-*-*-*-
Nama demi nama terus di sebut. Kenan dan Gianna fokus memperhatikan tiap presentasi yang di sampaikan. Mungkin karena yang menyampaikan dan yang di sampaikan masih dalam umur yang sama, mereka bisa saling tanggap dan tidak bosan untuk terus mempperhatikan.
“Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, terima kasih sudah memperhatikan. Selamat siang,” salah satu mahasiswa mengakhiri presentasinya dan membungkuk hormat kepada pengunjung. Semua yang hadir pun bertepuk tangan memberi apresiasi.
Kemudian pembicara kembali di ambil oleh MC.
“Oke, mari kita lanjutkan. Saya akan memilih … ,”
Bisa terlihat sang MC nampak memutar-mutar senter lasernya secara asal di layar proyektor yang menampilkan daftar file foto milik mahasiswa. Ia terus memutar acak dan membuat para pengunjung menunggu dan tentunya memberikan rasa tegang bagi mahasiswa yang belum terlalu siap. Sementara Kenan dan Gianna nampak santai.
Setelah sekian lama berputar-putar, sang MC pun menunjukkan pilihannya.
”Alfonsus Kenan Kalandra,” ujarnya membuat Kenan dan Gianna sedikit tersentak kaget.
“Lo di panggil,” kata Gianna seraya menoleh pada Kenan. Mendengar itu, Kenan juga menoleh.
“Duh, gue grogi,” kata Kenan sembari menggosok-gosok tangannya.
“Santai, ada gue, kalo grogi, liat gue aja,” sahut Gianna dengan wajah yakin.
“Nanti malah makin salting gue,” gumam Kenan membuat salah satu alis Gianna terangkat.
Ucapan Gianna tanpa sadar bersamaan dengan MC yang kembali memanggil Kenan.
“Maksud lo?”
“Alfonsus Kenan Kalandra ada di sini?” kata MC sembari melihat kesana kemari mencari keberadaan Kenan.
“Ada! Sebentar!” -teriak Kenan menjawab dengan semangat sampai membuat pengunjung yang ada di dekatnya menoleh karena sedikit kaget dengan suaranya.- “Gue naik dulu,” pamit Kenan seraya meninggalkan senyuman yang begitu cerah.
“Dia pengen di gebuk kah?” gumam Gianna mulai kesal. Karena sejak mereka bertemu hari ini, setiap dia bertanya belum mendapat jawaban sama sekali.
Kenan pun mulai memasuki panggung dan menerima mic yang di serahkan MC.
“Tapi biarlah,” -Gianna hanya bisa tersenyum saat Kenan menatapnya dari panggung dengan senyuman cerahnya yang masih melekat.- “Toh sekarang gue bakal liat. Tapi dia ngambil gambar gue pas ngapain? Apa ekpresi gue bagus saat itu? Jangan-jangan keliatan jutek?” semua asumsi, pertanyaan dan negative thingking mulai memenuhi kepalanya.
Akan tetapi semua itu sirna ketika Kenan membuka hasil tangkapan kameranya.
Mata Gianna terbuka lebar dan bibirnya pun hampir menganga karena begitu kagetnya ia dengan foto yang sudah dilihatnya.
‘Apa … apa bener … apa bener gue senyum se bahagia itu?’ batinnya karena bibirnya tak bisa berkata-kata lagi.
Di dalam layar proyektor itu, Gianna melihat dirinya yang tersenyum bahagia dengan wajah menghadap kamera. Senyumnya terlihat begitu tulus begitu cerah sampai matanya tertutup karena begitu lebarnya senyuman yang sudah di ukirnya.
“Foto yang sudah saya ambil itu saya beri judul ‘Istirahat Sejenak’,” -ujar Kenan membuat Gianna tersadar dari alam sadarnya yang sempat naik ke permukaan. Mata mereka bertemu, Gianna pun hanya diam dan menunggu Kenan melanjutkan presentasinya.
“Setiap orang memiliki masalah, setiap orang memiliki beban, setiap orang memiliki luka. Tak peduli besar ataupun kecil hal yang di alaminya, setiap orang memiliki respon tersendiri dalam menjalani masalah yang tengah di alaminya. Ada yang tetap bisa bersikap santai dan terlihat tidak memiliki masalah, padahal masalahnya mungkin saja bisa setinggi Puncak Jaya. Ada yang yang terlihat sangat tertekan setiap hari dan selalu mencoba menyakiti diri sendiri, padahal masalahnya tidak sampai setengah dari orang yang selalu tersenyum.”
“Tidak ada yang salah dari semua itu, karena setiap kepala selalu memiliki cara yang berbeda dalam menanggapi masalahnya tergantung kondisi mental yang dimilikinya. Yang salah adalah … sangat banyak dari mereka, yang lupa,” -Kenan sempat menjeda ucapannya dan membuat kontak dengan para pengunjung terutama Gianna yang menyimak dengan serius setiap ucapan yang lontarkan oleh Kenan.- “Mereka lupa kalau ada yang namanya ‘istirahat’,” lanjutnya dengan senyuman yang begitu lembut dan menenangkan.
“Kalian, selalu punya waktu istirahat. Mungkin memang tidak lama. Mungkin hanya satu atau dua menit. Tapi saya yakin, satu menit itu adalah menit yang berharga. Gunakan satu menit kalian itu untuk menumpahkan segala sesuatu yang memenuhi kepala ataupun hati kalian. Menangis, jika kalian ingin menangis. Bercerita, jika kalian ingin bercerita. Tak pernah ada larangan baik lisan maupun tulisan untuk menangis dan bercerita. Karena semua itu adalah cara untuk mengurangi beban hati.”
“Saya yakin beban kalian bisa berkurang. Tidak hilang, tapi berkurang. Memang tidak banyak, tapi setidaknya dengan begitu kalian bisa bernapas sejenak karena sesuatu yang memenuhi kalian sudah berkurang. Jika sudah begitu, saya yakin kalian pasti bisa tersenyum dengan ‘tulus’, karena kalian senang, kalian berhasil bernapas setelah sekian lama memendam. Maka dari itu sangat penting bagi kita semua untuk berhenti sejenak dan memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran kita untuk beristirahat sekalipun itu hanya satu menit, terima kasih,” Kenan kembali tersenyum dan membungkuk mengakhiri presentasinya.
Tepat setelah Kenan membungkuk, seisi aula seketika di penuhi suara tepuk tangan dari semua penonton yang memberikan apresiasi yang begitu tinggi dan terdengar sangat riuh.
Kenan tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya saat melihat Gianna yang bertepuk tangan dengan ekpresi hampir menangis setelah mendengarkan semua presentasinya.
“Wah, dalam sekali ya makna dari foto ini, bukan sekedar menjelaskan seorang wanita cantik yang sedang tersenyum di pantai saat matahari hampir terbenam,” -ucap sang MC menanggapi Kenan yang tak terlihat gugup sama sekali.- “Baik, seperti mahasiswa yang lainnya, kami akan memberikan kesempatan bertanya kepada pengunjung, silahkan,” sang MC melempar senyum dan pandang kepada pengunjung yang sudah sangat siap untuk bertanya dan hampir seluruhnya mengangkat tangan demi bisa mendapat kesempatan untuk bertanya.
“Ah, ya! Kakak perempuan dengan sweater cream turtle neck,” ujar sang MC menunjuk salah satu pengunjung yang letaknya agak di belakang kerumunan. Petugas yang berjaga pun memberikan mic yang sudah di siapkan.
“Siapa yang kamu jadikan model? Mahasiswa di kampus ini kah?” tanya nya yang merupakan mahasiswa dari jurusan lain.
“Mmm … ya, dia mahasiswa di kampus ini dan namanya Gianna,” jawab Kenan singkat menatap wanita itu berharap ia memberikan jawaban yang memuaskan. Wanita itu kemudian hanya mengangguk-angguk mengerti.
“Bisa kamu panggil orangnya kepanggung? Orangnya pasti disini kan?” lanjutnya dan seketika membuat jantung Gianna berdetak kencang dan mendelik kaget.
“Ah … ,”Kenan nampak menimbang-nimbang, matanya refleks justru melirik Gianna yang masih terkejut karena ancaman akan di minta naik ke atas panggung. Dengan segera, Gianna memberi tanda X menggungakan kedua tangannya tanda ia menolak.
Namun Kenan justru melakukan hal yang sebaliknya.
“Bisa! Ji? Lo mau naik ke sini kan?” kata Kenan yang kemudian terang-terangan menatap Gianna membuat orang-orang langsung menengok.
‘Dasar anak kamp**t!’ batin Gianna mengumpat karena saat ini ia menjadi pusat perhatian.
Gianna seketika menggeleng kuat-kuat menolak bahkan masih ia tambahkan dengan kedua tangannya yang menyilang di depan dadanya. Gianna bahkan sampai tersenyum dengan penuh tekanan yang justru membuat Kenan ingin tertawa melihatnya.
“Ayo kak, naik aja!” MC di sebelah Kenan nampak sangat bersemangat membuat Gianna semakin kesal.
‘Mereka bestie kah, bisa-bisanya sama-sama minta gue buat naik panggung,’ Gianna pun semakin menggeleng kencang.
‘Lagian kalo gue naik bakal ngapain, hah?’ batin Gianna mempertanyakan kelakuan yang sudah di lakukan dua manusia di panggung itu.
“Naik aja! Oh, atau mungkin Kenan jemput aja?” tanpa rasa berdosa, MC itu justru membuat Gianna semakin masuk kedalam lingkaran malu dan tatapan penuh tusukan dari penonton-setidaknya itulah yang dirasakan oleh Gianna-.
Sedangkan Kenan? I kini hanya tersenyum tanpa dosa menatap Gianna seakan di tatapannya ia memberikan dua pilihan.
‘Ku jemput atau mau naik sendiri?’
Melihat itu, senyuman Gianna semakin miris dan tubuhnya menjadi lemas. Akan tetapi tidak dengan isi hatinya. Dalam hatinya ia terus mengumpat untuk Kenan yang sudah sangat menyebalkan hari ini.
‘Dasar anak itu … ,’
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-