Apa Dia Suka Padaku?

843 Kata
-*-*-*-    “Kenapa sih,” -ujar Kenan semakin heran. Kenan pun memilih tidak terlalu peduli dan lanjut membaca bukunya bersama Gianna yang tertidur. Sebenarnya dua jam sudah berlalu dan Gianna masih belum terbangun. Dua jam yang telah di lewati Kenan itu membuat bahunya mulai tidak berasa. ‘Dia semalem begadang atau gimana sebenernya,’ batin Kenan melihat Gianna yang tertidur dan terlihat begitu pulas. Karena tak tega, Kenan membiarkan Gianna sampai ia terbangun sendiri nantinya. Sembari menunggu, Kenan lanjut membaca novel yang belum habis. * Kedua kelopak mata yang tertutup itu perlahan terbuka. Matanya melihat sekeliling dan ia tersadar kalau lehernya sekarang terasa kaku dan sedikit sakit. “Ah … ,” desisnya mengeryitkan kedua alis sampai matanya tertutup. “Udah bangun Ji?” Suara yang tepat berada disebelah telinga Gianna membuatnya spontan melebarkan mata dan duduk tegak. Namun perbuatannya itu justru membuat lehernya menegang karena bergerak terlalu tiba-tiba. Gianna seketika memekik. “Akh!” Gianna memegangi lehernya yang kini terasa lebih sakit dibanding sebelumnya.  “Lo ngapain sih … ?” -Kenan mendengus, heran dengan tingkah Gianna. Ia kemudian berpindah ke hadapan Gianna sembari menangkup sisi kanan dan kiri kepala Gianna.-   “Mana yang sakit?” katanya menatap Gianna.   “Sini!” Gianna menunjuk leher sisi kanannya dan tak berani bergerak.  “Coba sekarang pelan-pelan miringin kepala lo ke kiri,” kata Kenan. Gianna menurut, ia perlahan memiringkan kepalanya di tuntun tangan Kenan yang mendorongnya perlahan.  “Sekarang tunggu sebentar!” ujar Kenan sembari menahan kepala Gianna agar tidak buru-buru kembali tegak. Setelah beberapa detik, Kenan mulai menuntun kepala Gianna untuk kembali tegak.  “Sekarang coba regangin leher lo. Entah ke depan-ke belakang kanan-kiri atas-bawah. Pokoknya terserah lo,” Gianna kembali menurut, ia melakukan peregangan pada lehernya sesuai perintah Kenan. Setelah beberapa rangkaian pemanasan, leher Gianna kini sudah membaik. “Gimana? Udah mendingan?” tanya Kenan begitu wajah Gianna sudah terlihat lebih lega.     “Mm … ,” -Gianna mencoba memiringkan kepala kesana kemari dan sepertinya sudah benar-benar hilang rasa sakit di lehernya.- “Udah,” katanya mengangguk-angguk. “Lagian lo kenapa sih? Kok pecicilan banget?” tanya Kenan penasaran. Entah sudah yang keberapa kalinya Gianna bertingkah seperti ini-sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri.   “Gue tadi kaget,” jawab Gianna mengelak dan membuang mukanya.  “Kaget kenapa?” ucap Kenan kembali bertanya.  “Kaget denger elo yang tiba-tiba ngomong ke gue, padahal gue baru bangun,” balasnya masih membuang mukanya sementara Kenan masih menatapnya.   “Yaelah gitu aja kaget,” ejek Kenan sembari mengacak-acak rambut Gianna.   “Ngga usah acak-acak ih,” kesal Gianna seraya menyingkirkan kepalanya agar Kenan tak bisa menyentuhnya.   “Udah berantakan juga, sini gue rapihin aja deh kalo gitu,” tanpa persetujuan Gianna, Kenan menangkup wajah Gianna dan membuatnya berhadapan. Gianna yang terkejut akan hal itu seketika melebar kedua matanya. Sedangkan Kenan yang berbuat entah mengapa juga ikut terkejut dengan posisinya dan Gianna saat ini.   “Ngga usah,” tak ingin salah tingkah, Gianna menepis kedua tangan Kenan dan membuang mukanya lagi dan merapihkan rambutnya.   “O-oke,” Kenan pun tanpa sadar juga membuang mukanya. Ia tak berani menatap Gianna. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam, hingga akhirnya Gianna sadar kalau ada sesuatu yang ia lupakan.   “Anna!” ucapnya seraya menoleh pada Kenan.   “Anna? Tia maksud lo?” merasa sudah tidak salah tingkah lagi, Kenan memberanikan dirinya menatap Gianna lagi.   “Iya, gue janjian sama dia, gue tadi udah bilang kan? Dia udah nungguin pasti,” ujar Gianna mulai sibuk dan mulai membereskan buku-bukunya.   "Stop-stop," Kenan menahan tangan Gianna yang hendak membereskan buku-bukunya yang berserakan di lantai.   "Kenapa?" tanya Gianna bingung dengan Kenan yang menghentikannya.   "Ini ... gue belum selesai baca," cengir Kenan mengambil salah satu novel yang belum ia selesaikan.   "His ... kirain apa," Gianna lanjut membereskan buku-bukunya yang lain.   "Tia juga udah pergi duluan kok," ucap Kenan membuat Gianna berhenti menumpuk buku.   "Udah pergi? Dia chat elo?" tanya Gianna penasaran. Ia takut Kenan hanya mengerjainya.   "Ya, tadi dia dateng ke sini dia suruh bilang ke elo kalo dia ada perlu dan harus pergi sendirian," jelas Kenan membuat Gianna mengernyitkan dahi mendengarnya.   "Beneran?" Gianna kembali bertanya karena tak yakin.   "Iya Ji," Kenan menjawab tanpa menoleh karena kini ia justru lanjut membaca novel yang sempat ia tunda.   "Ih beneran?" Gianna semakin tak yakin karena Kenan tak menjawab dengan jelas.   "Iya Ji, bener," Kenan masih tak menoleh dan tetap membaca novelnya.   "Kalo beneran, tatap aku sekarang! Kamu bohong pasti," tantang Gianna membuat Kenan gemas. Kenan seketika meletakkan novelnya dan menoleh serta menatap mata Gianna dari dekat bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.   "Iya, Gianna Dirandra, gue-ngga-bohong," kata Kenan seraya menekankan ucapannya yang terakhir agar terdengar jelas dan pasti di telinga Gianna. Gianna diam, matanya berhenti berkedip melihat wajah Kenan yang begitu dekat dengannya.   'Kenapa sih dia selalu deket begini?' batin Gianna menatap mata Kenan yang juga menatapnya begitu dalam.   'Gue ngga bermaksud kepedean, tapi ... ,' batin Gianna kembali menyusun pertanyaan yang selalu memenuhi kepalanya.   'Apa ... dia suka sama gue?' batinnya ketika mulutnya di paksa membeku agar tidak mengucapkan sepatah kata pun.     -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN