Kamu Beruntung. Bisa Bantu Aku?

1370 Kata
 -*-*-*- “Sorry kalo gue bikin lo takut, gue cuma ngga mau ngeliat lo terus-terusan sedih dan gue ngga mau cuma diem aja setiap kali itu terjadi,”   Sejenak Gianna diam. Namun ia tersadar akan suatu hal. “Oke, gue bakal cerita ke elo mulai sekarang. Tapi sebelum itu gue mau tanya sesutau,” ujarnya masih dalam pelukan Geno.   “Apa itu?” kata Geno.   “Elo masuk kelas jam berapa?” ucapnya membuat keduanya seketika hening.   Tanpa aba-aba, Geno langsung melepas pelukannya dari Gianna.   “Gue lupa! Keluar gih!” seru Geno membuat Gianna melebar kedua matanya.   “Anak kampr*t. Yang nahan siapa, yang di usir siapa,” -gerutu Gianna keluar dari mobil dengan wajah merengut. Namun sebelum menutup pintu mobil, ia menyempatkan diri untuk memberi peringatan.- “Jangan ngebut!” serunya. Namun Geno tidak menjawab dan hanya memberikan tanda ‘oke’ menggunakan jari-jati tangannya.   Akan tetapi, sepertinya telinga Geno bermasalah. Baru saja Gianna menutup pintu mobil, Geno sudah tancap gas dan melaju kencang meninggalkan kampus Gianna.   “Astaga anak itu,” Gianna sedikit terkejut mendapati Geno yang tak mendengarkan ucapannya dan dengan mudahnya melaju kencang, bahkan di saat Gianna belum menginjakkan kaki di gerbang kampusnya.   Gianna hanya bisa merotasikan kedua matanya dan masuk ke dalam kampusnya.   *   ‘Hari ini Ana ada jam ngga ya,’ batin Gianna sembari melihat jam tangannya menanti jam kuliahnya berakhir.   Gianna berniat untuk menemui Tatiana hari ini, ia mengobrol banyak hal. Ia ingin tau apa alasan yang sudah mengganjal perasaannya sejak kemarin.   Masih mendengarkan kuliah, tiba-tiba saja salah satu mahasiswa yang ada di sebelah Gianna menyentuh lengannya. Gianna pun segera menengok karena sentuhan itu sangat terasa untuk di abaikan.   Seorang mahasiswi dengan rambut panjang hitam dan mata bulat mengkilap tengah menatap Gianna saat ini.   ‘Cantik,’ refleks Gianna membatin begitu saat mereka bertatapan.   “Ji, selesai jam ini nanti bisa ngobrol? Ada yang mau gue omongin,” ujarnya.   Mendengar itu, bukannya menjawab, Gianna justru memutar otaknya terlebih dahulu dengan wajah yang terbilang, ‘plongo’.   ‘Sebentar. Ngapain dia ngajak gue ketemuan? Mau ngomongin apa? Dimana? Aman kan? Apa dia mau cari masalah?’ batin Gianna penuh dengan pertanyaan yang ia tidak tau apa jawaban pastinya.   ‘Tapi yang paling penting dari semua itu … ,’   ‘Dia siapa? Gue ngga kenal!’ batinya masih menatap wanita itu dengan pandangan plongo.   “Maaf, tapi … lo siapa?” tanya Gianna penasaran. Menjadi mahasiswi introvert ternyata sesulit ini. Mahasiswa satu kelasnya saja ia tidak mengenalnya.   “Suzuna,” jawabnya memperkenalkan diri.   “Ah … oke suzuna,” Gianna mengangguk-angguk mengerti. Ia akan mengingat namanya.   “Jadi nanti bisa kita ngobrol sebentar? Lo ngga ada kelas lagi kan sehabis ini?” ujarnya mengulang kembali pertanyaan awalnya.   “Kayaknya ngga ada,” jawab Gianna menggeleng.   “Oke, nanti kita ngobrol lagi ya,” Suzuna tersenyum manis sebelum akhirnya kembali menatap ke depan dan memperhatikan dosen.   ‘Mudah-mudahan aja aman,’   *   “Mau ngobrol dimana Ji?” tanya Suzuna mendekat pada Gianna begitu kelas berakhir.   “Kan elo yang mau ngomong, gue ngga tau kan elo mau ngomong apa? Nanti malah salah tempat,” balas Gianna sembari merapihkan catatan dan barang-barangnya.   “Ngga papa, bukan rahasia kok yang mau gue omongin, jadi bebas mau ngomong di mana aja,” jelasnya tersenyum manis membentuk lesung pipi membuatnya terlihat semaakin cantik.   “Ng … oke,” sedikit aneh, tapi Gianna setuju saja. Ia kini berjalan lebih dulu begitu keluar dari kelas, karena ia lah yang menentukan tempatnya.   Karena katanya bukan sebuah rahasia, tapi ia tetap ingin bicara empat mata dengan Gianna, Gianna pun memilih taman yang ada di halaman kampus. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi juga. Suasananya cukup tenang dan nyaman jika para mahasiswa ingin mengobrol atau mengerjakan tugasnya dengan di temani hembusan angin.   Sampai di sana, lagi-lagi Gianna yang di minta untuk menentukkan duduk di mana. Gianna tak banyak bicara dan memilih untuk duduk di bangku yang sudah ada di sana saja.   “Jadi?” Gianna membuka ucapan begitu mereka sudah duduk.   “Hahaha, to the point banget ya elo,” kekehnya dengan senyuman yang terlihat sempurna selaras dengan suara tawanya. Suzuna sejenak meletakkan tasnya lebih dahulu agar tidak mengganggu.   “Gini, gue denger, katanya kemarin waktu pameran foto, elo juga jadi modelnya, bener?” tanya nya membuat Gianna entah mengapa sedikit menyelidik menatapnya.   ‘Apa nih? Kenapa perasaan gue tiba-tiba ngeganjel lagi kayak kemarin?’ batinnya.   “Iya bener, kenapa?” ujar Gianna menjawab ala kadarnya.   “Beneran?!” -serunya tiba-tiba membuat Gianna terkejut dan otomatis mengangguk, karena Suzuna menatapnya dengan mata yang berbinar.- “Terus fotografernya Kenan, bener?” lanjutnya masih lanjut bertanya.   “A … iya bener,” Gianna tak tau kenapa anak yang baru di kenalnya ini terlihat sangat bersemangat, ia pun hanya bisa menjawab dengan apa yang memang menjadi jawabannya.   “Yaampun, Ji. Lo beruntung banget sumpah!” seru Suzuna membuat Gianna seketika terpancing mendengar ucapannya.   “Beruntung gimana maksud lo?” tanya Gianna tak mengerti.   ‘Ini obrolannya ngga menjurus buat ngejatohin gue kan?’ batin Gianna masih menatap dengan mata penuh selidik.   “Beruntung, karena sebenernya banyak mahasiswi yang mau jadi modelnya. Tapi mereka ngga berani buat ngajuin diri karena banyak yang bilang kalo Kenan itu pemilih. Dia cuma mau pilih model yang cocok di matanya,” jelasnya yang seketika membuat Gianna teringat dengan seorang perempuan yang menyatakan cinta pada Kenan.   Ia sempat mendengar tentang pertanyaannya pada Kenan mengenai alasan Kenan menolak menjadikan perempuan itu sebagai modelnya.   Gianna pun awalnya sempat mengira kalau alasan Kenan memilihnya sebagai model hanya karena ia cantik saja.   “Bahkan sebenernya meskipun baru mahasiwa semester satu, Kenan punya penggemar loh, walaupun memang ngga terlalu keliatan. Banyak orang yang jadi penggemarnya karna tau hasil fotonya itu ngga sembarangan. Mereka juga berharap banget bisa jadi modelnya, tapi sayang, Kenan pemilih,” jelas Suzuna membuat Gianna hanya bisa terdiam mendengarnya.   ‘Sebenernya gue tinggal di dalem goa atau gimana, sampe ngga tau kalo Kenan itu punya penggemar,’ batin Gianna hanya bisa tersenyum kecut mengetahui fakta bahwa ia sudah menolak seorang ‘artis’ kampus beberapa kali bahkan sampai membuatnya terluka.   Sejenak Gianna tenggelam dalam pembicaraan yang menggunakan Kenan sebagai tokoh utamanya. Namun dengan segera, Gianna kembali pada kenyataan dan menanyakan maksud dari Suzuna mengajaknya bicara. “Mm … jadi maksud dan tujuan lo ngomongin semua ini apa ya?”   “Ah, iya. Gue sampe lupa,” -Suzuna tiba-tiba saja berhenti tersenyum dan merapihkan rambutnya. Gianna tak paham apa tujuannya.- “Bisa bantuin gue ngga?” ujarnya menatap Gianna dengan wajah serius.   “Bantu? Apa?” tanya Gianna penasaran.   “Sebelumnya gue kasih tau dulu sesuatu. Jadi gini,” -Suzuna berhenti sejenak terlihat menarik nafas.- “Lo pasti tau kan kalo elo bukan model pertamanya Kenan?” tanya Suzuna menatap kedua manik Gianna begitu dalam.   Gianna sempat terdiam dan berfikir. “Gue ngga tau, tapi kalo gue pikirin sekarang itu hal yang mungkin aja, karna gue baru kenal sama Kenan,” jawab Gianna balas menatap mata Suzuna. Entahlah, tiba-tiba saja Gianna merasa kalau Suzuna berusaha mengintimidasi. Tidak tau apa tujuannya.   “Oke, bagus kalo elo sadar. Gue cuma mau kasih tau,” -Suzuna lagi-lagi menjeda ucapannya membuat Gianna mau tak mau harus menunggu.- “Gue model pertamanya,” ujarnya kembali tersenyum seperti di awal tadi.   Gianna masih tak paham apa maksud obrolan Suzuna sejak awal. Satu-satunya yang ia pahami adalah Suzuna tak bermaksud untuk bicara baik-baik atau bicara santai antar wanita. “Iya terus?” pada akhirnya hanya itu kata yang bisa ia ucapkan karena ia bingung harus menjawab apa lagi.   Ekspresi Suzuna terlihat berubah. Awalnya ia tersenyum terlihat seperti membanggakan suatu hal, akan tetapi sekarang wajahnya sedikit berubah seperti mempertanyakan respon Gianna yang mungkin tidak sesuai harapannya.   ‘Senyumnya berubah. Dia kenapa sih? Apa dia berharap gue kaget? Atau gimana? Apa sekarang gue pura-pura kaget aja? Mm … jangan. Kasian dia kalo tau gue pura-pura,’ batin Gianna menunggu kelanjutan respon Suzuna.   Tak lama kemudian, Suzuna tertawa begitu renyah dan kembali berkata. “Jadi maksud gue. Gue mau minta lo bantu gue biar jadi modelnya Kenan lagi,”   Kali ini, Suzuna berhasil membuat Gianna sedikit kaget. “Hah?”   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN