Bagaimana Dengan Kamu?

1087 Kata
 -*-*-*-   “Hmm … ,” Gianna lagi-lagi termenung di atas kasurnya dan dengan dengan randomnya menatap pada pintu kamarnya yang di tutup.   ‘Kenan santai banget tiap kali deket-deket sama gue. Sebenernya dia santai begitu karna biasa deket sama cewek atau apa?’ ‘Masa iya dia suka sama gue? Bisa aja kan deket begitu sama gue udah biasa di kalangan cowok jaman sekarang?’   ‘Kalo di pikir-pikir …’   ‘Terakhir kali gue deket sama cowok itu sama Pony. Selain sama dia gue ngga tau cowok yang lain,’   ‘Pony emang sering skinship sama gue. Tapi kan itu karna kita udah deket dari kecil dan gue pacarnya … ,’   Gianna terlalu serius bercakap-cakap dalam pikirannya sampai ia tak sadar kalau seseorang mengetuk pintunya. Karena Gianna tak membuka pintunya, orang yang mengetuk itu membuka pintu tanpa permisi.   Rupanya ia adalah Geno. Begitu masuk, ia mendapati Gianna yang sedang melamun dan tak menyadari Geno yang tengah berdiri dengan setengah badannya masuk.   Geno mengernyitkan kedua alisnya. “Ni anak ngelamun lagi,” ucapnya.   Karena Gianna tak kunjung menotis keberadaannya, dengan begitu sopannya, ia melempar Gianna menggunakan satu bungkus Kindernyoy dan itu tepat mengenai keningnya.   Puk!   Lemparan Geno tepat sasaran mendarat di kening Gianna yang tak memakai perisai sedikitpun.   “Akh!” -Gianna memekik sekaligus tersadar dari lamunannya. Sadar yang melemparnya adalah Geno, Gianna seketika melotot dengan tatapan mengutuk pada Geno yang masih berdiri dengan santainya di ambang pintu.- “Rese banget sih lo!” bentak Gianna.   “Gue udah ketuk pintu berkali-kali, gue udah nampakin diri di depan mata lo dan elo masih juga ngga sadar kalo gue ada. Wajar dong kalo gue ngelempar lo,” elak Geno membela diri.   “Tsk!” dcih Gianna tak bisa membalas, ia memilih untuk mengalah. Sempat ia merotasikan matanya membuat Geno ingin melemparnya lagi dengan Kindernyoy miliknya. Akan tetapi, karena hanya tinggal satu, ia mengurungkan niat untuk melemparkannya pada Gianna.   “Tuh, di makan. Kindernyoy,” kata Geno mengingatkan Gianna agar tidak buru-buru membuang jajanan itu nantinya.   “Hm?” -Gianna melirik pada bungkus makanan kecil di hadapannya yang sempat tidak ia sadari kalau yang di lemparkan Geno adalah makanan.- “Lo juga ngapain lembar-lempar makanan, beg* … !” hardik Gianna kesal seraya melempar bantal miliknya pada Geno, namun Geno cepat menghindar dan menggunakan pintu agar bantal yang di lempar Gianna tidak sampai padanya.   “Salah sendiri ngelamun. Dari tadi pagi elo ngelamun begitu loh gue liat. Kerasukan, makan semen tau rasa,” cerocos Geno membuat bibir sudut kanan atas Gianna naik dan menatapnya dengan mata penuh kejijikan. Melihat respon Gianna begitu, Geno seketika meraih bantal Gianna yang jatuh ke lantai dan melemparnya pada Gianna.   Tak seperti Geno yang cekatan, Gianna tak bisa menghindari bantal dan akhirnya bantal itu mendarat di wajahnya.   Lo sebenernya ada dendam apa sih sama gue, hah?!” bentak Gianna sembari mengancam Geno dengan mengangkat bantal dan memasang kuda-kuda untuk melempar.   “Dendam karna muak liat muka lo! Elo ngeselin, sadar diri dong! Wlee!” selesai mengejek dengan menjulurkan lidahnya, Geno segera menutup pintu dan pergi ke lantai dasar.   “Emang anak s*t*n!” kesal Gianna.   Sudah pusing ia mencari jawaban perihal Kenan, Geno harus menambahkannya dengan tingkah ajaib yang selalu berhasil membuat Gianna merasa kalau dia memiliki darah tinggi.   “Tapi ngga papa, dapet jajan,” Gianna tak ingin munafik karena jujur saja ia suka coklat.   Gianna pun membongkar bungkus makanan ringan tersebut dan tepat disisi tempat meletakkan mainan, ia mendapatkan lima buah jepit rambut dengan warna yang berbeda. Warnanya cukup cantik dan tidak terlalu mencolok, bahkan cukup kalem untuk di sebut sebagai warna pastel.   “Hmm … oke, isinya bagus. Sedikit terobati rasa sakit di jidat gue,” ucap Gianna yang kemudian menyisihkan satu bungkus jepit rambut yang lumayan cantik itu ke atas nakas di samping tempat tidurnya dan tentu saja yang selanjutnya ia memakan coklatnya.   Selagi makan, otaknya tetap berjalan memikirkan pertanyaan Gianna yang belum juga terjawab.   ‘Kalo di pikir-pikir … Geno playboy kan?’ batinnya dengan mulut mengunyah.   ‘Apa gue tanya dia aja ya? Hmm, liat nanti deh,” batinnya tak ingin ambil pusing terlebih dahulu dan memilih untuk menikmati coklatnya.   *   “Hmm … ,” tak tau ingin mulai dari mana, Gianna hanya bisa bergumam saat menonton film aksi yang di putar secara online oleh Geno di tv ruang tamu.   ‘Tanya sekarang? Tanya nya gimana?’ batinya bingung sendiri.   Setelah melewati diskusi dan pertimbangan respon yang akan di munculkan oleh Geno, Gianna akhirnya menemukan jalan keluarnya setelah ia melihat adegan dari film yang ditontonnya.   “Itu cowoknya suka?” tanya Gianna berbasa-basi saat melihat salah satu tokohnya yang menunjukkan sikap ketertarikan pada tokoh perempuan.   “Iya, dia tertarik sama ceweknya yang pura-pura berani, padahal si cowok udah sering mergokin tuh cewek ketakutan di saat-saat tertentu,” jawab Geno sedikit menjelaskan.   “Hmm … ,” -Gianna diam sejenak dan berlagak kembali menyimak jalan cerita film, lalu kembali bertanya.- “Lo sendiri kalo suka sama cewek kayak gitu?” tanya Gianna dengan nada yang ia buat senatural mungkin agar Geno tidak curiga kalau pertanyaannya sebenarnya tidak berhubungan dengan film.   “Gue? Hahahaha! Ngga lah! Metode cowok ini menurut gue terlalu lambat. Gue pribadi lebih suka sat-set sat-set, tembak. Ngga perlu pake sikap sok manis pdkt begitu. Keburu tuh cewek di ambil orang kalo kayak gitu caranya,” jelas Geno menjelaskan dengan semangat.   “Ho … sat-set ya?” kata Gianna.   Geno hanya mengangguk.   “Pantes mantan lo banyak. Langsung tembak gitu ngga pake kenalan, wajar aja putus semua,” cibir Gianna yang seketika membuat Geno menoleh.   “Lo kalo cuma mau ganggu gue nonton mending pergi sekarang deh sebelum gue play film thriller horror,” ancam Geno.   “Sorrwy,” -Gianna tersenyum seperti kuda dan segera berdiri.- “Kalo gitu sekarang gue pergi aja,” kata Gianna yang perlahan melangkah meninggalkan sofa yang ia duduki dengan Geno.   “Ngga usah balik lagi!” teriak Geno yang disambut teriakan pula dari Gianna.   “Bodo amat! Gue bakal balik kalo gue udah bosen di kamar!” ujarnya membuat Geno geregetan ingin menjambak rambut paripurna milik Gianna.   “Terserah, lo, Jian!” teriak Geno tepat saat Gianna masuk kedalam kamarnya.   Begitu di dalam. ‘Kalo cara Geno begitu … Kenan beda jauh sikapnya,’   ‘Sebenernya apa si-’   Tiba-tiba saja di kepalanya muncul sebuah jawaban yang membuatnya seketika terdiam.   ‘Apa mungkin … dia anggep gue begitu?’ batinnya dengan pandangan kosong.   “Heh, jian! Nih buat lo,”   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN