Sisi Lainnya

2014 Kata
-*-*-*- "Apa tadi lo bilang? Lo mau ajak gue kemana?"   Mendengar jawaban itu, awalnya Kenan sedikit kaget. Kenan sempat berpikir, apakah Gianna tidak menyukai pantai atau semacamnya? Karena ekspresi Gianna seperti memunculkan emosi kaget dan lainnya, yang tak mampu Kenan tebak.   Tapi ternyata tebakannya salah. Karena saat ini ia bisa melihat seorang gadis yang lengkapnya bernama Gianna Dirandra tengah berlari senang menghampiri air begitu mereka turun dari mobil dan melemparkan sepasang alas kakinya ke sembarang arah tanpa rasa peduli.   "Gue kira dia ngga suka pantai. Ternyata sesuka ini dia sama pantai," ujar Kenan bersamaan dengan tangannya memungut sandal Gianna. Senyuman Kenan mengembang lebar seiring matanya yang terus terpaku menatap Gianna yang berlarian bahagia.   "Tunggu gue Ji!" teriaknya seraya berlari mendekat pada Gianna yang kini tengah berkejaran dengan ombak kecil.   "Wahahaha ... yaampun. Ternyata ombaknya beneran bisa naik turun ya Ken? Gue baru tau!" seru Gianna masih berkejaran dengan ombak meskipun ia menyadari Kenan sudah berada di dekatnya.   "Elo beneran belum pernah ke pantai sebelumnya?" tanya Kenan setelah meletakkan sandal Gianna dan juga miliknya di tempat yang aman.   "Iya beneran! Dulu gue pernah mau ajak Pony. Tapi ngga pernah sempet dan keburu dia pergi," sahutnya dengan senyum masih mengembang lebar.   Kenan sempat terdiam sejenak mendengar kata 'Pony' keluar dari bibir Gianna. Mendengar kata itu, Kenan menjadi teringat ketika Gianna menceritakan masalahnya saat di taman di waktu yang lalu. Saat itu, ketika Gianna mengucapkannya, seakan ada beban yang mengekangnya agar tidak mengucapkannya yang membuat wajahnya selalu terlihat sendu dan pilu.   Sekarang, semuanya sudah sirna. Ia menyadari kalau saat ini Gianna sudah benar-benar berubah di bandingkan dengan saat awal mereka bertemu. Wajah ketus dan jutek yang pernah ia terima dulu telah berganti dengan pameran jajaran gigi dan bibir yang tersenyum lebar.   "Oh ya? Jadi ini pertama kalinya ada orang yang ajak elo ke pantai?" kata Kenan kemudian.   Gianna berhenti sejenak, lalu menoleh pada Kenan. Ia kemudian menjawab dengan anggukan cepat. "Makasih Ken, udah ajak gue ke sini." -ucapnya di sertai cengiran senang. Namun ia tiba-tiba terkejut saat ombak menggapai kedua kakinya- Ih Kenan! Airnya dingin!" pekiknya seraya berlari menjauh.   "Haha, elo gimana sih, namanya juga air." Kenan terkekeh melihat Gianna yang  kembali bermain dengan ombak.   "Eh, sekarang kan mataharinya lagi terik! Harusnya panas dong kayak air rebus," sanggah Gianna.   "Iya juga ya." -Kenan tiba-tiba saja menanggapi sanggahan Gianna dan nampak memikirkan sesuatu.- "Ah, yaudah elo main-main aja, mau ngapain terserah elo. Nanti gue foto diem-diem. Okay?" Kenan menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang menyantu membentuk huruf 'o'.   "Okay." Gianna pun membalas isyarat jari Kenan bersamaan dengan satu kedipan mata.   Degh   Beku. Tubuh Kenan tiba-tiba tidak bisa bergerak seakan kedipan yang baru saja dilayangkan Gianna adalah sebuah pukulan yang mengenai sebuah titik saraf yang bisa membuat tubuhnya berhenti bergerak.   "Itu apa? Yang baru aja gue liat? Anj*r cute banget bgsd! Damagenya ngga ngot*k!" Teriak batin Kenan berseru tak karuan.   Ah ... Kenan apa yang terjadi pada dirimu?   Kenan masih terdiam memandangi Gianna yang terus bermain dan tak menghiraukannya sama sekali. Ia dan Gianna sudah setuju kalau Gianna akan terus beraktivitas semaunya saja dan Kenan mengambil fotonya diam-diam. Sedikit lucu, tapi memang seperti itulah kesepakatan mereka.   Sesaat kemudian Kenan tersadar dari diamnya dan mulai mengatur kameranya. Jika ia tetap memandangi Gianna seperti itu mungkin sampai malam pun mereka tidak akan mendapatkan hasil apa-apa dan yang bersalah nantinya adalah Kenan.   Ah tapi tunggu, Kenan tidak bersalah sepenuhnya. Siapa suruh Gianna menjadi seimut itu? Kenan menjadi tidak fokus karena Gianna, bukan?   Kurang lebihnya, seperti itulah pemikiran Kenan.   Kegiatan memotret secara diam-diam pun berlangsung. Gianna berlaku sepuasnya menikmati keindahan yang baru didapatkannya dan Kenan pun terus memotret Gianna tanpa sepengetahuan objeknya.   Sekilas, jika diperhatikan, Kenan terlihat seperti orang asing yang berusaha mencuri sebuah dua buah tangkapan gambar dari Gianna. Tingkah Kenan yang berjalan mengendap-endap pun semakin menguatkan keadaan yang membuatnya seperti seorang yang mencoba memotret Gianna tanpa izin.   Sampai akhirnya seorang pria menghampiri Kenan dari belakang dan merebut kameranya. "Heh! Elu paparazi ya?! Pelecehan ini namanya! Orang m***m lu?!" serunya. Laki-laki itu bertelanjang d**a dan bertubuh sedikit atletis juga berkulit sedikit coklat. Ia terlihat begitu marah pada Kenan. Gianna yang masih asik bermain tidak mendengar seruan laki-laki tersebut dan tetap melanjutkan aktivitasnya.   "Maaf, tolong yang sopan. Jangan asal rebut kamera gue. Kembali'in dan perlu lo tau, gue bukan orang m***m," balas Kenan dengan nada rendah begitu menyadari kalau yang mengambil kameranya hanya seorang pengunjung biasa yang entah mengapa tiba-tiba saja menuduhnya seperti itu. Wajah laki-laki itu bahkan terlihat cukup mengesalkan bagi Kenan.   "Hahahaha!" -tawa laki-laki itu menggelegar lepas membuat Gianna langsung menoleh karenanya.- "Lu pernah denger ngga kata-kata ini? 'Ngga ada maling ngaku'. Pernah?" tanyanya menatap remeh pada Kenan. Salah satu alisnya ia naikkan semakin menambah kesan menjengkelkan pada dirinya. Kenan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana menatap dan menunggu orang itu selesai bicara. "Orang kayak elu udah banyak gua temuin disini. Jadi elu ngga perlu ngelak, karna gua tau manusia yang kelakuannya rendah kayak elu itu banyak bertebaran di sini. Sama kayak sampah. Lu pikir motret orang tanpa izin kayak gini bukan tindakan kriminal? Dasar orang m***m. Ngga pernah belajar tata krama ya?" ucapnya seraya mendorong bahu kanan Kenan menggunakan jari telunjuknya.   "Sekali lagi, tolong yang sopan. Itu kamera gue tolong di kembali'in. Terserah elo mau bilang apa. Tapi kembali'in kamera gue," Kenan terlihat masih sabar dan berusaha meminta kembali kameranya yang masih di tahan laki-laki asing itu. Kameranya itu sangat penting. Hampir 65% tugas kuliah Kenan masih ia simpan di memori kameranya, jika kameranya sampai rusak atau terjadi sesuatu yang macam-macam tentu akan menjadi masalah untuknya.   "Yang sopan? Hahaha! Elu yang harusnya begitu! Yang elu lakuin tadi itu ngga sopan! Lu kira ambil foto tanpa izin itu sopan? Sok jago lagi, tundukin itu muka! Ngga sopan banget jadi orang. Udah m***m, ngga tau sopan santun. Punya orang tua ngga sih? Ngga pernah sekolah lu? Rendahan banget. Gue bakal balikin setelah gua hapus- " ketika laki-laki itu hendak melanjutkan kata-katanya. Sebuah telapak tangan tiba-tiba melayang dan mendarat di pipi kirinya cukup kuat sampai menimbulkan sebuah suara yang cukup kuat.   Plak!   Melihat itu, Kenan terkejut dan langsung menoleh kepada asal dari mana tamparan itu berasal dan siapa pemilik tangan yang sudah berani melakukannya.   "Ji!" mata Kenan membulat begitu melihat Gianna lah pelakunya.   Tanpa basa-basi, Gianna langsung merebut kamera Kenan yang berada di tangan laki-laki asing itu. Laki-laki yang di tampar pun seketika melotot marah ketika menyadari seseorang berani menamparnya.   "Eh si*l*n! Berani-beraninya nampar gue. Gue baru aja nolongin elu dari orang yang baru aja ngambil foto elo diem-diem! Elu-"   Plak!   Gianna kembali menampar pipi orang itu membuat ucapannya terhenti. Kenan yang melihat pemandangan tepat didepannya itu seketika kembali di buat terkejut, sedangkan laki-laki yang di tampar itu menjadi marah.   "Mulut tolong di jaga ya! Kalo lo ngga tau apa-apa mending diem aja! Lo ngatain dia kayak gitu emangnya elo udah tanya apa yang dia lakuin? Elo udah tanya gue? Orang yang fotonya di ambil. Udah? Hah?! Jadi orang ngga usah sok tau! Kalaupun elo curiga, harusnya elo tanya! Bukan nuduh! Mikir! Satu-satunya orang yang rendah disini itu elo! Ngerti?! Mulut aja lo gedein, tapi otak ngga di pake. Jijik. Ayo pergi," ajak Gianna menarik pergelangan tangan Kenan.   "Stop!" Laki-laki itu menahan bahu Gianna kemudian melepaskan tautan tangan Kenan dan Gianna.   "Gua ngga salah dong negur dia. Siapapun bisa salah paham kalo cara yang dia lakuin kayak tadi-"   "Elo bilang negur? Tiba-tiba dateng dan rebut kamera, nuduh yang bukan-bukan dan ngatain hal yang ngga baik ke orang yang ngga elo kenal bahkan elo ngga tau apa yang dia lakuin bahkan berniat hapus isi dari kameranya. Itu semua elo bilang negur? Hahaha. Pernah sekolah ngga sih?" potong Gianna mengembalikan kata-kata yang sudah di ucapkan laki-laki itu kepada Kenan membuatnya semakin naik pitam.   "Heh! Elu ngatain gua-"   "Apa? Elo marah? Ngga terima? Bukannya tadi elo bilang begitu juga ke dia? Kok elo marah? Jangan-jangan yang gue ucapin bener? Haha- ih amit-amit, ngatain tapi ngga mau ngatain. Ayo pergi, males gue," ajak Gianna kembali menarik pergelangan tangan Kenan berniat meninggalkan orang itu. Kenan yang tak tau harus berbuat apa hanya diam saja melihat keberanian Gianna membalas setiap ucapan orang asing itu.   "Heh!" -Laki-laki itu tiba-tiba menahan dan menarik dengan kasar bahu Gianna. Gianna yang menerima perbuatan itu sedikit merintih menahan sakit akibat cengkraman tangan yang terlalu kuat di bahunya. Tak terlalu kentara, tetapi Kenan bisa menyadarinya. Gianna pun menepisnya dengan paksa dan laki-laki itu melepaskannya.- "Elu pikir yang elu lakuin barusan ngga perlu dapet balesan? Sini lu dasar cewek l*nt*," Pria itu bersiap untuk menampar Gianna.   "Apa? Elo mau nampar gue? Cepet! Orang-orang udah nungguin. Satu tamparan mungkin sebanding dengan elo masuk kantor polisi! Di samping itu, elo ngga malu nampar cewek?" kata Gianna justru balas menantang.   "Kalo gua bisa dapet kepuasan atas rasa kesal gua apa salahnya?" tukasnya tak kalah menantang dan beranjak mengayunkan tangannya. Gianna yang terkejut karena laki-laki itu tak peduli dengan ucapannya langsung menutup matanya dan bersiap menerima rasa sakit yang akan segera ia dapatkan. Karena dilihat dari kata-kata dan sikapnya, laki-laki itu tidak memandang gender dalam menghadapi lawan bicaranya.   Beberapa saat berlalu dan tak ada yang terjadi. Gianna langsung membuka matanya dan melihat Kenan menepis tangan laki-laki itu yang Gianna duga telah Kenan halangi dari melukai wajahnya.   "Berhenti! Mending elo pergi sekarang sebelum masalahnya tambah panjang! Ayo Ji," ajak Kenan kemudian merangkul bahu Gianna merapat pada tubuhnya. Wajah Kenan terlihat tidak tenang saat bicara begitu dan Gianna tidak bisa menebak apa isi pikirannya.   Akan tetapi Gianna justru dibuat terkejut dengan apa yang kini di lakukan Kenan. Kenapa Kenan merangkulnya?   "Heh!" -Laki-laki itu masih belum menyerah dan kini menahan bahu Kenan.- "Lu mau jadi tokoh utama film? Gua dari tadi udah perhatiin dan elu kok makin sok berani? Elu bisa apa? Asal elu tau. Orang-orang disini ngga ada yang berani lawan gua. Elu pasti orang baru kan? Makanya elu sok berani begitu. Sini lu lawan gua. Baru lu boleh pergi." cerocosnya membuat Kenan dan Gianna sama-sama menghela nafas.   "Elo-"   "Ssh ... udah cukup!" Kenan memotong ucapan Gianna yang bersiap berbalik dengan lembut dan menepuk pundaknya perlahan bermaksud mengambil alih. Kenan pun berbalik dan menarik pergelangan tangan Gianna agar bergeser ke belakang tubuhnya.   "Kalo bisa di bicarain apa salahnya? Ngga perlu kita main tangan. Gue disini cuma ada kepentingan. Gue ngga berniat cari masalah. Apalagi sampe harus-" Kenan yang berniat mencari jalan tengah dari permasalahan mereka langsung di potong begitu saja tanpa ada negosiasi sedikit pun.   "Alah bacot! Lu sama cewek lu emang ngga ada bedanya. Gede bacot doang! Udah yakin gua kalo lu orang itu pada ngga punya otak. Oh! Atau jangan-jangan elu sebenernya cewek? Iya? Ngga punya k*nt** kan pasti? Hahahaha! Udah gue duga! Dari tadi elu sama tuh cewek sama. Gede bacot!" Serunya berkata-kata semakin kasar. Mendengar kata-kata itu Kenan menghela nafasnya sedangkan Gianna langsung melotot di buatnya dan beranjak untuk maju untuk melepaskan tangannya yang sudah gatal ingin mendarat di mulut kotor laki-laki itu.   Akan tetapi Kenan mengetahuinya dan segera menahannya. Terlihat seperti ingin melindungi Gianna.   "Udah cukup Ji. Lo perempuan. Jangan berlebihan." kata Kenan mengingatkan.   "Tapi Ken-" Gianna yang batas pertahanannya hampir habis berusaha menentang Kenan, akan tetapi Kenan dengan tegas masih menahannya dan memotong bantahan yang akan di lontarkan Gianna.   "Ssh ... tahan sebentar emosi lo. Kalaupun elo emang pengen marah, nanti lo lampiasin aja ke gue. Sekarang lo tahan aja dulu. Oke?" tutur Kenan perlahan berusaha selembut mungkin. Alih-alih menahan Gianna, ia tidak ingin berubah menjadi minyak yang tumpah di atas api dan memperburuk keadaan.   Mendengar itu Gianna mencoba mengerti dan berusaha mengecilkan apinya yang sempat membesar. "Mmm ... oke ... . " Gianna menurut dan kembali ke tempatnya.   Sementara pria yang sejak tadi berperan menjadi pemantiknya seketika memandang rendah pada Kenan dan Gianna yang terlihat menjijikan bagi matanya. "Cuih jijik gua." tanpa adanya basa-basi, laki-laki itu tiba-tiba meludah didepan Kenan.   Hal itu tentunya dilihat Kenan dan seketika membuat rahang menegang serta membuat tangannya mengepal. "Hei ... tadi apa lo bilang? Semua orang disini takut sama lo? Gimana kalo gue ganti?"  -Kenan kemudian perlahan mendongak dan menatap laki-laki itu tajam tepat pada matanya.- "Semua orang disini sebenernya 'kasian' sama elo."   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN