Bukan Reuni

1282 Kata
 -*-*-*- Ia seketika makin terkejut dan merasa takut, karena tatapan mata Gianna kali ini seakan siap untuk membunuuhnya saat itu juga.   ‘Mampus gue,’ batin Geno. Geno yang awalnya berwajah sudah siap dengan wajah jahilnya yang ingin mengganggu Gianna seketika menciut melihat tatapan Gianna.   Ditambah lagi, wajah Gianna yang tidak enak di pandang itu sepertinya sudah merasa badmood sejak beberapa saat yang lalu jika Geno perhatikan.   “Apanih? Kok berhenti? Jian jadian? Pacar baru?” tentu saja, Austine pasti ingin tau.   Semuanya semakin menyebalkan dan itu adalah salah Geno.   “Jelasin dong, No,” ujar Gianna menatap Geno dengan senyuman penuh paksaan dan tekanan.   “Ahhah … ,” Geno menggaruk kepalanya yang tak gatal.   ‘Dasar b*go, lagian itu anak ayam satu kenapa ada disini sih? Kok tante ngga bilang apa-apa? Jian juga kenapa ngga kabarin gue? Kalo tau kan gue bisa minep d-’ Geno berhenti membatin, ia sepertinya menyadari sesuatu.   ‘Oke gue paham,’ -Geno menatap Gianna dengan pandangan memelas bercampur kesal.- ‘Ni anak ngga mau menderita sendirian,’   “Apasih? Jangan bikin gue penasaran dong!” sahut Austine melihat Gianna dan Geno saling memasang wajah mencurigakan.   “Gianna ngga punya, gue cuma seneng ngeledekin dia sama temen-temen kampusnya yang gue kenal,” jawab Geno berbohong semampunya dan beruntung Austine mudah di bohongi, akan tetapi entah mengapa reaksinya menyebalkan.   “Oh, elo ngeledekin. Kenapa ngga di comblangin aja? Kasian Gianna sendirian ngga ada pacar. Mukanya sinis sih, jadi pasti susah punya pacar,” sahutnya membuat Gianna hanya bisa diam tak bicara dan menyisir rambutnya kebelakang. Ia merasa darahnya bisa naik gunung jika terus mengobrol dengan Austine.   “Hahaha, gue mau ganti baju dulu,” Geno tak ingin cari masalah lebih lanjut dan memilih melarikan diri.   Geno pun meninggalkan Gianna dan Austine di ruang tamu.   “Lo beneran masih single?” tanya Austine membuat Gianna seketika merestok kesabarannya.   “Apa sepenting itu, sampe lo haru tau?” jawab Gianna mencoba menghentikan Austine bersikap seenaknya.   “Ya gue cuma penasaran aja sih, kan kasian kalo elo masih single. Semenjak ditinggal Rafael, elo kayaknya jadi menyedihkan banget,” ujarnya dengan nada ucapan andalannya yang selalu berhasil membuat Gianna harus menjaga ucapan dan emosinya.   “Single ngga bikin gue menyedihkan kok,” balasnya. Karena sudah malas menanggapi, Gianna memilih untuk tidak menatap Austine.   “Jian, Austine, kalian belanja gih! Mama sama tante perlu bahan-bahan buat masak!” Mama Gianna tiba saja bersuara memecahkan atmosfir gelap yang tengah menyelimuti Gianna dan Austine.   “Hah?” jawab Gianna seraya menoleh pada Mamanya di belakang.   “Boleh tante!” -Austine seketika bersemangat mendengar kata “belanja”.- “Serahin aja sama kita,” lanjutnya.   “E e eh, jangan semangat dulu, ada syaratnya,” ujar Mama Gianna berniat memberi persyaratan.   “Apa tante?” tanya Austine semangat. Sementara Gianna hanya diam menyimak sembari meminum air soda yang tersisa.   “Kalian ngga boleh beli makanan kecil! Liat deh, kalian udah nyemil apa aja tuh. Tante ngga mau nanti kalian udah kenyang duluan sebelum makan keluarga,” pesannya dengan dengan kedua tangan tersilang di depan dadaa.   “Yah, masa ngga boleh dikit aja tante?” Austine seketika memasang wajah merengek begitu mendengar larangan itu.   “Nonono, salah sendiri kalian udah makan cemilan sebanyak ini. Pokoknya, Jian, ini list sama kartu atmnya, panggil Geno sekalian, suruh anter kalian ke supermarket,” Mama Gianna menyerahkan selembar kertas kecil dan kartu atm yang biasa di gunakan.   “Hmm … ,” Gianna hanya mengangguk dan menerimanya.   “Dah, sekarang ganti baju terus berangkat, Mama sama tante mau siapin alat-alatnya,” Mama Gianna kemudian berbalik dan kembali ke dapur menemui Mama Austine.   Karena Gianna sudah badmood pada Austine, Gianna segera menuju ke kamarnya untuk berganti baju tanpa berbasa-basi.   Selesai berganti, tentu ia tidak lupa mengunci kamarnya lagi. Di bawah, ia segera menuju kamar Geno yang tertutup.   “Geno! Ayo keluar! Mama nyuruh elo nganter gue sama Austine buat belanja!” seru Gianna di depan kamar Geno.   “Ya sebentar! Lagi ganti!” seru Geno dari dalam. Sepertinya ia sudah dengar percakapannya dengan mamanya di ruang tamu tadi.   Mendengar itu, Gianna kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa. Baru ia yang sudah siap untuk berangkat, sedangkan Austine tak lama setelah itu, ia keluar dari kamar tamu dengan pakaian yang sudah berganti.   Ia memakai tanktop croptop hitam dan kemeja putih kebesaran yang tidak di kancing. Sementara bawahannya, ia memakai celana jeans hitam.   ‘Dia ke supermarket pake baju itu?’ batin Gianna setelah melihat sekilas saat Austine keluar dari kamarnya.   Sementara Gianna, ia hanya memakai kaus lengan panjang hitam yang sedikit besar dengan celana jeans biru.   Gianna tak memainkan ponselnya dan hanya menonton tv, ia tidak ingin nanti ada pengganggu yang membuka ponselnya.   Tak lama kemudian, Geno juga keluar dari kamarnya dan menguncinya. Terlihat Geno kini memakai setelan kemeja putih berlapis sweater hitam dan bawahan celana jeans cream.   Melihat mereka berdua, Gianna memasang wajah menghujatnya dan berkomentar. “Kita cuma mau belanja, bukan fashion show,” katanya.   “Fashion street itu wajib,” tanpa sadar, Geno dan Austine bicara bersamaan. Mereka kemudian saling pandang namun detik berikutnya sama-sama memasang wajah jijik karena sudah mengatakan hal yang sama tanpa di sengaja.   Baiklah, mereka ternyata memang sepupu kandung, tidak hanya karena yang dilakukan Geno dan Austine, tetapi itu juga terbukti dari pakaian mereka bertiga yang saat ini senada, meskipun berbeda gaya.   “Terserah terserah, ayo berangkat!” Gianna tidak ingin badmoodnya nanti menghalanginya untuk pergi, jadi ia memutuskan untuk cepat-cepat bergegas.   Sebelum masuk ke mobil. “Jian, gue depan ya,” kata Austine yang sudah stanby di depan pintu mobil bagian penumpang depan.   “Terserah,” jawab Gianna sembari masuk ke mobil dan duduk kursi penumpang tengah.   Setelah mereka semua masuk, mereka segera menuju supermarket yang letaknya memang lumayan jauh dari rumah Gianna.   *   Sesampainya di supermarket.   “Kita langsung ke tempat sayur aja, Geno, bawa troli, Austine, bawa list ini, sebutin, nanti gue yang ambil barangnya,” perintah Gianna seraya menyerahkan kertas list pada Austine.   Mereka pun menurut dan menjalankannya. Kenapa menurut? Satu, Geno menurut, karena ia tau Gianna sedang badmood, jadi ia tidak ingin jadi sasaran empuk amarah Gianna jika ia protes atau semacamnya. Dua, Austine menurut karena itu pekerjaan yang paling cocok dengan pakaiannya saat ini.   Mereka pun masuk lebih dalam dan mencari barang yang sudah di catat oleh Mama Gianna.   *   Setelah mendapat beberapa saat berkeliling, mereka berhasil mendapatkan beberapa barang yang di minta. Lalu saat mereka masuk ketempat rak buah, tanpa di sengaja, Gianna hampir di tabrak troli milik orang lain.   Karena Gianna sedang dalam keadaan badmood, ia berniat memberikan tatapan sinis pada orang yang hampir menabraknya, akan tetapi ia tak jadi melakukan itu karena orang itu adalah Kenan.   “Hai Ji!” seperti biasa pula, Kenan menyapanya dengan penuh ramah tamah.   Wajah Gianna yang sebelumnya kusut seperti headset terlantar di atas meja, kini kembali normal.   “Hai, Kenan,”   Bukan Gianna yang mengatakan itu, tiba-tiba saja dari sisi lain ada seorang wanita yang warna suaranya tak asing di telinga Gianna. Ia pun menoleh dan ingatannya tak salah.   “Hai Suzuna,” balas Kenan tanpa beban dan hanya membalas sebagaimana mestinya.   Suzuna tersenyum mendapat balasan Kenan, ia kemudian tersadar akan sesuatu dan menoleh pada Gianna. “Gianna? Hai,” sapanya agar terlihat ramah.   ‘Apa ini? Apa sekarang kita lagi ngelakuin reuni?’   Kedua alis Gianna bertaut melihat keadaan saat ini. Kenapa atmosfirnya terasa kurang nyaman? Ia harus apa?   “Hai sayang,”   Suara Geno yang di tujukan pada Tatiana seketika membuat semuanya menaruh mata pada Geno.   “Apa?” Geno seketika bingung sendiri dengan semua mata yang menatapnya.   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN