-*-*-*-
Deg deg deg …
Nyatanya, tak hanya Gianna, Kenan juga merasa deg-degan, karena awalnya Kenan hanya berniat jahil untuk mengagetkan Gianna, tapi siapa sangka kalau Gianna ternyata tiba-tiba saja maju dan membuat mereka hampir melakukan yang namanya kiss.
Kenan bingung, ia sendiri merasa seperti senjata makan tuan, karena akibat perbuatannya sendiri, terkejut sendiri.
Namun, sepertinya Kenan adalah orang yang cukup pandai berakting. Ia terlihat santai, dengan perlahan justru maju dan menggigit stik wafer yang sudah menjadi biang permasalahannya. Akibatnya, ia justru membuat bibirnya dan Gianna bersentuhan-lagi.
Setelah berhasil menggigitnya, Kenan kembali duduk ke posisinya yang semula, sementara Gianna masih terdiam membatu, terkejut akan segalanya. Bahkan ia tidak yakin, ia sebernarnya terkejut atau apa? Ia tidak bisa mengidentifikasikan perasaannya saat ini.
Akan tetapi Kenan yang sebenarnya merasakan hal yang tidak jauh berbeda, berusaha berakting sekuat tenaganya agar terlihat baik-baik saja.
“Ekhem! Kita lanjut aja ya,” ucapnya berusaha memecahkan keanehan yang sudah menyelimutinya dan Gianna.
Akan tetapi, sepertinya Gianna belum sepenuhnya kembali pada kenyataan. Ia masih diam membisu di tempatnya, bahkan matanya pun tidak berkedip.
“Ji?” sadar Gianna tak meresponnya, Kenan menoleh dan mendapati Gianna masih terdiam. Ia pun memberanikan diri untuk memanggil Gianna dengan suara yang sedikit kebih keras.
“Jian!” panggilnya dengan suara yang sedikit keras dan mata yang menatap Gianna menunggu respon.
Tak lama setelah Kenan memanggilnya sedikit lebih keras, Gianna tersadar dan langsung menoleh.
“Ya?” kata Gianna masih nada yang sedikit gugup.
“Lanjut? Masih belum selesai soalnya,” kata Kenan mengulang perkataannya yang sebelumnya.
“O-oke,” Gianna mengangguk dengan cepat dan langsung menyingkirkan cemilannya. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak gugup.
Sadar dengan kegugupan yang di pancarkan Gianna, Kenan justru sedikit merasa bersalah.
“Sorry, gara-gara gue, lo jadi gugup,” -ujar Kenan.- “Atau mau berhenti aja? Biar gue yang lanjutin,” tawar Kenan.
“Eh? Ngga usah! Gue udah nyanggupin mau bantuin elo. Gue ngga papa kok. Cuma … kaget aja,” balas Gianna dengan senyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Seriusan?” tanya Kenan memastikan.
“Iya, Ken,” Gianna mengangguk berusaha meyakinkan Kenan.
“Minum dulu gih,” saran Kenan tak ingin Gianna merasa canggung ataupun gugup di dekatnya.
“Gue ngga bawa minum,” jawab Gianna cepat sembari mengoreksi lembaran yang belum ia sentuh.
Mendengar jawaban itu, Kenan mengambil salah satu minuman isotonik dari kantung plastik. Ia kemudian membukanya dan menyodorkannya pada Gianna.
“Nih, minum buat elo aja,” kata Kenan dan membuat Gianna langsung menoleh.
“Kan punya elo, masa gue yang minum?” sahut Gianna kembali menatap lembaran kertas. Ia benar-benar tak berani melihat Kenan, bahkan sekedar melirik pun tidak ada.
“Ngga papa, gue masih ada yang lain. Biar elo ngga gugup juga,” Kenan masih bertahan dengan menyodorkan minuman yang sudah ia buka pada Gianna.
Gianna melirik, lalu detik berikutnya, ia memilih menurut dan meminumnya.
“Thank’s,” kata Gianna setelah meminum dan menyisihkannya ke tempat aman.
Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda. Meski di dalam hati sama-sama merasa gugup dan canggung, mereka dengan sekuat tenaga berusa menutupi semua itu dan terlihat sedang mengerjakan kegiatan mereka dengan serius.
*
“Akhirnyaaa … ! Selesai juga!” ujar Kenan dengan suara yang cukup tinggi, disusul Gianna yang meregangkan otot-ototnya.
