Dia Kenapa?

1011 Kata
 -*-*-*- “Ah ya,” -Gianna teringat kemeja Kenan yang sudah ia bawa di dalam paper bag. Ia kemudian memberikannya pada Kenan.- “Kemeja elo,” kata Gianna.   “Oh, thank’s,” kata Kenan menerima kemejanya.   “Btw, ngapain lo ke sini?” tanya Gianna heran. Entah mengapa setiap ia sendirian, Kenan selalu tau di mana keberadaannya.   “Kebetulan lewat aja sih, terus gue mikir apa mungkin elo di dalem dan kebetulan ternyata lo beneran ada,” jawab Kenan.   ‘Apa gue tanya aja ya?’ batin Gianna kembali menatap ke depan, tepatnya menatap rak buku.   “Lo sendiri ngapain disini?” -kata Kenan ikut bertanya.- “Menyendiri lagi?” lanjutnya membuat Gianna langsung menoleh.   “Ngga!” jawabnya sedikit sewot dengan wajah merengut.   “Hahaha, santai. Gue cuma bercanda, terus apa alasannya?” Kenan masih bertahan pada pertanyaannya.   “Nunggu Anna,” kata Gianna seraya membuka kembali bukunya yang sempat ia abaikan.   “Apa tiap di perpus lo selalu baca buku begini?” tanya Kenan ikut membaca buku yang di pegang Gianna.   “Kadang-kadang,” sahut Gianna mulai fokus membaca buku yang rupanya merupakan sebuah novel ringan bergenre romantis. Kenan pun tanpa sadar ikut membaca meskipun ia belum membacanya dari awal. Sementara Gianna ia hanya membiarkan Kenan dan tetap fokus membaca.   Semenit … dua menit … . Kenan dan Gianna masih bisa duduk dengan tegak membaca lembar demi lembar buku yang satu persatu di buka oleh Gianna.   Namun begitu sepuluh menit hampir berlalu, tanpa sadar kepala Kenan jatuh dan bersandar pada bahu Gianna.   Puk!   Secara alami Kenan bersandar tanpa ragu. Ia terlihat biasa saja namun tidak dengan Gianna. ‘Dia … ngapain ... ,’ batin Gianna yang syok dengan perbuatan tiba-tiba yang dilakukan Kenan.   Gianna mencoba bersikap biasa saja, matanya tetap membaca dan tangannya terus membuka lembar demi lembar, tetapi isi kepalanya tentu saja tidak begitu.   ‘Maksud dia apa, sandaran begini?!’ batin Gianna hampir berteriak.   “Lo … lo ngapain?” ucap Gianna spontan mengeluarkan isi pikirannya.   “Baca buku,” kata laki-laki itu dengan santainya dan tetap lanjut membaca.   “Iya gue tau, tapi kepala lo … ,” Gianna sedikit bingung dan tak tau harus berkata apa lagi. Akan tetapi yang di tangkap Kenan justru hal lain.   “Pegel? Sandaran aja!” sahut Kenan dengan entengnya.   “Bukan gitu-” belum selesai Gianna bicara, Kenan menarik kepala Gianna agar bersandar pada puncak kepalanya.   “Kalo gini kan sama-sama enak, ngga pegel kan?” ujar Kenan membuat Gianna mengernyitkan kedua alisnya.   ‘Anak ini ... ,’ karena merasa sedikit kesal, Gianna menjitak kening Kenan yang tak ditutupi rambut poni.   “Akh!” -Kenan seketika memekik akibat pukulan Gianna yang cukup kuat.   “Pegang sendiri nih,” sewotnya sembari menyerahkan buku kepada Kenan. Sepertinya Kenan sangat penasaran dengan buku romantis ringan itu, sehingga saat Gianna meminta begitu Kenan menurut saja dan lanjut membaca.   ‘Sia-sia gue tanya dia, nanti gue cari tau sendiri,’ batin Gianna tak ingin ambil pusing dan memilih untuk lanjut membaca.   *   Beberapa waktu berlalu dan buku yang di baca akhirnya mencapai halaman terakhir. Kenan tersenyum setelah membaca kalimat paling akhir.   “Novelnya bagus Ji, gue baru tau kalo ada novel sebagus ini di perpus,” -ucap Kenan seraya meletakkan buku yang sudah habis di bacanya itu di atas pahanya. Beberapa detik berlalu, namun tak ada jawaban dari Gianna.- “Ji?” panggil Kenan karena Gianna tak mengomentari ucapannya, namun masih tak ada jawaban.   Kenan pun tersadar kalau saat ini nafas Gianna begitu teratur dan pada akhirnya ia mengetahui kalau Gianna tertidur.   “Astaga dia gampang banget tidurnya,” gumam Kenan sedikit terkekeh.   Perlahan, ia mencoba merubah posisi, dengan hati-hati, tangannya mengangkat kepala Gianna dan ia menegakkan kepalanya sendiri. Ia kemudian perlahan-lahan menyandarkan kepala Gianna pada bahunya.   “Yaudah gue lanjut baca yang lain,” kata Kenan hampir seperti berbisik seraya meraih buku lain yang sudah di ambil Gianna dan mulai membacanya.   Akan tetapi belum selesai satu lembar ia baca, ia tersadar kalau Gianna punya janji dengan Tatiana. Ia pun mengambil smartphonenya dari dalam saku celana dan menghubungi Tatiana via chat.   Kenan -Tia, -Kalo nyari Gianna, dia ada di perpus.   Usai mengirim pesan, Kenan kembali menyimpan ponsel pintarnya dan lanjut untuk membaca buku.   *   Tatiana yang masih di dalam kelas sedikit terkejut dengan pesan yang tiba-tiba saja masuk. Namun begitu melihat siapa yang menghubungi, seketika Tatiana naik darah hanya dengan mengetahui ia mendapat pesan dari saudara kembarnya.   ‘Apalagi si dia ini,’ batin Tatiana kesal, namun tetap membuka dan membaca dengan seksama.   Selesai membaca, kening Tatiana seketika terlipat dan menatap heran isi pesan Kenan. “Tau darimana dia?” gumamnya heran.   ‘Apa dia sekarang lagi sama Jian? Ngapain?’ batin Tatiana sedikit bingung.   Ia tau, beberapa hari sebelumnya Kenan selalu mendekati Gianna karena ingin membuat Gianna berhenti bersedih dan diam saja setiap kali ada omongan buruk tentangnya.   “Waktu itu karna mau nyelametin, setelah itu dia lakuin itu karna cocok dan pengen Jianjadi modelnya, sekarang? Pameran juga udah selesai, tapi kenapa Kenan masih sama Jian?”gumam Tatiana penuh dengan pertanyaan.   *   Begitu mata kuliahnya selesai, Tatiana segera menuju ke lantai bawah tempat dimana perpustakaan berada.   Setelah menuruni tangga dan melewati lorong, Tatiana akhirnya sampai di perpustakaan dan tentu saja ia melihat Kenan dan Gianna yang kini sedang duduk di lantai.   Ia pun melihat Gianna yang saat ini menyandarkan kepalanya pada bahu Kenan. Melihat itu, Tatiana terdiam. Entah mengapa ia menjadi bingung dan tidak tau harus bicara apa.   Sampai pada akhirnya ia justru kikuk saat Kenan menyadari keberadaannya dan menoleh. Tatiana pun sedikit mendekat dan bicara. “Bilang sama Jian, kalo nanti ngga jadi pergi. Gue harus pergi sendiri ke tempat lain,”   Mendengar itu Kenan sedikit heran dan ingin tau kenapa Tatiana membatalkannya, “Kenapa?” katanya.   “Ada perlu yang ngeharusin gue pergi sendiri,” ujar Tatiana seraya mengambil langkah menjauh dan keluar dari perpustakaan.   “Kenapa sih,” -ujar Kenan semakin heran.- “Dahlah,” Kenan memilih tidak terlalu peduli dan lanjut membaca bukunya bersama Gianna yang tertidur.   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN