-*-*-*-
“Terima kasih Kenan, itu adalah presentasi yang bagus dan mudah di pahami,” puji sang MC begitu Kenan sudah turun dari panggung.
Kenan pun hanya membungkuk hormat dari depan panggung dan tak lupa memberikan senyuman. Ia kemudian menengok kesana kemari mencari keberadaan Gianna, namun tak menemukannya.
“Mm … hai, Ken? Boleh foto bareng?” tanya seorang wanita yang menghampiri Kenan dengan wajah berbinar.
“Eh? Foto?” Kenan sedikit terkejut mendapat permintaan itu, karena baru kali ini ada yang mengajaknya berfoto. Ia pun tanpa sengaja melihat ke sekitar dan mendapati beberapa wanita memandangnya seperti menunggu jawaban darinya.
‘Jangan bilang mereka yang sekarang natap gue juga bakal minta foto bareng. Gue ngga kepedean, kan?’ batinnya bertanya pada diri sendiri.
Akan tetapi karena ia perlu mencari Gianna, ia memilih untuk menolaknya. Ia takut jika ia sudah menyanggupi satu orang, nanti ia bisa tak kuasa untuk menolak yang lainnya.
“Maaf, gue ada urusan, jadi lain waktu aja ya,” tolak Kenan dengan nada halus. Ia kemudian beranjak pergi dari tempat itu, namun sesuatu membuat langkahnya berhenti.
“Apasih sok ngartis banget,” cibir seorang wanita lain yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kenan tau, itu bukan dari wanita yang mengajaknya bicara.
Kenan pun menoleh pada wanita yang mengatakan hal itu padanya kemudian tersenyum.
“Dengan lo ngomong begitu sama aja elo udah nganggep gue seorang artis,” ujarnya kemudian pergi meninggalkan sang wanita dengan mata melotot.
‘Gianna kemana sih? Seneng banget ilang …’ belum selesai Kenan membatin, ia melihat Gianna sedang duduk di bangku panjang di samping pintu aula. Tubuhnya membungkuk dan wajahnya menghadap ke lantai. Melihat coat yang di berikannya tak dipakai, Kenan beranjak mendekat dan menyampirkan coatnya ke bahu Gianna.
“Ngapai sih, elo kayaknya seneng banget sendirian,” ucap Kenan bersamaan dengan Gianna yang menoleh kaget padanya.
“Oh hai,” tiba-tiba saja Gianna menjadi kaku. Ia sepertinya sedang bingung ingin membalas Kenan seperti apa.
“Kenapa? Tadi ada sesuatu?” tanya Kenan yang menyadari sudah terjadi sesuatu pada Gianna.
“Iya … ada,” balas Gianna mengangguk.
“Mau cerita?” kata Kenan kembali bertanya dengan menatap lekat wajah Gianna.
“Iya,” kata Gianna tanpa menoleh.
Gianna kemudian menceritakan kejadian kecil yang baru saja di alaminya dan rasa dilemanya akan hal yang sudah di lakukannya. Bingung, ia sudah melakukan hal yang benar atau salah.
“Bener kok,” jawab Kenan dengan sangat yakin. Gianna pun segera menoleh dengan wajah kaget
“Beneran?” tanya Gianna dengan ekpresi wajah seperti anak kecil yang mendapati jawaban kalau orang tuanya tidak akan marah padanya.
Kenan yang tak kuasa melihat ekspresi Gianna seketika mengusap puncak kepala Gianna.
“Iya, Ji. Lo keren, lo berhasil ngucapin apa yang udah mengganjal hati lo selama ini, lo ngga salah,” kata Kenan tersenyum manis membuat Gianna menjadi tenang hatinya.
“Oke,” Gianna ikut tersenyum senang karena Kenan setuju dengan apa yang sudah dilakukannya.
“Oh, ya, menurut lo hasil foto gue gimana?” tanya Kenan mengalihkan pembicaraan.
“Ah, iya, keren. Hasilnya jadi cantik. Gue ngga nyangka kalo lo bisa motret se keren itu, padahal waktu itu gue cuma main-main ngga jelas,” kata Gianna memuji kejelian Kenan yang bisa memotret momen dengan tepat.
“Ngga Ji, kemampuan gue cuma pendukung, sebenernya elo yang berbakat, elo berbakat jadi model karna setiap gerakan yang lo lakuin itu keliatan indah,” balas Kenan balik memuji Gianna dan membuat yang di puji merona pipinya.
“Udah berapa kali lo ngomong gitu hah?” demi menutupi salah tingkahnya, Gianna memukul bahu Kenan seperti biasanya dan seperti saat di perpustakaan saat itu, Kenan menangkap tangan Gianna sehingga Gianna tak berhasil memukul Kenan.
“Jangan sedih lagi kayak pertama kali gue ketemu sama lo ya, gue lebih suka sikap lo yang sekarang,” kata Kenan dengan tatapan yang dalam pada kedua manik hitam milik Gianna.
Sementara Gianna yang di tatap begitu, ia kembali merasakan debaran aneh di dalam dadanya.
‘Jantung gue begini lagi. Pony, jantungku kenapa? Ini udah yang kedua kalinya jantungku jadi aneh dan itu karna Kenan semua,’ tak bisa menjawab, Gianna hanya bisa terdiam dan balas menatap Kenan tanpa berkedip.
*
“Hey, presentasi gue tadi gimana menurut lo? Keren kan?” tanya Ravindra pada Aghata. Ia baru saja selesai mempresentasikan hasil pemotretannya di panggung.
Aghata mengedikkan bahunya.
“Mm yah … not bad gue baru tau kalo lo berbakat,” katanya mengakui keindahan foto yang sudah di dapatkan Ravindra setelah ia berusaha keras kemarin sore.
“Makanya jangan ngeremehin gue,”Ravindra menyilangkan kedua tangannya di depan d**a dan sedikit menyombongkan diri.
Sementara Aghata segera merotasikan kedua matanya.
“Kalo gitu gue pergi dulu,” pamit Aghata berbalik meninggalkan Ravindra. Ia datang hanya untuk menghargai Ravindra yang melakukan presentasi foto yang menjadikan ia sebagai modelnya.
“Oke! Thank’s udah dateng,” kata Ravindra seraya melambaikan tangannya meskipun Aghata tak bisa melihatnya karna ia sudah berjalan meninggalkannya.
Aghata pun terus melangkah keluar tanpa memperdulikan ucapan Ravindra yang ia pun tak terlalu jelas mendengarnya.
‘Padahal gue maunya sama Kenan,’ batin Aghata sedikit membuang nafasnya yang terasa sedikit berat.
FLASHBACK ON
“Ayo jadi modelku!” kata Ravindra di pelataran parkir yang sedang sepi dan hanya ada ia, Aghata dan beberapa mahasiswa yang bisa dihitung dengan jari.
Mendengar itu Aghata mengernyitkan kedua alisnya heran.
“Apasih, ngga mau!” kata Aghata menolak mentah-mentah. Karena dia adalah Ravindra yang statusnya adalah teman dekat Kenan. Ia tidak ingin orang yang mengenal dirinya menyangka ia sangat putus asa mendapat penolakan dari Kenan sehingga mau tidak mau ia memilih Ravindra sebagai aternatif lain.
“Foto aja sama gue. Buktiin ke Kenan, kalo elo juga bisa berpose dengan baik,” ujar Ravindra.
Entah mengapa, ucapan itu membuat Aghata goyah dan pada akhirnnya ia menyanggupi.
FLASHBACK OFF
“Gue berhasil nunjukin hal itu ke Kenan sih, dia pun ngeliat foto gue di pameran tadi,” gumam Aghata mengingat kembali saat ia melihat Kenan dan Gianna sedang berada di aula pameran satu dan mereka sedang menatap fotonya.
Namun Aghata kemudian tertunduk. Ia sangat paham saat melihat ekpresi Kenan terhadap fotonya. Kenan sama sekali tidak tertarik.
“Ah … memang percuma rasanya kalo berhadapan sama orang yang bener-bener ngga tertarik … ,”
Aghata mendongak untuk melihat ke depan agar tidak menabrak orang, namun yang terjadi justru ia mendapat pemandangan yang membuat ia berharap agar ia di tabrak orang dan jatuh saja.
Ia melihatnya. Aghata melihat Kenan dan Gianna saling bertatapan dalam diam dan yang paling menyakitkan adalah ia melihat senyuman di wajah Kenan yang menatap Gianna.
‘Kenapa? Kenapa Kenan ngga pernah sekalipun senyum begitu ke gue!?’ batinnya berseru protes atas ketidak adilan dan rasa cemburu yang selalu saja menimpanya.
‘Sebenernya lo siapa sih?! Kenapa lo selalu ada di kehidupan gue dan ngerusak semuanya?!’ batinnya tertuju pada Gianna yang menurutnya selalu merebut laki-laki yang di sukainya.
Tak ingin terbakar lebih jauh, Aghata memilih pergi dari sana dan meninggalkan dua orang yang berhasil menyakiti hati Aghata tanpa mereka sadari.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-