-*-*-*-
“Taxol sekarang mahal, sama gue aja, anggep aja tanda terima kasih karma udah bantuin gue dari tadi. Ngoreksi kayak tadi ngga gampang soalnya,” ujar Kenan masih berusaha membujuk Gianna agar mau ia antar.
Gianna diam.
Ia bingung harus terima saja atau tidak? Di tambah dengan kejadian di ruang diskusi tadi, bukankah akan menimbulkan rasa canggung berkelanjutan?
Namun berhubung semua yang di katakan Kenan nampak masuk akal. Gianna menyanggupinya dan memilih untuk di antar.
“Oke deh, kali ini ngga papa,” kata Gianna mengangguk-angguk.
“Oke!” -entah mengapa wajah Kenan seketika terlihat berseri-seri.- “Ayo!” katanya.
Gianna hanya ikut tersenyum dan mengangguk-angguk.
‘Se-seneng itu dia cuma karna gue bilang mau. Dia sebenernya hari ini kenapa? Kenapa bikin gue makin mikir kemana-mana? Dia makin bikin gue kepedean! Pony, aku harus gimana?’ batin Gianna berperang dalam batin.
*
Seperti yang sudah Gianna perkirakan, kondisi di dalam mobil Kenan saat ini sudah seperti ruang angkasa, Hampa udara. Mereka sama-sama diam dan belum ada yang berniat untuk memulai pembicaraan.
Sampai tiba-tiba ponsel Kenan berdering. Mereka sama-sama terkejut dengan suara itu dan segera menoleh pada sumbernya. Namun karena Kenan sedang mengemudi dan kebetulan jalanan sedang cukup padat, Kenan membiarkan ponselnya sampai deringan itu mati.
Dering yang kedua, di awali dengan notifikasi chat dan di lanjutkan dengan dering telepon masuk.
Mereka kembali saling diam, Gianna pun tak tau harus apa. Ia hanya diam dan fokus menatap keluar jendela di sebelah kirinya.
Karena dering telepon itu sedikit meresahkan, Kenan pada akhirnya meminta Gianna untuk memeriksanya.
“Tolong liat, siapa yang telfon,” ucapnya.
“Eh?” Gianna seketika menoleh sedikit kaget.
“Tolong di cek siapa yang nelfon,” ulangnya seraya menoleh sejenak pada Gianna kemudian kembali fokus menatap jalan.
“Oh, oke-oke,” Gianna hanya mengangguk dan mengambil ponsel Kenan yang berada di kotak yang ada diantara tempat duduknya dan Kenan.
Saat melihat layar ponsel Kenan, Gianna langsung berhadapan dengan foto Tatiana yang menjadi profi picture kontaknya. Terlihat di layar kalau nomor itu nampak meronta-ronta meminta untuk di geser tombolnya agar segera di jawab.
“Ana,” kata Gianna kemudian.
“Oh! Tolong angkat,” sahut Kenan tanpa ragu-ragu.
“Gue angkat? Ngga papa?” tanya Gianna. Mengingat beberapa hari lalu ia merasakan sesuatu hal yang mengganjal pada Tatiana membuatnya sedikit ragu.
“Iya ngga papa, mungkin dia nyariin gue,” lagi-lagi Kenan menyahut dengan santai dengan mata fokus menatap ke depan.
Meskipun ragu, Gianna pun memberanikan diri untuk mengangkat telfon itu. Tepat saat diangkat, Tatiana langsung bersuara di ujung sana.
“Heh! Anak orang! Lo dimana sih?! Gue udah cari-cari juga! Kan gue mau nebeng elo! Pergi kemana lagi sih?!” semburnya dari ujung sana membuat Gianna sedikit tersentak dan otomatis menjauhkan telinganya dari speaker. Begitu ia rasa Tatiana sudah selesai bicara, ia perlahan-lahan mendekatkan telinganya lagi.
“Hai Ana,” dari semua jawaban, entah mengapa mulut Gianna justru otomatis menjawab itu.
“... ,” suara di ujung sana seketika menghilang, bukan menghilang karena jaringan, sepertinya Tatiana tiba-tiba terdiam Gianna tak tau apa alasannya.
Namun tak lama setelah itu, Tatiana kembali bicara.
“Lo pasti Jian?” ucapnya.
“Iya An,” kata Gianna menjawab.
“Kenan dimana? Dia kenapa sampe harus elo yang jawab telfonnya?” tanya Tatiana. Entah mengapa dari nada suaranya, Gianna merasa Tatiana berbeda dari yang sebelumnya.
“Kita lagi di jalan, dia sekarang lagi nyetir,” balas Gianna tanpa basa-basi lebih lanjut.
“Oh … ,” -Tatiana lagi-lagi terdiam, namun tidak lama. Ia kemudian kembali bicara.- “Yaudah kalo gitu,”
Telepon pun terputus, tanpa sempat Gianna membalasnya. Rasa mengganjal di hati Gianna semakin membesar dengan hal ini.
“Apa katanya?” kata Kenan tiba-tiba saja bersuara.
“Tadi dia sempet marah kayaknya sama elo, nanya elo ada dimana,” jawab Gianna menyampaikan percakapannya dengan Tatiana sembari meletakkan kembali ponsel Kenan ke tempatnya.
“Oh, dia pasti mau nebeng ya?” tanya Kenan dan hanya di jawab dengan gumaman oleh Gianna.
“Udah biasa sih, kadang dia nebeng, kadang ngga. Soalnya jam kuliah kita beda, jadi ngga bisa bareng,” ujar Kenan menjelaskan.
“Ah … yayaya,” Gianna menanggapi sedapatnya saja karena kali ini pikirannya kembali penuh karena memikirkan sesuatu yang sudah mengganjal di kepalanya. Ia pun kembali melamun.
Sementara Kenan, ntah mengapa ia justru merasa bersalah dan merutuki dirinya sendiri karena sudah membuat suasana menjadi sangat canggung. Ia mengira Gianna terdiam karena masih malu untuk bicara dengannya.
Karena tak tahan, ia pu memulai pembicaraan lebih dulu.
“Ji!” ucap Kenan, Gianna pun langsung menoleh karena kebetulan ia memang tak sepenuhnya sedang melamun.
“Ya?” kata Gianna menatap Kenan tanpa ragu. Sepertinya ia lupa dengan rasa gugupnya.
“Gue minta maaf,” sambung Kenan membuat kedua alis Gianna naik.
“Buat?” Gianna yang tak merasa Kenan sudah melakukan kesalahan tentunya bingung.
“Ngga bermaksud ngungkit, tapi gue ngga tahan sama kondisi canggung yang sekarang. Jadi gue cuma mau bilang, yang gue lakuin di ruang diskusi tadi itu spontan. Gue ngga tau kalo kita bakal saling canggung gini,” tutur Kenan dengan lemah lembut dan ya tentu saja, Gianna yang sudah sedikit lupa kembali mengingat dengan jelas kejadian yang membuatnya sangat canggung dan gugup.
“Ah … karna lo bilang gitu … gue jadi inget lagi,” -balas Gianna sembari tersenyum canggung, rasa gugup kembali menghampirinya dan membuatnya tak berani menatap Kenan.- “Iya gue ngga tau harus jawab apa, tapi jujur aja, gue emang cuma canggung dan ngga nyalahin elo,” lanjutnya tanpa berani menatap Kenan.
“Tapi gue pengen tau,” -Gianna pun memilih untuk menanyakannya saja, ia tidak mau bertanya pada diri sendiri yang tidak pernah mendapat jawaban yang tepat.- “Kenapa lo selalu bersikap gitu ke gue? You know … like … patting my head, meluk gue, sandaran di bahu gue dan masih banyak hal lain yang lo lakuin ke gue yang gue rasa itu terlalu … apa ya? Bukan gue jijik atau risih. Gue lebih merasa heran. Apa yang lo lakuin ke gue itu sama dengan cara lo perlakuin Ana? Atau bahkan ke semua cewek lo begitu?”
Pada akhirnya, Gianna mengatakan semua itu. Ia menanyakan semua yang memenuhi kepalanya perihal sikap Kenan kepadanya.
“Gue pengen tau aja sih, sebenernya apa alasan lo begitu ke gue. Dari pada gue salah paham?” sambungnya membuat Kenan sejenak bungkam, wajahnya nampak berfikir. Ia sepertinya sedang menyusun jawaban. Entah ingin membuatnya lebih nyaman di dengar atau ingin membuatnya semuanya jelas dan tidak bertele-tele.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-