergi." Ujarnya menengok dengan wajah sedikit tak nyaman menatap Tatiana.
"Ah biar aja." Tatiana hanya melambaikan tangan dan jari-jarinya masa bodo lalu meneguk minumannya miliknya.
"Seriusan?" Gianna masih terlihat tidak nyaman dan kini menatap ke arah dimana Sasami meninggalkan mereka. Tatiana mengangguk pasti dan kini memainkan ponsel pintarnya. Entah mengapa, di mata Gianna, Tatiana terlihat tidak peduli sama sekali dengan Sasami.
"Gue susulin ya? Kayaknya dia marah." Tubuh Gianna kemudian beranjak dari duduknya dan bersiap menyusul Sasami yang sudah hilang entah kemana. Tetapi Tatiana dengan segera langsung menahan Gianna.
"Ngga-ngga. Ngga usah." -Tatiana menggelengkan kepalanya cepat tak mengizinkan Gianna menyusul.- "Lo duduk aja temenin gue." Ucapnya mengajak Gianna untuk duduk kembali.
"Temen lo marah, Anna." -Tandas Gianna dengan pandangan tak percaya akan sikap Tatiana yang tidak perduli sama sekali- "Lo mau diemin dia gitu aja?"
"Yap." Jawab Tatiana enteng bersamaan dengan anggukan cepat. Alis Gianna bertaut. Pandangannya semakin aneh melihat sikap Tatiana seperti itu. Gianna pasrah. Ia hanya bisa menuruti perintah Tatiana dan duduk dalam diam.
Sejenak, kesunyian menyelimuti mereka. Suasana kantin yang sedikit ramai tak dapat menutupi sunyi nya atmosfir yang melingkupi mereka berdua yang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sampai akhirnya Tatiana memulai percakapannya lebih dulu.
"Ji." Panggilnya membuat Gianna yang sudah merasakan keanehan sejak tadi segera menoleh.
"Iya?"
"Lo pasti mikir kalo gue ini ngga peduli ke Sasa, kan?" Tanyanya ikut menoleh pada Gianna.
Tentu saja. Gianna sejak tadi merasa cukup kesal karena Tatiana tidak memperdulikan Sasami sama sekali dan justru membuatnya semakin marah. Gianna kemudian mengangguk menanggapinya.
"Gue bukannya ngga peduli sama Sasa. Gue tau, gue tau kalo dia lagi badmood. Tapi asal elo tau aja. Sasa itu cuma bisa balik moodnya kalo di biarin aja. Dia justru makin badmood kalo kita bujuk ataupun rayu-rayu dia. Jadi tadi gue sengaja biarin dia ninggalin kita. Karena kalo gue ataupun elo susul, bisa aja dia malah makin meledak. Kalo emang moodnya udah normal, nantinya juga, dia bakal balik sendiri ke kita."
Mata Gianna tak berkedip. Ia menyimak setiap perkataan Tatiana dengan baik.
"Jadi jangan heran kalo kejadian kayak tadi lo liat lagi ke depannya." Tuturnya menutup penjelasannya. Sementara Gianna hanya menganggukkan kepalanya tanda ia paham.
"Gue kira elo emang ngga peduli sama Sasa. Karena setahu gue, kalo temen kita marah kayak tadi, kita harus bujuk dia dan baik-baikin dia." Imbuh Gianna menanggapi akhir penuturan Tatiana. Tatiana tersenyum remeh mendengar ucapan Gianna lalu menggeleng.
"Bukan berarti gue ngga setuju kalo harus berbuat begitu ke teman atau sahabat kita. Setiap orang pasti punya cara sendiri untuk menghadapi rekannya. Entah itu dalam relasi percintaan, sahabat atau bahkan keluarga. Pasti ada orang yang butuh perhatian disaat dia marah. Perlu di bujuk dan di rayu, biar moodnya normal lagi. Tapi hal itu ngga berlaku buat kita. Kita justru ngerasa aneh di perlakukan begitu. Kita justru merasa baikan kalau kita dibiarin dulu untuk beberapa saat. Ngga setiap saat kita marah kita perlu perhatian kok." -Ungkap Tatiana yakin menjelaskan bagaimana pertemanannya dengan Sasami.- "Sasa itu sahabat gue. Seenggaknya untuk masalah kayak gini gue paham gimana caranya perlakuin dia sebagai sahabat. Sahabat ngga melulu tentang selalu ada setiap saat kok. Sahabat itu tentang gimana caranya kita bisa nanggepin dengan benar keadaan dia saat itu." Jelas Tatiana di selingi senyuman di akhir penjelasannya. Gianna yang mendengarkan kuliah singkat Tatiana hanya bisa menyimaknya dengan baik
"Wah ... jujur, gue baru tau soal ini. Karena elo tau sendiri. Gue ngga pernah punya sahabat. Bahkan teman pun gue ngga ada. Dengerin penjelasan lo barusan. Gue ngerasa dapat pelajaran baru. Sama Geno pun gue selalu kelahi tiap ada kesempatan." Ungkap Gianna merasa terkesan dengan penjelasan Tatiana yang terdengar keren baginya.
"Yang penting sekarang elo udah tau. Toh sekarang elo punya temen kan? Ngga cuma gue. Ada Sasa, Kenan. Teman juga ngga perlu banyak kok. Cukup berteman sama orang yang bisa ngertiin elo dan yang terpenting, elo juga bisa ngertiin teman lo. Karna semuanya itu butuh imbal balik biar seimbang." Jelas Tatiana di balas anggukan oleh Gianna.
"Ng ... Tapi gue penasaran." Ucap Gianna.
"Apa itu?" Sahut Tatiana cepat.
"Tadi lo bilang, Sasami bisa baikan moodnya kalo di biarin gitu aja kan?" Tanya Gianna.
"Iya. Terus?"
"Terus kenapa tadi lo jahil sama dia sampe bikin dia marah?" Tanya Gianna menatap penasaran.
"Oh itu ... kalo itu, karna itu asik. Hahahaha." Tawa Tatiana pecah membuat Gianna spontan mendengus.
"Lagi ngobrolin apa kalian?" Tak ada angin tak ada hujan. Suasana yang sudah menjadi nyaman tiba-tiba saja berubah awkward akibat Kenan yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Gianna.
"Astaga!" Tubuh Gianna sedikit terlonjak akibat kedatangan Kenan yang tiba-tiba itu. Karena sebelumnya Gianna tengah fokus mendengarkan Tatiana. Belum lagi ditambah dengan kejadian tadi pagi tentunya masih meninggalkan rasa canggung pada Gianna saat bertemu Kenan.
"Heh set*n lo ya. Mecungul aja tiba-tiba kayak gitu. Ngga usah bikin kaget bisa kan?" Tatiana seketika jengkel melihat kedatangan Kenan yang tak diundangnya sama sekali. Gianna yang duduk diantara anak kembar itu perlahan duduk merapat pada Tatiana. Ia tak ingin rasa canggungnya semakin membesar jika duduk terlalu dekat dengan Kenan.
"Tsk. Suka-suka gue. Kenapa lo yang sibuk." Balas Kenan tak peduli.
"Tsk tsk tsk. Kalian sebenernya bukan sodara kembar ya? Udah ngga mirip. Kerjaan berantem mulu. Kalian perlu tes DNA kayaknya." Ravindra yang tak di sadari keberadaannya, tiba-tiba sudah duduk di hadapan mereka membuat Gianna dan Tatiana menoleh bersamaan.
"Ini lagi cecunguk tambah satu. Kalian kenapa sih gabung sama kita berdua? Ngga ada temen ya kalian?" Sengit Tatiana menatap Kenan dan Ravindra bergantian
"Kalo ngga ada temen, terus kita berdua apa?" Ravindra mengelak dengan mengandalkan Kenan yang sekarang sudah fokus mengotak-atik kameranya.
"Apa? Temen? Apa itu temen?" Sahut Kenan seketika dengan ketus.
"B*ngk*. Dasar temen ngga guna emang lu ya." Umpatnya kesal terhadap teman semata wayangnya itu.
"Sejak kapan label temen ada di antara gue sama lu? Gue ngga inget." Ucap Kenan tak peduli
"Tsk. Tuhkan berisik. Pergi sana lo Ken. Ganggu gue sama Jian aja." Usir Tatiana dengan tatapan jengah melihat kedua makhluk bernama laki-laki itu yang tidak memperdulikan ucapannya.
"Kenapa sih elo kesel banget sama gue? Jian aja ngga protes gue duduk disini, bahkan gue duduk di sebelahnya." Kilah Kenan membela diri mempertahankan diri agar tetap duduk di sana.
"Iya dia diem. Tapi elo emang ngga liat? Sejak lo dateng. Dia duduk udah macem pengantin mau ijab sama gue. Liat?" Tunjuk Tatiana menggunakan pergerakan mata dan rahangnya memperlihatkan Gianna yang sudah duduk hampir tak ada jarak dengannya.
"Maaf Ken. Ngga bermaksud apa-apa. Cuma gue ngga mau gossipnya bertambah." Cengir Gianna sedikit terpaksa. Meskipun sejujurnya alasannya bukan itu, tetapi hal itu juga tidak salah jika di jadikan sebuah alasan.
"Hngh ... ." -Kenan menghela nafasnya.- "Sebenernya gue punya salah apa sih sama kalian?" Sedikit tak terima, tetapi tubuh Kenan beranjak juga berpindah tempat duduk ke samping Ravindra.
"Lu lahir juga udah salah kayaknya. Hahaha." Kekeh Ravindra senang melihat kekesalan kini telah timbul di wajah Kenan.
"Berisik."
"Dasar bamperan."
"Baper Rav. Makanya kalo ada kuliah tuh jangan cuma titip absen. Ngucapin baper aja salah." Tegur Kenan tak berpaling dari kameranya. Sementara Gianna dan Tatiana mengobrol sendiri.
"Yaelah. Mau titip ataupun masuk kelas juga yang namanya jenius tetep aja jenius. Gue jeniusnya udah otodidak. Emangnya elu?" Tak ingin terdengar pemalas, Ravindra berkelit dari pernyataan yang di ucapkan oleh Kenan.
"Sejauh ini kayaknya yang jenius itu gue deh. Lu kan cuma copy paste setiap tugas gue." Sambung Kenan masih tak ingin menoleh dan kini mengarahkan kameranya pada Gianna yang asik mengobrol dengan Tatiana.
Sementara Ravindra, tak ingin kalah sibuk dan tidak ingin terlihat di acuhkan segera membuka kameranya dan ikut mengotak-atik random tanpa tujuan pasti.
"Itu bukan copy paste. Tapi inspirasi. Gue baca tugas lu yang udah selesai, baru sehabis itu gue isi punya gue sendiri. Ngapain gue copas tugas elu? Ngerjain tugas sendiri itu jauh lebih jenius." Bantah Ravindra masih berusaha berkelit.
"Dan itu di ucapkan oleh orang yang baru saja copy paste tugas gue beberapa saat yang lalu."
"Cekrik."
Kenan mengambil gambar Gianna usai menyimpulkan setiap sanggahan yang dilontarkan Ravindra.
"Kalo itu sih gue cuma kepepet. Paham lah, gue semalem ngga tidur." Tak ingin kalah, Ravindra masih berusaha menyanggah setiap ucapan Kenan.
"Sejak kapan lu ngga tidur malem? Lu kan pengecut. Keluar malem sendiri aja lu ogah." Tembak Kenan berhasil membuat Ravindra bungkam dan refleks menoleh.
"Bgsd. Kenapa lu nyambung ke situ nj*r? Beda server." Umpat Ravindra tidak terima.
"Maap aja, gue suka pindah-pindah server."
"Cekrik."
Kenan mengambil satu gambar lagi tepat ketika Gianna tertawa.
"Iya dah, terserah sama yang lagi mulai bucin." Celetuk Ravindra seketika membuat refleks Kenan menyuruhnya menoleh dengan mata membulat menatap Ravindra. Wajah serta ekspresinya seakan langsung berubah memberikan isyarat agar Ravindra diam.
"Kenapa lu? Takut kedengaran?" Ravindra seketika tersenyum memamerkan barisan giginya menantang Kenan.
"Sh*t. Diem nj*r."
"Kenan." Suara Tatiana yang memanggil Kenan tiba-tiba saat itu spontan membuat Kenan menengok gelagapan.
"Ya-ya?"
Alis Tatiana bertaut heran mendengar jawaban Kenan.
"Ngapain lo kok kaget gitu? Ngomongin apa lo sama Kendrick tadi?" Ucapnya bertanya penuh selidik.
"Itu. Si Kenan mulai- ugh!" -Belum sempat Ravindra menyelesaikan ucapannya, Kenan sudah menyikut kuat perutnya.- "Bngk* lu Ken!"
"Bacot lu ah. Mending lu diem." Tukas Kenan. Tatiana dan Gianna semakin heran melihat tingkah kedua laki-laki di hadapan mereka.
"Kalian kenapa sih? Emang kalian bahas soal apa?" Ujar Gianna mulai angkat bicara karena penasaran.
"Ngga ji. Urusan cowok. Lo yang cewek ngga bakal ngerti." Sahut Kenan buru-buru menjawab, semakin membuat Tatiana heran. Matanya pun tak ketinggalan memicing menatap Kenan dan Ravindra bergantian.
"Kalian ... ngomongin film biru ya?"
"Eh?!"
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-