-*-*-*-
“Jadi maksud gue. Gue mau minta lo bantu gue biar jadi modelnya Kenan lagi,”
“Hah?” Gianna seketika melebarkan kedua matanya mendengar itu.
“Denger kan?” kata Suzuna mengira Gianna tak sepenuhnya mendengar apa ucapannya.
“Ya, denger sih,” balas Gianna sedikit mengangguk. Namun entah mengapa ia sedikit bingung dengan permintaan Suzuna.
‘Dia bilang, dia model pertamanya, terus kenapa dia berhenti? Dia sendiri yang bilang, kalo Kenan pemilih. Terus ini? Ngapain dia minta tolong gue? Emang gue siapanya Kenan?’ batin Gianna berusaha memproses segala ucapan Suzuna beserta penjelasannya yang mungkin ia sudah melewatkan sesuatu.
“Kalo elo model pertamanya Kenan, kenapa lo berhenti?” tanya Gianna penasaran.
Mendengar ucapan Gianna, Suzuna tampak berfikir sejenak dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Ah … ,” untuk beberapa saat Suzuna masih berfikir seperti menimbang-menimbang atau bahkan mungkin sedang menyusun kata-kata yang ingin di ucapkannya.
“Dia berhentiin elo?” tak ingin menunggu lebih lama, Gianna memilih menebaknya saja. Ia tak ingin menunggu untuk sesuatu yang tak jelas seperti ini.
“Hmm … mungkin?” jawabnya seraya menengok dan memberikan senyuman seakan sebuah senyuman yang menyakitkan.
“Kok mungkin? Jadi elo yang minta berhenti? Atau gimana?” Gianna berusaha untuk tidak berbasa-basi karena sekarang ia mulai kesal dengan gaya bicara Suzuna yang bertele-tele dan sok misterius.
“Iya dia yang berhentiin, tapi alasannya itu untuk kebaikan gue,” ujarnya menjelaskan.
‘Kebaikan dia? Hmm wow, gue bener Kenan ternyata emang baik ke semua cewek. Gue aja di perlakuin sebaik itu. Wajar sih. Dia punya kembaran cewek,’ Gianna mengangguk sendiri memikirkan semua spekulasi dan pendapatnya sendiri.
“Iya gitu, terus?” Gianna kembali melontarkan pertanyaan yang sama dan itu mungkin membuat Suzuna sedikit kesal karena Gianna tidak juga merespon seperti yang di inginkannya.
“Ya gue minta bantuan elo,” ujar Suzuna mengulang kembali permintaanya yang berhasil membuat Gianna terkejut tadi.
Namun tanpa berfikir panjang dan Gianna juga merasa dia tidak memiliki kekuasaan apa-apa untuk melakukannya, ia memilih menggelengkan kepalanya.
“Ngga mau,” jawabnya tanpa basa-basi lagi.
“Iya- hah?!” -Suzuna terkejut dan matanya yang bulat mengkilap itu kini melebar kelopaknya.- “Lo ngga mau?” tanya nya tak percaya.
Gianna menegaskan dengan menggelengkan kepalanya lagi, lengkap dengan ia memasang wajah polosnya.
“Kok? Kenapa? Gue kan minta tolong,” kata Suzuna masih menatap Gianna dengan pandangan tak percaya.
“Gini, deh. Kan tadi, elo sendiri yang bilang kalo Kenan itu pemilih. Nah, berarti Kenan lakuin itu karna dia liat dari sudut pandang alias matanya sendiri kan? Dia cuma mau pilih orang yang cocok di matanya,” -tutur Gianna berusaha membuat semuanya terdengar jelas dan masuk akal.
“Yang artinya, maksud gue nolak elo adalah karena gue disini ngga punya kuasa apa-apa,” lanjut Gianna kembali menggelengkan kepalanya.- “Gue bukan siapa-siapanya Kenan yang berpotensi buat cariin dia model, karna gue ngga ngerti apa-apa soal pemotretan,”
“Tapi kan-”
“Disamping itu- shush! Diem dulu,” -Gianna menahan mulut Suzuna yang hendak memprotes dengan jari telunjuknya dari jauh.- “Elo kan model pertamanya yang artinya lo udah terpilih untuk jadi model yang cocok buat Kenan sejak awal. Harusnya lo bisa dateng sendiri dan ngomong langsung ke Kenan tanpa bantuan gue,” jelas Gianna kemudian melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Ngga semudah itu, Gianna,” balas Suzuna setelah menahan diri untuk tidak marah karena Gianna sudah menahannya untuk bicara.
“Kenapa?” sahut Gianna dengan cepat.
“Hei Ji!” seorang laki-laki yang tidak asing di telinga Gianna seketika membuatnya meoleh pada asal suara.
“Oh? Rav?” kata Gianna menyapa saat Ravindra berdiri di hadapannya dan Suzuna.
“Gini- eh- elo zuzu. Apa kabar?” sapa Ravindra begitu mengetahui yang duduk di sebelah Gianna adalah Suzuna. Ravindra mengenalnya. Tentu saja.
“Elo masih aja panggil begitu, gue sehat,” balas Suzuna tersenyum manis.
“Hahaha ngga papa, udah lama ngga liat elo soalnya,” lanjut Ravindra dengan santainya seperti orang sudah berteman lama terpisah lalu bertemu kembali.
Gianna memutar bola matanya melihat Ravindra yang dengan mudahnya memulai percakapan dengan Suzuna.
‘Dia pasti lupa apa tujuannya ke sini,’ batin Gianna menyimpulkan.
Entah mengapa, Ravindra kini justru tenggelam dalam obrolannya dengan Suzuna dan dalam waktu yang cukup lama. Gianna yang merasa alasan Ravindra datang adalah untuk menyampaikan sesuatu yang penting membuatnya memilih untuk menunggu dengan memainkan ponselnya.
Beberapa puluh menit berlalu dan Ravindra tak kunjung memberikan tanda kalau dia akan mengakhiri percakapan. Hal itu membuat Gianna mengantuk. Kepalanya oleng dan tanpa ia sadari, lehernya lepas kendali dan menjatuhkan kepalanya ke kanan.
Gianna pikir awalnya ia akan jatuh dengan kepalanya yang lebih dulu mendarat di tanah. Akan tetapi, ternyata seseorang menahan kepalanya dengan menanggkup menggunakan salah satu tangannya.
Gianna seketika tersadar dari rasa kantuknya dan perlahan wajahnya mendongak. Ia pun mendapati Kenan tengah menatap Ravindra.
“Rav, kepala lo kayaknya abis kebentur sesuatu, ya? Makanya jadi lupa ingatan,” sindir Kenan yang rupanya menjadi alasan kedatangan Ravindra ke taman.
“Ah iya, sorry Ken, gue lupa,” cengir Ravindra seperti tak ada dosa.
“Tsk! Emang ngga bener sama sekali, gue pergi dulu. Ayo Ji!” ajak Kenan pada Gianna yang hampir tertidur lagi dan berakhir membuat Gianna kaget.
“Hah? Apa? Kenapa?” Gianna terlihat bingung.
“Bantuin gue,” ujar Kenan dengan senyuman manis.
Gianna kebetulan sudah malas berada di sana menurut dan lebih memilih untuk ikut Kenan.
“Oke,” -katanya sembari berdiri dari tempatnya. Namun sebelum ia pergi, ia sempat menoleh pada Suzuna dan memberitahunya sesuatu. - “Coba minta sendiri,” ujarnya. Usai bicara begitu, Gianna meninggalkan Suzuna bersama dengan Ravindra.
Gianna menyusul Kenan dan berjalan mengekori Kenan.
“Btw, lo minta bantuan apa?” tanya Gianna penasaran.
“Lo inget waktu lo koreksi laporan tugas gue waktu itu?” tanya Kenan sembari menoleh pada Gianna dan Gianna pun mengangguk.
“Gue rasa lo punya mata yang jeli, jadi … ,” Kenan diam sejenak namun dengan cepat Gianna menyahut.
“Bantu koreksi laporan punya lo?” tebak Gianna.
Kenan pun menggeleng.
“Bukan,”
“Terus?”
“Wali kelas gue minta tolong ke gue buat koreksi setengah dari seluruh laporan anak-anak kelas dan kebetulan gue inget kalo elo waktu itu tau kesalahan laporan gue, jadi gue minta tolong sama elo,” tutur Kenan menjelaskan.
“Wah … ,” -Gianna seketika berhenti melangkah dan menatap Kenan tak percaya.- “Kok gue berasa di manfaatin ya,” ujarnya membuat Kenan berhenti melangkah juga.
“Gue bayar, deh,” -ucap Kenan kemudian seraya melangkah mendekat.- “Mau ya?”
Gianna seketika memandang Kenan dengan pandangan julid.
“Emangnya elo ngga bisa sendiri?” tanya Gianna.
“Bisa, tapi gue takut teledor, tolong ya?” pinta Kenan dengan mata memelas.
“Tsk, beliin gue cemilan!”
“Oke deal!” -Kenan tiba-tiba saja menjabat tangan Gianna.- “Sekarang kita beli, baru abis itu kita kerjain,” tanpa aba-aba maupun permisi, Kenan tiba-tiba saja sudah menggandeng Gianna dan membawanya menuju minimart di luar kampusnya untuk membeli makanan.
“Lo ngapain gandeng gue?” tanya Gianna di tengah-tengah langkahnya mengikuti Kenan.
“Hah? Oh, biar lo ngga ilang, hahahaha,” kekehnya garing. Akan tetapi Gianna membiarkannya saja selama mereka berjalan menuju minimart.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-