-*-*-*-
“Ayo kak, naik aja!” suara MC itu kembali terdengar membuat Gianna semakin bingung.
“Ah … ,” Gianna menengok ke kanan dan kirinya dan mendapati orang-orang di sekitarnya menatapnya. Gianna kemudian menatap ke depan lagi-lebih tepatnya menatap Kenan.
Mendapati Gianna menatapnya, Kenan langsung tersenyum dan berusaha meyakinkan Gianna. Namun Gianna menggeleng kuat dan tangannya masih memberikan tanda X menggunakan tangannya.
Ia pun mengeluarkan kalimat menggunakan mulutnya.
‘Gue-ngga-ma-u’
Terlihat cukup jelas, lengkap di akhiri dengan gelengan kepala agar Kenan mengerti.
Sang MC yang menyadari penolakan Gianna dan tak ingin membuang-buang waktu pun segera memotong agar acara bisa terus berlanjut.
“Ah, baiklah, karena yang bersangkutan menolak untuk naik ke panggung, kita lanjutkan saja dengan pertanyaan yang berikutnya. Baiklah, siapa lagi yang ingin bertanya?”
Gianna akhirnya bisa bernafas lega, sementara Kenan masih menatapnya seperti berharap Gianna mau naik ke atas panggung. Melihat tatapan itu, Gianna segera membalasnya dengan tatapan menantang.
“Apa?!” ucapnya tanpa bersuara.
Kenan justru terkekeh membuat Gianna semakin kesal.
“Dia cewek yang lagi di rame di omongin itu kan?”
Deg!
Kalimat yang tak asing itu tiba-tiba saja kembali terdengar oleh telinga Gianna dari salah satu pengunjung yang tak jauh darinya. Tubuh Gianna membeku, wajahnya yang sebelumnya mendongak untuk menatap ke depan, perlahan menunduk.
‘Tenang Ji, ngga papa …’ batin Gianna berusaha menyingkirkan pikiran negatif dan berusaha percaya kalau yang ia dengar hanya hayalannya saja.
“Iya emang dia,”
Sialnya, semua itu nyata. Gianna tidak sedang berhalusinasi.
Orang-orang itu memang sedang membicarakannya.
“Tapi gossip tentang dia katanya bohong ya? Ada yang bilang kemarin, kalo gossip tentang dia yang lagi rame di omongin itu udah terbukti salah,”
“Siapa yang bilang?”
“Aku denger dari anak kelas sebelah kemarin. Dia katanya anak baik-baik kok!”
“Oh ya?”
Pembicaraan itu terus berlanjut dan Gianna bisa mendengar semuanya. Entahlah, sebenarnya pendengaran Gianna yang terlalu tajam, atau memang mereka yang tak bisa mengontrol volume suaranya?
Gianna menarik dan mengeluarkan nafasnya berulang kalki berusaha untuk tenang.
‘It’s okay. Lo ngga papa. Mereka sekarang cuma mempertanyakan kok. Kalo nanti mereka mulai menghakimi lo, langsung pergi aja dari sini,’ batinnya pada diri sendiri.
Gianna kini mendongak dan kembali memperhatikan ke depan. Ia berusaha fokus agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan olehnya.
“Ah, hai! Boleh minta waktu lo sebentar?”
Tiba-tiba saja orang yang percakapannya terdengar oleh Gianna kini menghampirinya.
Gianna yang sedang berusaha fokus seketika terkejut dan langsung menoleh, tubuhnya sedikit tersentak. Dua orang gadis yang terlihat seumuran dengannya kini sudah berdiri di hadapannya.
“Y-ya … bisa,” seketika Gianna gugup. Tangannya berkeringat dan tubuhnya sedikit bergetar. Entah mengapa ia merasa sedikit takut. Ini pertama kalinya ia di hampiri dan di ajak bicara oleh orang yang sudah membicarakannya.
“Kita ngobrol di luar aja lo mau ngga? Di sini takut kedengeran orang lain,” ajaknya membuat Gianna kembali kaget.
“Keluar? Kemana?” tanya Gianna.
“Ah ngga perlu kemana-mana, cuma di depan aula ini aja cukup kok, yang penting ngga di sini, soalnya rame,” kata temannya membuat Gianna sedikit tenang. Sepertinya ia mengetahui kalau Gianna sedikit waspada terhadap mereka berdua.
“Oke,” Gianna menyanggupi jika hanya untuk bicara di hadapan aula.
“Oke,” kedua orang itu kemudian memberi isyarat tubuh pada Gianna agar mereka berjalan bersama.
Begitu di luar.
“Gue yakin, lo pasti udah ngga asing sama omongan yang lagi nimpah lo selama ini, tapi gue ngga terlalu yakin sama semua itu, jadi, demi menjawab semua gossip itu, boleh gue tanya sama lo? Pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala gue?” ujar gadis yang sebelumnya mengajak bicara Gianna lebih dulu dengan to the point.
Mendengar semua ucapan itu, Gianna menjadi sedikit kewalahan.
“O-oke,” Gianna segera mengangguk menyanggupinya.
“Apa bener, selama ini lo cuma mau ngobrol sama cowok? Semua orang banyak yang bilang begitu,” ucapnya mengajukan pertanyaan yang pertama.
Tak ingin salah bicara, Gianna segera menarik nafasnya dalam-dalam dan mengontrol ucapannya agar tak terjadi salah paham.
“Ngga bener,”-jawab Gianna dengan tegas. Ia kini tak peduli, apakah orang di hadapannya ini bertanya atas dasar peduli dengan kebenaran atau memang hanya ingin mengobati rasa penasarannya. Setidaknya kali ini ia ingin mencoba bicara.- “Itu ngga bener. Selama ini, sebelumnya, gue justru ngga pernah berkomunikasi sama mahasiswa ataupun mahasiswi. Karena mereka semua sibuk ngomongin gue, mana sempet gue ngobrol sama mereka?” kata Gianna menjawab jujur tanpa ragu.
“Oke, diterima. Jawaban yang logis. Selanjutnya, siapa cowok yang selalu nganterin elo selama ini? Katanya, dia cowok yang ‘ngebayar’ elo. Bener? Kalo emang dia adik lo, gimana mungkin? Karena selama ini orang-orang bilang lo anak tunggal,”
“Iya gue memang anak tunggal dan dia sepupu gue,” -jawab Gianna dengan cepat.- “Kita tinggal satu rumah. Dia masih SMA dan setiap pagi dia nganterin gue, karena gue sengaja berangkat bareng dia dari rumah,”
“Ah bener, udah gue duga, karna beberapa ada yang udah ngomong begitu, tapi masih aja banyak yang nyanggah dan bilang elo cewek ngga bener,” ujarnya menanggapi jawaban Gianna.
“Gimana bisa lo dapet semua gossip itu? Padahal kalo gue perhatiin sebelumnya, setiap kali gue ngga sengaja ngeliat elo, elo selalu diem dan ngga pernah bersosialisasi. Gimana caranya bisa punya musuh?” gadis kedua yanhg sebelumnya hanya menyimak kini ikut angkat suara.
“Oke, kalo itu … gue belum tau jawabannya. Gimana gue bisa cari masalah sama orang lain? Begitu gue jadi mahasiswa baru aja, orang-orang udah menjauh dari gue,” jawab Gianna dengan wajah yang serius.
“Ah … that’s crazy, gue ngga tau soal itu,” kata gadis pertama sedikit merasa iba menatap Gianna yang saat ini terlihat kuat meskipun baru saja mengatakan hal yang cukup berat untuk dibahas.
Gianna pun hanya bisa menanggapi dengan mengedikkan bahunya, karena ia tidak tau harus komentar apalagi.
“Oke kalo gitu, thank’s udah luangin waktu buat kita. Semoga masalah lo cepet kelar. See you,” pamit gadis pertama seraya meninggalkan senyum di akhir.
“Thank you, ya” gadis kedua ikut pamit dan tersenyum juga.
Gianna pun membalas dengan anggukan kepala dan juga ikut tersenyum. Kedua wanita itu pun kembali masuk ke dalam aula.
Sementara Gianna, begitu mereka pergi, Gianna perlahan menyingkir dari pandangan yang bisa di jangkau dari dalam aula dan menyangga tubuhnya pada tembok.
“Hahh … !” Gianna menarik nafasnya kuat-kuat. Keadaan yang baru saja di alaminya sudah membuat ia hampir menahan nafas sepanjang waktu ia bercakap-cakap.
‘Gue … gue berhasil jelasin ke mereka,’ batinnya dengan nafas yang sedikit tergesa.
‘Gue udah ngelakuin hal yang bener kan?’
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-