-*-*-*-
“Ada foto cewek yang di tangga kemarin!” kata Gianna.
“Hah?” Kenan sedikit tidak mengerti apa yang di maksud Gianna namun kemudia mendekat.
“Ini cewek di tangga kemaren yang ketemu sama elo kan?” Gianna memperjelas saat Kenan menatap Gianna dengan wajah bod*h.
“Yang mana? Kemarin juga kan elo ketemu gue,” balas Kenan seraya melihat foto yang di tunjukkan Gianna.
Melihat itu Kenan langsung teringat siapa yang di maksud Gianna.
Orang itu adalah Aghata Kayana, akan tetapi tetap saja, ingatan Kenan terhadap sesuatu yang kurang penting baginya membuat ia melupakan nama wanita yang sudah menyatakan hati padanya.
“Ah … cewek ini,” -Kenan mengangguk pertanda ia ingat, akan tetapi tidak dengan namanya. Ia tidak terlalu kaget akan hal itu. Akan tetapi, suatu hal membuat ia harus terkejut saat membaca keterangan dan segala macam yang tertulis di kertas di bawah foto itu.
“Kendrick Ravindra. Ravindra? Temen kamu?” tanya Gianna saat Kenan nampak terkejut setelah membaca keterangan.
Kenan hanya mengangguk-angguk.
“Kenapa lo kaget? Lo ngga tau kalo Ravi udah pasang fotonya disini?” Gianna kembali bertanya karena cukup heran dengan tingkah Kenan.
“Bukan masalah kapannya. Gue lebih kaget sama objek yang ada di fotonya,” Kenan menjelaskan seraya menengok pada Gianna setelah puas terkejut dengan apa yang sudah dibacanya.
“Emang kenapa? Lo cemburu?” celetuk Gianna tanpa maksud lain, karena mengingat foto yang ada di hadapan Kenan adalah orang yang sudah mengutarakan perasaannya.
“Hah? Ngapain? Gue cuma kaget aja sama si Ravindra. Kapan hari dia bilang mau foto alam, tapi yang sekarang di pajang di sini malah manusia,” jelas Kenan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Ia tidak sepenuhnya berbohong karena Ravindra memang sempat mengatakan hal itu padanya sebelumnya. Akan tetapi jelas saja alasan utamanya adalah karena Aghata yang sebelumnya benar-benar memaksa ingin menjadi modelnya namun ia terus menolak, tiba-tiba saja sekarang menjadi model Ravindra yang merupakan teman karibnya.
Kenan sedikit bingung, sangat jelas kalau Kenan melihat bahwa Aghata ingin menjadi modelnya itu karena ia menyukai Kenan tapi kenapa sekarang ia menjadi model Ravindra? Apakah sebenarnya ia memang ingin menjadi model?
Kenan pun kembali memperhatikan foto Aghata. Sejenak ia terdiam, akan tetapi tak lama kemudian ia justru terkekeh tanpa suara.
‘Lo udah kerja keras, Rav,’ batinnya begitu melihat betapa kuatnya energi Ravindra yang terpancar demi foto yang ada di depannya saat ini.
“Ken?” Gianna menyadarkan Kenan dengan sentuhan ringan pada lengan Kenan menggunakan ujung jari telunjuknya.
Kenan langsung menoleh
“Ya?” katanya.
“Mau lanjut bareng atau gue tungguin?” lanjutnya.
“Ah ya, lanjut aja. Yuk,” ajak Kenan dan membiarkan Gianna jalan lebih dulu.
Selama beberapa saat, mereka lanjut melihat foto yang tersisa. Gianna sejak awal memang waspada, takut-takut ia menemukan fotonya. Akan tetapi sepanjang ia melihat foto-foto yang terpajang, ia tidak melihat ada fotonya di ruangan itu.
“Ng … Ken,” ucap Gianna saat mereka beristirahat di luar aula karena lelah sudah berdiri terlalu lama.
“Ya?” jawab Kenan setelah meneguk air mineral.
“Foto gue … lo taro dimana?” tanya nya sedikit menelan ludah berat.
“Hahahaha- uhuk!” akibat masih menyimpan air di mulutnya, hal itu membuatnya langsung tersedak akibat mentertawakan Gianna.
“Duh, kapok! Ngapain ngetawain aku coba?” Gianna langsung mendekat dan menggosok-gosok punggung Kenan.
“Ahaha, maaf-uhuk-uhuk!” sudah tersedak ia masih saja melanjutkan tawanya.
“Tsk-tsk-tsk … ,” mau tak mau meskipun kesal ia hanya bisa membantu menggosok punggung Kenan agar membaik.
Selesai tersedak Kenan kembali menggoda Gianna dengan tatapan menyebalkan.
“Ternyata dari tadi lo nyari foto lo? Katanya ngga mau liat,” ujarnya membuat Gianna segera merengut dan melayangkan pukulan pada bahunya.
“BUGH!”
“Puas ya elo ngeledek gue?” ujarnya kesal melihat Kenan tak bereaksi sama sekali dengan pukulannya.
“Sorry-sorry, gue bercanda,” kata Kenan sambil menahan tawanya.
“Jadi, dimana fotonya?” Gianna sudah tidak peduli dan berusaha mendapatkan jawaban yang di inginkannya.
“Foto lo di pajang-”
“KEN!”
Suara yang tak asing itu kembali datang dan bukannya Gianna yang kesal, justru Kenan yang kini menahan amarahnya. Mereka kemudian menoleh pada sumber suara yang sekarang sudah berdiri di hadapan keduanya.
“Elu sebenernya ada dendam apa sama gua Rav?” kata Kenan dengan tatapan sinis melihat Ravindra yang berdiri dengan wajah pura-pura tak berdosa.
“Sorry kalo ganggu kalian, tapi gue beneran ngasih tau kabar penting sekarang, hahaha,” Ravindra tertawa begitu renyahnya sembari mengangguk kepalanya yang tak gatal. Terlihat seperti merasa tidak enak, akan tetapi Kenan sama sekali tak menganggap hal itu sebagai rasa tak enak hati.
“Sejak kapan orang ngabarin kabar penting sambil ketawa?” sahut Kenan sinis.
“Weh, slow down, bro. Gua serius, dosen manggil kita,” Ravindra berhenti terkekeh dan merubah wajahnya menjadi lebih serius.
“Sekarang?” tanya Kenan masih tak yakin.
“Kemaren!” -sahutnya cepat.- “Sekarang lah, ngapain gua repot-repot ngabarin kalo bukan buat sekarang?” jawabnya dengan nada sedikit tinggi.
“Oke-oke! Ngga usah emosi lu,” balas Kenan dengan nada yang tak kalah tinggi.
“Elu sendiri, ahk! Tau gitu ngga usah gua kabarin lu ya,” kesal Ravindra.
Namun Kenan tak memperdulikan itu dan justru lebih memilih melepas coatnya.
“Gue pergi dulu, elo ngga usah nungguin gue disini, karna gue ngga tau bakal selama apa, nanti biar gue kabarin,” ujar Kenan sembari berdiri.
“Oke,” Gianna hanya mengangguk dan tak menahan Kenan untuk menjawab pertanyaannya yang belum sempat terjawab sampai saat ini.
“Yaudah gue pergi dulu,” pamitnya dengan senyum manis sebelum ia akhirnya berbalik dan meninggalkan Gianna.
Gianna pun menghadap kesamping berniat membereskan tas dan minumannya. Namun tiba-tiba saja sebuah benda berbahan kain tebal menyelimutinya. Gianna yang terkejut refleks menoleh dan mendapati yang melakukannya adalah Kenan.
Tanpa bicara, Gianna menatap Kenan dengan pandangan bertanya dan langsung di jawab oleh Kenan.
“Anginnya dingin,” katanya singkat tersenyum lebar dan tak ketinggalan, ia sempat mengusap puncak kepala Gianna dan segera pergi tanpa berkata-kata lagi.
Sementara Gianna yang bingung masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi padanya.
“Padahal suhunya panas banget, makanya gue cuma pake jumpsuit jeans sama tanktop,” Gianna yang mulai merasa gerah segera melepas coat Kenan yang berwarna navy dan menggantungnya di lengan. Ia mungkin akan memakainya nanti.
*
“Gue ngga tau, apa yang sebenernya dilihat Kenan dari cewek cengeng dan menye-menye kayak dia,” gumam Aghata yang sudah melihat Gianna sejak datang ke bangku panjang di sebelah mesin minuman otomatis sampai Kenan pergi-kembali untuk memberikan coat-lalu pergi lagi.
Melihat Gianna yang melepaskan Coat yang sudah di berikan Kenan seketika Aghata terkekeh sinis.
“Hahaha, emang niatnya udah cari perhatian laki-laki, udah bener Kenan inisiatif berbaik hati kasih coat buat nutupin pundak lo yang kebuka, malah lo buka lagi,” Aghata hanya memutar bola matanya dan meninggalkan tempat itu karena mulai muak dengan segalanya.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-