Mungkin itu Alasannya?

1099 Kata
-*-*-*-   Gianna dan Christo terlihat syok dan mencoba untuk bernafas teratur dan menenangkan jantung yang tiba-tiba saja harus berdebar dengan kencang.   Sejenak mereka diam, kemudian saling menoleh mata mereka pun bertemu. “Emm-” tanpa sadar, karena sama-sama canggung mereka sama-sama bicara di waktu yang bersamaan.   “Kaka- eh, lo dulu kak,” kata Gianna mempersilahkan sedikit tersenyum canggung.   “O-oke, gini, mau … keluar aja?” kata Christo menyarankan. Gianna yang tak ingin sesuatu terjadi seketika menyanggupinya dengan semangat.   “Iya!” jawabnya dengan anggukan yang cukup kuat.   Christo balas mengangguk dan berjalan lebih dulu disusul Gianna di belakang.   Mereka terus berjalan dalam diam dan tepat saat mereka sudah di luar gedung, Christo memulai percakapan lebih dulu. “Kaget ya?” ucap Christo dengan senyum canggung yang memperlihatkan giginya.   “Eh? Haha, jelas kak,” jawab Gianna tak kalah canggung. Kepalanya bahkan masih di penuhi dengan pemandangan mengejutkan di klinik tadi.   “Gue udah biasa kalo liat mahasiswa mesra-mesra’an di halaman belakang atau mungkin di taman yang sepi. Tapi baru kali ini gue liat di dalem uks,” tutur Christo sedikit terkekeh.   “Gue malah baru ini liat mahasiswa pacaran kak,” balas Gianna jujur.   “Wajar, soalnya mereka sering sembunyi-sembunyi dan mereka ngelakuin itu disaat sepi,” kata Christo mengingat pasangan yang di temukannya itu adalah teman-teman angkatannya sendiri.   Gianna terdiam, ia justru teringat dengan dirinya sendiri yang beberapa kali sempat hanya berdua dengan Kenan di tempat yang sepi. Meskipun mereka tidak berpacaran dan tidak melakukan apa-apa, entah mengapa ia justru menjadi lebih kepikiran akan hal itu.   Apakah selama ini ada yang memergoki mereka tanpa mereka sadari dan menyangka mereka adalah orang yang berpacaran?   Gianna segera menggeleng dan menyangkal pemikirannya sendiri.   ‘Ngga dan jangan sampe,’ batinnya. Ia tidak ingin pemikirannya itu justru membawa masalah baru, mengingat sebagian besar masalahnya ada hubungannya dengan laki-laki.   *   “Thank’s ya udah temenin ke toko,” kata Christo tersenyum cerah begitu mereka memasuki gedung sehabis membeli keperluan mereka.   “Ya kak,” Gianna mengangguk dan terus berjalan meninggalkan Christo karena arah mereka berbeda.   Gianna terus berjalan dan setelah beberapa saat, ia kemudian sampai di kelasnya. Ia menyerahkan koyo pesanan dosennya dan juga kembaliannya. Entah mengapa sejak percakapannya dengan Christo mengenai ia yang sudah biasa melihat orang berdua’an membuat Gianna sedikit kepikiran.   Pertanyaannya tentang sikap Kenan saja belum terjawab, tetapi kini ia harus mendapat tambahan pikiran lagi.   Akibat melamun, Gianna terkejut ketika ponsel pintarnya bergetar di samping buku catatannya. Gianna melihat kalau pesan yang masuk adalah dari Tatiana. Gianna terdiam melihat pesan yang masuk itu, entah mengapa ia tiba-tiba saja terpikir sesuatu.   ‘Kalo di pikir-pikir ... Anna bilang dia pernah jadi korban bully. Orang yang nolong dia saat itu Kenan,’ Gianna seketika merenung dan mengumpulkan ingatan-ingatan yang ada di kepalanya selama ia bersama Kenan dan Tatianna.   “Apa mungkin … ,” baru saja Gianna bergumam, dosennya tiba-tiba saja memanggil salah satu mahasiswa dan membuat Gianna tersadar dari lamunannya.   ‘Ah … pikirin nanti,’ Gianna segera menggelang kepalanya kuat-kuat agar berhenti melamun dan tak lupa membalas pesan dari Tatiana.   Setelah beberapa waktu yang terlewat, mata kuliah jam itu akhirnya selesai. Semua mahasiswa pun bersiap keluar untuk pulang atau ikut kelas lainnya.   Rupanya isi pesan Tatiana adalah mengajaknya pergi ke toko pakaian setelah mata kuliahnya selesai, Tatianna ingin meminta beberapa pendapat dari Gianna untuk tugas jurusannya.   Gianna menyanggupi hal itu, karena rasanya akan sedikit membosankan jika ia pulang lebih awal, karena kebetulan hari ini mata kuliahnya hanya satu dan waktu masih kurang dari jam sembilan.   Karena mata kuliah Tatiana selesai sekitar dua sampai tiga jam dari sekarang, Gianna memutuskan untuk menunggunya di perpustakaan dan menghabiskannya dengan membaca buku.   Gianna keluar dari ruang kelas dan menuju ke perpustakaan.   Sesampainya di perpustakaan, seperti biasa, ia akan mengambil buku dan membacanya dengan duduk di lantai. Ntah sejak kapan hal itu menjadi kebiasaannya.   Hanya sampai lima menit, atau bahkan kurang, Gianna kemudian berhenti membaca bukunya. Bukunya ia turunkan dan matanya menatap kosong ke depan. ‘Apa mungkin … Kenan baik sama gue karna dia ngga mau terjadi hal sama dengan orang-orang yang dia kenal?’ batinnya kembali memikirkan pertanyaan yang sempat tertunda.   ‘Tapi karna kasus gue udah sampe tahap bully yang ngebuat gue hampir setres, bisa jadi dia lakuin itu buat nolongin gue,’ pikir Gianna kembali berasumsi.   “Ah yayaya … ,” Gianna bergumam mengangguk-angguk sendiri.   ‘Jadi semua sikap baik dia ... buat nolongin gue?’ Gianna kembali bertanya pada dirinya sendiri.   Sejenak tak ada reaksi dari wajah Gianna dan pandangannya masih kosong. Namun tak lama setelah itu, ‘Baik banget. Segitu nya dia nolongin gue yang bahkan cuma nyanggupin diri buat jadi model,’ ujar batinnya memuji Kenan yang telah membantunya beberapa waktu kebelakang.   ‘Tapi soal jantung gue yang ngga normal …’   “Cekrik!”   Suara yang sudah begitu akrab di telinga Gianna entah mengapa kali ini sedikit mengejutkannya. Ia merasa seperti sedang tertangkap basah saat sedang membicarakan orang lain-meskipun memang benar walaupun ia bicara seorang diri.   Gianna menoleh dan mendapati Kenan-tentu saja-sedang berjongkok memotretnya. Bahkan ia sempat memotret Gianna lagi saat ia menoleh pada Kenan.   “Hobi banget kayaknya duduk di sini,” -kata Kenan seraya menghampiri Gianna.- “Baca apa?” tanya Kenan.   Akan tetapi yang diajak bicara justru terdiam menatap wajah yang kini matanya fokus menatap buku yang sedang di pegang oleh Gianna.   “Tapi sekarang jantung gue normal,”   Tanpa sadar, Gianna mengatakan itu secara langsung dari mulutnya.   Mendengar itu, Kenan mendongak dengan wajah bertanya. “Hm?” katanya seraya balas menatap kedua mata Gianna.   “Apa?” Gianna yang tak tau kalau ia baru saja mengutarakan isi pikirannya tak mengerti apa maksud Kenan.   “Kok apa? Tadi elo bilang jantung lo normal, maksudnya gimana? Lo ngga sakit kan?” tanya Kenan membuat Gianna semakin bingung.   “Kapan gue bil-” Gianna tersadar dan matanya seketika melebar. Dengan polosnya, ia justru menuduh Kenan.- “Lo … lo bisa denger pikiran gue?” kata Gianna dengan wajah yang sedikit terkejut.   Kenan seketika terkekeh melihat tingkah Gianna. “Ngga hey! Tadi lo sendiri yang bilang. Lo bilang jantung lo normal, emang biasanya gimana?” kata Kenan dengan senyuman menahan gemas.   “Hahhh … ,” Gianna menarik nafasnya dan menutup mulut dengan kedua tangannya.   ‘Sialaan, tapi untung aja dia ngga dateng dari awal,’ ujar Gianna namun kali ini benar-benar dari dalam batinnya.   “Lo kenapa sih?” Kenan semakin gemas dan langsung mengacak-acak rambut Gianna.   “Ngga. Gue ngga papa, tadi gue cuma ngomong sendiri,” Gianna hanya bisa mengelak dan membuang mukanya menahan malu seorang diri.   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN