-*-*-*-
"Eh?!" Gianna spontan menoleh kaget akibat ucapan blak-blakan Tatiana.
"Iya kan? Jujur aja deh." Duga Tatiana masih menatap penuh selidik.
"Sembarangan kalo ngomong. Ngga lah." Bantah Kenan.
Gianna yang tidak tau harus berkomentar apa, kini kembali menoleh pada Kenan dan Ravindra. Semacam tersirat sebuah pertanyaan yang kurang lebih sama dengan Tatiana disana.
Namun lebih seperti "Benarkah itu?"
"Ngga Ji. Ngapain gue ngomongin itu sama anak ini. Ngga guna." Elak Kenan membela diri dari tatapan penuh kecurigaan dari dua wanita yang tak berhenti menatapnya. Sementara Ravindra justru bungkam menahan tawanya melihat Kenan yang tengah di hakimi.
"Terus? Ngapain elo gugup pas gue panggil?" Tatiana kembali mengulang pertanyaannya yang masih belum terjawab. Sedangkan Kenan terlihat bingung, tidak tau harus menjawab apa. Ravindra yang mengetahui kalau Kenan tengah bingung segera tersenyum dan berniat untuk membantunya.
Entah mengapa pandangannya seperti mengatakan kalau ia kasihan. Ia kemudian bangkit dari posisinya yang bersandar, kemudian duduk dengan tegak.
"Eghem!" -Dehamnya memulai pembelaan.- "Kita ngga ngomongin yang kayak gitu kok, Tia." Katanya.
"Terus?"
"Kenapa Kenan gugup? Kenan itu sebenernya lagi kebelet bab." Jawab Ravindra tiba-tiba di selingi senyuman penuh kemenangan menatap Kenan.
Diam.
Mereka bertiga terdiam menatap Ravindra.
Hm ... itu sepertinya memang sebuah jawaban yang bisa menyelamatkan Kenan. Tapi apakah hanya itu satu-satunya jawaban yang bisa di lontarkan Ravindra?
Dengan satu helaan nafas panjang dan satu tatapan yang menyatakan kebencian yang begitu besar dan teramat dalam. Kenan menutupnya dengan satu senyuman paksa kepada Ravindra dan bergantian menatap Tatiana serta Gianna sebagai yang terakhir.
"Gue ada urusan." Usai berkata begitu, Kenan beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka bertiga. Entahlah, Kenan berniat pergi kemana. Hanya saja yang pasti, ia berniat pergi sejauh mungkin dari sana.
"Mm ... beneran Kenan ... ." Gianna menjeda ucapannya lalu menoleh pada Ravindra begitu dilihatnya Kenan menghilang setelah berjalan meninggalkan kantin.
"Hahahaha. Gue bercanda. Kita tadi lagi bahas yang lain. Tapi bukan film biru kok." Jawab Ravindra terkekeh puas. Namun tak berniat sedikit pun membuka pembahasannya dengan Kenan sebelumnya.
"Kira-kira tuh orang marah ngga elo bilang begitu?" Timpal Tatiana penasaran.
Ravindra menggeleng. Dalam kamusnya dan Kenan, mereka tidak akan pernah marah hanya dengan candaan seperti itu. Selama candaan itu masih dalam batas wajar.
"Kenan? Marah? Kalaupun dia marah, muka gue ngga bakal mulus kayak sekarang." -Ujarnya. Ia kemudian menoleh ke tempat duduk Kenan dan mendapati kumpulan kertas hvs yang sudah di jilid.- "Nah kan. Gue tebak dia sekarang mau temuin dosen. Tapi tugasnya di tinggal di sini. Maunya apa?" Dumel Ravindra seraya melempar kertas tugas yang di tinggal Kenan ke atas meja.
"Tugas? Tugas apa?" Tanya Gianna penasaran lalu mengambil kertas tugas yang di lemparkan Ravindra.
"Kayaknya sih laporan. Soalnya belum lama ini Kenan sibuk ngerjain tugas itu di kamarnya sampe telat makan." Sahut Tatiana kemudian meneguk jusnya.
"Ah ... ." Gianna mengangguk paham lalu membuka kumpulan kertas yang sudah di jilid rapih di tangannya itu.
"Lo anterin ke Kenan gih." Sahut Tatiana menyuruh Ravindra.
"Ogah. Laporan gue aja belum selesai. Gue baru aja mau lanjut kerjain." -Jawab Ravindra sedikit menaikkan nada suaranya. Lalu sesuai dengan ucapannya, ia pun mengeluarkan laptop dari dalam ranselnya dan memulai pekerjaannya.- "Kenapa ngga elo aja yang anterin? Elo kan kembarannya." Imbuhnya fokus menatap layar laptop tanpa menatap Tatiana.
"Gue juga ogah. Gue lagi males ketemu orang itu. Berapa hari ini dia bikin kepala gue pusing. Bawaannya pen ngamuk aja tiap liat muka dia." Keluh Tatiana geleng-geleng kepala.
"Terus laporannya Kenan gimana dong?" Celetuk Gianna tiba-tiba tanpa menoleh. Matanya nampak fokus membaca isi laporan milik Kenan.
Mendengar ucapan Gianna, Ravindra dan Tatiana sejenak terdiam dan saling pandang. Mereka kemudian langsung menoleh bersamaan.
"Kenapa ngga elo aja?" Ucap mereka bersamaan.
Mendengar jawaban itu, Gianna seketika langsung mendongak kaget.
"Eh?"
*
Begitu keluar dari kantin, Kenan terus melangkah menuju tangga menuju lantai dua. Sepertinya ia berniat pergi ke kelasnya atau mungkin berniat pergi ke ruangan khusus jurusannya. Tepat saat Kenan berjalan menunduk, seseorang tiba-tiba saja menabrak tubuhnya membuat barang yang di bawa orang itu jatuh berserakan.
"Ah, sorry. Gue jalan ngga liat-liat." Kenan langsung saja berjongkok dan memungut semua barang yang jatuh. Sementara orang itu tidak berkata apa-apa dan membiarkan Kenan memunguti barangnya. Begitu semua barang-barang itu terkumpul, Kenan segera berdiri dan mengembalikannya.
"Ini barang ... ." Saat melihat siapa orang yang baru saja menabraknya, Kenan tak jadi melanjutkan kata-katanya.
"Hai Ken." Aghata tersenyum manis begitu matanya bertemu pandang dengan Kenan lalu menerima barangnya yang di berikan Kenan. Terlihat saat ini Aghata memakai blouse putih polos off shoulder yang memperlihatkan bahunya yang mulus lengkap dengan lengan bra hitamnya.
"Oh hai juga." -Balas Kenan ikut tersenyum.- "Ng ... sorry, gue pergi dulu, perlu ketemu dosen." Pamit Kenan beranjak pergi melewati Aghata. Namun langkahnya terhenti saat tangan kanan Aghata menahan lengan kemeja kanannya.
Kenan kemudian menoleh, posisinya kini tepat berada di samping Aghata di anak tangga yang sama.
"Bisa gue minta waktu lo sebentar? Ada yang perlu gue omongin." Ujar Aghata meminta.
Sejenak, Kenan terlihat berfikir. Namun sepertinya tak apa, karena sebenarnya ia juga tidak sedang mendesak untuk bertemu dosennya.
"Oke. Apa itu?" Tanya Kenan seraya menghadap Aghata.
"Ah ... jangan disini. Kita bisa halangin jalan orang." Saran Aghata seraya melepaskan tangannya dari kemeja Kenan. Kenan menoleh ke kanan dan kirinya.
"Oke." Tanpa berkata lebih banyak, Kenan berjalan lebih dulu menuruni tangga menuju ke tempat pertemuan tangga atas dan bawah.
"Jadi?"
"Ng ... itu. Soal orang yang bakal jadi model untuk tugas foto lo. Elo udah nemuin?" Dengan suara yang cukup pelan dan ragu Aghata memulai pembicaraannya.
"Udah kok." Jawab Kenan cepat membuat ekspresi wajah Aghata ikut berubah cepat menjadi kecewa.
"Siapa dia?" Tanya Aghata lagi.
"Gianna."
"Elo serius?" Aghata kembali memastikan dengan pandangan berharap kalau Kenan hanya bercanda.
"Iya gue serius." Kenan kembali menjawab yakin, sedangkan Aghata menghela nafasnya panjang.
"Ken ... ." Aghata tiba-tiba saja mendekati Kenan dan membuat Kenan sedikit kaget lalu perlahan mundur.
"Sebenernya apa kurangnya gue? Tolong elo kasih tau. Kenapa elo harus nolak gue jadi model lo? Kenapa elo justru milih Gianna yang jelas-jelas itu bukan jurusannya? Dan lagi, sekarang gossip miring lagi ngikutin dia. Kenapa harus pilih dia Ken?" Keluhnya terus mendekat membuat Kenan terpojok ke dinding dan berhenti mundur.
"Ng ... apa harus elo deket begini?" Kenan sedikit bingung dengan perilaku Aghata yang tiba-tiba seperti ini dan kebingungan bagaimana caranya mengalihkan pandang dari mata Aghata yang baginya terlalu dekat.
"Jawab gue Ken. Kenapa elo segitunya ngga mau terima gue? Apa kurangnya gue?" Lirih Aghata tertunduk, sedangkan Kenan semakin di landa kebingungan.
"Gue ... ." -Aghata yang sebelumnya menunduk perlahan mendongak.- "Gue suka sama lo. Bisa lo pertimbangin perasaan gue?"
Akunya menatap mata Kenan amat dalam.
Mata Kenan membulat mendengar pernyataan itu. Ini pertama kalinya ia mendengar pernyataan Aghata. Ia tentunya mengetahui perasaan Aghata pada dirinya. Tetapi ia tidak menyangka kalau Aghata akan berkata seperti itu langsung padanya.
"Ah ... gue ... ." Kenan bingung. Matanya pun sedikit salah tingkah dan tidak tau harus mengalihkannya ke arah mana. Aghata berdiri terlalu dekat. Namun kebingungannya itu tak berlangsung lama ketika ia menyadari Gianna yang berdiri tak jauh darinya dan Aghata. Mata Kenan sedikit melebar kaget.- "Jian ... sejak kapan elo di situ?" Ucapnya tak percaya.
Begitu pula Aghata. Mendengar nama Gianna sebut oleh Kenan, Aghata seketika menunduk dan tanpa basa-basi, ia segera berbalik dan meninggalkan Kenan menuruni tangga.
Gianna sejenak tak menjawab dan fokus menatap Aghata yang melewatinya. Begitu Aghata pergi dari sana, alis Gianna bertaut.
Kayaknya gue pernah lihat dia. Tapi dimana ya?
Batinnya bertanya dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
"Hei ... gue tanya. Kok ngga di jawab." Ucap Kenan seraya mencolek pipi Gianna. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di depan Gianna.
"Eh ya? Oh sorry. Gue abis mikir bentar. Ini laporan elo ketinggalan di kantin tadi." Sahut Gianna menyerahkan laporan milik Kenan.
"Oh ... ketinggalan ya. Thank's." Kata Kenan menerima laporannya.
"Ng ... tadi gue baca isi laporan lo. Sorry, ngga izin sama lo." Ujar Gianna seraya membetulkan posisi tas di lengannya.
"Ngga masalah. Btw, lo belum jawab pertanyaan gue." Ungkit Kenan menatap Gianna.
Ia benar-benar tidak sadar, sejak kapan Gianna sudah berdiri menatapnya dan Aghata saat mengobrol tadi. Ia juga ingin memastikan kalau Gianna tidak mendengar ucapan Aghata mengenai dirinya.
"Pertanyaan lo yang mana?" Tanya Gianna balas menatap Kenan.
"Sejak kapan lo berdiri disini." Ulangnya.
"Oh itu. Hm ... sejak kalimat 'apa harus elo deket begini' mulai dari situ." Jawabnya jujur.
Dalam hati, Kenan menjadi lega mendengarnya.
"Syukurlah "
Batinnya.
Akan tetapi. Meskipun ia lega karena Gianna tidak mendengar percakapan mengenai dirinya, ia tersadar kalau Gianna mendengar dari kalimatnya yang sudah disebutkan oleh Gianna, itu mengartikan kalau Gianna sudah mendengar pernyataan Aghata mengenai perasaannya.
"Berarti elo denger dong soal ... pernyataan orang tadi?" Ujar Kenan ragu-ragu.
"Denger." Sahut Gianna kembali menjawab jujur.
"Oh sh*t."
Umpat Kenan dalam hatinya.
"Yaudah, gue balik dulu ya ke kantin." Pamit Gianna seraya berbalik. Namun ia tiba-tiba berhenti dan kembali berbalik menatap Kenan.- "Oh ya, gue mau sedikit koreksi. Tadi waktu gue baca, sekitar lembar ketiga sama lima ada yang salah. Coba elo perhatiin lagi. Yaudah gue balik ya." Ucap Gianna kembali pamit dan kini benar-benar melangkah pergi.
Kenan terdiam melihat sikap Gianna.
"Apa ini? Kenapa dia cuek aja? Dia ngga marah sama gue? Dia ngga ... cemburu?
Ujar batin Kenan bertanya-tanya. Namun ia kemudian tersadar.
"Wait. Kenapa malah gue yang kesel? Emang kenapa kalo dia ngga cemburu? Terus kalo dia cemburu ... apa gue bakal seneng?
Kenan membeku, tiba-tiba ia tersadar, kalau saat ini jantungnya berdetak dengan cara yang tidak seperti biasanya. Ada apa?
"Gue ... kenapa." Ucapnya seraya menyentuh d**a kirinya dan merasakan detak jantungnya yang tengah berdebar aneh.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-