-*-*-*-
Tatiana terdiam menatap layar datar persegi panjang di tangannya yang menampilkan tulisan: panggilan berakhir.
“Kenapa sih sekarang Kenan jadi sering bareng Jian? Bukannya mereka udah selesai pemotretan? Mereka harusnya ngga perlu ketemu lagi kan?” ucap Tatiana dengan nada bicara yang terdengar kesal. Ia kemudian memesan taxol untuk pulang.
*
*
*
Kenan sejenak bungkam, wajahnya nampak berfikir. Ia sepertinya sedang menyusun jawaban. Entah ingin membuatnya lebih nyaman di dengar atau ingin membuatnya semuanya jelas dan tidak bertele-tele.
“Maaf kalo gue udah bersikap begitu,” -ucapnya memulai penjelasan.- “Gue bersikap gitu, jujur aja itu semua spontanitas. Dan untuk pertanyaan lo yang gue lakuin itu ke siapa aja? Gue bersikap baik dan manis kayak gitu, cuma untuk orang yang menarik di mata gue,”
Gianna menyimak, ia berusaha mencerna semua ucapan yang di lontarkan Kenan.
“Dan elo yang berhasil lakuin itu,” kata Kenan sembari menatap Gianna, sangat bertepatan dengan berhenti di lampu merah.
Mendengar jawaban itu, Gianna seketika terdiam dan spontan menoleh. Mata mereka pun bertemu.
Awalnya Gianna tak paham dengan apa yang di ucapkan Kenan, sehingga mereka hanya saling bertatapan tanpa mereka tau apa pikiran yang ada pada kepala mereka satu sama lain.
Namun pada saat Gianna mengerti, ia seketika sadar dan membuang mukanya dan tak berani menghadap pada Kenan. Dapat di pastikan kalau saat ini pipinya sedang memerah karena tersipu.
“Astaga Ji, elo imut banget sih!” Kenan yang sadar akan rasa malu yang di rasakan Gianna spontan mengusap puncak kepala Gianna seperti biasanya.
Namun karena lampu sudah kembali hijau, ia tidak bisa berlama-lama melakukan itu. Ia pun menjalankan kembali mobilnya menuju ke rumah Gianna dan sepanjang jalan Gianna tak berani menatap Kenan sementara Kenan terkekeh puas.
*
Setelah beberapa saat, mereka pun sampai di rumah Gianna.
“Thank’s ya,” ucap Gianna sembari melepas seatbeltnya. Namun baru saja ia akan membuka pintu, Kenan menahannya.
“Wait,” -Kenan membongkar tasnya dan kemudian mengeluarkan dua bungkus cemilan yang sudah di beli Kenan tadi. Tidak banyak makanan yang berkurang karena mereka terlalu fokus mengoreksi.- “Ini bawa aja,” ujarnya menyodorkan kedua kantung plastik berisi cemilan.
“Ih? Buat apa? Kan punya elo,” kata Gianna dengan mata mendelik sedikit kesal.
“Gue kurang suka ngemil, Tia juga lagi diet belakangan ini katanya, jadi dari pada gue buang, buat lo aja,” ujarnya beralasan, padahal sejak awal dia memang berniat membelinya untuk Gianna.
“Astaga,” -Gianna menepuk jidatnya, heran dengan tingkah Kenan yang ia tidak pernah paham jika tidak di jelaskan.- “Terus ngapain elo beli kalo ngga elo makan?” tanya Gianna dengan wajah merengut andalannya.
“Gue pikir bakal habis di makan sewaktu kita koreksi tadi, ternyata gue beli kebanyakan,” -kata Kenan masih membuat Gianna tidak habis pikir.- “Ya? Buat temen lo belajar juga,” imbuhnya masih berusaha membujuk Gianna.
Gianna mendengus dan pada akhirnya mengalah dan mengambil kedua kantung plastik itu.
“Oke gue terima, tapi lain kali gue ngga mau ya,” kata Gianna membuat kesepakatan.
“Oke,” Kenan setuju dan tersenyum cerah.
“Sekali lagi makasih ya, makasih buat semuanya,” kata Gianna.
“Gue yang makasih, lo udah repot bantuin gue,” balas Kenan.
“Yaudah, gue keluar. Mmm … lo ati-ati di jalan,” ucap Gianna dengan suara yang sangat pelan sebelum akhirnya keluar dari mobil Kenan.
Sadar Gianna masih malu-malu, Kenan hanya bisa terkekeh.
“Gue pulang dulu,” balasnya dari dalam mobil.
Gianna menutup gerbang rumahnya begitu masuk dan Kenan pun pulang.
Begitu Kenan pergi, secara spontan senyum Gianna mengembang begitu lebar.
“Astaga apasih! Kenapa dia bilang gitu?!” serunya mengingat ucapan Kenan saat di lampu merah tadi.
Ia pun masuk ke dalam rumah dengan senyum lebarnya. Akan tetapi senyuman itu langsung lenyap. Tepat saat ia selesai melepas sepatu dan masuk ke ruang tamu. Ia tersadar kalau rumahnya kedatangan tamu.
“Hai Jian! Waduh, mahasiswa baru baru pulang nih?”
Gianna mematung di tempatnya berdiri.
“Austine,” hanya itu yang keluar dari bibirnya saat melihat sosok yang menyapanya yang kini sedang duduk di ruang tamu seorang diri dan sedang menonton tv.
Austine. Sepupunya yang tinggal di kota yang berseberangan dengan Gianna kini berada di hadapannya. Salah satu sepupu wanita yang Gianna, juga Geno tak suka untuk bertemu dengannya.
Kenapa? Kalian akan mengetahuinya nanti.
“Iya gue Austine! Siapa lagi emangnya?” jawab Austine dengan renyahnya. Namun Gianna hanya bisa meringis menanggapinya.
Kalau Austine sudah duduk di ruang tamu, tandanya orang tua nya juga ada disini. Karena orang tua Gianna dan orang tua Austine cukup dekat karena Mama mereka kakak beradik. Entah apa alasannya, setiap sebulan sekali, mereka akan bertemu dan membuat acara makan keluarga.
“Dari jam berapa disini?” Gianna mencoba berbasa-basi, karena itu merupakan ajaran Mamanya untuk menyambut tamu. Meskipun ia tidak menyukai tamunya, ia sebisa mungkin tidak boleh memperlihatkannya.
“Baru sejam atau dua jam lalu mungkin?” -jawabnya dengan wajah mengingat-ingat. Ia kemudian sadar dengan apa yang di bawa Gianna.- “Widih bawa makanan, darimana tuh?” ujarnya dengan entengnya tanpa ada rasa canggung.
“Ah … ini dari temen,” jawab Gianna.
“Bagi dong, banyak banget temen lo ngasih, beneran? Bukan elo yang minta nih?” imbuhnya seraya duduk mendekat pada posisi di mana Gianna berdiri.
“Ngapain gue minta?” sahut Gianna berusaha untuk tidak emosi.
“Ya siapa tau temen lo ada yang kaya, jadi lo minta beliin? Canda, hahahaha … ,” tawanya merasa ucapannya itu lucu. Sedangkan Gianna hanya bisa ikut tersenyum, namun sangat terlihat jelas itu terpaksa.
“Bawa sini dong, gue mau minta,” pintanya dengan menoel tangan Gianna yang membawa kantung plastik. Gianna yang sedang senang -karena Kenan- menurut saja dan meletakkan kedua kantung plastik berisi makanan ringan itu ke atas meja.
“Makan lah, pilih aja. Gue ganti dulu,” setelah meletakkannya, Gianna beranjak meninnggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar ucapan Austine.
“Wah, ada coklat, pas banget gue lagi peng-” belum sempat coklat itu sampai di depan wajahnya, Gianna sudah merebutnya.
“Maaf, kalo yang ini jangan,” ujarnya. Ia sedikit terkejut, karena telat sedikit saja, Austine pasti sudah membuka bingkusnya.
“Eh? Itu kan gede, masa gue ngga boleh minta? Lagian kan gue lagi pengen,” sahut Austine dengan wajah tak percaya Gianna merebut coklat ‘miliknya’.
“Masih banyak cemilan yang lain, oh ya,” -Gianna teringat sesuatu dan langsung mencarinya di antara makanan yang ada di sana.- “Ini juga jangan,” Gianna mengatakan itu setelah mengambil bboky dan minuman isotonik. Usai mengambil yang diinginkannya, Gianna benar-benar beranjak masuk ke kamarnya.
“Dih, pelit banget, gitu doang juga juga bisa beli,” cibir Austine seraya mengambil salah satu keripik dan memakannya.
‘Hah? Pelit? Lo kira gue ngga liat bungkus sisa coklat di meja itu punya siapa? Kayaknya nanti kalo gue cek kulkas, udah ngga ada lagi semua simpenan gue,’ batin Gianna melirik Austine yang sedang mengunyah keripiknya sembari menonton tv.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-