-*-*-*-
Di rumah Gianna, kamarnya
"Hah ... ." Gianna mendesahkan nafasnya yang terasa cukup berat. Isi kepalanya kembali terngiang akan kejadian yang menimpanya sore tadi.
"Kenan masih kesakitan ngga ya sekarang? Bibirnya tadi berdarah," ucapnya bermonolog menatap langit-langit kamarnya.
Selagi dia bertanya-tanya seorang diri, sebuah pesan masuk membuatnya langsung menoleh. Ia segera meraih ponselnya dan membuka siapa yang sudah mengirimkan pesan padanya.
"Oh? Kenan?" ujarnya mengetahui kalau orang itu adalah Kenan.
Kenan
-Gue baik" aja Ji
-Ngga usah mikirin gue terus
-Lo ngga salah apa"
Membaca pesan itu membuat kening Gianna terlipat.
"Tau darimana dia," batinnya heran.
Gianna
-Tau dariman lo?
Kenan
-Tau lah
-Udah ketebak
-Mending sekarang lo tidur
-Besok siap" jadi artis
Gianna
-Ih apaan sih -.-
-Dipasang juga belum kan fotonya
Jujur saja, sebenarnya Gianna sekarang sudah tidak memperdulikan reaksi orang-orang besok. Ia lebih khawatir dengan keadaan Kenan sekarang.
Gianna
-Lagian gue sekarang ngga peduli soal itu ._.
-Gue lebih khawatir sama lo sekarang
-Yakin lo baik" aja?
Kenan
-Yaampun Ji
-Masih aja
-Gue serius
-Apa lo mau kerumah gue?
-Biar lo yakin
-Gue kirim alamatnya nanti
Gianna
-Ngga papa
-Kirim aja sekarang, gue langsung siap"
Kenan
-Eh?
-Ngga usah!
-Gue cuma bercanda!
-Gila gue nyuruh cewek ke rumah malem"
Gianna
-Loh emang kenapa? ._.
-Lagian dirumah lo pasti ada Anna kan?
-Lo ngga sendirian kan?
Kenan
-Duh
-Ngga gitu konsepnya Ji
-Bukan masalah di rumahnya
-Tapi di jalannya
-Ngga baik cewek keluar malem" sendirian
Gianna
-Ngga bakal sendirian
-Masih ada Geno kok
-Gue bisa minta tolong anterin dia
Kenan
-Ya... iya sih.
Gianna
-Iya kan?
-Jadi rumah lo dimana?
Kenan
-Ngga ngga ngga
-Ngga usah
-Mending sekarang lo tidur
-Oke?
-Gue mau ngedit foto dulu
-Sleep tight
Alfonsus Kenan Kalandra went offline
"Ih." -decih Gianna kesal mendapati Kenan meninggalkannya begitu saja.- "Main offline aja. Lagian kalo emang ngga bisa ke sana malem ini kan bisa besok-besok lagi. Yang penting kan udah punya alamatnya." omelnya seraya melempar ponselnya ke atas kasurnya. Ia pun segera memejamkan matanya dan mulai tertidur.
*
*
*
Keesokan paginya
"Toktoktok!"
"Jian!" panggil seorang wanita paruh baya dari luar pintu kamar Gianna. Sementara itu Gianna yang masih terlelap segera terbangun karena terkejut.
"Hmmm ... ," jawabnya dengan suara khas serak yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Cepet bangun udah siang! Kamu ngga ngampus hari ini?" tanya wanita itu masih berusaha membangunkan anak gadis yang kenyataannya berstatus sebagai anak kandungnya.
"Ngampus ... ,"Gianna menjawab hampir tak bersuara membuat Mamanya mau tak mau harus membuka pintu yang tak terkunci itu.
"Heh. Udah jam sembilan. Cepetan bangun! Anak gadis kok males banget!" omelnya seraya menarik selimut tebal Gianna yang sudah tak menyelimuti tubuhnya dengan benar dan tergulung asal disana-sini.
"Aku ke kampus masih nanti maah. Nanti aja bangunnya." rengek Gianna seraya menutupi kepalanya dengan bantal.
"Paling ngga mandi-mandi dulu sana lo. Malu! Liat tuh Rafa anak tetangga sebelah, rajin! Pagi-pagi udah rapih." Mamanya makin semangat mengomel melihat anak gadisnya tak kunjung beranjak dari kasurnya.
Mendengar hal itu Gianna segera mendelik.
"Ih mah! Rafa itu masih TK! Jelas dia pagi-pagi udah rapih!" balasnya kesal tak senang di bandingkan.
"Ngga peduli. Pokoknya sekarang kamu mandi. Cepet! Biasanya juga bangun pagi, berangkat sama Geno. Kenapa sekarang ngga gitu?" perintah Mamanya melempar selimut Gianna yang sudah dilipat ke sebelah kepala Gianna.
"Hmm." jawabnya dengan malas tak beranjak sedikitpun dari atas kasur nya.
"JIAN!" Mamanya kembali berteriak dari luar kamar dan hal itu seketika membuat Gianna terganggu tidurnya.
"Iya ma!" serunya dengan kesal dan terpaksa bangun dari singgasana tercintanya. Setelah mengambil handuk dan pakaian yang dibutuhkannya, ia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga untuk mandi di lantai bawah.
"Mah! Emangnya kenapa sih? Pagi-pagi udah bangunin aku? Biasanya juga mau sampe jam dua belas Mama ngga ped-" -omelan Gianna seketika berhenti begitu melihat penampakan yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu menatap layar tv.- "duli." ucapannya kembali ia lanjutkan karena sosok yang ditatapnya kini menoleh.
"Pagi Ji!" sapanya begitu renyah dan cerah pada Gianna yang masih menganga melihat kedatangannya.
"Lo ngapain disini?" tanya Gianna pada akhirnya mengetahui alasan Mamanya semangat membangunkan beban hidupnya di pagi hari yang hampir mencapai siang.
"Mau ngajak lo ke pameran foto jurusan gue." Jawab Kenan tersenyum semakin cerah. Namun yang membuat Gianna salah fokus adalah sudut bibirnya yang kini membiru.
"Kenapa ngga ngabarin gue dari tadi malem? Main offline gitu aja. Pagi-pagi udah nancep aja tuh badan di sofa." -omel Gianna membuat Kenan menggaruk kepalanya yang tak gatal.- "Yaudah gue mau mandi." tanpa menunggu jawaban dari Kenan, Gianna segera berlalu menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, seperti biasa, setelah meletakkan handuk dan pakaian ke tempat yang aman, ia langsung berkaca didepan wastafel. Namun ia langsung mendelik begitu melihat pantulan dirinya di depan kaca yang teramat jelas.
"Jian. Mimpi apa lo semalem berani ngobrol sama tamu dengan penampilan kayak gini? Kusem kumel kucel kayak gini? Mana rambut macem singa! Aaah!” suara teriakan Gianna menggema di dalam kamar mandi yang sedikit kedap suara namun masih bisa terdengar dari luar.
“Ckckck. Maaf ya, emang gitu dia, sering ngga jelas,” kata Mama Gianna sembari meletakkan air minum dan sedikit cemilan di hadapan Kenan.
“Ahahaha iya tante. Duh maaf tante, jadi bikin repot,” balas Kenan seraya menyambut suguhan yang dibawakan Mama Gianna dan membantu meletakkannya di atas meja.
“Ah ngga, cemilan doang kok repot,” -sahut Mama Gianna sembari duduk di sofa single yang ada di sebelah sofa panjang yang di duduki Kenan.- “Kamu dari rumah langsung kesini?” tanya nya memulai obrolan.
“Ngga tan, saya dari Kampus, kebetulan tadi pengumpulan tugas buat di pasang di pamerannya jam 7, selagi ada waktu saya langsung kesini,” tutur Kenan menjelaskan.
“Ah … gitu. Jurusan fotografi, iya bukan? Soalnya Jian bilang kalo kamu motret dia buat tugas,” tanya Mama Gianna menanggapi.
“Iya tante, bener,” Kenan mengangguk-angguk seraya tersenyum.
“Oh, yaudah kalo gitu, tante balik ke dapur dulu ya, dimakan cemilannya, ngga usah malu. Kalo mau nonton, remote tvnya di bawah meja,” jelas Mama Gianna seraya berdiri.
“Iya tante, makasih,” Kenan kembali mengangguk dengan sopan ntah sudah yang keberapa kalinya.
“Jian ngga usah lama-lama mandinya! Udah di tungguin!” Mama Gianna tiba-tiba berseru membuat Kenan sedikit terkejut.
Sementara itu Gianna juga membalas dengan teriakan yang tak kalah keras.
“Baru selesai sikat gigi!”
“Pfft!” Kenan menahan tawanya mendengar teriakan Gianna dari dalam kamar mandi. Terdengar seperti anak kecil baginya.
Tak lama setelah itu, Gianna pun selesai membersihkan diri. Sangat beruntung karena kali ini Gianna membawa pakaian lengkap untuk berganti, padahal sebelumnya ia akan berlalu lalang hanya dengan handuk kimononya.
“Udah selesai?” tanya Kenan dengan nada yang sedikit meledek mengingat selama Gianna mandi mamanya selalu memanggil dan mengingatkannya agar tidak mandi terlalu lama.
“Diem!” sahut Gianna kesal dengan menutupi wajahnya dengan handuk seperti memakai tudung kepala.
Kenan hanya terkekeh dan membiarkan Gianna menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Gianna segera duduk di meja riasnya dan bersolek secukupnya seperti hari biasanya. Setelah menata diri dan menyiapkan barang-barang perlu dibawa, ia segera turun dan menemui Kenan.
“Ayo berangkat,” ajak Gianna setelah sampai di ruang tamu.
“Oh, udah?” Kenan lagi-lagi berusaha menggoda Gianna.
“Ngga usah ngeledek!” balas Gianna sembari menoyor bahu Kenan.
Kenan pun tertawa tanpa suara merasa senang berhasil menggoda Gianna. Sedangkan Gianna seperti biasa hanya bisa membalas dengan wajah merengut karena tak bisa apa-apa untuk menghentikan Kenan.
“Ma, aku berangkat!” pamit Gianna berteriak pada mamanya yang ada di dalam dapur.
“Ya! Hati-hati!” jawab mamanya dari dapur tanpa keluar.
“Yuk,” ajak Gianna seraya berjalan mendahului Kenan.
“Ngga salaman dulu?” tanya Kenan bingung.
“Ngga, mama lagi sibuk,” kata Gianna enteng sembari duduk dan memakai sepatunya.
Kenan hanya mengangguk dan ikut memakai sepatunya di sebelah Gianna. Mereka kemudian keluar dan menuju halam rumah Gianna.
“Elo bawa motor?” tanya Gianna begitu melihat Kenan kini duduk di atas motornya dan bersiap untuk menghidupkannya.
“Iya, kenapa?” Kenan sedikit heran dengan reaksi Gianna yang terkejut.
“Ngga … ngga papa, beruntung aja rambut gue, gue iket,” kata Gianna sembari menghampiri Kenan dan motor sport hitamnya. Sebenarnya alasan Gianna terkejut adalah karena dia tidak pernah menaiki motor selain dengan Pony sebelumnya.
Kenan yang tak berpikir macam-macam segera memberikan helm lain yang sudah dibawanya. Dari corak dan warnanya yang feminim, Gianna bisa langsung menebak kalau helm itu milik Tatianna.
Gianna pun memakai helmnya tanpa halangan dan langsung menaiki motor Kenan setelah Kenan menghidupnkannya.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-