Ayo Senyum!

1165 Kata
 -*-*-*- “Lo mau ngambil apa?” tanya Kenan begitu di dalam minimart. Gianna pun melangkahkan kakinya menuju rak makanan ringan. Gianna pun mulai memilih beberapa makanan. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah marsmellow berbentuk bebek kuning. Dengan polosnya, ia menunjukkan pada Kenan dengan senyuman khasnya. “Ken, liat! Aku baru tau-” Cekrik! Tiba-tiba saja Kenan sudah memegang kamera di tangannya dan menangkap Gianna tanpa aba-aba. “Mm … sorry, boleh gue simpen?” tanya Kenan sedikit tak enak karena sudah memotret di saat Gianna sedang bicara. “It’s oke. Cuma agak kaget aja,” ujar Gianna sembari meletakkan marsmellow ketempatnya lagi dan mulai mencari makanan yang ingin ia ambil. ‘Sebenernya kapan sih dia bisa ketinggalan kamera? Gue bahkan baru sadar kalo dia bawa kamera,’ batin Gianna heran. “Oh ya, foto-foto lo boleh gue unggah ke Joystagram? Baru kali ini kok mau gue unggah, sebelumnya masih aman di kamera, kecuali yang gue pasang di pameran,” tanya Kenan meminta izin. “Terserah lo Ken, selama yang mau lo lakuin ke foto-foto gue bukan hal-hal negatif dan foto gue yang lo ambil bukan di saat-saat yang ngga baik lo bebas mau ngapain, tapi ya … tetep aja izin gue dulu sih, boleh simpen atau ngga,” -balas Gianna sembari mengambil satu bungkus stik wafer coklat atau biasa di sebut bboky.- “Udah nih, ayo!” ajak Gianna setelah mendapat makanan yang di butuhkannya. “Itu doang?” tanya Kenan penasaran. Gianna mengangguk kemudian berjalan lebih dulu dari Kenan. “Sebentar,” Kenan menahan tangan Gianna. “Kenapa?” tanya Gianna. “Gue tiba-tiba pengen makan juga,” ujar Kenan seraya mengajak Gianna memilih lagi. “Yaudah pilih aja,” “Lo sukanya apa?” tanya Kenan membuat Gianna menatap heran dengan kening yang mengernyit. “Kok gue? Kan elo yang mau makan,” ujar Gianna merasa aneh. “Saranin aja deh, menurut lo mana yang enak, gue pengen nyoba,” jawab Kenan seraya melihat bungkus salah satu makanan ringan. “Kalo mau menurut gue sih banyak banget, yakin?” kata Gianna penasaran. Kenan pun hanya mengangguk. “Yaudah, kalo gitu,” Gianna pun memilihkan beberapa makanan yang biasa ia makan di rumah bersama Geno atau terkadang untuk ia makan sendiri. Setelah beberapa saat memilih makanan, Kenan juga memilih beberapa minuman yang ia suka dan juga berdasarkan saran Gianna. Setelah selesai memilih, jumlah makanan yang mereka ambil hampir memenuhi keranjang yang sempat Kenan ambil. Cukup banyak, sampai orang bisa mengira mereka akan memakannya untuk sebuah acara berkumpul dengan dua sampai empat orang. Mereka pun ke kasir untuk membayar makanan. “Ini aja kak? Atau ada yang perlu di ambil lagi?” ujar wanita penjaga kasir bertanya dengan kalimat andalannya. “Udah mba, ini aja,” jawab Kenan sementara Gianna hanya menunggu dengan berdiri di sampingnya. “Berhubung sekarang sedang memperingati ‘Girlfriend day’, kami ada promo coklat batangan kak, apa tidak berminat? Sekarang cuma setengah harga loh kak, kalo mau ambil dua bisa dapat gratis satu. Pacar kakak imut sekali, sepertinya suka makan coklat,” seperti biasa pula, penjaga kasir berusaha menawarkan barang promosinya. Namun kali ini barang promosinya membuat Gianna dan Kenan saling pandang. “Kamu mau Ji?” tanya Kenan. Tampaknya ia tak terlalu peduli dengan anggapan kasir itu yang mengira Gianna adalah pacarnya. “Hah? Buat apa?” Gianna justru balik bertanya, nampaknya ia juga tidak terlalu peduli dengan anggapan tersebut. “Kamu ngga suka coklat?” Kenan bertanya lagi. “Suka sih. Tapi aku tadi udah dapet bboky, aku belum mau beli coklat,” ujar Gianna jujur. “Kan gue beliin,” ucap Kenan seketika membuat Gianna memberi tatapan dengan kening mengernyit lagi. “Ngapain? Bboky tadi aja udah cukup kok,” sahut Gianna menolak. “Yaudah, itung-itung yang ini balesan buat elo yang udah berbaik hati mau gue potret. Gimana?” tawar Kenan. “Lo pengen makan coklat ya? Segitu nya jadiin gue alasan mau beli coklat?” tanya Gianna yang justru salah paham. Padahal Kenan memang ingin membelikan Gianna coklat itu. “Hahaha, ngga Ji, gue emang pengen beliin buat elo aja,” Kenan terkekeh melihat Gianna yang tak paham. Mendengar percakapan Gianna dan Kenan sejenak membuat wanita kasir itu sedikit bingung, karena Gianna dan Kenan bicara seperti bukan pasangan, tetapi mereka juga tak menyanggah dan membuatnya sedikit bingung. “Hmm … boleh sih, lagian setelah motret gue lo ngga ngasih gue apa-apa,” Gianna mengangguk-angguk setuju. “Oke, mba beli dua ya,” ujar Kenan membuat Gianna seketika terkejut. “Heh? Ngapain banyak-banyak? Lo mau makan juga?” serunya membuat wanita penjaga kasir sedikit terkejut dan tak jadi mengambil coklatnya. “Ngga,” jawab Kenan dengan cepat menggeleng. “Terus? Buat siapa?” tanya Gianna memastikan. “Buat elo,” kata Kenan lagi sedikit takut dengan tingkah Gianna. “Buat gue aja kan? Yaudah satu aja, ngapain banyak-banyak,” ujar Gianna, dengan wajah yang sedikit kesal. “Oke-oke kalo gitu, maaf ya mba, ternyata dia minta satu aja,” ujar Kenan tersenyum. Penjaga kasir itu pun ikut tersenyum malu-malu seperti ingin tertawa setelah melihat tingkah Gianna dan Kenan. “Biasa aja muka lo,” ujar Kenan terkekeh melihat wajah Gianna yang tak santai menunggu kasir menghitung makanan yang di beli Kenan. “Lo nyebelin,” sahut Gianna cepat tanpa menoleh. “Hahaha, sorry,” Kenan masih tak bisa berhenti terkekeh dengan sikap Gianna yang terlihat lucu baginya. Selesai melakukan transaksi, Gianna dan Kenan kemudian keluar. “Sini gue bawain satunya,” ujar Gianna meminta salah satukantung plastik yang di bawa Kenan. “Ngga mau, lagian ngga berat juga,” tolak Kenan. “Bukan masalah berat ngga nya, gue mau bantuin aja,” kata Gianna masih meminta salah satu kantung plastik yang di bawa Kenan. “Hmm … boleh, tapi ada syaratnya,” -Kenan mengiyakan, tetapi sempat diam sejenak.- “Senyum dulu,” bujuknya. Karena sejak tadi Gianna belum juga tersenyum. “Ih, apasih?” Gianna justru semakin merengut mendengar permintaan Kenan. “Ayolah, kan gue juga ngga jadi beli banyak coklatnya, nurutin elo,” ujar Kenan berusaha membujuk. “Udah sih, kasih aja, bentar lagi sampe kampus juga,” tolak Gianna masih tak mau menuruti Kenan. “Gitu banget, padahal baru kemaren elo nangis-nangis minta maaf ke gue, sekarang udah kayak musuh gini,” ungkit Kenan membuat Gianna seketika mendongak dan menatap Kenan dengan mata menusuk. Namun detik berikutnya, ia memukul bahu Kenan. “Harus banget lo ungkut-ungkit yang yang kayak gitu?” kesal Gianna, namun kali ini wajahnya sudah berubah menjadi wajah yang merajuk dan sedikit ada percikan rasa sedih. “Ya jangan nangis juga dong! Kan gue minta lo senyum, bukan nangis!” Kenan memindahkan kantung plastik yang ada di tangan kanannya ke tangan kiri dan mencubit pipi kiri Gianna dengan lembut. “Hissh!” Gianna menepis tangan Kenan dari pipinya kemudian tersenyum selama beberapa saat dengan terpaksa, kemudian mengambil salah satu kantung plastik dan berjalan lebih dulu meninggalkan Kenan. Lagi-lagi Kenan terkekeh melihat tingkah Gianna, ia kemudian menyusul langkah Gianna. “Tunggu Ji!” -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN