-*-*-*-
“Hai sayang,”
Suara Geno yang di tujukan pada Tatiana seketika membuat semuanya menaruh mata pada Geno.
“Apa?” -Geno seketika bingung sendiri dengan semua mata yang menatapnya.- “Kalian saling sapa, emang gue ngga boleh sapa Ina?” protes Geno, merasa semua tatapan tengah menghakiminya.
“Tapi gue ngga mau di sapa sama elo,” sahut Tatiana yang sejak tadi berdiri di samping Kenan.
“Pfft!” Austine seketika hampir tertawa lebar.
“Diem lo,” sahut Geno sembari menyikut lengan Austine dan segera di balas dengan lirikan menghujat andalannya.
“Belanja buat keperluan rumah?” tanya Kenan seraya melangkah lebih dekat pada Gianna.
Gianna yang sebelumnya menengok ke belakang langsung menoleh begitu mendengar suara Kenan mendekat.
“Iya, ini, mama gue suruh belanja,” -kata Gianna disertai senyum tipis.- “Hai, Ana,” melihat Tatiana, tentunya Gianna menyapanya, akan tetapi, sepertinya Tatiana sedang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia terlihat tidak bersemangat.
“Hm,” Tatiana pun hanya menjawab seadanya, bahkan menatap Gianna pun tidak ia lakukan.
Melihat itu, Gianna menlipat kedua bibirnya kedalam. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa sudah salah bicara.
“Biasa, cewek,” jawab Kenan mewakili, karena ia menyadari menyadari ketidaknyamanan Gianna
“Oh, hahaha. Yaudah, kalo gitu gue duluan ya, mau cari sisanya, mereka mulai lelah kayaknya,” kata Gianna seraya menunjuk ke belakang, dimana ada Geno dan juga Austine.
“Kenapa ngga bareng aja?” tanya Kenan mennyarankan sekaligus ingin tau..
“Sorry, hari ini ngga bisa,” tolak Gianna sedikit tersenyum masam.
“Kenapa? Bareng aja, kan sama-sama belanja keperluan dapur?” Kenan seketika memasang wajah polosnya tanpa sadar.
Gianna seketika menatap Kenan dengan pandangan heran begitu mendengar ucapan itu.
‘Ni anak ngga liat tempat apa gimana sih? Masih ada orang lain juga. Ngga malu tah?’
“Maaf, gue sama sepupu gue, ribet. Duluan ya!” Gianna tak ingin keadaan jadi aneh, sehingga ia lebih baik menolaknya. Ia kemudian beranjak pergi, tetapi tangan Kenan menahan pergelangan tangannya.
Gianna sedikit kaget, karena Kenan cukup sering melakukan hal seperti ini. Namun tetap saja Gianna belum terbiasa.
“Apa?” kata Gianna spontan seraya mendongak menatap Kenan karena kini jarak mereka sudah lebih dekat.
“Buat elo,” Kenan mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya kemudian menaruhnya di atas telapak tangan Gianna. Gianna seketika menunduk dan mendapati sebungkus marsmellow kecil bergambar panda sudah ada di tangannya.
“Aw … ,” pandangan mata Gianna sedikit berubah saat melihat ‘panda’ itu. Kornea matanya membulat tanpa ia sadari.
Kenan yang merasa gemas memutuskan mengacak-acak puncak kepala Gianna seperti biasanya.
“Kalo gitu gue duluan ya,” pamitnya lengkap dengan senyuman di akhir.
Austine. Suzuna dan Tatiana seketika mendelik melihat pemandangan itu dan segeralah timbul pertanyaan yang sama di benak mereka.
‘Apa-apaan?! Mereka pacaran?!’
Namun karena Gianna sudah terlanjur fokus pada ‘panda’nya. Ia tidak terlalu sadar saat Kenan mengusap kepalanya dan hanya mengangguk saat Kenan mengatakan ia mau pergi. Matanya pun tak melirik sedikitpun saat Kenan beranjak meninggalkannya.
Austine dan Geno segera menghampiri Gianna setelah melihat itu.
“Cerita ke gue sekarang!” kata Geno pelan namun tegas.
“Dia cowok lo, Jian?” Austine tak mau kalah ikut menyerang Gianna dengan pertanyaan.
“Eh? Hah?” seperti orang linglung, Gianna bingung dengan pertanyaan kedua sepupunya itu.
“Siapa dia?!” Austine lebih dulu menyahut daripada Geno dengan suara keras, membuat Gianna seketika tersentak.
“Apaan sih teriak-teriak? Dia temen gue!” jawab Gianna sedikit kesal karena merasa sudah di bentak.
“Temen kok se-sweet itu? Yakin? Ngga usah bohong!” Austine tak percaya dengan ucapan Gianna dan kini menatap Gianna dengan mata yang mengatakan ia butuh jawaban detik itu juga.
Bibir Gianna terbuka hendak menjawab, akan tetapi Suzuna tiba-tiba bersuara membuat Gianna sadar kalau sejak tadi ada Suzuna disana, dan tak jadi bicara.
“Elo sekarang jadian sama Kenan?” tanya Suzuna.
“Ngghaaaaaa astagaaa … ,” Gianna mengusap wajahnya kasar dengan tangannya. Kenapa orang-orang sangat mudah menyimpulkan?
“Terus tadi?” Suzuna dan Austine tanpa sadar berbicara bersamaan membuat mereka saling pandang sejenak namun kembali menatap Gianna.
Sedangkan Geno? Ia tak bisa apa-apa. Seorang laki-laki dan tiga perempuan? Tentu saja Geno akan kalah suara. Ia memilih menyimak.
“Gue ngga tau, tapi dia emang beberapa kali lakuin itu ke gue dan gue, bukan pacarnya! Stop tanya lagi, karna gue udah menjawab se jelas mungkin,” Gianna membalik badannya berniat untuk melanjutkan kegiatannnya yang tertunda karena pertemuan tak di sengaja tadi.
“Gue udah minta sendiri ke Kenan,” ucap Suzuna dengan lantang secara mendadak dan itu membuat langkah Gianna terhenti, ia pun berbalik.
“Terus?” kata Gianna menanggapi. Ia menatap Suzuna dengan cukup serius.
“Dia ngga mau,” sahut Suzuna.
“Ah … ,” Gianna bungkam, ia tak tau harus mengomentari apa karena kini ekspresi Suzuna tidak bisa di tebak.
“Alasannya lo tanya aja langsung sama Kenan,” ucapnya singkat sebelum akhirnya ia meninggalkan Gianna.
“Cewek tadi siapa? Kalian cinta segitiga ya?” Austine masih saja penasaran dan terus bertanya.
“Bukan dan tolong berhenti tanya lagi, karna itu bukan urusan lo,” Gianna tak ingin pertanyaan itu berlanjut sehingga ia harus segera memutusnya.
Mereka kemudian kembali berjalan untuk melanjutkan kegiatan belanja mereka.
*
“Lo suka sama Jian?” tanya Tatiana saat mereka tiba di rak tempat menjual sabun dan segala macam alat bersih-bersih.
Kenan yang sedang mengambil salah satu sabun cuci piring seketika terhenti dan menoleh.
“Hah?” katanya dengan memasang wajah bodooh.
“Lo suka … sama Jian?” ujar Tatiana mengulani pertanyaannya lagi.
“Oh itu … ,” -Kenan berhenti sejenak dan memasukkan sabun yang biasa ia beli.- “Pertanyaan yang bagus, karna gue juga lagi mempertanyakan hal itu.” ujarnya seraya meringis cerah seakan tak pernah punya dosa.
“Ish! Ngga jelas!” seru Tatiana menatap kesal.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-