Cerita saja Kepadaku

1201 Kata
 -*-*-*- “Heh, jian! Nih buat lo,” tiba-tiba saja Geno muncul di belakang Gianna dan mengejutkannya. Sontak Gianna yang tengah berfikir otomatis memukul bahunya.   “Astaga!” -pekik Gianna yang terkejut.- “Lo ngapain sih ngagetin gue mulu?!” seru Gianna dengan kedua alis yang hampir menyatu.   “Yaelah! Elonya aja yang kagetan! Nih, gue mau kasih ini. Terlalu manis buat gue, eneg,” ujar Geno tak peduli seraya menyodorkan Kindernyoy yang sudah ia makan satu bola coklatnya.   “Tsk!” -karena sudah biasa Gianna menerima makanan manis yang tak di sukai Geno, Gianna tak mau memperpanjang masalah dan langsung mengambilnya.- “Dah kan?” ujarnya dengan wajah bersungut-sungut.   “Biasa aja muka lo,” tidak puas, Geno masih sempat mencubit hidung Gianna yang terus merengut.   “Hish!” -Gianna segera menepis tangan Geno dengan memukulnya.- “Udah sana keluar!”   Gianna kemudian memaksa keluar Geno dengan mendorongnya. Begitu berhasil mengeluarkan Geno, Gianna segera menutup pintunya.   “Sampe mana tadi kan?” ujar Gianna kesal. Padahal tadi ia sudah menemukan jawabannya. Gianna kemudian duduk di depan meja belajarnya sembari memakan coklat pemberian Geno-ralat, sisaan Geno yang tidak habis.   “Hmm … ,” Gianna berputar-putar dengan kursinya, berusaha mengingat-ingat apa yang tadi sudah ia temukan.   Tak lama kemudian, ia berhenti berputar dan matanya nya menatap kosong. ‘Mungkin ngga sih, dia cuma nganggep gue sama kayak adeknya?’ batin Gianna yang telah menemukan jawabannya.   ‘Ana bilang di pernah di bully dan Kenan yang bantuin dia yang hampir jatoh depresi. Sedangkan sikap Kenan ke gue … ngga beda jauh dari semua yang di lakuin dia ke Ana,’ Gianna terus membuat spekulasi-spekulasi yang menurutnya cukup masuk akal.   “Jadi kesimpulannya … ,” -masih berdiskusi dengan diri sendiri, Gianna sempat menyuap coklat terakhir ke dalam mulutnya.- “Kesimpulannya dia cuma mau bantuin gue biar ngga jadi korban kayak adeknya, yang mengartikan kalo gue cuma di anggep adeknya,”  ujarnya membuat sebuah kesimpulan setelah beberapa waktu terus-terusan bertanya pada diri sendiri.   ‘Tunggu,’ -Gianna menjeda sejenak karena tiba-tiba menemukan sesuatu.- ‘Mereka kan kembar, gimana kalo ternyata Ana itu kakaknya?’ ‘Ah ngga penting. Tetep aja ujung-ujungnya, intinya, Kenan nganggep Ana sebagai sodaranya,’ balas Gianna sembari mengangguk-angguk.   “Oke, jadi kesimpulannya dia cuma mau bantuin gue aja. Ngga lebih,” ujar Gianna menetapkan jawabannya.   Tapi bagaimana dengan Gianna? Dia justru lupa dengan perasannya sendiri yang belum ia temukan apa jawabannya, ia bahkan tidak mempertanyakannya dan hanya bingung setiap kali jantungnya berdetak aneh saat dekat dengan Kenan.   Tapi Gianna sepertinya tak terlalu memperdulikan itu, karena itu hal yang baru pertama kali ia rasakan. Saat bersama Alvaro pun ia belum pernah merasakannya, sehingga hal ini benar-benar awal baginya atau singkatnya, masa puber Gianna baru saja datang.   “Hmm … besok jadwalnya … ,” Gianna melihat jadwalnya untuk memastikan jam berapa besok ia harus berangkat.   ‘Ah ya … kalo dipikir-pikir … ,’ -Gianna tiba-tiba saja teringat sesuatu yang cukup mengganjal- ‘Kenapa tadi Ana ngga jadi pergi sama gue?’   Karena penasaran, Gianna pun menghubungi Tatiana untuk mengetahui jawabannya, karena entah mengapa perasaannya terasa mengganjal.   -Ana-   Gianna -Hai Ana -Tadi kenapa ngga jadi pergi bareng gue? -Lo ngga papa kan?   Selesai mengetik, Gianna langsung menyentuh tombol ‘send’ dan pesannya pun terkirim.   Satu menit, dua menit, tiga menit bahkan sampai sepuluh menit berlalu, Tatiana tak kunjung membalas pesan itu, padahal sudah jelas ada tanda Tatiana menerima pesannya. Gianna semakin heran karena biasanya Tatiana membalasnya dengan cepat.   Gianna pun berusaha berpikir positif dan memutuskan untuk menunggu balasan setelah beberapa menit. “Mungkin sibuk,” ujar Gianna mengangguk-angguk, tak memikirkan sesuatu yang aneh.   Namun Tatiana masih tak membalasnya juga sampai Gianna lupa kalau ia sedang menunggu balasan. Gianna pun malam itu tertidur tanpa menunggu balasan.   * * *   “Elo kok sekarang balik jadi sering ngelamun sih?!” seru Geno mengejutkan Gianna dengan sengaja menginjak rem secara mendadak di jalan yang masih sepi.   “Ih! Elo juga ngagetin gue mulu! Ngapain coba pake rem mendadak?! Kalo di belakang ada mobil lain gimana?!” tak terima lamunannya di buyarkan, Gianna ikut marah-marah pada Geno.   “Ngga peduli! Sekarang jawab gue, ngapain lo ngelamun?” tak ingin Gianna mengalihkan pembicaraan, Geno kembali bertanya dengan nada yang cukup tegas.   “Lo lupa, kalo lo udah janji bakal terbuka sama gue? Atau lo mau gue telat lagi nyadarin elo yang butuh tempat curhat?” -lanjut Geno membuat Gianna yang hendak membalas ucapannya kembali bungkam karena diingatkan.- “Elo lupa tujuan gue pindah ke sini? Lo mau usaha gue pindah ke sini sia-sia?” ujar Geno dengan nada yang cukup serius membuat Gianna tak berani menjawabnya.   Akan tetapi, karena Gianna sudah merasa sedikit takut lebih dulu, hal itu justru membuatnya tak berani menjawab pertanyaan Geno. Ia hanya bisa menunduk dan membiarkan Geno mengatakan semua yang ada di kepalanya.   “Sebenernya lo anggep gue atau ngga sih Ji?” ucap Geno kemudian dan tanpa sadar kini mereka sudah sampai di depan kampus Gianna.   “Sorry … gue bukannya ngga mau cerita atau ngga nganggep elo” -ujar Gianna mulai memberanikan diri untuk menjawab.- “Gue justru nganggep elo sebagai sepupu yang perhatian dan baik. Tapi karena gue nganggep lo begitu … gue justru ngga pengen elo kepikiran masalah gue. Gue ngga mau lo khawatir, gue ngga mau ngerepotin-”   “Stop! Stop right there,” -potong Geno dan Gianna pun langsung berhenti bicara. Geno menghadap Gianna dan menatap wajah Gianna yang masih tertunduk.- “Listen, Ji. Gue sepupu terdekat lo, gue temen main lo setiap kali kita kumpul keluarga besar, gue orang yang temenin lo di rumah setiap ortu lo pulang telat, kita keluarga dan udah hal yang sewajarnya keluarga khawatir satu sama lain,” jelas Geno berusaha bicara selembut mungkin agar Gianna mengerti.   “Maaf … maafin gue … selama ini gue cuma ngga berani cerita. Karena gue ngerasa semua masalah itu bukan hal yang perlu di permasalahkan. Gue ngerasa kalo semua masalah gue ngga patut buat di keluhin,”   “Gue ngerasa … kalo gue ngga pantes untuk cerita karena masalah gue ngga sebanding dengan masalah orang lain yang lebih berat dan banyak di luar sana. Orang yang masalahnya lebih berat dari gue aja banyak yang bisa ngatasin sendirian dan ngga pernah ngeluh kayak gue. Masalah gue yang cuma begini doang kenapa gue harus ngeluh?” lirih Gianna, suaranya mulai menghilang.   Geno menghembuskan nafasnya yang begitu berat mendengar pemikiran Gianna. “Pemikiran bodoh macam apa itu hah?” kata Geno tiba-tiba dan membuat Gianna terbungkam mulutnya.   “Masalah kecil ataupun masalah besar, semua sama aja jadinya kalo lo cuma bisa pendem dan ngga selesai’in masalah itu. Bakal sama aja jadinya kalo lo ngga cerita ke orang lain. Curhat itu penting, Ji. Lo perlu buang sesuatu yang numpuk di dalem d**a lo atau nantinya lo justru ngerasa sesak,” jelas Geno masih dengan sabarnya menatap Gianna yang tertunduk. Ia sepertinya tak berani menatap Geno.   Tak tega melihat Gianna yang terus menunduk, Geno memberanikan diri untuk maju dan memeluk Gianna. “Sorry kalo gue bikin lo takut, gue cuma ngga mau ngeliat lo terus-terusan sedih dan gue ngga mau cuma diem aja setiap kali itu terjadi,”   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN