Kamu Cantik

1147 Kata
-*-*-*- Mereka pun akhirnya sampai di kampus. Entah mengapa kali ini, kampus terlihat sedikit lebih ramai dari biasanya.   “Kok rame,” tanya Gianna memberikan helm pada Kenan dan merapikan rambutnya.   “Kan ada pameran,” jawab Kenan setelah memarkirkan motornya dan menghampiri Gianna.   “Ah, jadi waktu itu kampus rame karna ada pameran dari jurusan lo?” Gianna kembali bertanya dengan wajah penasaran menatap Kenan.   “Ngga, semester ini baru satu kali ada pameran dan itu sekarang. Gue kurang tau ramai yang lo maksud itu kapan dan karena acara apa,” kata Kenan sedikit menggeleng.   “Ah … ,” Gianna mengangguk paham seraya memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.   “Ayo!” ajak Kenan seraya berdiri tepat di sebelah Gianna yang sedang asik menatap orang-orang yang lewat kesana kemari.    Gianna sedikit terkejut mendengar suara Kenan kemudian segera menoleh. “Eh? Kemana?” katanya.   “Liat pameran dong,” Kenan terkekeh melihat ekpresi kaget Gianna.   Mendengar itu, Gianna terpaku. Sejak tadi ia benar-benar lupa kalau fotonya lah yang di pajang di pameran. Perlahan, Gianna memalingkan wajahnya dari Kenan dan menunduk. Kenan seketika terkekeh.   “Jangan bilang kalo dari tadi lo ngga tau kalo foto lo itu bakal di pajang?” tanya Kenan seraya mencondongkan tubuhnya ke hadapan Gianna.   “Kenapa ngga bilang kalo pamerannya hari ini?” protes Gianna menoleh dengan wajah merengut.   “Eh? Kata siapa? Kemaren gue udah bilang, bahkan semalem waktu kita chat udah gue singgung kalo lo bakal jadi pusat perhatian,” jelas Kenan berusaha mengingatkan Gianna dengan obrolan mereka semalam.   “Ah, iya ya?” Gianna menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal. Ia pun mengumpat pada dirinya sendiri karena terlalu khawatir pada Kenan sampai tidak memperhatikan yang sudah di katakan Kenan padanya.   “Hahaha, ngga perlu malu deh, ayo kita kesana sekarang,” ajak Kenan membujuk Gianna yang terlihat sangat ragu untuk ikut ke pameran yang memajang wajahnya sendiri.   “Oh ya, bibirmu udah ngga papa?” Gianna tiba-tiba saja menengok dan mengalihkan pembicaraan.   “Aman! Nih liat sendiri. Pipimu juga udah ngga bengkak. Aman semua, yuk kita kesana.” Kenan yang tak bisa di alihkan langsung menggenggam lengan Gianna berjalan lebih dulu hampir seperti menyeret namun sebisa mungkin tidak terlalu kuat agar Gianna tidak kesakitan.   Sementara Gianna hanya bisa mengikuti dengan wajah masam.   ‘It’s okay Jian. Ini cuma pameran foto kampus. Orang-orang yang dateng pasti orang yang ngerti seni. Mereka bakal fokus sama foto lo aja dan ngga akan peduli sama lo si objek nyata nya.’ Demi menenangkan diri, Gianna mengatakan itu pada dirinya berulang-ulang.   Setelah beberapa saat berjalan dan yakin Gianna benar-benar mau ikut, Kenan berhenti menarik Gianna dan kini mereka berjalan bersama.   *   “Rame banget, Ken,” ucap Gianna begitu sampai di aula tempat memajang hasil pemotretan mahasiswa jurusan fotografi dengan sedikit celingukan karena banyak-nya orang di dalam aula.   Sebenarnya tidak terlalu ramai, hanya saja karena biasanya mahasiswa hanya datang saat kelas, hal itu membuat keadaan kampus tidak terlalu padat. Pada saat ini, mahasiswa datang hampir bersamaan dan itu membuat keadaan menjadi lebih ramai dari hari biasanya.   “Lumayan,” -Kenan hanya tersenyum dan ikut melihat orang-orang yang kini sibuk melihat foto-foto yang sedang dipajang, namun tak sedikit pula yang datang hanya untuk mengobrol dengan temannya yang merupakan anak fotografi.- “Mau liat-liat?” tawar Kenan menyadarkan Gianna yang larut dalam keramaian.   Gianna sedikit kaget, lalu menoleh. “Ha?” katanya memasang wajah bertanya.   “Mau liat foto hasil jepretan temen-temen gue ngga?” kata Kenan mengulang ajakannya.   “Mmm, boleh,” -Gianna mengangguk-angguk dan di balas anggukan Kenan pula, akan tetapi Gianna tiba-tiba menahan.- “Tunggu!” cegahnya membuat langkah Kenan terhenti ddan menoleh.   “Kenapa?” tanya Kenan.   “Itu … foto gue … ,” semakin lama suara Gianna semakin menghilang bersamaan dengan matanya yang tak bisa diam melihat kesana kemari karena tak berani menatap Kenan. Sedangkan Kenan justru hanya terkekeh.   “Kenapa? Mau liat?” tanya Kenan yang seketika di sambut mata Gianna yang melebar.   “Ngga! Bukan!” Gianna segera menyangkal dan membuat Kenan langsung tetawa.   “Terus?”   “Gue mau tau itu di taro dimana, biar gue bisa ngindarin selagi gue lagi liat-liat foto yang lain,” tuturnya jujur.   “Kenapa lo ngga mau liat? Kan itu lo sendiri,” tanya Kenan dengan tangan menyilang di depan dadanya.   “Gue malu, kan gue ngga tau pose gue yang lo ambil pas lagi ngapain,” ujarnya seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.   “Astaga Ji, dengerin gue,” -Kenan meraih kedua pergelangan tangan Gianna kemudian membukanya agar berhenti menutup wajah.- “Elo, cantik,” ucapnya dengan mata menatap dalam pada kedua mata Gianna.   Mendengar itu Gianna terbungkam mulutnya menatap Kenan. “Jadi? Liat foto-fotonya?” tanya Gianna kemudian setelah beberapa saat diam saja.   “Ah, iya,” Kenan melepaskan genggamannya dari tangan Gianna.vMereka pun berkeliling untuk melihat hasil tangkapan setiap mahasiswa yang sudah di pajang.   “Tapi jujur, gue ngga terlalu ngerti soal seni hasil kamera,” kata Gianna saat melihat ada salah satu hasil tangkapan kamera yang menurut Gianna memiliki nilai seni yang Gianna tak mengerti sama sekali apa makna dan nilainya.   Akan tetapi meskipun tidak mengerti nilai dan makna seni, Gianna tidak berani mengkritik apa-apa karena takut salah bicara.   “Ngga masalah, toh disini bukan tempat ujian buat para pengunjung,” sahut Kenan ikut memperhatikan hasil tangkapan yang sedang di pandang Gianna.   “Bener sih. By the way, temanya random? Kenapa dari tadi yang gue lihat objek fotonya macem-macem?” tanya Gianna sembari menatap beberapa foto yang sudah ia lihat dan lewati beberapa saat lalu.   “Iya, kita bebas mau foto apa aja kali ini, kalo sebelumnya kadang-kadang temanya di tentuin sewaktu ada tugas,” jelas Kenan menatap Gianna yang mulai fokus kembali pada foto-foto yang selanjutnya.   “Ah, gitu,” Gianna kembali mengangguk paham. Mereka pun kembali diam.   Kini Kenan terdiam menatap satu foto dengan anjiing sebagai objeknya. Anjiing itu terlihat cantik dengan bulu putih s**u dan mata bulat bersinar. Melihat itu entah mengapa Kenan jusru teringat pada seseorang. Namun siapa?   “Ji!”   “Elo ngga ngerti seni hasil kamera ya?” tanya Kenan yang langsung di balas Gianna dengan menengokkan wajahnya.   “Iya,” kata Gianna hanya mengangguk-angguk, mengingat itu belum lama mengatakannya pada Kenan.   “Kalo gitu … ,” Kenan sempat memberi jeda, namun kemudian ia menengok pada Gianna dan menatap matanya dalam-dalam.- “Kenapa setiap hal yang lo kerjain justru terlihat lebih penuh makna?” tanyanya membuat Gianna melongo karena tak paham.   Akan tetapi Gianna segera paham setelahnya dan lanjut melihat foto yang lain. “Gue juga ngga tau, mungkin karna kebanyakan tekanan, hahahaha,” Gianna terkekeh sendiri dengan jawabannya.   “Iya sih, udah bakat alami lo mung-” belum selesai Kenan bicara, Gianna tiba-tiba saja menoleh dengan mendadak.   “Ada foto cewek yang di tangga kemarin!” kata Gianna membuat Kenan justru bingung.   “Hah?”   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN