Kejutan?

1234 Kata
-*-*-*- Gianna terdiam menatap kemeja Kenan yang ia letakkan di atas meja. Ia baru saja selesai menyetrikanya karena ia ingin segera mengembalikannya pada Kenan.   Banyak yang timbul di kepalanya sejak percakapannya dengan Kenan di kampus siang tadi. Mulai dari jantungnya yang berdetak aneh sampai alasan mengapa Kenan bersikap sebaik itu kepadanya. Gianna mempertanyakan semua itu dan berusaha mencari jawabannya sendiri.   ‘Kenapa dia begitu ke gue ya? Kalo suka … kayaknya ngga sih,’ Gianna segera menggelengkan kepalanya menyanggah jawabannya sendiri.   ‘Kita baru kenal, mana mungkin secepat itu dia suka sama gue,’   ‘Terus apa?’   Percakapan batin Gianna terhenti dan berganti menjadi pergelutan dari segala kemungkinan yang bisa di pikirkannya. Ia ingin tau, apa alasan Kenan sebaik itu padanya.   ‘Apa karna dia pengen gue jadi model dia untuk waktu lama? Makanya dia baik-baikin gue?’   “Hmm … ngga,” Gianna segera menggeleng.   ‘Kalo emang begitu, dia bakal iming-imingi gue pake uang,’ batinnya berspekulasi.   ‘Terus apa?’ Gianna masih tak terpikirkan jawaban yang tepat sasaran.   Gianna terus berfikir namun pada akhirnya ia justru ketiduran karena keadaan memang sudah hampir tengah malam.   * * *   Gianna kini di dalam mobil Geno menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan kemarin malam dimana ia bisa sampai ketiduran.   Menyadari Gianna banyak diam sejak keluar dari kamarnya membuat Geno sedikit mengerutkan dahi.   ‘Ni bocah kenapa lagi sih? Ada masalah kah? Tapi kayaknya ngga, sih. Muka dia lebih ke penasaran dari pada sedih ataupun setres,’ batin Geno yang sesekali melirik Gianna yang masih menatap keluar jendela.   Tepat saat lampu merah, Geno berhenti dan menoleh pada Gianna. “Elo kenapa lagi? Cerita!” ujar Geno membuat Gianna sedikit tersentak.   “Si anj*r! Ngga usah ngagetin!” bentak Gianna dengan mata mendelik kesal.   “Lagian elo, dari bangun tidur kek ngga ada nyawa gitu, awas aja ya kalo elo kesurupan, gue tinggal disini pokoknya,” ancam Geno membuat Gianna seketika memicing sinis.   “Cuma elo, sepupu yang tega begitu sama gue,” cibir Gianna seraya membuang muka lagi keluar jendela.   “Kayaknya ngga cuma gue,” -Geno menjeda sejenak ucapannya dan mulai menjalankan kembali mobilnya karena lampu sudah hijau.- “Bukannya ada satu lagi sepupu yang ngga lo sukain?”   “Kayaknya lo juga ngga suka sama Austine deh, ngga cuma gue,” balas Gianna mengingat ada satu sepupu yang mereka sama-sama tak suka dengan kelakuannya.   “Hahaha, tapikan emang cuma dia yang lo ngga suka, gue ada satu lagi sepupu yang sering bikin gue kesel,” ungkap Geno tak terlalu membuat Gianna penasaran, karena ia sepertinya tau siapa yang dimaksud oleh Geno.   “Hmm … ,” tak ingin menanggapi lebih lanjut, Gianna hanya menanggapi se dapatnya saja.   “Mau tau ngga orangnya siapa?” tanya Geno mulai memasang wajah menyebalkan dan Gianna tau kemana tujuan dari obrolan ini.   “Hmm ya … siapa?” tanya Gianna dengan nada yang sangat datar dan malas.   “Lesu banget elah, yang antusias dong!” kata Geno mulai kesal dan membuat Gianna merotasikan matanya. Ia juga mulai kesal sekarang.   Gianna pun menoleh dan memasang senyuman paling tidak ikhlasnya. “Iya, Geno, siapa ya? Gue penasaran,” ucapnya dengan nada yang di buat-buat.   Melihat itu Geno mendelik dan perlahan merapatkan tubuhnya ke pintu mobil. “Sumpah gue jijik kalo elo begitu,” ucapnya membuat Gianna seketika marah dan menncubit bahu Geno.   “Akh! Sakit gilaa! Gue lagi nyetir!” pekik Geno berusaha menyingkir dari cubitan Gianna namun Gianna belum puas dan masih tidak mau melepaskannya.   “Emang cowok kampr*t lo ya! Ngga usah ngajak ngomong gue lagi!” bentak Gianna kesal seraya memasang earphone di kedua telinganya dan menatap keluar jendela agar tak melihat Geno.   *   Sesampainya di kampus. “Have a nice day, Anna!” teriak Geno dari dalam mobil begitu Gianna memasuki kampusnya. Namun Gianna hanya menengok dan melirik sinis. Sepertinya ia masih kesal.   Sedangkan Geno, ia tertawa puas di dalam mobil dan kini melajukannya menuju sekolah.   *   Gianna melangkahkan kakinya dengan santai menuju kelasnya pagi ini. Akan tetapi ia sedikit terkejut saat memasuki kelasnya karena dosen mata kuliahnya sudah ada di tempat duduknya. ‘Gue terlambat?’ batinnya.   Padahal jelas sekali ia sudah memastikan kalau ia sudah sampai dua puluh menit sebelum waktu yang yang di jadwalkan, saat berjalan ke kelasnya dari gerbang kampus. “Maaf pak, saya terlambat,” ucap Gianna seraya membungkukkan tubuhnya bermaksud hormat dan minta maaf. Sepertinya ia yang tidak melihat group kelas sampai ketinggalan informasi.   “Ah, santai! Kamu tidak terlambat kok. Saya kebetulan sudah di kampus sejak jam 6, jadi saya ke kelas lebih awal. Masih ada waktu 10 menit kok,” ujar sang dosen membuat Gianna seketika bernafas lega. Ia kira, dia yang sudah terlambat.   “Oh baik pak kalau begitu. Saya izin duduk,” kata Gianna meminta izin.   “Ya ya, silahkan duduk,” ujarnya mempersilahkan.   Gianna pun memilih duduk di bangku belakang, meskipun banyak bangku yang masih kosong termasuk di barisan depan. Belum terlalu banyak mahasiswa yang datang, sehingga hanya beberapa kursi yang terisi.   Sejenak setelah beberapa saat Gianna duduk dan mempersiapkan buku catatannya, dosen itu kembali memanggilnya. “Dirandra, kemari sebentar!” perintahnya tiba-tiba di tengah keheningan kelas.   Tak merasa ada yang salah, Gianna segera maju sesuai perintah. “Ya pak?” katanya.   “Bisa tolong kamu ambilkan beberapa lembar koyo di klinik? Kalau kosong, tolong belikan! Punggung saya rasanya pegal sekali,” perintahnya seraya menyerahkan uang sepuluh ribu beberapa lembar.   “Ah, baik pak,” Gianna menerima uang itu dan beranjak pergi dari kelasnya.   Ini bukan pertama kalinya dosen itu meminta di belikan koyo, beberapa minggu lalu, ia juga melakukannya pada mahasiswa lain. Sepertinya mahasiswa di kelas Gianna termasuk dirinya memakluminya karena beliau sudah berkepala lima. Hal itu menjadi suatu yang wajar jika beliau sering merasa pegal.   Karena ia tau dosennya adalah orang yang cukup santai, Gianna memutuskan untuk berjalan dengan santai menuju klinik yang ada di lantai dasar, sementara kelasnya berada di lantai dua.   Begitu sampai, kebetulan ada seorang laki-laki yang akan memasuki klinik, namun Gianna tidak mengenalnya.   Meskipun Gianna tidak mengenalnya, sepertinya orang itu mengenalinya. Ia pun menyapa Gianna lebih dulu. “Hai! Kamu Gianna kan?” sapanya begitu renyah.   Tunggu! Gianna merasa tidak asing dengan suara itu. Ia pun mendongak dan mendapati kalau dia adalah MC yang membawa acara kemarin.   Mulut Gianna terbuka kaget. Ia tiba-tiba saja merasa sedikit tak enak sudah mengabaikannya tadi. “Ha-hai kak! Iya saya Gianna,” jawab Gianna sedikit gelagapan.   “Hahaha … kenalan ya? Nama gue Christo! Christo Geraldo,” katanya dengan senyuman ramah seraya mengulurkan tangannya.   “Saya Gianna kak, Gianna Dirandra,” balas Gianna seraya membalas uluran tangan Christo.   “Yaelah kaku banget pake ‘saya’. Gue bukan dosen, santai aja pake ‘lo-gue’!” ujarnya melepas jabatan tangan Gianna dan memasukan tangannya kedalam saku celana.   “Oke deh kak, hahaha,” ucap Gianna sedikit kaku dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.   “Perlu ambil sesuatu ya, ayo masuk!” ajak Christo yang langsung di balas anggukan oleh Gianna.   Akan tetapi baru saja membuka pintu, mereka berdua langsung mendapat pemandangan yang cukup mengejutkan.   Sepasang mahasiswa terlihat sedang berciuman dan sepertinya sang laki-laki sedang meraba atau bahkan mungkin sedang memainkan d**a si wanita sampai pakaian sang wanita tersingkap kebelakang dengan kancingnya yang terbuka.   Gianna dan Christo seketika melebarkan matanya otomatis mereka memundurkan tubuhnya dan menutup pintu tanpa bersuara.   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN