-*-*-*-
Kenan masih saja terdiam merasakan jantungnya yang terus-menerus berdebar aneh. Sampai saat ia sadar, Gianna sudah menghilang dari pandangan.
"Jian?" Ucapnya.
Kenan pun bergerak dari posisinya dan segera menoleh ke sana kemari. Ia menemukan Gianna sudah berjalan cukup jauh darinya.
"Jian!" Serunya mencoba menghentikan langkah Gianna yang terus menjauh darinya. Mendengar namanya di sebut, refleksi otak Gianna membuat tubuhnya berhenti dan menoleh pada asal suara yang menyerukan namanya. Yaitu tepat jauh di belakang.
Gianna menemukan Kenan yang setengah berlari menghampirinya tepat setelah ia menoleh.
"Ya? Kenapa?" Jawab Gianna begitu Kenan berada cukup dekat untuk bisa mendengar suaranya.
"Elo mau balik ke kantin?" Kata Kenan sedikit bernafas tergesa-gesa sehabis berlari.
"M-hm." Sahut Gianna mengangguk.
"Elo ngga sibuk kan?" Ucap Kenan kembali bertanya. Gianna sempat diam sejenak, kemudian ia menggeleng.
"Ke perpus yuk temenin gue." Ajak Kenan tanpa basa-basi.
Ajakan itu membuat Gianna sedikit mengernyitkan dahi, merasa heran. Untuk pertama kalinya Kenan mengajaknya. Padahal sebelumnya Kenan hanya mengikutinya kemanapun ia pergi. Walaupun sejauh ini Kenan tidak pernah sampai berani mengikutinya ke dalam toilet.
"Ke perpus? Mau ngapain?" Tanya Gianna menyelidik.
"Beli siomay." Jawab Kenan lalu tersenyum.
Kening Gianna yang sebelumnya mengernyit kembali normal. Pandangan berubah menjadi bertanya-tanya.
"Siomay? Bukannya di perpus kita ngga boleh makan ya? Minum aja ngga boleh. Kok bisa ada yang jual siomay di perpus? Sejak kapan?" Tanya Gianna dengan polosnya menatap Kenan. Melihat ekspresi dan pertanyaan Gianna membuat Kenan membeku.
"Oh dam*! Gue ngga tau yang di lakuin Gianna sekarang cuma bales candaan gue, atau emang bener percaya sama jawaban ngawur dari gue. Tapi kenapa mukanya bisa seimut itu."
Kenan melipat kedua bibir dan menggigitnya, menahan hasrat dihatinya yang terus memberontak kepada kedua tangannya meminta aksi pelampiasan atas keinginan di hatinya yang sudah terpendam beberapa waktu yang sudah berlalu.
Sampai akhirnya ia tak kuat menahan lagi dan memilih untuk melampiaskan keinginan hati.
"Ukh." -Tak bisa menahan rasa gemasnya, Kenan langsung menangkup kedua pipi Gianna dan mencubitnya. Akan tetapi meskipun ia merasa sangat gemas ia masih tetap mengontrol tangannya untuk tidak mencubit Gianna terlalu kuat.- "Kok bisa sih Ji, elo se-polos ini? Hm?" Ujarnya seraya sedikit mengguncang wajah Gianna dengan gemasnya.
Mata Gianna seketika melebar mendapat perlakuan Kenan yang amat tiba-tiba.
"Eh? Apasih Ken?! Ih, sakit tau!" Protes Gianna seraya melepas tangan Kenan dari wajahnya.
"Lagian, ke perpus kok masih nanya mau ngapain. Gue mau ngerjain laporan." Sahut Kenan menjelaskan.
"Ngga mau." Tegas Gianna seraya berpaling dan melangkah pergi. Tetapi tangan Kenan otomatis langsung menahan pergelangan tangan Gianna begitu Gianna melangkah.
"Eh, kenapa ngga mau?" Tanya Kenan.
Gianna langsung mendengus mendengar pertanyaan itu. Ia pun dengan merasa terpaksa menoleh.
"Gue kesel, karna elo tiba-tiba cubit pipi gue. Di tambah lagi, elo itu udah gede. Kenapa harus minta di temenin ke perpustakaan?" Ucap Gianna tanpa melepaskan genggaman tangan Kenan.
"Sorry udah buat lo kesel. Lain kali gue bakal izin." -Sahut Kenan masih menggenggam tangan Gianna.- "Lagian, tadi elo bilang laporan gue ada yang salah. Gue ngga tau di mana letak salahnya. Jadi gue minta tolong sama lo buat kasih tau, sekalian temenin gue. Ya?" Tawar Kenan tersenyum manis menatap Gianna.
Alis Gianna bertaut kesal dan hidungnya pun kembali mendengus mendengar penjelasan Kenan. Tapi tanpa bicara lebih banyak lagi dan Gianna tak ingin berdebat lebih lanjut, ia lebih memilih berjalan menuju perpustakaan dengan Kenan yang mengikuti langkahnya di belakang.
Senyum bahagia Kenan seketika merekah. Hatinya teramat senang hanya karena berhasil membuat Gianna mau menemaninya ke perpustakaan.
"But wait."
Senyum Kenan tiba-tiba pudar seakan baru menyadari sesuatu.
"Gue kenapa? Kenapa gue se-seneng ini cuma karna Gianna mau temenin gue di perpus?"
Ujar batinnya bertanya-tanya.
"Arh!" Kenan tiba-tiba saja menggeram dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Mendengar geraman Kenan seketika membuat Gianna berhenti melangkah.
"Elo marah sama gue?" Sahutnya menoleh pada Kenan. Kenan terdiam, matanya dan Gianna saling beradu dan sejenak keheningan hadir di antara mereka.
"Gue? Marah? Ngapain?" Ucap Kenan balas bertanya.
"Terus barusan? Elo kenapa kayak gitu?" Cecar Gianna masih berusaha mendapat jawaban.
"Tenggorokan gue tadi gatel. Erh ... ekhem-ekhem." Kenan seketika langsung berakting seolah tenggorokannya gatal dan ada sesuatu yang harus di keluarkan.
"Hm, yaudah." Gianna hanya mengangguk-angguk seakan paham dan kembali berjalan untuk memasuki perpustakaan.
Gianna terus berjalan menuju meja paling belakang, paling sudut dan tepat di depannya terdapat jendela. Gianna segera duduk kemudian disusul Kenan yang ikut duduk di sebelahnya.
"Mana laporan elo?" Tanya Gianna begitu Kenan menghenyakkan pantatnya diatas kursi panjang yang sama dengannya.
"Gue buang." Kata Kenan sembari mengeluarkan laptopnya dari dalam tas.
"Lo buang? Kenapa?" Ujar Gianna kaget mendengar jawaban Kenan.
"Kata lo ada yang salah. Ya gue buang. Masa gue benerin pake Tipe-X? Atau gue coret? Tugas gue bukan tulis tangan." Jelas Kenan menghidupkan laptopnya.
"Eum ... iya juga. Yaudah kalo gitu mana versi soft copy nya?" Ucap Gianna seraya duduk sedikit mendekat.
"Sabar dong, baru aja laptop gue hidup." -Sahut Kenan mencoba menenangkan Gianna yang terkesan amat buru-buru.- "Emang lo mau kemana sih? Hm?" Tanya Kenan menoleh seraya mendekatkan wajahnya pada Gianna.
Gianna menoleh dan ia menjadi sedikit kaget melihat wajah Kenan yang terlalu dekat dengannya. Sejenak ia terdiam, matanya sempat mengerjab beberapa kali, lalu ia pun bergeser sedikit jauh dari Kenan.
"Ngga kemana-mana." Kata Gianna memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Melihat itu, Kenan hanya tersenyum menahan kekehannya.
"Lagian elo udah ngga ada kelas kan?" Kata Kenan.
"Sekarang emang ngga ada, tapi ngga tau kalo nanti ada dosen yang tiba-tiba bilang ada kelas." Jawab Gianna sembari membuka-buka buku miliknya yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya.
"Oh ya. Btw, elo jurusan apa sih? Gue masih belum tau." Kenan memalingkan wajahnya dari layar laptopnya dan menatap Gianna.
Selama ini, Kenan masih belum mengetahui, apa sebenarnya jurusan yang di ambil Gianna, karena pada dasarnya Gianna juga tidak menceritakan perihal jurusannya. Selama ini Gianna masih cukup tertutup, meskipun ia sudah menceritakan mengenai masalahnya, itu pun karena Kenan yang bertanya kepadanya.
"Gue jurusan DKV." Kata Gianna tanpa menoleh dan masih fokus pada buku di hadapannya.
"Ooh." -Kenan mengangguk paham dan kembali pada laptopnya.- "Selagi gue ngerjain dan benerin kesalahan yang elo kasih tau, bisa gue sambil bahas masalah tugas motret gue?" Tanya Kenan meminta izin.
"Iya ngga papa." Sahut Gianna mengiyakan.
"Kalo gitu ke sini dong, duduk deket gue. Emang lo bisa ngasih tau gue dari situ?" Ajak Kenan tanpa basa-basi membuat Gianna langsung menoleh.
"Ah, iya." Gianna mengangguk dan langsung bergeser mendekati Kenan. Kenan pun tersenyum melihat Gianna duduk mendekatinya. Ia kemudian menggeser laptopnya agar Gianna bisa ikut melihat lebih jelas.
"Jadi, tadi yang mana yang lo bilang salah?" Ujar Kenan memulai.
"Mmm ... sebentar." Gianna mengambil alih laptop Kenan dan langsung menggulung tampilan layar laptopnya keatas. Sejenak mereka diam, lalu Kenan memilih untuk membuka pembicaraan.
"Lo besok senggang atau ngga?" Tanya Kenan.
"Hmm, besok weekend, kayaknya gue senggang." Ucap Gianna tanpa berpaling dari layar laptop. Kenan kembali mengangguk. Mereka kemudian kembali diam karena Kenan nampak memikirkan sesuatu.
"Kalo gitu ... besok gue jemput ya." Celetuknya tiba-tiba membuat Gianna langsung menoleh kaget.
"Hah? Ngapain? Mau kemana?" Sahutnya nampak terkejut mendengar ucapan Kenan.
"Kenapa segitu kagetnya gue bilang mau jemput? Gue ngga ada niat buat nyulik elo kok." Jelas Kenan menyingkirkan pikiran buruk Gianna.
"Terus? Apa? Kenapa lo mau jemput gue?" Tanya Gianna cepat-cepat sampai tak ada jeda untuk bernafas.
"Wowowo. Santai dong ngomongnya. Perpustakaan tutupnya masih lama kok." -Potong Kenan menghentikan Gianna.- "Ini soal permasalahan kemarin. Gue kan udah bilang, kalo untuk buktiin semua gossip jelek itu dengan cara gue pasang foto lo sebagai model tugas gue. Jadi gue mau besok kita mulai ngerjain tugas gue, untuk buktiin, kalo omongan jelek mereka itu salah. Di samping itu deadline gue untuk ngumpul tugas ngga lama lagi. Jadi ... ." -Kenan memberikan jeda sejenak seperti menimbang-nimbang ucapannya.- "Gue mau ajak lo besok untuk mulai ngerjain tugas gue." Ujar Kenan menghentikan penjelasannya.
"Oh ... ." Gianna mengangguk paham. Ia pun kembali pada layar laptop.
Keheningan kembali hadir menyelimuti mereka. Hal itu membuat Kenan sedikit gelisah. Ia sempat berpikir. Apakah mengajaknya seperti ini terlalu cepat? Padahal bisa saja Kenan mengambil tempat di sekitar kampus dan di lakukan saat mereka sedang kosong. Kenapa Kenan harus menjemput Gianna juga?
"Ng ... jadi gi-"
"Besok mau jemput jam berapa?" Celetuk Gianna memotong ucapan Kenan.
Kenan terdiam. Otaknya sejenak berhenti berpikir akibat ucapan Gianna. Namun tak lama kemudian otaknya kembali bekerja dan tersadar dengan apa yang di ucapkan Gianna.
"Eh? Elo mau?" Seru Kenan sedikit menaikkan nadanya membuat Gianna sedikit kaget dan langsung menengok.
"Ish. Ngga usah keras-keras kalo ngomong!" Bisik Gianna sembari menampar bahu Kenan.
"Eh sorry-sorry." -Sahut Kenan mengecilkan suaranya.- "Jadi elo mau?" Ucapnya mengulang pertanyaannya.
"Iya, jadi mau jam berapa besok elo jemput gue? Elo juga mau ajak gue kemana?" Balas Gianna menenangkan Kenan yang masih tidak percaya dengan jawaban Gianna, lalu kembali pada laptop Kenan masih mengulung-gulung layarnya ke atas.
"Ng ... kalo elo ngga keberatan, gue mau ajak lo sekitar jam 4 sore. Ke pantai." Jelas Kenan.
Mendengar kata Pantai keluar dari bibir Kenan seketika Gianna langsung menoleh.
"Apa tadi lo bilang? Lo mau ajak gue kemana?" Sahutnya menatap mata Kenan tajam.
*
"Jian kok ngga balik-balik ya? Sebenernya dia udah ketemu Kenan apa belum?" Tatiana terlihat gelisah dan berulang kali kepalanya menengok kesana kemari mencari sosok bernama Gianna.
"Kenapa ngga lo chat aja? Awas tengeng leher lo itu dari tadi ngga bisa diem." Sahut Ravindra masih mengetik di laptopnya.
"Ya suka-suka gue. Kenapa elo yang sewot?" Ketus Tatiana kesal.
"Lah, jelas-jelas elo yang sekarang sewot. Kenapa gue yang di salahin?" Tandas Ravindra langsung mendongak menatap Tatiana.
"Au ah, kesel gue sama lo. Kenapa ngga elo aja tadi yang kasihin laporannya Kenan? Garing tau ngga sih berdua sama elo gini." Protes Tatiana semakin tersulut.
Sepertinya ia kesal, karena sejak tadi ia dan Ravindra tidak bisa sejalan dalam mengobrol dan Ravindra lebih banyak fokus pada laporannya daripada mengobrol.
"Gue lagi? Ya elah tolong ya. Gue ini lagi ngerjain laporan yang deadline-nya udah mepet." Sanggah Ravindra tak terima.
"Ya salah elo dong. Udah tau kapan deadline-nya tapi baru sekarang elo garap. Kemaren-kemaren ngapain hah?" Sembur Tatiana semakin menyala-nyala emosinya.
"Astaga, tugas-tugas gue, kenapa jadi elo yang emosi. Dahlah males. Gue mau lanjut kerjain." Pungkas Ravindra malas meladeni. Ia pun lebih memilih menyumbatkan earphone ke telinganya agar tak bisa mendengarkan Tatiana yang meledak-ledak.
"Tsk! Dasar cowok emang ngga ada yang bener." Tatiana mendengus kesal dan kembali memainkan smartphonenya.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-