-*-*-*-
Gianna bersyukur, sebelum berangkat tadi, entah mengapa ia ingin mengunci kamarnya dan ternyata firasatnya benar. Ia pun mengecek kamarnya, kalau-kalau pintunya terbuka dan ternyata masih aman.
‘Syukurlah, beruntung Mama paham kalo gue ngga mau dia masuk kamar,jadi kayaknya Mama ngga kasih buka kamar gue pake kunci utama,’ batin Gianna.
Ia kemudian masuk dan tak lupa menguncinya lagi. Ia tidak mau Austine masuk ke kamarnya dan melakukan macam-macam hal sesuka hatinya yang tak di sukai Gianna.
Gianna pun meletakkan makanan yang sudah ia ambil ke atas meja riasnya dan mengganti pakaiannya.
Namun karena waktu sudah cukup sore, Gianna memilih untuk mandi saja.
*
Selesai mandi dan berpakaian, Gianna duduk di depan meja riasnya dan mengeringkan rambutnya yang ia keramas.
Sejenak, ia fokus berkaca sembari mengeringkan rambutnya, namun ia segera teralih fokusnya begitu matanya tak sengaja melirik makanan dan minuman yang sudah ia ambil.
“Gue ngapain sih?” ujarnya tiba-tiba.
Ia kemudian mematikan hair dryernya dan fokus pada coklat yang sudah ia ambil.
‘Apa sekarang gue sekarang lagi baper? Kenan kan cuma bilang gue menarik, bukan berarti suka sama gue,’ batin Gianna berusaha sadar diri. Ia tidak ingin nanti sakit hati jika ia merasa terlalu percaya diri.
Gianna sejenak memandang semua makanan itu, makanan yang hari ini memiliki memori tersendiri jika ia melihatnya.
Puas memandangnya, Gianna ingin memastikan mereka aman hari ini dengan menyimpannya di dalam laci meja riasnya dan menguncinya.
*
Gianna turun ke ruang tamu setelah mengunci kamarnya. Ia sedikit memutar bola matanya saat melihat Austine dengan santainya duduk di ruang tamu dan memakan satu demi satu cemilan miliknya. Gianna sempat menghembuskan nafas dan menarik nafasnya banyak-banyak sebelum akhirnya ikut duduk di sofa dekat Austine.
“Oh, kamu mandi?” kata Austine begitu Gianna duduk dan mengambil salah satu minuman bersoda yang sudah dibuka dan diminum Austine.
“Hm-mm, gerah,” jawab Gianna setelah minum tanpa menyentuh bibir botolnya. Entah mengapa, tiba-tiba saja, Austine menatap Gianna dari atas ke bawah seperti memindai semuanya.
Gianna yang sadar akan hal itu segera melirik dan mulai merasa risih.
“Kenapa?” tanya Gianna balas melirik Austine dari ujung ke ujung.
“Kok elo makin cantik ya gue liat-liat,” ujar Austine. Terlihat seperti memuji, akan tetapi nada bicaranya cukup tidak nyaman dan cukup jauh dari kata memuji.
“Ya … thank’s?” Gianna tak tau harus berterimakasih atau bagaimana mendengarnya.
“Sama-sama tapi ngga cantik-cantik amat sih,” -lanjutnya membuat Gianna hanya bisa meringis. Ia sudah tidak heran dengan hal seperti ini.- “Btw, gue udah follow elo, tau di Joystagram, follback dong, jangan sombong gitu,”
Gianna yang sedang berusaha menonton tv dengan tenang bersama kuacinya mau tidak mau harus membuang nafas berat lagi.
“Nanti ya, gue mau nonton dulu,” Gianna berusaha sabar dan sebisa mungkin tidak membalas dengan nada tinggi.
“Yaudah gue aja deh. Pinjem ya hp lo,”
Tanpa izin dan aba-aba, Austine tiba-tiba saja menyambar ponsel pintar Gianna yang berada di atas meja.
Sebagai pemiliknya, tentu Gianna terkejut. Matanya seketika mendelik.
“Heh! Hp gue!”
“Eh, ada kodenya, apa nih?” kata Austine seraya menunjukkan layar yang sudah menampilkan tombol meminta kode.
“Sini, gue aja!” seru Gianna kelepasan sembari merebut ponselnya.
“Yaampun pelit banget dari tadi, punya pacar ya elo? Emang ada apanya sih, sampe segitunya?” cibir Austine dengan pandangan sedikit kesal.
‘Astaga ... ,’ Gianna seketika melapangkan hatinya agar bisa bersabar lebih lama lagi.
Bisa-bisanya dia berkata begitu. Smartphone itu barang pribadi dan penuh privasi. Terlepas ada rahasia atau tidak, meminta izin sebelum membuka ponsel yang akan di pinjam adalah hal yang wajib.
“Ngga ada apa-apa dan bukan urusan lo, oke? Nih, gue follback biar elo ngga bingung nagih lagi ke gue,” pada akhirnya Gianna yang mengalah dan mengikuti Austine di Joystagram.
“Kalo ngga ada rahasia kenapa sampe segitunya?” Austine masih tak terima dengan perbuatan Gianna dan hanya bisa membalas dengan jawaban-jawaban bernada tak menyenangkan.
Gianna lagi-lagi harus menghela nafas yang berat.
“Gue ngga suka milik gue di sentuh tanpa izin dan sembarangan, gitu,” jawab Gianna masih berusaha tersenyum.
“Oh,” Austine nampak tak peduli dan kembali menonton tv dengan cemilan di tangannya dan memegangnya seperti tak ingin ada orang lain yang mengambilnya.
Gianna geleng-geleng kepala, ia kemudian membuka ponselnya menggunakan sidik jarinya dan membuka Joystagram untuk melakukan apa yang di inginkan si ‘tuan Putri Austine’.
Gianna membuka daftar nama-nama orang yang mengikutinya dan ia menemukan Austine sudah mengikutinya sejak sekitar beberapa minggu lalu. Sebenarnya Gianna mengetahui hal itu saat Austine mengikutinya, gadis itu bahkan sudah mengirim DM, tetapi Gianna tak mempedulikannya.
Sebenarnya urusan selesai, setelah menekan tombol ‘follow’. Akan tetapi sesuatu mengalihkan perhatiannya dan membuatnya tergiur untuk membuka Joystagram lebih lama.
Ada seseorang yang menandainya dalam beberapa postingan, bahkan ada satu pemberitahuan bahwa seseorang mengikutinya diantara notifikasi pemberitahuan yang menandainya. Karena menasaran, Gianna membukanya. Ia pun mendapati, kalau yang melakukan semua itu adalah Kenan.
Tanpa sadar, senyuman Gianna timbul ke permukaan. Ia pun membukanya. Ia ingin tau, postingan apa yang membuat Kenan menandainya.
Ia pun terkejut saat membuka postingan yang pertama. Foto itu merupakan fotonya saat pertama kali Kenan memotretnya, di perpustakaan. Postingan kedua, tentunya di taman. Itu adalah kali kedua mereka bertemu dengan Kenan yang sengaja menemui Gianna.
Foto-foto yang selanjutnya pun adalah saat-saat mereka bertemu. Gianna bahkan menemukan foto yang ia tidak tau sama sekali bahwa Kenan sudah memotretnya. Bahkan ada fotonya saat ia berada di minimart siang ini.
Senyuman Gianna seketika semakin merekah tanpa ia sadari. Ia teringat dengan kejadian yang sudah di alaminya seharian tadi.
Karena terlalu terbawa suasana, Gianna bahkan juga tak menyadari kalau Austine berada di belakangnya dan melihat isi ponselnya.
“Wah, gue baru tau kalo elo model,” ucap Austine membuat Gianna lagi-lagi melebarkan matanya dan spontan menyembunyikan ponselnya dan menoleh kebelakang.
“Elo … ,” Gianna tak bisa berkata-kata. Ia tau kalau Austine menyebalkan, tapi ia baru tau kalau Austine benar-benar selancang ini.
“Dapet bayaran berapa jadi model? Gue juga mau dong di foto begitu,” ujarnya sembari berangsut kembali pada tempatnya.
“Ini cuma hoby temen gue, ngga minta di bayar,” sahut Gianna dengan nada yang mulai ketus. Ia mulai badmood.
“Ih? Gratis?”
Hanya dua kata, akan tetapi, entah mengapa Gianna mendengarnya sebagai hinaan.
“Bukan urusan lo,” Gianna seketika malas menganggapi dengan ramah tamah formalitasnya dan membuang muka.
“Itu temen lo emang hoby motret? Atau gimana?” tak berhenti di situ, Austine masih mencoba melampiaskan rasa penasarannya.
Baru saja Gianna berniat menjawab dengan kebohongan, akan tetapi seorang manusia jelmaan kecoa datang dan mengacaukannya.
“JIAN! Jelasin foto-foto lo yang di upload Kenan! Lo jadian apa gi-”
Geno yang baru saja pulang dan dengan seragam dan atributnya yang masih lengkap itu seketika mematung saat melihat sosok tak asing yang sedang duduk di ruang tamu bersama Gianna.
Tatapannya yang awalnya terkejut dengan keberadaan Austine, seketika berubah saat matanya bertemu dengan Gianna. Ia seketika makin terkejut dan merasa takut, karena tatapan mata Gianna kali ini seakan siap untuk membunuuhnya saat itu juga.
‘Mampus gue,’ batin Geno.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-