-*-*-*-
"Hei ... tadi apa lo bilang? Semua orang disini takut sama lo? Gimana kalo gue ganti? Semua orang disini sebenernya 'kasian' sama elo," ucap Kenan menatap tajam tepat pada mata pria itu.
Entah mendapat bisikan dari mana, air muka laki-laki itu sedikit berubah. Tidak terlalu kentara, tetapi Kenan mengetahuinya. Ada sedikit percikan rasa takut yang keluar dari wajahnya setelah menerima tatapan dari Kenan. Sejak awal Kenan memang tidak ingin terlalu serius menanggapi perbuatannya yang tidak sopan, karena Kenan berpikir, ia bisa menyelesaikannya dengan bicara saja dan ternyata tidak. Akhirnya Kenan mengikuti bagaimana maunya laki-laki g*l* itu.
Kenan baru menatapnya saja dia sudah begitu. Bagaimana kalau Kenan melakukan sesuatu? Sepertinya akan jadi kurang asyik kalau sang pemantik justru ketakutan dengan api yang sudah dibuatnya.
Akan tetapi demi menutupinya, laki-laki itu segera berkacak pinggang dan tertawa.
"Hahaha ... ." -tawanya mencoba menyepelekan lalu melangkah mendekat.- "Elu pasti bocah kemaren sore yang kecanduan nonton film superhero kan? Hahaha ... anak kayak elu tuh bisa apa, berani bales natap mata gua kayak gitu? Hah?! Mau sok jagoan lu?" Laki-laki itu mendorong bahu kiri Kenan dengan jari telunjuknya namun dengan sigap dan cepat, tiba-tiba saja Kenan sudah memutar pergelangan tangan laki-laki itu dengan tangan kirinya.
"Akh!" Laki-laki itu spontan memekik akibat balasan yang di lakukan Kenan. Sementara Gianna yang melihat mereka hanya bisa kaget dengan apa yang dilakukan Kenan.
"Sekali lagi gue kasih tau. Gue bukan orang m***m, gue bukan orang yang ngga punya sopan santun, gue bukan orang yang sok jagoan dan gue sepenuhnya berbanding terbalik sama semua yang lo ucapin ke gue," -jelasnya seraya mendorong laki-laki itu menjauh.- "Dari awal gue udah coba untuk ngomong baik-baik. Tapi elo sendiri yang terus-terusan mancing emosi gue. Elo bahkan berani-beraninya sentuh dan hampir nampar cewek yang gue aja ngga pernah berani untuk sentuh dia tanpa alasan jelas. Sekarang elo mau gue ngelawan elo? Oke. Gue rasa ngga masalah." kata Kenan berjalan mendekat.
"Anj**g lu semua! Sejak awal harusnya udah gua hajar biar lu semua tuh ngga banyak bacot!" tanpa basa-basi, Gianna bisa melihat kalau laki-laki asing itu langsung melayangkan kepalan tangannya pada rahang kiri Kenan. Melihat itu Gianna seketika menahan mulutnya agar tak berteriak karena hampir sedikit lagi, tangan itu sampai mendarat di rahangnya.
Akan tetapi Kenan menghindar dan justru menangkap tangan itu dengan tangan kirinya lalu menariknya kemudian menendang perut bagian kanannya dari samping dan melayangkan pukulan mengenai ulu hati.
Bugh! Bugh!
"Akh!" Laki-laki itu segera mundur begitu mendapat kedua pukulan yang amat cepat dari Kenan dan tak mendapat kesempatan balas menyerang. Laki-laki itu sedikit terhuyung akibat pukulan di ulu hatinya yang menyesakkan.
"Kenapa?" -tanya Kenan kembali mendekat dengan tatapan tajam penuh intimidasi dan amarah.- "Gue kan cuma bocah kemaren sore. Segitu sakit pukulan dari gue?" -tanpa berbasa-basi, Kenan kemudian menarik kalung rantai yang dipakai laki-laki itu kemudian menggunakan tinjunya dan di layangkan pada rahang kiri laki-laki itu.
Bugh!
Laki-laki itu langsung tersungkur di atas pasir dengan mulut yang mengeluarkan cairan merah.
Gianna yang sejak awal hanya menonton dengan tegang segera berlari mendekat saat melihat darah keluar dari mulut laki-laki itu. Gianna langsung menggengam telapak tangan Kenan dan menahannya yang sudah berjalan mendekati lawannya lagi. Kenan yang menyadari tangan Gianna menahannya langsung berhenti dan menengok.
"Udah ya? Udah cukup," pinta Gianna menatap Kenan memelas. Sepertinya ia kasihan dengan laki-laki itu sehingga ia meminta Kenan menyudahinya.
"Ah ... apa gue berlebihan?" ucap Kenan balas bertanya.
"Ngga. Cuma udah cukup aja jangan di lanjutin. Mending kita pulang, bentar lagi pasti gelap." ajak Gianna seraya menarik Kenan meninggalkan laki-laki asing itu sendiri.
"Oke." Kenan mengangguk dan tersenyum. Ada sedikit rasa senang di hatinya melihat Gianna menggenggam tangannya.
"Ngga secepat itu lu bisa pergi!" dalam hitungan detik tanpa sempat Kenan dan Gianna membentuk pertahanan. Laki-laki itu sudah menarik bahu Kenan dan langsung meninju rahang kiri Kenan yang sebelumnya sempat tidak kena.
Bugh!
"Kenan!" Gianna terkejut bukan main saat tautan tangannya dan Kenan terlepas akibat Kenan yang mendapat serangan tiba-tiba dan hampir terjatuh.
"Lu kira cuma elu yang bisa mukul? Gua juga bisa!" murka pria itu menatap Kenan dengan wajah yang merah padam. Ia kemudian menoleh pada Gianna yang sekarang berada di sampingnya.
Gianna yang menyadari tatapan itu seketika gemetar seluruh tubuhnya. Jantungnya berdebar lebih cepat dan keringat dingin langsung menyelimutinya. Otaknya menyuruhnya untu lari. Tetapi kakinya justru melemas sehingga ia akhirnya jatuh terduduk seiring dengan langkah mendekat dari laki-laki itu.
"Aah!" Gianna memekik saat laki-laki itu memaksanya berdiri dengan mencengkeram lehernya
"Hahaha, karna lu berani tampar gua, gua pikir elu itu bisa ngelakuin sesuatu atau apa. Ternyata selemah ini. Heh! Inget ya, lu itu cuma cewek. Kerjaan lu itu cuma jadi pembantu di rumah dan pemuas nafsu cowok! Ngga usah sok berani ngelawan kalo lo ngga mau ngerasa sakit!"
Plak!
Satu tamparan akhirnya mendarat di pipi mungil Gianna. Gianna yang lehernya di cengkeram kuat tak bisa bicara apa-apa dan hanya bisa menangis akibat rasa sakit yang di terimanya. Sementara itu tak lama kemudian sebuah pukulan kembali di terima laki-laki itu dari Kenan sebelum tangannya kembali mendarat di pipi Gianna untuk yang kedua kalinya dan Gianna pun terjatuh.
"Uhuk! Uhuk-uhuk-uhuk ... ." Gianna langsung terbatuk-batuk begitu lehernya terlepas dari cengkeraman tangan laki-laki br*ngs*k itu. Tanpa Gianna sadari, Kenan sekarang sudah kembali menyerang laki-laki itu secara brutal yang bahkan tak memberi kesempatan baginya untuk bernafas. Sampai akhirnya laki-laki itu menyerah dan meminta Kenan untuk berhenti karena kondisinya saat ini yang sudah babak belur dan terbaring di atas pasir dengan Kenan berada di atas tubuhnya dan terus melayangkan pukulan ke wajahnya.
"Stop! Gua minta lu berhenti! Oke gua kalah!" teriak laki-laki itu berusaha menghentikan Kenan yang memukulinya membabi buta. Kenan pun langsung berhenti, namun tatapan matanya masih penuh dengan amarah yang meledak-ledak. Ia kemudian menarik nafas dan mencoba menenangkan dirinya.
"Minta maaf!" perintahnya.
"Oke sorry." Ucapnya asal tanpa niat tulus sedikitpun membuat Kenan kembali melotot mendengarnya.
Bugh!
Kenan akhirnya kembali memukulnya.
"Gitu cara lo minta maaf hah?!" bentak Kenan semakin meledak-ledak melihat laki-laki itu masih saja tidak sopan meskipun keadaannya sudah tak jelas seperti kelakuannya.
"Oke maaf. Gua minta maaf atas kesalahan gua. Gua minta maaf." ucapnya mulai ketakutan.
"Bukan sama gue! Tapi sama dia! Sini lo!" Kenan kemudian menyingkir dari atas laki-laki itu dan mencengkeram tengkuknya kemudian memaksanya untuk berdiri. Kenan pun menyeret laki-laki itu ke hadapan Gianna yang masih terduduk karena rasa sesak yang masih tertinggal di tenggorokannya.
"Minta maaf sama dia!" bentak Kenan.
"Gua ... Gua minta maaf. Gua salah." ucap laki-laki itu dengan wajah tertunduk.
Gianna yang mendengar ucapan maaf itu langsung melirik sinis tepat pada matanya membuat laki-laki itu sedikit kaget. Ia kemudian berdiri dan menghampiri Kenan kemudian menariknya ke samping tubuhnya agar menjauh dari laki-laki br*ngs*k itu, membuat Kenan sedikit bingung dengan perbuatannya.
"Gue minta lo renungin kesalahan lo." tukasnya terlihat marah dengan mata merah dan airnya yang masih tersisa di pelupuk mata dan pipinya. Ia kemudian menarik Kenan agar ikut dengannya meninggalkan tempat itu.
"Ji ... sakit?" tanya Kenan kemudian. Ia tentunya khawatir setelah kejadian mengerikan tadi. Namun Gianna tak menjawab apapun. Langkah Gianna terlihat sangat buru-buru. Sepertinya ia ingin secepatnya pulang karena ketakutan atau mungkin ia merasa bersalah? Entahlah, Kenan hanya bisa menerka-nerka.
Kenan yang tadi melihat dengan jelas apa yang sudah di lakukan laki-laki asing itu kepada Gianna masih tidak bisa tenang meskipun sudah menghajarnya. Melihat sikap Gianna yang terus menariknya dalam diam pun membuat Kenan semakin tidak karuan hatinya. Belum lagi di tambah genggaman tangan Gianna yang terasa jelas gemetarnya membuat rasa khawatir semakin menggelayuti hatinya dengan kuat.
"Ji, jawab gue. Sakit?" Kenan kembali mengulang pertanyaannya dan kembali mendapat jawaban kosong. Gianna masih tak acuh dan terus berjalan ke depan seperti tak ada gangguan apapun di belakangnya.
Kenan tidak menyerah. Ia langsung berhenti dan menarik tangan Gianna sampai tubuhnya langsung tersentak dan berbalik menghadapnya. Kenan menghela nafas begitu melihat wajah Gianna. Gianna menghadap padanya dengan air mata yang masih mengalir.
"Gue kan tanya, kenapa ngga di jawab?" kata Kenan sembari melangkah lebih dekat dan mengusap air mata yang melewati pipi kiri Gianna dengan lembut dan hati-hati. Sekarang warnanya tak lagi seputih s**u seperti biasanya. Pipi mungil Gianna yang ronanya selalu polos itu sudah menjadi kemerah-merahan. Terlihat menyakitkan. Kenan hanya bisa berharap itu tidak membengkak nantinya.
Mendengar ucapan Kenan, Gianna menatap mata Kenan sejenak. Alih-alih menjawab, Gianna justru terisak-isak.
"Ken ... maafin-hiks ... maafin gue Ken ... ." lirih Gianna di sela tangisan dan air matanya yang mengalir semakin deras.
"Kenapa lo minta maaf?" tanya Kenan balas menatap mata Gianna yang terus mengeluarkan air mata. Gianna kemudian menunduk, ia semakin terisak. Tebakan Kenan sepertinya benar. Gianna merasa bersalah akan suatu hal yang belum Kenan ketahui pastinya.- "Gue tanya. Lo salah apa? Kenapa lo minta maaf?" -Kenan kembali mengulang pertanyaannya sembari mengangkat wajah Gianna perlahan dengan menyentuh pipinya yang baik-baik saja.
Gianna masih menangis. Matanya yang menatap mata Kenan turun menuju bagian bibir Kenan yang saat ini dihiasi dengan darah yang hampir mengering. Melihat itu, air matanya mengalir semakin deras dan Gianna semakin sesenggukan.
"Maaf Ken ... hng ... maaf-hiks ... gara-gara gue-hiks ... lo jadi berantem sama dia ... hiks ... gara-gara gue-hiks ... lo sekarang jadi luka-hiks ... maaf ... ." sesalnya menangis semakin kuat membuat Kenan semakin iba menatapnya.
"Ssh ... udah-udah ... ngga papa. Gue ngga papa Ji. Jadi ngga usah nangis gitu. Oke?" -Kenan kemudian menarik Gianna dan memeluknya membiarkan Gianna menyelesaikan tangisannya.- "Elo sendiri gimana, hm? Emang ngga sakit? Gue tadi liat yang dia lakuin ke elo. Tapi gue telat cegah dia buat sentuh elo. Gue juga salah. Jadi maafin gue juga." -tutur Kenan seraya mengusap puncak kepala Gianna dalam dekapannya.
"Tapi elo pasti lebih sakit-hiks ... ." -Gianna kemudian melepaskan pelukan Kenan dan mendongak.- "Bibir lo berdarah Ken-hiks ... maafin gue ... ." kata Gianna masih sesenggukan. Ia terlihat merasa sangat bersalah melihat luka di bibir Kenan.
"Yaudah kalo gitu kita sama-sama salah. Gimana kalo kita anggep impas? Oke?" tawar Kenan menangkup kedua pipi Gianna dan tersenyum manis.
Sejenak Gianna tak menjawab dan masih menangis sesenggukan. Namun kemudian ia mengangguk.
"Yaudah kalo gitu." -Kenan tiba-tiba saja melepaskan kemejanya lalu memasangnya di atas bahu Gianna. Entah mengapa sejak tadi ia tak nyaman melihat bahu Gianna yang terbuka sejak laki-laki tadi menyentuhnya.- "Hampir malem. Sebentar lagi pasti dingin. Ayo pulang." ajak Kenan kemudian menggandeng tangan Gianna dan membawanya pulang.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-