-*-*-*-
Karena Kenan memiliki urusan, Gianna kini harus berjalan kesana kemari seorang diri dengan keramaian yang mengelilinginya. Sejenak ia hanya berjalan melihat-lihat dan ia tersadar kalau aula yang ramai tidak hanya aula yang sekarang ia masuki. Ia baru saja mendengar dari orang-orang yang ada di sana kalau ada pameran yang sama di aula gedung kedua kampusnya.
‘Ah … apa foto gue di panjang di sana ya?’ batin Gianna dengan pandangan yang menatap kosong foto yang ada di hadapannya.
Sementara itu tak jauh darinya.
“Dia kan yang jadi modelnya Alfa?” ucap seorang laki-laki pada teman di sebelahnya.
“Mana?” balas temannya sedikit celingukan mencari orang yang di maksud.
“Noh, yang bajunya ngga ada lengan, rambutnya diiket tinggi,” katanya menunjuk dengan dagunya pada Gianna yang masih diam mematung menatap foto di hadapannya.
“Dia? Yakin?” balas temannya tak begitu percaya melihat Gianna.
“Yakin! Lu tau sendiri kalo Alfa matanya paling peka di jurusan kita, coba lo perhatiin dia sekarang,” lanjutnya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
“Hmm … ,” -temannya itu mencoba memperhatikan lebih detail dan pada akhirnya ia mulai menemukan ada yang berbeda dari Gianna.- “Ah! Ya, bener. Cara dia berdiri aja udah beda,” ujarnya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celanannya.
Sejenak tanpa sadar mereka berdua justru menatap Gianna yang sedang melamun. Akan tetapi tak lama setelahnya Gianna sadar kalau ada yang sedang memperhatikannya sesuai dengan refleks alaminya, Gianna menoleh.
“Dia noleh tuh,” kata laki-laki pertama yang mengajak temannya berbicara. Agar tak disangka orang aneh, di melambaikan tangannya dengan gerakan mulut yang mengatakan ‘hai’.
Sementara itu karena mungkin Gianna sedikit bingung dan merasa aneh, ia buang muka perlahan dan segera keluar dai dalam aula.
“Lah, dia kabur,” ujarnya kecewa melihat Gianna yang melangkah keluar aula.
“Salah sendiri muka kayak kriminal, dia takut sama lo, mana sampe ngeliatin kayak gitu,” cibir temannya sembari mengambil ponselnya yang entah untuk apa dia mengambilnya tiba-tiba tanpa alasan.
“Elu sendiri tadi ngapain hah? Merem lu?” sahutnya kesal melihat temannya yang pura-pura sibuk.
*
‘Temen Kenan kah yang tadi? Gitu banget ngeliatin gue,’ batin Gianna merasa aneh dengan tatapan-tatapan tadi.
Gianna pun pada akhirnya memilih pergi ke tempat favoritnya sembari menunggu Kenan memberi kabar. Ia juga sudah sedikit lelah harus berjalan terus di antara ramainya pengunjung yang tidak ia kenal.
Sesampainya di perpustakaan, Gianna memilih membaca beberapa buku yang menurutnya menarik dan duduk di kursi yang mejanya tepat di depan jendela.
*
Masih membaca novel setelah beberpa waktu yang tidak sebentar, sebuah notif pesan masuk kedalam smartphonenya yang dalam mode getar.
Gianna meraih ponselnya dan mendapati kalau itu adalah pesan dari Kenan.
Kenan
-Ji, ke aula gedung 2 ya.
-Gue di sini.
Gianna
-Kesana sekarang?
Kenan
-Iya Ji.
-Langsung aja, gue ada di dalem.
Gianna
-Oke, gue langsung ke sana.
Kenan
-Oh ya
-Sebelum lo kesini, gue boleh minta tolong?
Gianna
-Apa?
Kenan
-Tolong kalo elo kesini nanti ketemu kantin atau koperasi, gue nitip lo beliin gue permen min.
-Tapi elo ngga harus nyari, kalo pas lo lewat dan liat aja.
Gianna
- ‘-’ mau buat apa?
Kenan
-Gue ngantuk, jadi butuh sesuatu buat di makan.
-Tolong ya, uangnya nanti gue ganti.
Gianna
-It’s okay,
-Tunggu aja.
Kenan
-Oke hati-hati di jalan.
Alfonsus Kenan Kalandra went offline.
“Permen min?” Gianna tak terlalu memikirkan hal itu dan segera menuju aula dua setelah membereskan barangnya.
Tak lupa ia membeli permen titipan Kenan. Karena tiba-tiba ia menginginkannya juga, Gianna juga memberi permen karet untuk ia simpan sendiri.
Ia pun terus berjalan dan akhirnya sampai di aula. Ia pun sedikit terkejut, karena aula yang ia masuki sekarang bebeda.
“Hei, susah nyari gue ya?” kata Kenan yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.
“Ngga, gue belum nyariin elo, gue barusan ngeliatin seluruh aula yang ternyata lebih gede aula yang sebelumnya,” jelas Gianna.
“Ah … yayaya, jadi elo udah beli permennya?” tanya Kenan menatap Gianna yang masih sibuk melihat sekelilingnya.
“Oh iya sorry, ini, ” -Gianna menyodorkan permen biasa dan permen karet yang merupakan miliknya sendiri.- “Gue ngga tau elo mau yang mana, jadi gue beli dua-duanya, gue juga kebetulan lagi pengen makan permen karet,” jelasnya.
“Yaudah gue ambil dua ya, harganya tadi berapa?” Kenan mengambil dua buah permen yang berbeda.
“Apaansih, cuma permen,” Gianna seketika merengut mendengar ucapan Kenan.
“Tapi kan ngga enak gue Ji-”
“Udah! Kalo emang mau ganti, ganti dengan beliin gue yang lain aja kapan-kapan. Gue ngga mau di ganti uang kalo cuma beginian,” Gianna menolak dengan tegas.
“Oke-oke kalo mau lo begitu,” Kenan hanya terkekeh melihat wajah Gianna yang mulai semakin merengut.
“Ini, coat lo gimana?” kata Gianna kemudian sembari menunjukkan coat yang menggantung di tangannya sejak tadi.
“Pegang aja, lo nanti pasti butuh,” Kenan kembali tersenyum sembari menyilangkan kedua tangannya membuat Gianna sedikit bingung dengan semua ucapannya.
“Maksudnya?”
“Nanti lo tau,” Kenan kembali memasang wajah menyebalkan membuat Gianna sedikit curiga.
“Tes-tes-tes … perhatian … perhatian semua!” sebuah suara dari speaker sedikit menggema di dalam aula dan membuat orang-orang yang ada di dalam aula langsung memusatkan perhatian pada sumber timbulnya suara itu yang rupanya berada di atas panggung.
Tak terkecuali Gianna, ia juga menoleh dan langsung diam memperhatikan.
“Sesuai dengan tema hari ini yang merupakan sebuah pameran, kami sudah memajang foto hasil dari kerja keras anak-anak prodi fotografi. Akan tetapi, tak hanya pameran, kami juga akan memanggil satu persatu mahasiswa yang sudah mengikuti pameran ke atas panggung untuk melakukan presentasi kecil mengenai hasil karya mereka,” -MC itu diam sejenak untuk memberi jeda dan melakukan kontak mata sejenak pada setiap orang.
“Tak ada menang kalah ataupun baik buruk dalam pameran ini, karena tujuan dari pameran prodi fotografi ini adalah menambah ilmu dan pengalaman bagi siapa saja yang ingin mencarinya. Presentai akan dimulai dalam 10 menit dan pemanggilan secara acak. Bagi para mahasiswa silahkan persiapkan diri dan untuk pengunjung buat diri kalian senyaman mungkin, terima kasih,” MC itu tersenyum di akhir ucapannya dan undur diri dari panggung.
Terlihat setelah MC undur diri dari panggung, beberapa orang nampak menyiapkan peralatan presentasi, kursi dan segala macam.
“Kamu ngga bantu-bantu?” ucap Gianna pada Kenan yang hanya menonton saja seperti Gianna.
“Hah? Ngga, aku kan bukan anak organisasi. Acara ini kerjaannya anak organisasi, jadi mereka yang nyiapin semuanya,” jelasnya tersenyum sekilas di balas anggukan oleh Gianna.
Tak ada hal spesial selama 10 menit berlalu, Gianna dan Kenan pun menghabiskannya hanya dengan mengobrol. Tak lama setelah itu, presentasi pun di mulai.
*
“Siapa yang kamu jadikan model?” tanya seorang pengunjung yang merupakan mahasiswa dari jurusan lain.
“Dia namanya Gianna,” jawab Kenan.
“Bisa kamu panggil orangnya kepanggung? Orangnya pasti disini kan?” lanjutnya dan seketika membuat jantung Gianna berdetak kencang dan mendelik kaget.
“Bisa. Ji? Lo mau naik ke sini kan?”
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-