“Iya, gue kira bakal susah, ternyata ngga juga,” balas Gianna seraya bersandar pada kursi dan menatap hasil koreksi yang berada di tangannya.
“Thank you ya,” kata Kenan menatap Gianna yang wajahnya kini sudah lebih santai setelah menit-menit canggung yang mereka lalui.
“Apa sih,” Gianna hanya tersenyum dengan mata yang masih memandang kertas berisi coretan tinta hasil mesin fotokopi.
“Lo udah kerja keras, ngga mau minta apa gitu?” kata Kenan kembali bertanya.
“Tadi kan elo udah beliin gue bbo-” -Gianna tiba-tiba teringat dengan kejadian tadi. Kejadian yang sudah membuatnya canggung dan bingung.- “Udah kan? Ngga ada lagi? Gue pergi dulu,” Gianna membereskan barang-barangnya dan mulai beranjak berdiri.
“Eh, tunggu!” dengan sigap, Kenan menahan tangan Gianna yang sudah terburu-buru ingin pergi.
Gianna yang sedang menutupi rasa canggung yang tiba-tiba saja kembali tak berani menoleh pada Kenan dan menjawab dengan posisi yang membelakangi Kenan.
“Kenapa?” katanya.
“Bareng, tungguin gue,” kata Kenan dengan nadanya seperti hari biasa saat mengobrol dengan Gianna.
Mau tidak mau, Gianna menyanggupi hal itu. Ia berbalik dan membiarkan Kenan ingin melakukan apa.
“Oke,” jawabnya.
Kenan kemudian membereskan barang-barangnya. Tak lupa ia membereskan sampah-sampah yang sudah ia buat dengan Gianna.
Gianna pun ikut membantu membereskan sampah dan merapikan tempat duduk yang sudah mereka gunakan.
Selesai merapikan segala sesuatunya, Kenan dan Gianna keluar dari ruangan itu dan mengembalikan kunci ruangan pada petugas.
Kenan dan Gianna kemudian keluar dari ruangan itu dan beranjak meninggalkan kampus. Selagi di jalan, karena tidak ingin suasana menjadi canggung, Kenan memilih untung memulai pembicaraan.
“Lo bakal bareng Geno atau gimana?” katanya.
“Hmm … kemungkinan gue bakal minta jemput, soalnya ini udah jam dia pulang,” kata Gianna menanggapi dengan kegugupan yang samar-samar masih tersisa.
Di pelataran parkir, Kenan menghentikan Gianna. Gianna pun kembali bingung dan bertanya-tanya apa yang akan di lakukan Kenan.
“Kenapa?”
“Coba lo telfon Geno, pastiin dia bisa jemput atau ngga,” kata Kenan.
“Oke,” Gianna mengeluarkan ponsel pintarnya dan menelfon Geno.
Sejenak belum ada tanda-tanda tersambung, namun tak lama setelahnya telfon tersambung dan belum ada jawaban. Setelah beberapa saat tersambung, Geno justru menolak panggilan Gianna.
“Di tolak,” kata Gianna. Namun tak lama setelah Geno menolak panggilannya, Geno mengirimkan pesan.
Geno
-sorry
-gue ada kerja kelompok
-lo pulang sendiri ya
-ati* lo di jalan
Setelah itu Geno tak mengirim pesan lagi.
“Gimana?” tanya Kenan setelah beberapa saat menunggu.
“Geno ngga bisa,” jawab Gianna seraya menyimpan ponsel pintarnya ke dalam saku celanya.
“Gue anter,” kata Kenan seketika membuat Gianna mendongak kaget.
“Gue bisa pesen taxol kok, ngga usah,” tolak Gianna.
‘Yang bener aja, pengen gue matii canggung atau gimana?’ batin Gianna yang ikut menolak karena ia masih merasa canggung dan gugup.
Ia bahkan masih bingung, bagaimana caranya Kenan bisa bersikap sesantai itu? Apakah memang biasanya dia juga bersikap begini pada Tatiana?
Gianna sama sekali tidak tau dan hanya bisa bingung dan bertanya-tanya.
“Taxol sekarang mahal, sama gue aja, anggep aj atanda terima kasih karma udah bantuin gue dari tadi. Ngoreksi kayak tadi ngga gampang soalnya,” ujar Kenan masih berusaha membujuk Gianna agar mau ia antar.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-