Kenapa Dia tiba-tiba …

1078 Kata
 -*-*-*-   “Mau kerjain dimana?” tanya Gianna saat mereka sudah memasuki gedung kampus dan menaiki tangga menuju lantai dua, karena Kenan mengatakan ia harus mengambil ranselnya terlebih dahulu di dalam kelas.   “Kalo di foodcourt gimana? Mau?” Kenan justru balas bertanya dengan berjalan bersebelahan dengan Gianna.   “Katanya mau koreksi? Bukannya butuh tempat yang sunyi?” Gianna memasang wajah bingung, kini mereka sudah berada di depan kelas Kenan.   “Kalo gitu mau di ruang diskusi? Disana kita boleh bawa makanan, tempatnya sunyi di ruang tertutup, tapi tetep bisa keliatan dari luar,” kata Kenan sembari mengambil ranselnya.   “Boleh bawa?” Gianna justru terkejut mengetahui fakta ia boleh membawa makanan ke ruang diskusi.   “Iya boleh, yang ngga boleh kan di perpustakaan sama ruang baca,” Kenan kemudian melangkah sedikit mendahului Gianna untuk meninggalkan kelas.   “Gue kira ngga boleh, soalnya ruang-ruangnya sebelahan sama perpus,” balas Gianna masih memasang wajah tak percaya karena ia baru mengetahuinya.   “Hahaha, jadi fix ya kita di ruang diskusi?” ujar Kenan memastikan.   “Mm-hm! Boleh!” sahut Gianna semangat.   “Oke,” mereka pun melangkahkan kaki menuju ruang diskusi yang ada di lantai dasar.   Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Gianna datang ke ruang diskusi, ia sudah pernah datang beberapa kali untuk mengerjakan tugasnya jika ia ingin sendirian dan butuh konsentrasi lebih. Selama ia datang pun, ia tidak pernah membawa makanan atau minuman karena ia menyangka itu di larang.   Sesuai dengan namanya, ruang diskusi di sediakan untuk tempat berdiskusi kelompok atau sekedar untuk mengerjakan tugas sendirian. Ruangnya di rancang kedap suara setiap kali pintu di tutup, akan tetapi salah satu sisi dinding dan pintunya di buat dari kaca sehingga apapun yang di lakukan di dalam bisa terlihat. Di dalamnya juga di sediakan tv dan speaker yang bisa di hubungkan ke laptop dan tentunya yang utama adalah meja besar serta sejumlah kursi yang bisa di pakai banyak orang.   “Lo udah pinjem ruangnya?” tanya Gianna saat akan memasuki tempat ruang diskusi.   “Udah, nih!” Kenan mengeluarkan kunci yang memiliki nomor.   Gianna tak bicara lagi dan hanya mengangguk. Mereka pun masuk dan menuju ke ruangan yang sudah di pinjam oleh Kenan.   Setelah masuk, sesuai yang sudah mereka rencanakan, mereka mengoreksi laporan dan begitu Kenan mengeluarkan kumpulan laporan yang akan di koreksi, seketika membuat Gianna melebarkan matanya.   “Lo sengaja mau bikin gue nguli atau gimana sebenernya?” tanya Gianna sedikit berseru karena ia terkejut melihat kertas laporan yang tebalnya hampir lima centi.   “Mm .. makanya gue minta bantuan elo,” cengir Kenan seperti tak ada dosa.   “Pantes ya elo beli makanan banyak-banyak,” kata Gianna sembari melihat sekilas lembaran-lembaran yang sudah di tumpuk jadi satu.   “Hmm … ngga juga sih, kebetulan gue pengen beli aja tadi,” sahut Kenan sembari mengambil beberapa lembar dari yang di pegang Gianna.   “Jadi mau mulai sekarang?” tanya Gianna meletakkan tumpukkan laporan ke depan Kenan.   “Iya sekarang,” Kenan mengangguk-angguk dan mengeluarkan kotak pensilnya.   Mereka pun mulai mengoreksi lembar demi lembar yang sudah di bawa Kenan. Mereka terlihat sangat fokus sampai ruangan yang kedap suara itu hanya terdengar suara kertas yang saling bergesekan.   Waktu terus berjalan dan setelah lewat beberapa puluh menit, Kenan memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. “Mau istirahat?” tanya Kenan dengan menyandarkan tubuhnya ke belakang dan merenggangkan otot sejenak.   “Boleh, ngh … ,” Gianna ikut merenggangkan ototnya yang kaku karena tidak bergerak selama berpuluh-puluh menit.   Sejenak Gianna diam dan menatap kosong pada kertas-kertas yang sedikit berantakan. Ia merasa sedikit lelah, namun rupanya tanpa sadar sudah lebih dari setengah  yang sudah ia kerjakan dari yang dibawa Kenan.   Gianna menengok pada Kenan dan ternyata Kenan sedang menutup matanya. Entah mengapa ia terlihat sangat lelah.   Gianna tak terlalu memperdulikannya dan membiarkannya saja jika Kenan memang ingin istirahat. Ia lebih memilih membuka kantung plastik makanan yang sudah di beli Kenan dan mengambil bbokynya.   Ia pun membukanya dan mulai memakan stik wafer coklat tersebut. Masih menikmati cemilannya dengan santai, tanpa aba-aba dan peringatan, tiba-tiba saja Kenan bersandar pada bahunya.   Gianna membeku, entah sudah yang keberapa kalinya Kenan bersandar padanya setiap kali mereka duduk berdekatan dan itu selalu berhasil membuat Gianna terkejut. ‘Dia … mau sampe kapan dia nempel seenaknya ke gue gini? Apa setiap dia sama Anna juga kayak gini?’ batin Gianna bertanya pada diri sendiri.   Namun ia berusaha untuk tidak bingung dan membiarkan Kenan bersandar padanya selagi dia memakan cemilannya.   “Lo makan apa?” tiba-tiba saja Kenan bersuara dan membuat Gianna yang berusaha menahan rasa gugupnya sedikit terkejut.   “Eh? Hah?” Gianna menjawab spontan karena tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan Kenan padanya.   “Lo makan apa?” kata Kenan mengulang pertanyaannya. Suaranya tidak terlalu jelas dan sepertinya ia masih menutup matanya.   “Makan ini, bboky,” kata Gianna seraya menunjukkan kotak cemilannya ke hadapan wajah Kenan.   “Itu apa?” Kenan membuka matanya dan melirik kota yang di tunjukkan Gianna.   “Coklat,” entah mengapa Gianna tiba-tiba merasa semakin gugup dan tak berani menoleh. Ia terus memandang ke depan yang tak menunjukkan apa-apa.   “Hmm … ,” -Kenan hanya menggumam sejenak dengan kepala masih bersandar pada bahu Gianna.- “Boleh minta satu?” tanya Kenan. Sepertinya ia sedikit tertarik.   “Ambil aja,” Gianna yang belum bisa menghilangkan rasa gugupnya hanya bisa menatap lurus dan masih tidak berani menoleh.   “Bener?” Kenan memastikan dengan sesekali melirik Gianna yang tak berani menoleh.   Gianna hanya mengangguk karena saat ini mulutnya sedang mengunyah.   Mendapat izin seperti itu Kenan seketika bangkit dan mengambil satu. Namun bukannya mengambil dari dalam kotak, ia justru mengambil yang saat ini sedang di apit di mulut Gianna.   Gianna seketika membeku dan matanya melebar, karena tepat saat Kenan berada di depannya, Gianna sedang memajukan tubuhnya berniat untuk mengambil sesuatu, sehinga yang di lakukan Kenan membuat mereka hampir menyentuh bibir satu sama lain. Bahkan mungkin sudah tetapi tak dalam dan sangat singkat.   Deg deg deg …   Jantung Gianna seketika berdebar dengan tidak wajar. Wajah Kenan yang berada begitu dekat di depannya pun membuatnya semakin tak bisa berbuat apa-apa. ‘Dia sebenernya ngapain? Kenapa dia tiba-tiba begini?! Tadi … bibir kita … ngga kan?’ batin Gianna semakin tak karuan dan hanya bisa bicara pada diri sendiri mempertanyakan semuanya.   Sementara Kenan? Ia juga masih betah terdiam di hadapan Gianna dan menatap mata Gianna yang juga menatapnya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, Gianna tidak bisa menebaknya sama sekali.   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN