Dia Barusan Melakukan Apa?

1381 Kata
 -*-*-*- “Tadi itu siapa, Jian?” tanya Austine penasaran pada Gianna yang tengah memiih buah apel di rak.   “Temen gue,” kata Gianna sembari meletakkan buahnya ke dalam troli.   “Yakin? Kok bisa kayak gitu tadi sikapnya? Temen apa yang bisa semanis itu tanpa ada hubungan lain? Lo manfaatin dia ya?” Austine mulai kembali bersikap menyebalkan dan Gianna hanya bisa mendengus mendengar ucapannya.   “Apa semua nya yang elo tanya harus gue jelasin? Untuk apa?” Gianna kini menyilangkan kedua tangannya di depan d**a dan menatap Austine mencari tau.   “Oke, kalo dia temen lo. Boleh gue deketin?” tanya Austine yang seketika membuat raut wajah Gianna berubah dan matanya melotot dengan alis berkerut.   “Terserah elo, kalo elo mau,” tanpa sadar, yang keluar dari bibir Gianna adalah kata-kata itu. Ia kemudian berbalik dan berniat lanjut untuk mencari buah yang sudah di minta.   “Oke, elo sendiri yang bilang kan, jadi jangan kaget kalo dia nanti jadi pacar gue,” ujar Austine dengan sangat percaya diri. Sedangkan Gianna hampir menyemburkan tawanya karena ia terkejut dan merasa geli mendengarnya.   “Astaga, kenal juga belum, udah yakin, haha,” -kekeh Gianna sembari mengambil buah lagi dan meletakkannya di troli.- “Gue ngga bakal ngelarang lo atau semacamnya, karna itu urusan lo. Tapi denger kata-kata lo yang barusan bikin gue ketawa,” usai berkata begitu, Gianna lanjut berjalan lagi.   ‘Sorry Ken, gue ngga bermaksud nyomblangin lo sama Austine, tapi karna elo aja cuma besikap gitu-gitu aja tanpa ada niat kasih status, gue ngerasa ngga berhak buat ngelarang atau sejenisnya,’ batin Gianna.   * * *   Kali ini Gianna datang ke kampus sendiri, ia menaiki taxol, karena ia akan memiliki kelas di waktu yang cukup siang. Ia pun berjalan memasuki gerbang kampusnya, dengan langkah santai.   Namun baru saja ia masuk melewati gerbang, seseorang tiba-tiba lewat dan menyenggol bahunya tanpa di sengaja. Saat Gianna menoleh, ternyata orang itu membawa banyak buku dan buku yang ia bawa terjatuh.   “Ah! Sorry, gue ngga liat. Sorry banget!” katanya meminta maaf sembari memungut buku-buku bawaannya yang berserakan.   “It’s oke,” Gianna yang kasian otomatis membantu memungut.   “Duh, maaf, ngerepotin,” ucapnya masih memungut bersama Gianna.   Selesai memungut, Gianna mengambil sebagian bukunya. “Mau di bawa ke mana bukunya?” tanya Gianna. Tepat saat mendongak, orang itu adalah orang yang ia kenal. Christo.   “Hai!” Christo segera mengenali Gianna dan menyapa. Gianna pun sedikit terkejut, namun ia juga ikut menyapa.   “Hai, kak,” kata Gianna sedikit tersenyum canggung.   “Sorry ya udah nabrak elo,” imbuhnya yang juga tersenyum canggung.   “Ngga masalah. Btw ini mau di bawa kemana? Biar gue bantu kak,” tawar Gianna.   “Oh ya, ini mau di bawa ke kelas gue,” -jawabnya.- “Yaudah kalo mau bantu, ikut gue,” ajak Christo seraya berjalan lebih dulu.   Gianna kemudian hanya mengangguk dan mengikuti langkah Christo. Mereka terus melangkah sampai memasuki gedung kampus. Sepertinya ruangan Christo tidak ada di lantai dua, karena sejak tadi Christo hanya melewati setiap tangga.   Gianna dan Christo terus berjalan dalam diam, sampai saat akan melewati ruangan, seseorang menabrak Gianna dari dalam ruangan. Buku-buku yang di bawa Gianna hampir terjatuh, namun refleks orang itu cukup tajam dan begitu dia menabrak Gianna, ia langsung menahan buku-buku tersebut agar tidak terjatuh.   ‘Astaga, kenapa hari ini orang-orang pada nabrak? Bukan pertanda jelek, kan?’  batin Gianna heran.   “Sorry ngga sengaja- oh hai, Ji,” sapa orang tersebut lengkap dengan senyuman begittu mengetahu siapa yang sudah di tabraknya.   Christo yang berada di depan seketika berhenti dan menoleh begitu mendengar suara dari belakangnya.   “Elo,” tidak seperti Kenan yang tersenyum begitu bertemu, Gianna seketika mengernyitkan alisnya saat melihat orang itu adalah Kenan.   “Hai Ken, ada kelas?” tanya Christo, setelah menghapiri Gianna dan Kenan.   “Oh Chris, gue abis kumpul tugas ke dosen, ada bates waktu siang ini,” -balas Kenan, melihat buku yang di bawa Christo sama dengan yang dibawa Gianna. Kenan seketika penasaran.- “Buku yang kalian bawa sama, mau kemana?” tanya nya.   “Ini, gue mau kelas, di jalan tadi ngga sengaja nabrak Jian, terus dia bantuin gue,” jelas Christo menceritakan secara singkat. Kenan hanya mengangguk-angguk mendengarnya kemudian menoleh pada Gianna.   “Lo sendiri abis ini mau ke mana?” tanya Kenan,   “Kelas,” sahut Gianna seadanya. Lagi-lagi, Kenan hanya mengangguk dan kemudian mengambil buku yang di bawa Gianna.   “Lo ke kelas aja, biar gue yang bantu Christo,” kata Kenan masih tersenyum menatap Gianna.   “Eh? Lo sendiri emang ngga ada kelas?” Gianna terkejut karena Kenan mengambil tumpukan buku di tangannya menggunakan satu tangan dengan mudahnya.   “Ngga ada, udah lo santai aja. Gue sekalian ada yang mau di omongin sama Christo,” kata Kenan menjawab dengan lembut.   “Udah ngga papa, Jian. Lo ke kelas aja, makasih udah bantuin gue, maaf juga udah nabrak elo tadi,” celetuk Christo membuat Gianna langsung menoleh.   “Eh iya kak, sama-sama. Ngga papa kok,” Gianna seketika tersenyum pada Christo dan Kenan menyadari hal itu.   “Oke kalo gitu, gue duluan ya, ayo Ken,” ajak Christo beranjak berbalik untuk melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.   “Oh duluan, gue mau ngomong dulu sama Jian,” ujar Kenan membuat Gianna langsung menatap Kenan heran.   “Oke deh, take your time! Gue juga ngga buru-buru kok,” balas Christo lengkap dengan senyuman ramahnya.   “Oke thank’s!” -kata Kenan ikut tersenyum. Ia kemudian berbalik dan menatap Gianna- “Hei,” ujarnya pada Gianna dengan nada menegur.   “Apa?” tanya Gianna menatap Kenan heran.   “Lo tadi kayaknya senyum sama Christo, giliran sama gue kok ngga? Gue ada salah ya?” kata Kenan balas bertanya.   “Hah?” alis Gianna kembali mengernyit mendengar pertanyaan itu.   ‘Ni anak dari kemarin kenapa sih?’ batin Gianna heran.   “Kok hah? Kan gue tanya,” ujar Kenan sembari mencubit pipi Gianna.   “Ih ih! Ngapain sih nyubit-nyubit?” Gianna seketika menyingkirkan tangan Kenan dari pipinya. Kenan memang tidak mencubitnya dengan kuat. Hanya saja Gianna merasa tak nyaman dengan hal itu jika di lakukan di tempat umum.   “Senyum juga dong ke gue, kayaknya dari kemaren elo sama sekali belum ada senyumnya ke gue,” ujar Kenan dengan nada memelas.   “Lo … salah makan ya?” Gianna yang tak biasa dengan tingkah Kenan seketika memberikan tatapan yang sedikit menghujat pada Kenan.   “Astaga. Maksud gue tuh, gue minta lo senyum ke gue, Ji,” kata Kenan mulai tak sabar dengan tingkah Gianna.   “Senyum? Buat apa? Lagian apa yang perlu di senyumin?” balas Gianna masih tak mengerti tingkah Kenan.   “Yaampun! Yaudah, alasannya, gue cuma pengen liat senyuman elo, karna sejak kemaren elo jarang senyum ke gue, bahkan hampir ngga senyum,” tutur Kenan menjelaskan sedetail mungkin agar Gianna mengerti.   Mendengar itu, Gianna memutar otak. Ia ingin mengingat, apakah yang di katakan Kenan benar. Namun nyatanya ucapan Kenan tak sepenuhnya benar, karena ia sempat tersenyum beberapa kali. “Ngga tuh! Gue senyum kok kemaren,” sanggahnya.   “Yaudah kalo gitu coba peragain gimana elo senyum kemaren!” sahut Kenan cepat dengan senyuman tengil.   “Hih, anak ini,” Gianna mulai kesal dengan tingkah Kenan, namun herannya ia berniat menurutinya.  “Hm!” -Gianna tersenyum seperti hari-hari biasa ia tersenyum, namun dengan waktu yang sangat singkat.- “Udah kan?” katanya.   “Oke!” -Kenan tersenyum senang melihat senyuman Gianna.- “Yaudah gue nyusul Christo dulu,” pamitnya dengan tubuh yang hampir berbalik untuk meninggalkan Gianna.   “Iya, oke!” Gianna mengangguk- angguk dan Kenan pun beranjak pergi meninggalkan Gianna. Begitu Kenan meninggalkannya, Gianna pun berbalik untuk pergi.   Namun baru beberapa langkah ia hendak pergi, Kenan tiba-tiba saja kembali dan menarik tangan Gianna sampai Gianna sedikit tersentak dan berbalik.   “Ap-”   Cup!   Sebuah benda kenyal dan lembut mendarat di pipi kiri Gianna dan membuat Gianna seketika melebarkan matanya.   “Lo … ,” Gianna seketika menatap Kenan dengan matanya yang membulat dan penuh tanda tanya, akan tetapi yang dilakukan Kenan hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutnya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Gianna sampai hilang di tikungan.   Gianna mematung, tangan kirinya perlahan menyentuh pipinya yang menjadi pendaratan benda kenyal milik Kenan. “Dia barusan ngapain … ,” -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN